My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
29 Saudara...


__ADS_3

Setelah kepergiannya, Arlana kembali ke toko miliknya dan mulai bekerja. Namun, pikirannya tidak fokus dan sedikit terganggu. Hal ini terjadi hingga sore hari. Dengan desahan nafas panjang dia menyerah ketika jemari tangannya memencet sebuah nomor di Ponselnya dan menempelkannya di telinga.


Tidak lama menunggu bahkan sebelum nada pertama di telepon berbunyi. Ponsel itu telah tersambung dan terhubung.


"Kakak apa ada sesuatu yang terjadi? Kau tidak pernah menghubungiku, ini membuatku senang!" Suara Leon terdengar di seberang dengan kebahagiaan yang ketara


Aralana menghela nafas akan sikap adik lelakinya ini sebelum menjawab pelan "Apa kau memiliki waktu? Kenapa kita tidak keluar dan bermain sebentar!"


Telepon itu hening untuk waktu yang cukup lama. Arlana merasa sedikit tidak nyaman dan kembali berkata "Leon?"


"Baik, ayo keluar! Aku akan ketempatmu sekarang!" Jawaban Leon singkat ketika dia langsung menutup telepon miliknya.


Arlana terdiam menatap kearah Ponsel miliknya dengan pandangan rumit. Untuk memenuhi keinginan ibunya bahwa dia akan mengurus Leon maka dia perlu menyelesaikan masalah ini secepatnya. Pada dasarnya tanpa permintaan wanita itu pada akhirnya Arlana harus mengurus tentang masalah Leon dengannya.


Dia kembali membereskan beberapa pekerjaan sembari menunggu kedatangan Leon.


"Kakak! Kemana kita akan pergi?" Leon bertanya ketika dia melangkah masuk kedalam ruangan kerja Arlana.


Menatap tingkahnya ini, hati Arlana sedikit melunak. Tidak peduli betapa menyebalkannya adik lelakinya ini, dia tetaplah adiknya dan tidak memiliki kesalahan apapun.


"Kemanapun kau ingin pergi aku akan baik-baik saja..."


Wajah tampan Leon sedikit kaku ketika dia mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Arlana. Dia sudah merasakan firasat tentang kakaknya yang tiab-tiba ingin keluar untuk bermain bersama. Leon sedih, dia sangat sedih sepanjang perjalanan menuju ketempat kakaknya. Tapi tidak ada yang dapat dia lakukan, dia tahu hal ini harus berakhir cepat atau lambat.


Dengan desah nafas yang panjang Leon membuka suara miliknya "Aku akan membawamu ketempat favoritku! Kakak pasti akan menyukainya"


Arlana hanya tersenyum tipis seraya mengangguk pelan. Dia berjalan mengikuti tubuh Leon yang membimbingnya untuk naik kesebuah mobil hitam.


Mobil itu berjalan cepat dengan laju normal, keheningan menyelimuti selama perjalanan panjang. Arlana pada dasarnya bukanlah orang yang suka berbicara jadi dia tidak benar-benar tahu harus mengatakan apa.


Biasanya Leon selalu membuka suara dan mengatakan banyak hal, tapi pria itu hanya diam dan fokus mengemudi.


Setelah begitu lama mobil melaju, itu berbelok kesebuah tempat dengan tanjankan yang sangat tinggi hingga terhenti di sebuah bangunan unik yang terbuat dari bambu.


Leon tersenyum dan membuka suara "Aku selalu ketempat ini, ini adalah Kafe Ztrueatra. Sebuah Kafe yang tersembunyi di tempat yang menakjupkan. Makanan disini enak pemandangannya juga bagus. Tidak banyak orang yang benar-benar berkunjung jadi bisa di pastikan kafe ini sangat nyaman untuk menenangkan pikiran. Ayo keluar!"


Arlana mengangguk ringan dan mengikuti Leon yang berjalam di depannya. Mereka membeli beberapa makanan ringan dan minuman sebelum terduduk di salah satu tempat kosong.


Dalam diam Arlana hanya memakan makanannya dan menatap kearah Leon yang hanya tersenyum dan juga memakan makananya. Dia batuk ringan dan ingin membuka suara, tapi Leon menghentikan ucapannya.


"Aku tahu apa yang akan kakak katakan, tidak bisakah kita menghabiskan makanan ini dulu? Aku juga ingin menunjukkan Air terjun indah di belakang Kafe ini!"

__ADS_1


Arlana mengangguk pelan dan tidak lagi berusaha membuka suara. Dia hanya memakan makanannya diatas meja seraya mendengarkan ocehan Leon tentang kehidupan mahasiswa sehari-harinya.


"Salah satu profesor yang mengajarku memiliki kumis tebal, dia juga sering memberikan banyak materi. Tapi sialnya dia memiliki kekasih yang sangat Seksi, bukan hanya satu tetapi ada lebih banyak....."


Senyuman Arlana semakin lembut, dia mendengarkan setiap perkataan Leon dengan penuh perhatian. Selama ini dia selalu merasa sendiri. Tidak peduli berapa banyak teman atau pun saudara sepupu yang peduli, Arlana tidak benar-benar berfikir mereka adalah saudaranya.


Namun, pria nakal di hadapannya ini adalah adiknya. Tidak peduli bagaimana pria ini sangat menyebalkan dan mengganggu, fakta bahwa dia adalah adiknya tidak akan hilang dan berubah.


Setelah menghabiskan makanan dan minuman itu, Arlana di bawa kebagian belakang kafe, dimana sebuah pemandangan menakjupkan menyihir mata keemasan miliknya.


Air terjun indah membentang dari dua arah dan sangat besar. Ada hutan dan gunung kecil yang terlihat disisi lainnya. Dia tidak bisa untuk tidak merasa takjub oleh pemandangan itu. Memikirkan hal ini tidak heran bahwa Leo mengatakan bahwa tempat ini sangat cocok untuk menenangkan diri.


Dengan udara segar dan pemandangan yang indah, tentu saja setiap orang yang berkunjung akan merasakan ketenangan hati.


Setelah mereka berkeliling sejenak, mereka berdua terduduk di sebuah bangku di bawah pohon besar tepat di depan air terjun yang jatuh.


Melihat wajah Arlana yang mulai merasa tenang, hati Leon sedikit merasa damai. Dengan desahan yang keluar dari bibirnya dia tersenyum kecut sebelum membuka suara "Apakah ini akhirnya"


Arlana tersentak sadar ketika mendengar suara Leon, dia menoleh untuk melihat wajah Leon yang tampak kehilangan dengan senyuman sedih di bibir.


"Leon, kau tahu. Aku kakak perempuanmu dan akan selamanya begitu. Walaupun kami hanya bertemu selama 2 tahun ini. Aku sangat menyayangimu dan merasa bahagia bahwa kau adalah adikku. Jadi aku benar-benar berharap kau akan menemukan gadis yang baik dan bahagia.."


Leon menatap wajah Arlana cukup lama sebelum tersenyum manis "Aku tahu itu!" Dia mengangguk pelan dan melanjutkan "Aku menyayangi kakak mungkin perasaan ini sedikit Compleks karena aku merasa kesepian. Ibu selalu bermain dengan banyak pria sedangkan Ayah sangat sibuk dengan pekerjaannnya. Jadi ketika aku tahu aku memiliki saudara perempuan, aku merasa sangat senang. Dan ketika aku tahu bahwa saudara perempuanku itu kakak, perasaan kesepianku hilang di gantikan dengan kasih sayang yang sangat dalam. Aku menyayangi kakak dan ingin melindungimu. Tapi kurasa itu tidak di butuhkan lagi. Jadi disini akhirnya aku akan menjadi Dewasa dan mengurus hidupku sendiri..."


"Kakak tidak perlu mengkhawatirkanku lagi, aku akan baik-baik saja. Jadi tolong urus hidupmu dengan baik!"


Dengan gerakan ringan Leon memeluk tubuh Arlana kedalam pelukannya. Mereka berdua terdiam dan hanya saling berpelukan untuk waktu yang lama.


Setelah cukup lama hingga Leon merasa bahwa hatinya membaik dia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Arlana yang juga terlihat membaik.


Kedua saudara itu tersenyum sebelum mengalihkan kembali pandangan pada air terjun yang indah.


Setelah melihat matahari yang mulai menghilang, Leon membuka kembali suaranya dengan sedikit ragu. "Pia itu, Zale... apakah baik jika aku bertanya tentangnya?"


Wajah Arlana tampak kaku sejenak. Dia menghela nafas panjang dan mengangguk ringan dengan sedikit enggan.


Melihat hal ini Leon tidak bisa untuk tidak merasa sedikit sedih sebelum membuka mulutnya untuk berbicara lagi "Apakah dia mantan kekasihmu?"


Arlana diam, dia tidak mengangguk ataupun menggeleng. Dia bahkah tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan Leon.


Seharusnya itu adalah hal yang mudah untuk menjawabnya. Tapi Arlana tidak terlalu yakin, ketika dia berpisah dengan Zale, tidak benar-benar ada kata perpisahan yang terucap kala itu. Pria itu hanya menghilang meninggalkannya.

__ADS_1


Apakah itu juga dapat dikatakan sebagai keputusan untuk memutuskan hubungan?


Seharusnya Arlana sudah menyadari bahwa hubungan mereka berakhir saat itu, tapi entah bagaimana dia seolah tidak ingin menjawab pertanyaan Leon dan diam membisu.


Melihat diamnya Arlana, Leon menghela nafas sebelum kembali berkata "Aku tidak tahu masalah apa yang kalian miliki. Tapi disini aku bisa melihat bahwa pria itu mengakiti kakak.."


Leon mengalihkan pandangannya untuk menatap kearah pemandangan indah di hadapannya dan melanjutkan "Tapi, aku tahu pasti bahwa kakak masih memiliki perasaan padanya. Jadi jika kakak bertemu kembali dengannya apa yang akan kakak lakukan?"


Sekali lagi hanya ada keheningan. Arlana bahkan lebih tidak tahu akan jawaban dari pertanyaan Leon saat ini. Dia tahu pasti suatu saat nanti dia harus bertemu dengan Zale dan berhadapan dengan perasaanya.


Bahkan sekarang pun Arlana tidak dapat membohongi dirinya yang ingin bertemu dengan Zale. Tapi satu hal yang benar-benar membuatnya berpikir keras hingga sakit kepala.


Apa yang akan dia lakukan jika bertemu Zale kembali?


Apa yang akan dia katakan pada Pria itu?


"Tidakkah kakak berfikir untuk kembali padanya" saat kalimat itu keluar dari mulut Leon, Arlana mengalihkan tatapannya untuk melihat kearah adik lelakinya dengan wajah rumit.


Leon balas menatap Arlana sebelum melanjutkan ucapannya "Jika pria itu mengatakan ingin kembali, mungkin kakak lebih baik untuk menerimanya. Aku tahu mungkin itu terdengar tidak adil untuk kakak karena telah di lukai dengan sangat buruk olehnya. Tapi sekali lagi, jika cinta bisa mengalahkan perasaan sakit itu membuatnya sembuh dengan kembali bersama, kenapa tidak mencoba untuk kembali bersama saja? Pada akhirnya perasaan kakak untuknya masih sama besar seperti dulu..."


Dengan selesainya perkataan Leon, keheningan kembali meneyelimuti.


Arlana terdiam dan termenung dengan berbagai pikirannya sendiri, sedangkan Leon hanya terduduk disisinya dengan pandangan kosong menatap lurus kedepan.


Setelah diam dan hening yang cukup lama, Leon beranjak dari tempatnya teduduk dan berkata "Sudah mulai gelap, ayo kembali!"


Dengan wajah linglung, Arlana mengangguk pelan sebelum berjalan bersama dengan Leon untuk kembali kemobil dan pulang.


Dalam hening mobil itu melaju kembali ketempat Arlana. Keheningan terus berlanjut bahkan ketika mobil telah sampai tepat di depan rumah Arlana berada.


"Leon, terimakasih untuk hari ini. Aku merasa entah kenapa aku bukanlah seorang kakak hari ini. Dan kau bahkan bertindak lebih seperti seorang kakak" sebelum turun dari mobil Arlana akhirnya membuka suara miliknya.


Dia diam sejenak menatap kearah adik lelakinya yang tampan dan kembali melanjutkan "Jangan menahan dirimu, aku tahu kau merasa sedih dan sakit hati. Jadi kau bisa marah dan memukulmu jika mau!"


Senyuman di wajah Leon pudar seketika. Dia menatap kearah Arlana dengan kesedihan yang ketara, namun dia menggeleng pelan dan menjawab.


"Hatiku memang sakit, tapi aku sudah mempersiapkan hari seperti ini akan datang jadi itu tidak terlalu sakit seperti yang kukira!"


"Kau adalah adikku, dan apapun yang kau lakukan aku tidak akan membencimu!" Arlana mengusap pipi Leon lembut dengan pandangan kasih sayang.


Melihat hal ini mata Leon sedikit memerah. Dia mendekatkan wajahnya pada Arlana dan mencium pipinya lembut lalu berkata "Aku akan baik-baik saja. Lagi pula aku masih muda dan akan segera menemukan seseorang yang benar-benar aku Cintai. Kakak harus lebih peduli pada hidupmu dan perasaanmu!"

__ADS_1


Arlana terdiam sejenak setelah mendengarkan perkataan Leon. Setelah diam cukup lama dia akhirnya mengangguk ringan dan berkata "Aku akan menyelesaikan masalahku! Terimakasih Leon, sampai jumpa..."


Melihat ketegasan di mata Arlana sebelum turun, Leon menghela nafas panjang. Dia menatap sosoknya yang perlahan hilang memasuki rumahnya sebelum menghidupkan mobilnya untuk pergi dengan perasaannya yang telah mulai pudar.


__ADS_2