
Desiran lembut dari angin yang berhembus menerpa sebuah tubuh rapuh membuat tubuh itu sedikit limbung terhuyung. Seolah angin lembut tidak merasa cukup, itu kembali berhembus dan menerpa wajah gadis cantik itu membuat rambutnya bertebaran.
Dengan helaan nafas, gadis itu merapikan dirinya dan kembali berjalan dengan mantap. Mata indahnya menatap kearah sebuah sekolah megah dihadapannya dengan sedikit kegelisahan yang ketara.
Mencoba untuk menenangkan dirinya, dia menarik nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya kembali untuk maju.
Berjalan kedepan dengan wajah datar dan tatapan yang sedikit kosong, gadis itu mengabaikan sekitarnya menuju ke kelasnya berada.
"Selamat pagi Arlana..."
Sebuah sapaan ramah terdengar ketika langkah kaki Arlana telah mencapai pintu masuk kelas.
Gadis itu terkejut oleh sapaan yang tidak pernah terjadi. Menatap kearah asal suara, kejutannya menjadi lebih besar.
Arlana melihat seorang gadis dengan tubuh berisi dan pipi bakpao yang tengah tersenyum menatap kearahnya.
Dengan anggukan ringan setelah terdiam lama Arlana menjawab "Selamat pagi Kanaya..."
"Oh?! Kau mengingat namaku!!"
Mendengar Kanya yang tampak lebih bahagia akibat jawabannya Arlana hanya tersenyum tipis sebelum berjalan melewatinya.
Tentu saja Arlana tahu dan mengingat Kanaya, gadis itu telah berada di kelas yang sama selama 3 tahun ini. Dan terlebih sosok besar Kanya yang sangat manja dan suka makan berbagai makanan sangatlah mencolok dikelas.
"Apa kau merasa tidak sehat?" Seorang gadis bertanya kearah Kanaya yang masih tersenyum
"Apa maksudmu?"
Menatap Kanaya yang tidak mengerti, gadis itu kembali berbicara "Itu karena kau sangat berani hari ini dan berisiniatif untuk menyapa Arlana!"
"Celsi," Kanaya menghela nafas panjang dan menjawab Celsi dengan wajah yang polos "Aku pikir dia sangat menakutkan selama ini, tapi setelah beberapa pertemuan terakhir kali aku pikir dia tidak terlalu menakutkan. Jadi kurasa itu tidak masalah untuk mencoba saling mengenal."
Celsi hanya terdiam menatap Kanaya dan kemudian kearah Arlana yang terlihat seperti biasanya. Dengan tidak peduli dia melambai pelan "Terserah, itu tidak ada hubungannya denganku!"
Arlana terduduk diam di tempatnya tidak bergerak. Pikiran gadis itu tampak kosong dan menerawang entah kemana.
Dia kembali memikirkan apa yang terjadi kemarin, tapi setelah mengingat kembali hal itu dia hanya merasa kesal dan marah. Pada akhirnya dia hanya menatap linglung kedepan dan tidak memikirkan apapun.
Sosok Zale muncul di pintu, dia tampak sama seperti biasa tapi wajah tampannya sedikit bersinar. Seseorang dapat menebaknya dengan pasti bahwa sesuatu telah terjadi dengannya.
Saat mata hitam Zale menatap kearah Arlana yang terdiam duduk di tempatnya dengan pikiran kosong. Dia tersenyum manis dan mendekat secara perlahan.
Saat Zale tersadar dari mabuk berat yang dia rasakan dia sudah berada di rumah, lebih tepatnya berada di tempat Glen.
Dengan ingatan yang samar dan rasa sakit di kepala Zale mencoba mengingat segalanya. Dia tersentak dari kebodohannya dan menatap Glen yang berdiri diam mengamati dirinya.
"Apakah aku bermimpi?" Itu adalah kalimat pertama yang benar-benar dia ingin tahu
Glen tidak merespon terlalu cepat, dengan datar dia kembali bertanya "Mimpi seperti apa?"
"Berhenti membuatku gelisah, katakan! Apakah Arlana datang padaku itu mimpi atau kenyataan?!"
Glen tersenyum menatap kearah Zale, wajahnya tampak mengejek tapi juga bercanda. Dengan jari jempolnya yang terangkat kearah Zale dia berkata "Kerja bagus sobat, itu bukan mimpi👍"
Seolah seember air panas baru saja di siram kearah tubuh Zale. Pria itu tampak kaku dan memerah pada saat bersamaan.
Hatinya terasa hangat karena sebuah ledakan suka cinta, bahkan tubuhnya memanas dan terasa lebih ringan.
Dia mengingat dengan jelas ketika Arlana mengucapkan kalimatnya "Aku akan memberikan hatiku, jaga itu dengan baik dan tetap disisiku selamanya!"
Dengan rasa suka cita yang luar biasa Zale melompat dari tempat tidur secara tiba-tiba. Tindakannya ini membuat Glen menggeleng pelan kewalahan.
Tapi meski begitu Glen tidak mengatakan apapun dan hanya mengamatinya dalam diam. Mungkin saja Glen suatu saat akan sama sepertinya jadi tidak baik untuk mengolok dirinya sendiri di masa depan.
Dengan tidak sabaran Zale sebenarnya ingin menemui Arlana setelah dia terbangun, tapi dia mengurungkan niatnya dan menunggu.
Sebenarnya dia takut jika dia terlalu lama datang Arlana mungkin akan menarik kembali ucapannya karena dia sedang mabuk. Setelah banyak pertimbangan Zale akhirnya menahan dirinya dan menunggu.
Disinilah batas waktu kesabarannya habis, dia melihat gadis yang dia sukai terduduk disana. Dia ingin memeluknya dan melakukan banyak hal tapi ini masih disekolah, dia juga pernah berkata pada Arlana bahwa jika Arlana memberikan hatinya, Zale akan menahan diri untuk tidak melecehkannya di sekolah.
Dengan dorongan kuat menahan dirinya, Zale tersenyum manis dan menyapa Arlana yang termenung "Selamat pagi.."
__ADS_1
Arlana tersentak kaget, dia mengalihkan pandangannya dan menatap tepat kearah Zale berada sebelum mengalihkannya pada detik itu juga karena rona merah dipipinya.
"Apa kau baik-baik saja?" Zale bertanya cemas setelah melihat wajah Arlana yang tampak sedikit merah, kedua tangannya menggapai pipi Arlana dan kembali lagi bertanya "Apa kau demam? Tidak enak badan? Ingin pulang?"
Arlana : "..."
Tentu saja Zale tahu bahwa gadis itu baik-baik saja dan hanya merasa malu, tapi Zale tidak bisa membantu ingin menggodanya. Terlebih jika gadis itu mengatakan sakit dan ingin pulang, dia dapat menemaninya dan mereka hanya akan berdua ketika hal itu terjadi.
"Aku baik-baik saja!" Jawab Arlana cepat dan meraih kedua tangan besar Zale untuk pergi dari pipinya yang semakin merah
Wajah Zale tersenyum lucu, dia ingin mengatakan sesuatu yang lain tapi seorang guru datang dan memulai pelajaran.
Dengan patuh Zale terdiam dan mendengarkan guru di depan.
Hal yang berbeda terjadi dalam sisi Arlana! Gadis itu tampak gelisah dan tidak fokus, dia sesekali akan melirik kearah Zale berada.
Pikiran gadis itu berkelana dengan berbagai pertanyaan.
Apakah Zale melupakan hal yang terjadi kemarin karena mabuk?
Apakah Zale tidak mengingat apapun?
Kenapa pria ini tampak sama seperti biasa?
Tapi kenapa sekarang seolah pria itu tampak sedikit menjaga jarak dengannya?
Apakah Zale sudah merasa berhasil mendapatkannya dan kemudian bosan?
Apakah... Apakah....
Segala macam bentuk pertanyaan benar-benar terbesit di benak Arlana, gadis itu bahkan mendapatkan teguran dari guru karenanya.
Dengan Bell berbunyi menandakan waktu istirahat siang, Arlana ingin menanyakan beberapa Hal tapi Zale berdiri dan mengatakan sesuatu terlebih dahulu.
"Oh, aku ada hal yang ingin didiskusikan dengan guru Dan, Lana jangan lupa makan siang. Aku akan segera kembali!"
Dengan kalimat itu sosoknya berhambur pergi.
Arlana tertegun bodoh, dia menatap pria itu dengan perasaan kesal di hatinya. Merasakan amarah yang membendung, dia beranjak untuk pergi dengan tidak peduli.
"Bukankah mereka selalu seperti itu setiap saat?!"
"Ini sedikit berbeda!!!" Kanaya menggeleng tapi tidak melanjutkan dan hanya kembali pada apa yang dilakukannya.
....Di tempat Zale berada, pria itu tidak benar-benar pergi menemui guru Dan tapi tengah bersama dengan Glen. Dia terus tersenyum bodoh dengan sedikit rasa cemas dihatinya.
"Apa yang kau lakukan?" Glen bertanya dengan alis yang terangkat
Perlu diketahui bahwa Zale tidak pernah menemuinya di sekolah jika bukan hal penting sejak dia menjadi anak itik Arlana. Tapi sekarang dia tengah berada di hadapannya dengan makanan dan terus tersenyum bodoh.
"Aku melihat tingkah manis Arlana dan tidak bisa untuk tidak sedikit mengerjainya!"
"Jangan terlalu berlebihan, gadis itu mungkin akan kembali tidak memperdulikanmu!" Glen mengingatkan, namun dia mendapatkan tatapan melotot marah dari Zale
"Dia tidak akan melakukan itu, kalau pun dia melakukannya. Lalu apa? Aku akan tetap berada disisinya dan membuatnya Jatuh Cinta lagi!"
"Pria yang merepotkan!" Tidak lagi peduli, Glen fokus pada makanan di hadapannya.
Setelah beberapa waktu berlalu, Bell kembali berbunyi, Zale membeli beberapa minuman Vitamin dan susu untuk Arlana sebelum kembali.
Setelah dia sampai dikelas, wajah tampannya tampak gelisah melihat dimana gadis itu biasa berada tapi tidak menemukan sosoknya. Dengan wajah gelap dia mulai memikirkan kembali apakah dia bertindak berlebihan? Dimana Arlana? Dia tidak pernah bolos sebelumnya! Apa yang terjadi?
Seorang gadis bertanya ramah pada Zale yang terdiam diambang pintu "Apa kau mencari Arlana?"
Menatap wajah gadis yang sangat montok di depannya, Zale hanya mengangguk ringan.
Gadis itu tersenyum tipis dan kembali berkata "Arlana bilang tidak enak badan dan akan beristirahat di ruang kesehatan!"
"Terimakasih!" Zale mengangguk kearahnya dan berlalu pergi secepat mungkin, dia tidak dapat untuk tidak khawatir.
Apakah Arlana memerah benar-bebar karena sakit dan bukan karena malu? Tidak lagi berfikir aneh dia hanya terus berlari mempercepat langkah kakinya.
__ADS_1
Untuk Arlana sendiri, dia kini tengah terbaring di tempat tidur yang hening sendirian. Dia baik-baik saja dan hanya menutup matanya karena lelah.
Alasan dia berada disini, karena dia ingin bersembunyi dari Zale! Dia terlalu kesal untuk mihat wajah tampannya yang bodoh itu.
Saat Arlana berada dalam keheningan dan dunianya sendiri, suara pria yang membuatnya marah terdengar serak di telinganya.
"Lana, apa kau merasa sakit? Apakah tidak nyaman? Haruskah kita pergi kerumah sakit?" Dengan suara khawatir Zale mendekat dan menyentuh sosok Arlana yang terbaring dengan mata tertutup.
Tidak mendapatkan respon dari gadis itu dia kembali bersuara "Apa kau tidur?"
Diam...
Arlana hanya diam tidak menjawab, dia sebenarnya ingin menjawab dan marah pada pria itu. Tapi dia menahannya dan membiarkan pria bodoh ini untuk merasa khawatir lebih banyak.
Tidak seperti apa yang di harapkan Arlana, Zale tanpa banyak berbicara lagi dan malah mencium bibirnya. Ciuman lembut dan cepat.
"..." Arlana terdiam kaku tidak bergerak, dia menutup matanya rapat-rapat dengan debaran jantung yang menggebu. Wajah miliknya sudah merah padam seperti kepiting rebus.
"Ternyata kau baik-baik saja" Zale terkekeh pelan menyadari gadis yang berada di bawahnya itu tengah menahan rasa malu "Aku minta maaf untuk berpura-pura tidak mengingatnya! Aku hanya sedikit menggodamu. Jadi jangan marah oke?"
Mata Arlana terbuka seketika ketika kalimat itu keluar dari bibir Zale. Gadis itu bangun dan terduduk lalu mencubit pipi putih Zale dengan marah.
"Apakah itu menyenangkan untuk mempermainkanku?!"
Zale meringis dengan kesakitan, dia menyentuh jari Arlana yang masih mencubit pipinya dan berkata "Itu menyenangkan tapi juga menyiksaku! Aku bahkan harus menahan diri untuk tidak menyentuhmu!"
Dengan blus lainnya warna merah pada pipi Arlana bertambah pekat. Dia melepaskan jemari tangannya dan mengalihkan pandangan matanya untuk tidak menatap pria di hadapannya.
"Aku suka ketika kau malu seperti ini sangat manis!" Tangan Zale bergerak untuk menarik dagu Arlana keatas dan menatap mata indahnya "Aku menyukaimu dan aku berjanji akan selalu berada disisimu! Aku benar-benar Mencintaimu, jadi kau harus bertanggung jawab untuk kembali mencintaiku. Oke?"
Arlana tersenyum manis menatap wajah tampan di hadapannya penuh kehangatan, dia mengangguk tegas dan menjawab "Aku akan-"
Zale tidak lagi dapat bertahan, menerima perlakuan manis dari Arlana sudah membuatnya merasakan sensasi panas, dan ketika dia melihat gadis itu tersenyum manis kearahnya untuk pertama kali. Dengan cerobohnya dia menyambar bibirnya untuk sebuah Ciuman.
Ciuman itu di mulai dengan lembut, menempel dan mulai menekan hingga menghisap. Tidak merasa puas Zale terus menekan Arlana dan mulai menjelajahi disetiap dinding giginya dengan lidah.
Arlana kewalah akibat ciuman Zale yang berbeda dari biasanya, dengan nafas yang tersedat dia hanya membalas beberapa dan membiarkan pria itu melakukan keinginannya.
Tubuh Arlana menegang ketika sebuah tangan besar mulai menejalajah di dalam bajunya, dia tersentak dan mendorong tangan itu dari benda lembut didadanya.
"...." Arlana
Zale tersadar dari tindakannya yang sudah di luar kendali, dengan enggan dia menarik bibirnya dari Arlana. Dia juga dengan enggan menarik jemari tangannya dari benda lembut yang dia rasakan.
"Maaf aku keterlaluan" Zale membuka suara miliknya yang terdengar serak, dia tidak berani untuk menatap kearah Arlana yang terlihat berantakan atau dia akan kembali melakukan sesuatu yang lain.
Arlana menarik nafas panjang mencoba menghirup udara sebanyak mungkin dengan sesak. Dia merapikan baju seragamnya yang berantakan. Setelah setengah rapi tangan gadis itu menarik telinga Zale dengan kesal dan berkata pelan "Jangan keterlaluan, kami disekolah!"
Seolah menerima wahyu yang baik, wajah Zale bersinar terang dan menangkap tangan Arlana "Jadi jika tidak di sekolah itu akan baik-baik saja!"
Tangan Arlana terlepas dari telinga Zale, dia ingin menarik kembali tangannya tapi itu di tangkap oleh Zale.
Dengan bodoh dan tidak ingin menjawab pertanyaan Zale, Arlana mengalihkan pembicaraan "Apa kau bolos?"
Zale tersenyum lembut dan tidak lagi bertanya topik panas yang dia inginkan. Arlana baru saja menerima dirinya jadi itu tidak baik terlalu mendorong gadis ini.
"Karena kau tidak ada disana jadi kenapa aku harus datang?"
"Zale..."
"Tidak perlu membujuk! Aku tidak akan pernah datang selama kau tidak ada!" Zale menjawab tegas dan menatap Arlana dengan lembut.
Tidak lagi memperdebatkan hal ini, Arlana kembali tertidur ditempat tidur "Jangan mengangguku! Biarkan aku tidur!"
Mengabaikan perkataan Arlana, Zale terbaring tepat disisi Arlana tertidur dan memeluk tubuhnya erat seraya bergumam pelan "Ayo tidur bersama"
"Zale ini sekolah, tidak bisakah kau-?"
"Tidak ada orang disini! Guru kesehatan tidak datang. Jadi di tempat ini tidak ada siapapun kecuali kita!" Zale meyakinkan dan tidak mundur selangkah pun
"Ini panas-"
__ADS_1
"Kita bisa menghidupkan AC" sekali lagi jawaban Zale tampak yakin dan tetap tidak ingin kalah.
Dengan desahan nafas yang panjang Arlana hanya membiarkan tubuhnya di peluk oleh pria itu lalu mulai menutup mata dengan perasaan manis di hatinya.