
Suasana tampak menjadi dingin dan turun beberapa derajat lagi. Dengan hujan di luar yang terus jatuh semakin lebat, itu menambahkan kesan buruk dan tidak nyamannya udara yang begitu dingin.
Mata hitam indah Zale menatap sosok Arlana yang berlari pergi meninggalkannya sendirian di lapangan.
Awalnya Zale tidak terlalu berharap bahwa Arlana akan pergi untuk melihatnya bermain basket. Tapi saat mata hitam Zale yang bosan menatap jajaran penonton, dia terkejut dan juga sangat bahagia ketika melihat sosok Arlana.
Namun, pandangan bahagia di matanya tidak berlalu lama ketika dia menangkap sosok lian disisinya. Itu Alen!
Apa yang dia lakukan bersama Alen disini?
Apakah mereka kemari bersama?
Saat seluruh pertanyaan aneh muncul di benak Zale, seketika mata hitamnya menjadi tajam dengan niat membunuh yang melintas.
Disana dia melihat gadis yang telah dia perjuangkan menatap pria lain dengan wajah yang tampak bersahabat dan lembut.
Arlana bahkan tidak pernah menampakkan wajah seperti itu pada Zale!
Jadi kenapa dia memperlihatkan wajah itu pada orang lain!
Apakah dia, Apakah Arlana???
Kepalan tangan Zale mengepal lebih erat saat dia memikirkan kemungkinan yang tidak ingin dia terima.
Tidak! Dia tidak akan membiarkan siapapun merebut Arlana darinya! Tidak akan pernah!
"Apakah kau Cemburu?"
Suara Glen tedengar sedikit lucu saat dia mendekat kearah Zale yang mematung menatap sosok Arlana yang menghilang.
"Apakah aku?" Zale kembali bertanya pada Glen dengan dahinya yang terlipat
"Yah kau terlihat cemburu!" Glen menjawab dengan mengusap dagunya, lalu melanjutkan "Lain kali jangan merusak pertandingan! Kau membuat tim kami kalah dan semua orang terdiam membeku!"
Menyadari tingkah lakukanya yang aneh karena Arlana, Zale hanya mendengus dingin sebelum beranjak pergi untuk mengambil tasnya. Dia melihat kearah Smartphone miliknya yang menyala.
Dengan sedikit sentuhan sebuah pesan singkat tertangkap oleh mata hitamnya...
[Bagaimana kabarmu? Apa kau bahkan masih mengingatku? Mari bertemu!]
Senyuman tipis muncul di bibir Zale, dia membalas pesan itu sebelum berjalan pergi tanpa memperdulikan semua pasang mata yang tengah menatap kearahnya.
*****
Langkah kaki Zale berjalan dengan lirih melewati sebuah pintu mewah restoran. Dia kini tengah memakai baju kaos berwarna hitam, sebuah tas tergantung di bahunya ringan. Dia tampak sangat memukau dan menyenangkan mata.
Restoran tempatnya masuk bukanlah restoran mahal dan elit, tapi itu cukup terkenal diantara para penikmat kuliner.
__ADS_1
Saat Zale tengah mencari sosok yang menghubunginya, mata hitamnya bekeliaran mencari di setiap sudut. Sadar bahwa orang yang memintanya datang belum tiba, dia terduduk di salah satu tempat kosong dan memesan minuman untuk menunggu.
Pikiran Zale tampak kosong, dia kembali memikirkan tentang kejadian di lapangan basket. Tadinya Zale pergi ke kelas sebelum pulang, dia ingin melihat Arlana. Tapi sosok yang dia harapkan tidak ada! Arlana telah pulang, atau mungkin lebih tepatnya dalam benak Zale telah kabur.
Hujan sudah mereda di luar hanya menyisakan tetesan lembut yang jatuh ditanah. Tapi tidak tahu kenapa dada Zale masih saja terasa dingin dan resah.
Dia tidak suka ketika melihat Arlana menatap pria lain dengan cara seperti itu!
Dia bahkan tidak suka melihat Arlana berbicara dengan orang lain selain dirinya!
Zale berfikir tentang sikap anehnya itu dikarenakan Arlana adalah mainannya, target barunya! Jadi dia benci ketika seseorang akan merusak kesenangannya.
Tapi setelah dia berfikir lebih dalam. Bukan hanya itu alasannya, ada alasan lain yang masih belum Zale ketahui. Sebuah Alasan tidak masuk akal yang mungkin ingin dia tolak seumur hidupnya!
"Apa yang kau pikirkan hingga terlihat seperti orang tua?" Suara lembut namun terdengar sedikit maskulin bergema,
Pikiran gelisah Zale menghilang dalam sekejap. Dia mengerjap menatap sosok tampan dengan wajah yang sangat halus tanpa cacat. Wajah itu terlihat sangat mirip dengan Zale, terutama di bagian bibir dan sisi dagunya. Jika Zale tampan membawa kesan lelaki maskulin. Sosok di depan Zale lebih Feminim dan cantik. Apalagi dengan kulitnya yang lembut dan tubuhnya yang kurus, dia benar-benar berbanding terbalik dengan Zale yang terlihat kekar dan kecoklatan.
"Bro kau datang!" Zale menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi penuh kebahagiaan di matanya.
Itu benar, sosok di depan Zale adalah kakak lelakinya yang lebih tua 8 tahun. Dia adalah Alfianus Godwin, salah satu pria muda berbakat yang masuk dalam majalah terkenal di Kota S. Apalagi dengan latar belakang keluarga Godwin yang terkenal, namanya sebagai pewaris yang juga jenius dalam memimpin Godwin Corp sangat di kenal di berbagai industri lain.
Fian tersenyum lembut menatap deretan gigi putih adiknya yang terlihat bodoh "Katakan apa yang membuatmu mampu berfikir ketika kau sangat tidak suka melakukannya?"
Melihat kakaknya terduduk di depannya dengan pertanyaan itu, Zale tanpa sadar memutar matanya untuk menghidar dan tidak menjawab.
"Aku tidak menyukainya" Zale membantah cepat dan tegas "Aku hanya menggodanya!"
Fian mendesah pelan menatap tingkah adiknya, dia tahu jika adiknya bodoh. Tapi dia tidak menyangka bahwa adiknya akan sebodoh ini!
Dia ingin membantu adik bodohnya ini untuk memahami perasaannya sendiri dan tidak harus berputar jauh sepertinya. Jadi dia mendorong topik untuk adiknya agar tersudut.
"Karena kau hanya menggodanya, maka jika gadis itu sudah memiliki seseorang yang dia sukai. Kau tidak bisa lagi bermain dengannya!"
"Kenapa?"
Benar saja ekspresi wajah Zale tampak gelap dan tidak suka.
Fian tersenyum namun nada suaranya menjadi tegas "Karena kau akan menjadi bajing4n yang sebenarnya nanti. Kau akan melukai hatinya dan membuat dia bersama orang yang dia sukai tidak bahagia!"
Melihat nada tegas yang di ucapkan kakaknya, Zale tahu bahwa dia tidak main-main. Dia kembali memikirkan apa yang di ucapkan oleh kakaknya.
Itu benar!
Jika dia terus mengganggu Arlana ketika Gadis itu telah menyukai orang lain dan memiliki kekasih, Apalagi dengan dia yang tidak memiliki perasaan pada Arlana dan hanya menggodanya. Dia akan menjadi b4jing4n tercela tidak tahu malu yang sebenarnya!
Tapi tetap saja Zale tidak ingin dan tidak rela untuk melepaskan Arlana atau bahkan memikirkan dia di miliki oleh orang lain. Itu tidak bisa dibiarkan! Itu tidak boleh terjadi!
__ADS_1
Melihat wajah adik bodohnya yang tampak rumit dan gelap, Fian menggeleng pelan dan ingin sekali tertawa. Dengan desahan nafas pendek dia kembali menasehatinya "Tentu saja kau bisa merebut atau memperjuangkan gadis itu dengan secara langsung jika kau benar-benar menyukainya!"
Itu benar!
Zale menampar paha miliknya dengan wajah cerah. Tapi setelah beberapa saat dia menatap kearah kakak lelakinya yang tengah tersenyum dengan pandangan kosong!
Kenapa sepertinya dia baru saja masuk ke dalam sebuah plot oleh kakaknya!
"Hahaha~~!!!" Fian tertawa lebar ketika melihat kebodohan yang terpampang di wajah tampan Zale. Bocah itu baru saja tanpa sadar telah mengakui pertanyaan pertama yang dia berikan dengan jawaban iya.
Zale menekuk wajahnya dengan lesu, kakaknya selalu seperti ini. Tapi tidak peduli bagaiman hasilnya, Zale tetaplah seorang pecundang disini!
Bahkan jika kakaknya tidak lagi bertanya apakah Zale menyukai seorang gadis, Zale pasti tidak akan menjawab pertanyaan itu dengan tegas seperti sebelumnya.
Itu benar, dia merasa... Arlana berbeda, tidak peduli bagaimana dia memikirkan segalanya kembali dari awal mereka bertemu. Zale memiliki perasaan khusus padanya. Dengan kepintaran kakaknya memberikan pertanyaan jebakan itu, membuat Zale menyadari perasaannya pada Arlana bahwa itu rasa Suka! Sebuah Cinta!
Jantung Zale berdegup kencang ketika sebuah kata Cinta terbesit di benaknya. Dia menjadi panas, mati rasa dan memerah secara bersamaan saat membayangkan wajah datar Arlana yang manis.
Aku Menyukaimu! Aku menyukai Arlana!
"Jadi siapa gadis itu?" Fian bertanya menggoda kearah Zale yang tampak memerah di pipinya.
Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis untuk gadis yang di sukai adiknya. Hidupnya pasti tidak akan tenang setelah hari ini!
Mendapatkan pertanyaan lain dari kakaknya, Zale ragu sejenak sebelum menceritakan segala Hal tentang Arlana.
Sejak kecil, Zale telah di rawat oleh kakaknya. Hanya dia yang selalu ada dan menemani Zale. Untuk orang tuanya sendiri Zale tidak dekat dengan mereka, atau mungkin dia bahkan tidak pernah berkomunikasi dengan mereka jika bukan hal yang benar-benar mendesak.
Ke dua orang tua Zale sangat sibuk bekerja, hanya Fianlah yang selalu ada dan menemani Zale. Bahkan meski sekarang Fian sibuk bekerja membantu di perusahaan, Fian masih akan meluangkan waktu makan bersama dan bermain.
Dan meskipun sekarang Zale tinggal di luar bersama Glen, dia masih sangat dekat dan terus berkomunikasi dengan kakaknya. Maka ketika hal tentang gadis dan lainnya yang membutuhkan nasehat dia pasti akan tanpa malu menceritakan segalanya.
"Jadi dia gadis yang unik" Fian tersenyum lembut ketika melihat Zale yang terus berbicara banyak hal, dia merasakan perasaan hangat di hatinya saat menatap wajah bahagia adiknya "Zale, hiduplah bahagia, dan lakukan apapun yang kau inginkan! Tidak peduli apa yang terjadi~"
Menatap kakak lelakinya menasehati dia dengan tangan yang mengusap rambut hitamnya, Zale merasa tertegun sejenak sebelum menyeret tangan halus kakaknya dengan sedikit malu.
"Bro jangan lakukan itu lagi! Aku sudah besar!"
"Baik, baiklah~" Fian mengehela nafas pada rengekan Zale, "Bagaimana dengan uang? Apakah kau membutuhkannya?"
"Tidak! Uang yang kau berikan padaku waktu itu masih cukup banyak!"
"Benarkah? Kalau begitu aku akan pergi sekarang! Jangan membuat masalah!" Fian bangkit dari tempatnya terduduk, melihat wajah lesu Zale yang tidak bersemangat dia tersenyum dan kembali mengusap rambutnya "Jaga dirimu! Jangan memikirkan apapun! Dan jangan mengkhawatirkan apapun! Cukup pikirkan dirimu sendiri!"
Zale tidak terlalu mendengarkan perkataan terakhir yang Fian ucapkan, dia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban sebelum mereka berpisah dan bergerak kearah yang berlawanan.
Setelah punggung Zale menghilang, Fian yang telah pergi menatap kembali kearahnya menghilang dan kembali bergumam pelan "Zale, maafkan kakakmu ini! Tidak peduli apa yang kau pikirkan aku sangat menyayangimu! Dan aku benar-benar berharap kau tidak akan terlalu kecewa padaku! Kau tidak akan jijik padaku! Dan kau akan hidup untuk dirimu sendiri!"
__ADS_1
Fian pergi mengendarai mobil hitam miliknya dan menghilang dalam lalu lintas. Saat Zale tahu apa yang sebenarnya terjadi, hal itu akan menjadi hujan badai yang sebenarnya di bulan Juli dalam hidupnya...