
Suara berisik dari banyaknya obrolan dan teriakan terdengar di segala tempat. Siswa pria ataupun wanita terlihat tengah melakukan berbagai aktivitas dengan penuh semangat.
Dua orang gadis berusia 7 tahun yang juga berada di antara siswa itu tengah melakukan hal aneh. Namun, uniknya tidak ada yang benar-benar peduli dengan apa yang mereka lakukan.
"Bagaimana menurutmu?" Salah satu gadis yang ternyata adalah Celine tengah bertanya menatap gadis disisinya yang tentu saja adalah Arlana.
Mereka tengah mengintip, atau lebih tepatnya berada di antara jendela kelas 1 A untuk melihat sosok tampan yang juga berusia 7 tahun tengah bermain bola di lapangan terbuka.
Arlana mengedipkan mata keemasan miliknya dengan polosnya berkata "Oh, dia hebat. Permainan bolanya bagus!"
Puk!!!
"Kenapa kau memukulku?" Arlana menatap Celine dengan kesal seraya mengusap kepalanya yang di pukul
Celine mendecakkan lidahnya kesal. Ia mengutuk kesialannya dalam hati 'Bukan itu yang ia tanyakan! Kenapa ia bisa memiliki teman yang tidak peka seperti Arlana Tuhan?'
"Apa? Apa itu?" Melihat tatapan tersiksa Celine Arlana melotot marah
"Maksudku apakah dia tampan?"
"Oh itu!" Arlana tersadar dan mengangguk pelan "Dia tampan tentu saja, dia kan lelaki!"
"..."
"...?" Melihat Celine yang terdiam dengan pandangan bodoh, Arlana juga ikut terdiam dengan pandangan bodoh
"Sudahlah lupakan!" Celine menyerah untuk berdiskusi dengan Arlana "Aku berharap kelak aku akan bisa menikah dengannya!"
"Ah?"
Celine menggelengkan kepalanya tanpa daya "Aku tahu kita masih sangat kecil, tapi lihatlah dia-" Celine menujuk pada anak lelaki yang berusia sama 7 tahun dengan jarinya "Dia adalah putra ke dua dari Godwin Corp, sekarang saja sudah sangat tampan, apalagi nanti dimasa depan. Dia juga memiliki masa depan yang cerah. Jadi aku harap aku... lupakan saja!"
__ADS_1
Menatap Celine yang telah berbalik pergi, Arlana menatap kosong pada punggungnya yang telah hilang.
Kenapa sahabatnya itu sudah berfikir sejauh itu?
Arlana bingung!
Bukankah siapa pun tidak akan tahu apakah besok ia akan mati atau hidup?
Jadi kenapa berfikir tentang masa depan yang masih jauh?
Lupakan! Jangan fikirkan itu! Arlana menggelang pelan, sebelum mengikuti Celine, ia kembali menoleh untuk melihat anak lelaki yang di sukai oleh Celine.
"Kurasa dia cukup tampan!" Lirihnya tanpa sadar dan berlalu pergi
......
Seperti sebelumnya Arlana melambai ringan kearah Celine dengan riang sebelum beranjak pergi kearah rumah miliknya.
Saat kaki kecil Arlana tengah memasuki rumah, ia tersentak kaget melihat rumah itu tengah berantakan dengan banyaknya barang yang pecah.
PRANKK!!!
"Aa?" Arlana menjerit kaget saat suara lainnya dari sesuatu yang pecah terdengar nyaring,
Dengan kaki yang gemetar ia berusaha untuk melangkahkan kaki kecilnya kearah asal suara terdengar.
Langkah demi langkah dari kaki Arlana yang mendekat itu terasa seperti ai berjalan di atas sebuah bara api. Ia takut, ia sangat takut. Namun, rasa takutnya tidak lebih besar dari rasa ingin tahunya. Dengan nafasnya yang semakin pendek, Arlana berjuang langkah demi langkah.
Saat ia telah sampai di tempat tujuannya,- Pemandangan yang begitu berantakan menghantam mata emasnya.
Seharusnya ia tidak penasaran!
__ADS_1
Seharusnya ia tidak datang mendekat!
Seharusnya ia lari dan bukan malah mendekat untuk mencari tahu.
Tubuh Arlana gemetar hebat, Air mata yang menggenang mulai menetes dan mengalir dengan derasnya.
Apa yang ia lihat ini akan terus menghantuinya kelak, itu akan terus membekas dalam hati Arlana dan membuatnya berlubang.
"Ibu? Ayah?"
Suara Arlana begitu kecil dan lirih, namun seolah sosok didepannya itu mendengar. Semua orang di hadapannya berhenti dengan apa yang ia lakukan dan menatap Arlana dengan terkejut.
"Sa..sayang! Lanaa.." Ibu Arlana berseru lirih, wajahnya tampak kacau dengan Air mata yang mengalir deras, ia gemetar menatap Arlana seolah ketakutan.
Itu ibunya, tidak peduli seperti apa dia terlihat sekarang, itu memang ibunya.
Ibunya t3l4nj4ng, hanya menyisakan pakaian dalam atas menutupi gunungny4. Disisi ibunya ada seorang pria yang juga tengah tel4nj4ng dengan luka memar. Dan sosok lainnya adalah Ayahnya yang tengah mencengkrang kepalan tangannya erat dengan sedikit darah yang menetes.
Tidak peduli seberapa tidak peka Arlana,,
Tidak peduli seberapa kecil Arlana..
Ia tahu apa yang terjadi, ia tahu itu, benar-benar tahu..
Dengan tubuhnya yang merosot kebawah jatuh kelantai, gadis kecil itu berteriak dan menangis kencang.
"Ayah.. Ayahh... Ayahhhh" sosok yang ia tangisi bukan ibunya melainkan ayahnya, dengan suara parau Arlana terus berteriak keras dan memanggil nama ayahnya hingga ribuan kali
"Lana.. Sayangg.. Maafkan Ayah! Seharusnya kau tidak pernah melihat hal seperti ini!" Ayah Arlana mendekat kearah Arlana dan memeluk tubuh kecilnya yang rapuh dengan erat
"Ayah.. ayah..." Arlana terus menangis dan tidak mengatakan apapun selain kata 'Ayah' ia tidak mengerti kenapa ayahnya harus meminta maaf? Kenapa? Ayah?
__ADS_1
Ruangan itu benar-benar sunyi hanya menyisakan tangisan dan teriakan Arlana yang menggema.
Ibu Arlana juga tengah terkulai lemah di atas lantai dan menangis keras menatap kearah putrinya yang menangis dalam pelukan suaminya.