My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
17 Arlana, I Really Love You!!!


__ADS_3

Daun kering di atas pohon jatuh, melambai ringan tertiup angin yang berhembus lirih. Udara pagi hari dengan sinar hangat matahari yang jatuh menyinari bumi tampak menjadikan suasana pagi begitu damai.


Lagit biru di angkasa juga menambahkan kesan indah yang turut menyambut datangnya hari yang akan tiba tanpa setitik noda yang terlihat.


Seolah suasana indah di pagi itu tidak terlihat sama untuk setiap orang. Seorang lelaki tampan tengah gelisah. Dia terlihat terlalu gelisah menatap kearah pintu kelas yang terbuka dengan tidak sabaran.


Tingkah lelaki tampan itu menarik perhatian, tapi dia tidak peduli dan tetap menatap kearah pintu masuk.


Pria itu, Zale! Dia tidak bisa tidur nyenyak semalaman dan terus memikirkan apa yang harus di lakukannya untuk membuat Arlana menyukainya. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, jadi hal itu memberikan sedikit tekanan di hatinya.


Zale selalu tidak peduli jika seseorang tidak menyukainya ataupun membencinya. Hal itu tidak akan berpengaruh untuknya, tapi kini dia memikirkan Arlana yang begitu membencinya dan tidak menyukainya. Hatinya terasa sesak dan sakit.


Dia ingin gadis itu menyukainya!


Dia ingin gadis itu melihat kearahnya!


Dan dia ingin gadis itu menjadi miliknya!


Memikirkan berbagai kemungkinan yang akan di hadapinya Zale tanpa sadar tidak tidur semalam dan bangun dengan kantung mata yang menghitam. Dia bahkan sampai di sekolah lebih pagi dari pada sisiwa yang paling rajin.


Tentu saja pemandangan aneh itu tidak luput dari mata Glen, dia hanya diam dengan senyuman di bibir. Sepertinya si bodoh itu telah menyadari perasaannya, jadi Glen hanya akan mengamati dari jauh bagaimana segalanya akan berjalan.


Mata hitam indah Zale berpijar ketika sosok wanita yang telah dia nantikan muncul dari balik pintu kelas.


Arlana berjalan pelan dengan tas yang menggantung di bahu rapuhnya, rambut hitam miliknya di ikat menjadi satu di belakang. Gadis itu sama seperti bisanya, wajah datar tanpa senyuman. Tapi tidak tahu mengapa dada Zale berdebar kencang seakan melompat, dia juga tanpa sadar menjadi sedikit gugup saat Arlana perlahan berjalan mendekat kearahnya.


Tidak mengidahkan tingkah aneh Zale, Arlana hanya berjalan melewatinya dan terduduk di bangkunya. Dia hanya sedikit kaget saat melihat orang yang biasanya datang terlambat itu sudah ada di kelas.


Zale yang biasanya akan berbicara banyak hal hanya terdiam. Dia menatap kearah Arlana yang terduduk disisinya tanpa mau mengalihkan pandangan. Sebelumnya Zale hanya berfikir bahwa gadis ini cukup manis, tapi entah kenapa sekarang setelah dia melihatnya lagi. Zale merasa Arlana sangat cantik menawan dan menggemaskan.


Dia juga tidak dapat mengontrol debaran di jantungya yang menguat. Seolah jantung miliknya akan melompat keluar kapanpun. Zale juga sedikit gelisah melihat kearah tubuhnya yang ingin menyentuh gadis disisinya. Dia ingin mendekap gadis itu dan melakukan banyak hal tercela. Apalagi dengan aroma Arlana yang sangat manis melintasi hidungya ketika dia berjalan melewatinya. Zale menjadi semakin gelisah dan ingin menerkam.


Dia bertanya-tanya dalam benaknya, 'Apakah semua makhluk yang jatuh Cinta itu menjadi tidak normal sepertinya?'


"Apa yang kau lakukan?"


Arlana membuka percakapan setelah merasa tidak nyaman dengan diamnya Zale dan tatapan matanya yang panas. Tidak tahu mengapa, Arlana merasakan aura berbahaya dari pria itu lebih dari hari yang lainnya.


Zale tersadar dari sikapnya yang aneh, dia sedikit tersenyum ketika menatap wajah Arlana yang datar namun terlihat gugup di mata emasnya.


Dengan gerakan menggoda Zale mendekatkan wajah tampannya "Aku-"


"Baik, buka buku mata pelajaran kalian! Hari ini kita akan membahas materi yang di pelajari minggu lalu.!"


Suara seorang guru pria terdengar lantang bersamaan dengan tubuhnya yang berjalan memasuki ruang kelas.

__ADS_1


Zale mendecakkan lidahnya kesal, dia ingin menarik kerah baju guru itu dan meleparkannya pada sekumpulan b4b1 untuk dimakan karena mengganggu momen indahnya.


Dalam keadaan kesal Zale hanya mendengarkan mata pelajaran dengan setengah hati, dia bahkan tidak fokus dan terus-memerus mencuri pandang pada Arlana.


Sedangkan untuk Arlana sendiri, dia hanya menghela nafas lega melihat kedatangan guru. Dia tahu bahwa Zale pasti akan melakukan hal aneh lainnya, maka sudah di pastikan guru sekolah adalah dewa penyelamatnya!


Seiring berlalunya setiap mata pelajaran, kedua orang itu tidak benar-benar mendengarkan penjelas guru. Satu dari mereka gelisah dengan perasaannya dan ingin cepat mata pelajaran berlalu. Sedangkan satu lainnya merasa gelisah melihat tingkah aneh lainnya dan memikirkan rencana untuk melarikan diri.


Bell istirahat siang berbunyi ketika ke dua orang tersentak kaget.


Tidak menunggu Zale yang masih sedikit linglung, Arlana berhambur keluar kelas dengan kecepatan menakutkan.


"Lana!!!" Zale berteriak keras ketika melihat tubuh Arlana yang menghilang dari sisinya.


Dia turut berlari untuk mengejar gadis itu tanpa peduli semua pasang mata menatap mereka dengan aneh.


"Ada apa dengan mereka?" Seorang gadis di kelas bertanya pada teman disisinya, temannya itu hanya menggeleng pelan.


Tidak mendapatkan jawaban, gadis itu kembali berbicara "Mereka berdua bersikap aneh sejak mata pelajaran pertama. Kuharap tidak ada yang terjadi!"


"Kanaya kau mengkhawatirkan Arlana sekarang?" Gadis bernama Kanaya itu tidak menjawab mendapatkan pertanyaan itu, dia hanya terus menatap kearah punggung Arlana yang menghilang.


"Lupakan! Lebih baik kita cari makan! Aku lapar!" Melihat Kanaya mengabaikan pertanyaannya, gadis itu melambaikan tangannya dan pergi keluar kelas.


.......


Dia berada di taman!


Taman belakang sekolah, sebuah taman yang sudah tidak lagi di datangi oleh siswa.


Arlana mengutuk kebodohannya. Dia memang ingin bersembunyi di tempat yang tenang, tapi sepertinya dia hanya mengundang masalah untuk datang kemari.


Saat kaki miliknya hendak berbalik untuk pergi, dia terdorong mundur akibat membentur seseorang.


Sebuah tangan hangat melingkar di pinggangya saat Arlana akan jatuh. Menyadar situasi ini, Arlana mengerjap menatap sosok yang tengah menangkapnya.


'Sial4n! Kenapa pria ini berlari sangat cepat! Apakah dia memakai sepatu luncur'


Wajah Arlana memerah padam saat mata emasnya menangkap wajah tampan Zale yang terlihat bodoh dengan deratan gigi putihnya yang rapih.


"Lepas!" Suara Arlana dingin saat melihat Zale yang hanya terdiam tanpa mau melepaskannya.


Wajah Arlana menjadi lebih merah dan sedikit gelap. Seseorang dapat melihat bahwa gadis itu tengah sangat marah kali ini.


Zale tidak mengidahkan perkataan Arlana. Dia malah menarik gadis itu kedalam pelukannya. Dengan kedua lengan melingkari pinggang Arlana, mata hitam Zale menatap mata berwarna keemasan Arlana dengan pandangan dalam.

__ADS_1


"Aku menyukaimu!"


Arlana terkejut mendengarkan pengakuan Zale!


Pria di depannya ini telah mengatakan kalimat itu berkali-kali padanya. Tapi entah kenapa Arlana merasakan perbedaan dalam pernyataan yang baru saja Zale ucapkan.


Merasakan ketidak nyamanan di hatinya, Arlana mengalihkan pandangannya. Dia mencoba mendorong tubuhnya dari Zale dengan sekuat tenaga "Zale, lepaskan aku!"


"Aku tidak mau!" Zale menolak tegas dan mepererat dekapannya. Tubuhnya menjadi panas ketika merasakan kelembutan tubuh Arlana dalam pelukannya. Melihat Arlana yang sedikit salah tingkah, dia mencondongkan wajahnya tepat di telinga Arlana dan kembali berbisik pelan "Aku menyukaimu! Jadilah milikku! Lihatlah aku dan jangan melihat pria lainnya!!"


Merasakan nafas hangat Zale yang berhembus di telinganya serta kata-kata yang di ucapkannya, jantung Arlana berdebar kencang. Wajah merahnya yang marah berubah menjadi merah malu merona. Dia tampak lebih manis.


Melihat hal ini Zale tidak dapat lagi menahan dirinya. Dia mendekap leher belakang Arlana dan mengunci bibir merah gadis itu dengan erat.


Merasakan perlawanan dari Arlana, tubuh Zale menjadi bersemangat. Dia meraba dan terus mendorong lidahnya untuk membongkar bibir terkatup Arlana.


Ke dua orang itu saling mendorong dan menekan hingga hampir sepuluh kali. Dengan lelah Arlana menyerah, dia berhasil mendorong Zale berkali-kali tapi tepat hanya 1 detik bibirnya kembali di kunci olehnya. Melihat betapa gigihnya pria di hadapannya, dia tidak lagi memberontak dan membiarkannya.


Zale mencium Arlana dengan sangat dalam, ciuman miliknya seolah menyatakan kepemilikannya atas Arlana. Ciumannya juga sebuah deklarasi untuknya yang akan segera merobohkan dinding di hati Arlana.


Taman sunyi itu begitu hening dan hanya menyisakan suara hembusan nafas yang mendesah memalukan. Setelah banyak waktu berlalu, Zale melepaskan ciuman di bibir Arlana dengan enggan. Jika bisa dia ingin terus menciumnya, tapi dia tidak bisa melakukan itu atau Arlana akan benar-benar marah.


Melepaskan bibirnya dari bibir Arlana, Zale menempelkan dahi miliknya pada Arlana dan menatap bibir merah di hadapannya dengan tegukan air liur di tenggorokan.


"Apakah itu menyenangkan untuk bermain denganku?" Suara Arlana sedikit parau dan lirih dengan nafas yang tertahan.


Mata emas miliknya menatap tepat kedalam mata hitam Zale di hadapannya. Dia ingin menampar pria di hadapannya, tapi tubuhnya masih di kunci dengan erat membuatnya susah untuk bergerak.


Zale tersadar dari tingkah lakunya, dia melihat tatapan yang di berikan oleh mata emas Arlana.


Hatinya sakit!


Dia merasakan hatinya sakit dan terluka.


Gadis di hadapannya ini tidak percaya pada kata-katanya!


Zale tahu, dan Zale mengerti itu!


Pada dasarnya dia selalu bermain dengan banyak wanita jadi untuk Arlana tidak mempercayainya dia bisa mengerti itu. Tapi, tetap saja hati Zale terasa sakit saat menatap mata emas Arlana yang terlihat terluka karena pengakuannya.


"Aku menyukaimu! Bukan, Aku jatuh cinta padamu!" Zale kembali berbicara, ke dua tangannya bergerak untuk menangkap pipi Arlana dan menatap tepat kedalam mata indahnya "Aku akan membuktikannya bahwa aku tidak mempermainkanmu! Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu menyukaiku! Tidak peduli bagaimana kau akan mencoba lari dan tidak percaya, aku akan membuatmu menjadi milikku! Karena aku mencintaimu! Aku benar-benar mencintaimu Arlana!"


Tubuh Arlana menegang kaku tidak bergerak. Setiap kata yang Zale ucapkan seperti sebuah jarum yang tengah mencoba menusuknya dan menacari jalan untuk masuk merobohkan dinding di hatinya. Mau tidak mau dia merasakan sedikit rasa percaya pada kata-kata itu. Hanya saja Arlana masih terlalu takut, dia takut untuk membuka hatinya dan mempercayai siapapun, apalagi pria seperti Zale.


"Aku mengerti! Tapi aku tidak menyukaimu dan aku tidak akan pernah menyukaimu!" Setelah menahan debaran di hatinya, suara yang keluar dari bibirnya sangatlah kering.

__ADS_1


Dia menangkap kedua tangan Zale di pipinya untuk di lepaskan dan berjalan pergi meninggalkan Zale yang terdiam kaku setelah mendengarkan apa yang dia ucapkan.


__ADS_2