
Desiran angin yang lembut menerpa membawa tanah menjadi debu dan menghilang. Sepasang mata keemasan tampak cemerlang ketika dia menatap kumpulan manusia yang tengah terduduk di hadapannya.
Mereka berkumpul dan tertawa. Arlana dan sahabatnya. Awalnya ketika kabar tentang pernikahan Arlana di ketahui oleh mereka, semua orang sedikit terkejut tapi tidak untuk Kanaya. Dia tersenyum bahagia dan mengucapkan selamat padanya.
Celsi hanya menghela nafas panjang sebelum membuka suara miliknya "Zale, aku bukan teman yang baik.. tapi jika kau membuat Arlana menangis lagi aku tidak akan memaafkanmu! Jadi pastikan dia untuk selalu bahagia.."
"Tentu, aku akan melakukannya.." Zale mengangguk tegas kearah Celsi seraya menggenggam jemari tangan Arlana erat-erat
"Siapa yang akan percaya bahwa pria menyebalkan itu bisa kembali mendapatkan Arlana?!" Alen tertawa sinis kearah Zale dan memukulnya pelan "Bahagiakan dia bro, jangan pernah meninggalkannya lagi... saat kau pergi aku adalah orang yang menghiburnya..."
"Hentikan omong kosong menjijikkanmu itu.." Zale mendengus sebagai jawaban, tapi dia tahu bahwa Alen hanya bergurau "Kau bisa mencari wanita lain, Arlana milikku. Lihat! Celsi sepertinya sedang kosong!"
"Siapa yang sudi bersama nenek sihir itu?!"
"Siapa yang kau panggil nenek sihir?!" Celsi melotot tajam, kedua orang itu berdebat kembali.
Suasana tampak hangat dan nyaman. Arlana tidak bisa untuk tidak tersenyum sepanjang waktu. Melihat hal ini Zale merasakan perasaan hangat di hatinya.
Ponsel Zale bergetar ketika dia tengah fokus pada Arlana, dengan malas jemari tangannya mengambil ponsel yang berada di kantongnya.
Wajah Zale menjadi gelap seketika, dia mematikan Hp miliknya dan meletakkan kembali.
Melihat hal ini Arlana bertanya penasaran "Siapa itu?"
"Bukan siapa-siapa!" Zale menajawab cepat dan mencium pipi Arlana
Arlana mencubit lengannya kecil atas tindakan Zale, dia selalu merasa pria itu berbahaya dan tidak pernah berfikir panjang sebelum bertindak.
Tidak mendapatkan jawaban dari Zale, Arlana kembali pada teman-temannya. Mereka berbicara dan tertawa untuk beberapa waktu sebelum memutuskan untuk kembali akibat pekerjaan yang menumpuk. Tentu saja setiap orang yang hadir sudah berjanji untuk datang ke pesta pernikahan Arlana.
__ADS_1
Setelah mengucapkan selamat tinggal, sekali lagi Ponsel Zale berbunyi. Dan hal yang sama terjadi, dengan raut wajah yang jelek Zale hanya menutup teleponnya dan mengabaikan.
"Katakan siapa itu?!" Sekali lagi Arlana menuntut dengan tegas.
Zale menghela nafas melihat ketegasannya, dia sudah berjanji untuk tidak merahasiakan apapun. "Dia tunangan yang ibu pilihkan. Kurasa dia ingin membicarakan sesuatu..."
"Celine?!" Melihat Zale mengangguk Arlana melanjutkan "Maka temui dia, aku akan ikut bersamamu!"
"Itu terdengar bagus, ayo pergi! Tempat dia ingin bertemu tidak jauh dari sini.."
Mereka berdua berjalan sebentar dalam jarak yang tidak terlalu jauh hingga tiba di sebuah kafe yang sangat tenang.
Berjalan beriringan masuk kedalam kafe itu, Arlana dan Zale melihat sosok Celine yang tengah terduduk dengan wajah tertunduk melihat kebawah.
Setelah jarak antara mereka dekat, wajah Celine terangkat untuk bertemu dengan Arlana dan Zale.
"Apa yang kau inginkan?" Zale langsung bertanya ketika dia terududuk di hadapannya.
Celine diam, dia hanya menatap Arlana dengan permusuhan yang ketara sebelum melihat kearah Zale dengan wajah penuh cinta "Zale, aku mencintaimu! Aku lebih baik dari dia! Jadi kenapa kau tidak memilihku?! Dia tidak pantas untukmu!"
Zale terdiam tidak mengatakan apapun, dia menggenggam tangan Arlana dengan erat dan menampakkan wajah yang sangat jelek.
Melihat pria itu terdiam Celine melanjutkan "Aku lebih baik dari segi apapun, jadi kenapa kau memilihnya? Arlana kau bisa memiliki pria lain, jadi berikan Zale padaku!"
"Apa kau sudah selesai?" Suara Zale dingin, dia menatap tajam kearah Celine dengan sedikit rasa jijik melintas "Wanita sepertimu sangat memuakkan dan membuatku jijik! Berhenti menganggu hidupku atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih buruk sebagai balasan!"
Setelah selesai dengan kalimatnya Zale berdiri bermaksud pergi, tapi tangan Arlana menghentikan tubuhnya.
Menatap wajah Arlana yang tamapak sedih, dia terdiam mengamati.
__ADS_1
"Celine maaf, tapi sejak awal kami memang bersama. Kau akan mendapatkan pria yang lebih baik. Jadi kuharap kau bahagia..."
"Diam! Aku tidak butuh belas kasihanmu! Kau adalah pembawa sial untukku sejak aku kecil! Zale seharusnya menjadi milikku bukan kau!"
Wajah Zale menghitam menatap gadis di depannya. Dengan tidak suka dia nenarik Arlana untuk pergi sebelum berkata "Berhentilah bersikap bodoh atau aku akan mengahacurkan keluargamu!!"
Celine menatap kepergian mereka dengan air mata mengalir, tidak ada yang dapat dia lakukan kecuali menangis frustasi.
"Aku tahu kau teman masa kecilnya. Tapi itu sudah sangat lama. Jadi berhenti memikirkannya!" Zale akhirnya membuka suara ketika dia sudah berjalan menjauh.
Melihat wajah Arlana yang tampak tidak bersemangat, hantinya merasakan sedikit sakit. Saat dia sekali lagi ingin bersuara untuk menghiburnya. Arlana tersenyum dan berkata "aku baik-baik saja, hanya merasa sedikit kasihan padanya..."
Zale tidak lagi berbicara, dia memeluk gadis itu penuh cinta sebelum kembali kerumah untuk mempersiapkan pesta pernikahan.
...........
Cahaya Matahari pagi bersinar diatas langit biru dengan sedikit gumpalan awan yang menggantung. Hiasan bunga bermekaran serta kepakan sayap terbang serangga yang indah terlihat.
Tersusun rapi, sebuah tempat duduk dengan lapisan putih itu tampak mengesankan. Duduk diatas tenpat duduk itu, banyak pasangan yang tengah tersenyum bahagia menatap pemandangan di atas altar.
Dengan bunga ditangan dan gaun putih panjang yang melambai, Arlana tampak cantik layaknya seoarng bidadari. Sosok Zale tamapak gagah berdiri disisinya dengan sebuah Jas berwarna senada.
Senyuman manis dan indah menempel di bibir merah mereka. Wajah tampan dan cantik berseri penuh kebahagiaan. Saat suasana indah itu terlihat, seorang pria paruh baya dengan Jas hitam mendekat dengan buku di tangan.
"Apakah kalian siap untuk pernikahan ini?"
Zale dan Arlana saling menatap dengan senyuman bahagia. Meraka menganggukan kepala ringan dan menjawab sang pastur di depan dengan tegas..
"Kami Siap..."
__ADS_1