
Malam itu dingin dan sunyi, sepasang mata hitam pekat menatap lurus kedepan dengan sedkit kesepian. Wajah tampannya tampak termenung dan memiliki berbagai hal yang di pikirkan.
"Glen, bukankah kau ada makan malam keluarga hari ini?"
Wajah datar Glen tersentak bangun dari lamunannya. Dia menatap kearah asal suara. Menangkap wajah tampan Zale yang tengah mengusap rambutnya dengan handuk, Glen kembali mengalihkan pandangannya dengan wajah malas.
"Kau tidak ingin datang?" Zale menebak, tidak mendapatkan jawaban dari Glen, dia kembali membuka mulutnya "Mungkin ada hal penting yang akan di bahas, jika kau tidak datang kau mungkin akan mati penasaran."
"Diamlah! Aku tahu itu!" Glen memijat pelipis matanya dengan kesal dan berkata "Aku memiliki firasat buruk! Jika aku datang mungkin aku tidak akan bisa pulang dengan wajah lurus hari ini!"
"Aku juga tidak dalam keadaan baik. Mungkin kita perlu untuk bermain keluar" Zale mendesah dan terduduk di sudut sofa "Bukankah besok libur? Kenapa kita tidak keluar dan bermain bersama Kelvin"
"Baik, mari lakukan itu!" Glen mengangguk pelan dan bangkit berdiri "Aku akan pergi sekarang!"
"Bukankah kau tidak ingin datang?"
"Diam kau!" Glen melotot mendengarkan nada cemohan yang keluar dari mulut Zale.
Tidak lagi peduli, dia mengganti pakaian santainya dengan pakaian yang lebih rapih lalu pergi dari rumahnya untuk acara makan malam keluarga.
.......
Setelah sampai di gerbang depan rumahnya, langkah kaki Glen yang baru saja keluar dari mobil sedikit melambat. Entah kenapa hatinya berdebar dan gelisah, dia tidak ingin mendengar kabar buruk lagi yang akan menambahkan penyiksaanya. Tapi disisi lain Glen sangat ingin melihat Aleya.
Dia merindukan gadis itu, sudah cukup lama dia tidak melihatnya atau mendengar suaranya. Glen selalu saja mengabaikan pesan dan telepon Aleya, dia takut jika di menjawabnya dia akan menjadi lebih susah menahan diri.
Tapi, tidak peduli bagaimana Glen mencoba membuat jarak dari Aleya, perasaannya hanya menumpuk. Dan sekarang dia sangat merindukannya hingga hampir tidak dapat bertahan.
Setelah menenangkan pikirannya, Glen menghirup udara dingin di malam hari hingga paru-parunya terasa penuh. Dia melangkahkan kakinya perlahan untuk masuk kedalam rumah besar itu.
Wajah pertama yang dia lihat adalah Ayahnya, Brandon. Lalu si kecil Vino dan kemudian ibunya Diana. Tidak melihat jejak Aleya, jangtung Glen berdebar kencang menjadi semakin gelisah.
"Kau sudah datang?" Brandon menangguk ringan dan menepuk pundak putranya lembut "Lihatlah kau bahkan tidak pulang berkunjung ataupun menghubungiku! Anak nakal!"
Melihat sifat ayahnya yang santai, detak jantung Glen yang gelisah menjadi sedikit tenang. Dia tersenyum dan menggaruk tengkuk lehernya dengan sedikit rasa bersalah terlihat. "Maaf Ayah aku-"
"Sudahlah aku hanya bergurau! Kau bahkan tidak bisa diajak bergurau sekarang!" Brandon mengehela nafas pelan menatap wajah Glen yang terlihat kusut. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana dengan putranya ini. Tidak peduli bagaimana Brandon berusaha mendekat kearahanya, itu seolah bocah nakal ini banya membuat jarak diantara mereka.
"Kakak! Lihatlah banyak makanan!" Vino menarik tangan besar Glen penuh semangat, dia terus mengoceh "kami akan makan malam bersama, makan malam yang sangat besar"
"Vino, jangan menarik kakakmu seperti itu dia akan jatuh nanti!" Diana menasehati putra kecilnya yang terlihat bersemangat, dia menatap kearah Glen dan tersenyum lembut "Aleya akan segera datang bersama kekasihnya sebentar lagi. Ayo lebih baik kami duduk di meja makan dan menunggu!"
Seolah sebuah Bom baru saja diaktifkan di dalam hati Glen, tubuhnya berdiri kaku untuk sedetik sebelum kembali normal dan mengangguk pelan kearah Diana lalu terduduk di salah satu tempat duduk.
Brandon tidak mengatakan apapun, dia hanya menghela nafas lirih dan ikut terduduk dalam diam.
"Maaf kami terlambat!" Suara Aleya terdengar lembut.
Glen mengalihkan tatapan matanya kearahnya. Disana dia melihat sosok cantik Aleya yang begitu dia Cintai tengah bergandengan tangan dengan seorang pria tampan disisinya.
Paru-paru Glen menegang, dia merasa sesak disana, seolah seseorang baru saja mengambil seluruh oksigen yang baru saja dia hirup. Wajah datar Glen tersenyum ringan, dia mengangguk setelah mencoba menangkan dirinya untuk menyapa pria disisi Aleya.
__ADS_1
"Lihatlah adik bodoh ini!" Aleya bergerak maju dan mengacak rambut Glen kasar dengan marah. Tentu saja Glen menangkap tangan lembutnya dengan sigap.
"Berhenti membuatku tampak jelek!" Suara Glen terdengar sederhana sama seperti biasa, namun, jika seseorang benar-benar memperhatikannya. Nada suaranya tampak bergetar seolah ingin menangis.
"Kau tahu betapa aku merindukanmu! Aku bahkan menelponmu berkali-kali, aku juga datang ke tempatmu! Tapi kau bahkan tidak membalas atau menanyakan apapun! Kenapa kau sangat kejam padaku?!" Aleya menuntut marah menatap tepat kearah Glen dengan kesal dan sedikit kerinduan di matanya.
Glen terdiam dan balas menatapnya, dia mengutuk gadis di hadapannya ini di dalam hatinya 'Bukankah yang kejam disini adalah kau Aleya!'
"Apa? Kenapa? Tidak berbicara?" Melihat Glen yang hanya diam dan terus menggenggam tangannya Aleya menjadi lebih geram.
"Baik, Alyea itu cukup! Mungkin Glen sibuk. Tahun ini adalah Tahun terakhirnya di sekolah! Jangan membuat banyak masalah. Terlebih lagi, siapa pria itu?" Brandon menengahi ketika melihat diamnya Glen, dia menatap pada sosok yang datang bersama dengan Aleya
"Malam Paman, Bibi. Namaku Lucas. Aku kekasih Aleya. Maaf atas gangguannya!" Lucas menyapa dengan sopan kearah Brandon dan juga Diana berada.
Aleya disisi lain memiliki wajah manis yang tengah tersenyum dan tersipu malu. Pegangan tangan Glen pada tangan Aleya terlepas secara refleks, dia mengalihkan pandangan matanya kearah Vino dan menahan rasa sakit di hatinya.
Brandon melihat pria di hadapannya dan tersenyum ringan. Dia menatap pada Alela kemudian Glen sebelum kembali berbicara "Anak muda yang sopan, tidak usah segan. Duduklah dan mari makan malam bersama!"
Semua orang di ruangan tidak lagi berbicara banyak hal dan memilih makan malam dalam damai. Mereka akan berbicara sepatah atau dua patah kata sambil lalu memakan makanan di meja.
Sedangkan untuk Glen dia hanya diam sepanjang makan dan Fokus pada hidangannya sesekali dia juga akan mengambilkan beberapa hidangan untuk Vino.
Berbeda dengan Aleya, dia cukup berisik dan berbicara kearah Glen dan Lucas bergantian. Dia bahkan akan mengambil beberapa lauk untuk Glen lalu memarahinya karena berat badannya yang turun.
Brandon hanya diam menatap kearah putra dan putrinya. Dia hanya mendesah dengan rasa sakit di kepalanya.
Saat hidangan penutup di sajikan, Lucas yang tidak banyak bicara tiba-tiba membuka suara miliknya dan membuat seluruh orang di ruangan terdiam.
"Uhuk!" Glen terbatuk ringan, dia menatap kearah Aleya yang tampak biasa. Sepertinya mereka memang merencanakan hal ini. Melihat semua hal berjalan kearah ini, Glen menjadi lebih putus asa dan sangat tersakiti.
Dia ingin pergi dari tempatnya terduduk secepatnya dan menghilang dalam kegelapan malam.
"Apa kau serius?" Suara Brandon terdengar berat, dia menatap wajah Aleya yang tampak tidak terkejut dan kembali berkata "Bagaimana denganmu Aleya?"
"Kami sudah membicarakannya!" Aleya tersenyum malu dan menundukkan kepalanya
Diana tidak mengatakan apapun dan hanya terdiam. Dia sudah mendengar ini dari Aleya sebelumnya. Jadi dia mengatakan pada putrinya bahwa dia hanya akan mengikuti perkataan suaminya. Jika suaminya setuju maka Diana akan mendukung, jika tidak maka Diana hanya akan membantunya membujuk sedikit.
Brandon memijat pelipis matanya ringan dan kembali berkata "Aleya, apa kau hamil?"
Jantung Glen terasa meledak saat Ayahnya bertanya pada Aleya dengan pertanyaan menakutkan. Dia sudah merasa dengan kalimat pernikahan yang baru saja dia dengar tubuhnya jatuh kedalam lubang lumpur tanpa dasar. Tapi seolah itu tidak cukup dia juga di bakar menyedihkan oleh lautan minyak!
Aleya terkejut dengan pertanyaan ayahnya, dia menggeleng cepat "Tidak Ayah, bagaimana ayah memiliki pemikiran seperti itu?"
"Brandon?!" Diana juga tampak tidak senang atas pertanyaan suaminya.
"Itu baik jika tidak!" Brandon menghela nafas lembut, dia menatap Diana dengan tatapan minta maaf dan kembali melanjutkan "Aleya kau masih terlalu muda untuk menikah!"
Mendengar perkataan Ayahnya, Glen sedikit merasa lebih baik. Tapi dia tahu pasti suatu saat nanti Aleya pasti akan menjadi milik orang lain. Mau tidak mau Glen harus merelakannya dan tersenyum bahagia untuknya. Memikirkan Hal ini membuat otak di kepala Glen terasa kosong, seolah seseorang telah memadamkan seluruh cahaya harapan dalam hidupnya!
"Tapi kami sudah meras sangat cocok Paman!" Lucas yang terdiam kembali membuka suara meyakinkan "Aku berjanji akan selalu menjaga Aleya, aku akan selalu membahagiakannya dan memenuhi semua yang dia butuhkan!"
__ADS_1
"Dengan apa kau akan memenuhi kebutuhannya?" Suara Brandon terdengar sangat dingin. Dia menatap pemuda dihadapannya dengan wajah kaku yang tidak sedap di pandang
Mendapatkan tatapan seperti itu dari Brandon, Lucas menelan ludahnya dengan gugup menjawab "Keluargaku cukup mampu dan aku akan menjadi seorang Presiden dalam waktu..."
"Baik, itu cukup!" Brandon menyela dan menatap wajah Aleya yang terlihat tidak baik "Aleya, kau dan kekasihmu bahkan belum lulus dari universitas tapi sudah ingin menikah? Apa kau mencoba membuat sebuah lelucon?"
"Brandon kau terlalu keras" Diana menasehati, tapi dia di tatap dengan tajam oleh Brandon.
"Kau menyarankan aku memberikan anak gadisku pada seorang mahasiswa kaya yang masih meminta uang pada orang tuanya?" Nada suara Brandon terdengar marah, dia mentap tidak oecaya pada Diana dan melanjutkan "Lalu setelah mereka lulus dan dia baru saja masuk dalam dunia bisnis! Apa kau pikir itu mudah untuk menjadi seorang Presdir? Jangan membuatku tertawa! Dia hanya akan membuat perusahaannya bangkrut!"
Seluruh tempat terdiam membisu, Diana tidak lagi berani membuka suara. Dia tahu suaminya pasti sangat marah sekarang.
Melihat semua orang tidak menjawab pada perkataan kasarnya Brandon menghela nafas panjang dan kembali berbicara lebih lembut "Aleya aku tidak akan melarangmu untuk menikahi siapapun. Tapi lihatlah dulu, sebelum kau menikah. Cari seseorang yang benar-benar mapan dan seseorang yang benar-benar pantas untuk sisa hidupmu. Jangan membual tentang pernikahan hanya karena hasrat Cinta semata!"
"Ayah..." Aleya menatap kearah Ayahnya dengan pandangan rumit, dia merasa sedikit marah pada perkataan kasar Ayahnya terhadap Lucas. Tapi tidak dapat di pungkiri bahwa perkataannya itu benar adanya.
Jamuan makan itu tidak berlangsung lama setelah apa yang terjadi, dan entah bagaimana tiba-tiba segalanya berlalu begitu saja di mata Glen.
Saat Glen hendak pergi keluar dari rumah, langkah kakinya terhenti akibat permintaan Ayahnya.
"Glen, kenapa kita tidak berjalan di taman dan menghirup udara malam sebentar saja?!"
Pada akhirnya Ayah dan anak itu berjalan beriringan di kegelapan malam. Mereka terdiam cukup lama dan hanya berjalan menatap kegelapan malam yang di sinari oleh bulan dan bintang.
Glen diam, hatinya gelisah dan gugup. Dia menebak apa yang akan di katakan oleh ayahnya dan jantungnya menjadi sesak. Dia sudah berada dalam keadaan yang buruk dengan apa yang baru saja terjadi tapi seolah itu tidak cukup. Hal itu malah akan terus berlanjut.
"Glen," Brandon menghentikan langkah kakinya, dia menoleh melihat kearah tubuh Glen disisinya. Dia ingin menangis saat ini, putranya telah tumbuh dengan baik dan dia harus merelakannya pergi jika dia ingin putra itu bahagia.
Dengan suara serak Brandon kembali berbicara "Aku akan menghapusmu dari keluarga!"
Glen terdiam, dia diam cukup lama dan hanya menatap mata ayahnya yang seolah menahan air mata.
Setelah cukup lama diam, Glen membuka bibirnya dengan sedikit gemetar "Ayah, aku..."
"Ayah tahu!" Brandon mengangguk tegas, dia meremas sisi bahu Glen dengan kuat "Kejarlah apa yang kau inginkan! Ayah tidak dapat membantu banyak! Tapi setidaknya ayah dapat memberimu waktu untuk tumbuh dengan mapan dan merebutnya!"
Air mata di mata hitam Glen meledak. Itu banjir dan jatuh mengalir dipipinya.
Tidak tahu lagi harus berkata apa, Glen hanya diam dan memeluk tubuh hangat ayahnya. Dia sangat beruntung memiliki seorang ayah yang hebat seperti Brandon. Dia benar-benar beruntung.
"Ayah, aku sangat menyayangimu dan keluarga ini!"
"Ayah tahu!" Brandon mengangguk, dia mengusap kepala Glen dengan lembut "Tapi Ayah ingin kau bahagia! Ayah ingin kau berhenti unyuk menahan diri dan perasaanmu! Ayah juga ingin Glen bahagia! Dan jika kebahagiaan Glen dapat di capai dengan melakukan hal ini ayah akan melakukannya! Jadi, jangan lagi menahan diri dan ambil apa yang kau inginkan!"
Glen menangis lebih keras. Dia selalu menahan perasaannya, tapi ayahnya ingin dia untuk pergi keluar dan tidak menahannya. Ayahnya tahu semua dan tidak membencinya, dia malah memberikan dukungan untuk Glen.
Seseorang yang hanya orang asing seperti Glen untuk pernah menjadi putra seorang Brandon adalah kebahagian yang tidak dapat di gantikan apapun.
Dengan tujuan baru dan juga dukungan kuat Ayahnya, rasa sakit dan beban dalam hati Glen menjadi terangkat.
Dia bisa pergi dan memperjuangkan perasaannya. Selama ayahnya akan mendukung di belakang, Glen tidak akan takut apapun. Dan untuk Diana, Glen akan memikirkannya nanti. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah tumbuh Dewasa dan menjadi orang yang dapat berdiri tegak dengan dada yang terangkat.
__ADS_1