
Sinar Matahari pagi terlihat indah menerangi Bumi dengan Cahaya yang rata dan hangat. Langit terlihat biru bercahaya dangan sedikit gumpalan awan putih sebagai hiasan.
Mata keemasan terlihat fokus menatap kearah depan dengan pandangan kosong. Kedua mata indah itu tampak tengah berada di sebuah tempat yang jauh, menatap lurus kedepan seolah memikirkan hal yang lainnya.
Arlana Cheverly, itulah nama pemilik mata berwarna emas indah itu. Dia duduk di meja kerjanya seperti hari lainnya. Tapi sejak kemunculan Zale satu minggu yang lalu, pikiran Arlana tampak seakan teguncang oleh badai.
Dia selalu menatap kosong dan tidak fokus pada apa yang di lakukannya. Sejak perpisahannya dengan Leon, Arlana telah memutuskan akan mendengarkan perkataan Zale terlebih dahulu jika pria itu datang menemuinya. Tapi entah bagaimana, sekali lagi pria itu hilang layaknya sebuah ilusi dan tidak pernah muncul kembali.
Karena Arlana terbiasa sendiri dan memendam segala hal sendirian. Jadi dia tidak menceritakan tentang kedatangan Zale pada Kanaya ataupun teman yang lainnya. Dia hanya memikirkan masalahnya sendiri dan menjadi tidak waras seorang diri.
Dengan desahan nafas yang panjang, wajah Arlana mendarat di meja tampak lesu dan tidak bersemangat. Suasana hening seolah menemani kesendiriannya, Arlana diam dan tidak melakukan apapun.
Bunyi ketukan pintu yang ringan terdengar, gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap sosok wanita di depan pintu ruangannya.
Menyadari bahwa gadis itu adalah salah satu karyawannya, Arlana tersenyum lembut dan bertanya "Apakah ada masalah?"
Gadis itu menggeleng pelan "Tidak ada Nona, hanya saja anda memiliki seorang tamu. Dia sedang menunggu di ruang untuk tamu..."
Dengan anggukan ringan mengerti Arlana kembali berkata "Baik aku akan menemuinya. Terimakasih, kau bisa kembali!"
Melihat gadis itu mengangguk dan berjalan pergi, Arlana mengehela nafas panjang sebelum menopang tubuhnya dengan malas untuk beranjak dari tempatnya terduduk dan berjalan pergi keruang tamu.
Langkah Arlana sedikit terhenti ketika dia sampai di depan pintu ruangan itu, namun, dengan gelengan kepala yang pelan dia membuka pintu tertutup dan masuk kedalam ruangan.
Seorang Wanita yang berusia sama seperti ibunya terlihat dalam fisi pandangan Arlana. Wanita itu terduduk dengan anggun di sebuah kursi sofa yang lembut. Wajah cantiknya tampak menawan dan sedikit terlihat angkuh akibat riasannya yang agak mencolok.
Arlana berjalan mendekat dan mengangguk pelan kearah wanita itu untuk menyapanya "Selamat pagi, saya pemilik toko ini. Apakah anda ingin memesan sebuah baju?"
Wanita di hadapan Arlana itu hanya terdiam melihat kearah Arlana seolah tengah menilainya. Dia diam cukup lama dan hanya mengamati Arlana yang terduduk di hadapannya.
Melihat tidakan anehnya, Arlana sedikit bingung. Dengan sopan Arlana kembali mengulangi kalimatnya "Apakah anda ingin memesan sebuah baju?"
"Bianca Godwin.." Wanita itu akhirnya membuka suara. Saat Arlana mendengar nama Godwin di belakangnya, secara samar dia dapat menebak siapa wanita yang tengah duduk di hadapannya.
Melihat tidak adanya perubahan emosi di raut wajah Arlana, Bianca kembali melanjutkan ucapannya "Aku adalah ibu Zale!"
__ADS_1
Saat itulah raut wajah Arlana menjadi sedikit kaku ketika nama Zale di sebutkan. Dia sama sekali tidak dapat menebak apa kiranya yang membawa Ibu Zale kemari untuk menemuniya.
Jadi dengan wajahnya yang kembali datar dia sekali lagi berbicara sopan "Apakah anda kemari ingin membuat baju?"
"Apakah aku terlihat miskin hingga membuat baju di tempat kecil dan murahan seperti ini?"
Wajah Arlana kaku dan tampak sedikit gelap ketika dia mendengarkan ucapan kasar dari Ibu Zale. Dia tidak bisa untuk tidak menjadi marah, namun karena Arlana terbiasa menahan dirinya sejak kepergian Zale, Dia hanya tersenyum canggung sebelum kembali lagi berkata "Lalu apa yang membawa anda datang ketoko kecil dan murahan ini?"
Bianca mendengaus tidak senang sebelum jemari tangannya meraih sebuah kertas kecil dari tas mewahnya dan meletakkan kertas itu di atas meja.
"Ini adalah sebuah Chek yang sudah di tanda tangani. Aku ingin kau memutuskan hubunganmu dengan putraku!"
Arlana batuk pelan hingga terlihat seolah sedang tersedak sebuah tulang. Dia tidak bisa menahan raut wajahnya sama seperti sebelumnya. Entah kenapa gadis itu merasa ingin tertawa dari pada marah.
Situasi yang terjadi padanya ini sama seperti sebuah adegan di dalam sebuah Drama Romantis dimana si Keluarga Kaya tidak menyetujui hubungan putranya dengan si gadis miskin.
Tapi sayang sekali bahwa Ibu Zale tampak salah mengira bahwa dia tetap berhubungan dengan Zale. Arlana bukan lagi kekasihnya, dia bahkan sudah lama sekali sejak berbincang dengannya.
"Maaf tapi seprtinya anda salah paham akan sesuatu..."
"Salah paham apa?" Bianca memotong ucapan Arlana dengan geram sebelum kembali berkata "Tidak usah berpura-pura di depanku dan menutupi hubunganmu dengan putraku. Aku sudah mengetahui hubungan kalian!"
Wajah Arlana terpelintir jelek, dia meremas jemari tangannya erat. Sebenarnya dia tidak benar-benar peduli pada awalnya. Tapi melihat wanita di hadapannya bahkan bertindak sejauh itu hingga membawa sang ibu yang dia benci dan menyamakannya dengannya, membuatnya benar-benar marah sekarang.
"Jika sudah begini maka aku tidak akan menyangkal!" Nada suara Arlana sedikit meninggi, dia menaikkan dagunya dengan pandangan angkuh yang sama dan kembali berkata "Tapi aku tidak tertarik dengan lembaran Chek murahan ini! Kita lihat disini, aku sudah mendapatkan Zale, jadi sudah dipastikan Godwin Corp akan menjadi milikku dimasa depan. Jadi aku tidak ingin melepaskannya. Jika 'BIBI' ingin aku berpisah dengan Zale, maka bawalah hal yang lebih mewah dari sebuah Chek kosong!"
"Kau-" Bianca melotot tajam kearah Arlana yang tengah menatapnya dengan wajah penuh ejekan.
Dia menggertakkan giginya keras dan berteriak kearah Arlana "Aku akan memastikan Zale untuk membuka matanya dan melihat kebenaran tentangmu! Aku juga akan memastikan bahwa kalian tidak akan pernah bersatu selama aku hidup!!!"
Bianca bangkit dari tempatnya terduduk, dia mengambil Kertas putih di meja dan berjalan keluar, tapi langkah kakinya terhenti akibat perkataan tidak tahu malu Arlana.
"Bibi bukankah kau sudah memberikan Chek itu padaku?! Kenapa mengambilnya kembali?"
Wajah jelek Bianca bertambah jelek dan menghitam, dengan dengusan ringan dia melemparkan kertas putih di tangannya kelantai sebelum menghentakkan kakinya kasar dan berjalan pergi.
__ADS_1
Tubuh Arlana lemas dan bersandar di kursi ketika dia melihat tubuh Bianca yang telah hilang. Dia tidak terlalu peduli tentang apa yang dia lakukan kali ini, dia hanya merasakan sedikit kepuasan diri karena telah menang melawan seorang Mertua Jahat dan tidak kalah secara menyedihkan seperti dalam sebuah Drama.
Melihat kertas putih kecil di lantai, Arlana tidak dapat menahan tawanya lagi. Dia tertawa keras dan memecahkan keheningan di dalam ruangan itu. Mengingat kembali wajah cantik Ibu Zale yang tampak jelek dia sekali lagi tertawa keras.
Dia benar-benar tidak peduli jika keluarga Zale atau pun Ibunya tidak menyukainya, toh dia sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Zale. Kalaupun dimasa depan ada kemungkinan dia berhubungan kembali dengan Zale, maka dia akan memikirkannya dimasa depan saja. Untuk sekarang dia hanya akan hidup dengan baik dan mengurus dirinya sendiri seperti apa yang di katakan oleh adiknya Leon.
...........................
Bianca yang pergi dengan wajah buruk tidak dapat menerima hal itu dan pergi menemui Zale di kantornya.
Dengan kesal dia membanting pintu perusahaan Zale. Melihat putranya yang tampan tengah membaca berkas dan tetap tidak memperdulikan kedatangannya ketika dia melihatnya, dia menjadi semakin marah.
"Apa kau juga akan mengabaikan ibu?"
"Aku sibuk!" Zale menjawab singkat dan tetap menundukkan kepala untuk membaca berkasnya
Ibu Zale menjadi semakin marah dan berteriak keras "Putuskan hubunganmu dengan dia! Gadis itu hanya mengincar kekayaan keluarga kita! Aku tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian!"
Wajah fokus Zale terangkat untuk menatap kearah Ibunya. Dia membuka mulutnya dan berkata dengan nada menyelidik "Apa yang kau lakukan padanya?"
"Apa? Apa yang aku lakukan?" Wajah Bianca melotot kearah Zale tampak tidak percaya akan pertanyaannya "Aku datang padanya dan memberinya uang agar hubungan kalian berakhir! Bukan hanya menolak mengakhiri hubungan, tapi dia juga mengambil uangku!"
"Ibu!!!" Suara Zale menjadi dingin, dia menatap kearah Ibunya denga tatap tajam dan berkata "Sudah kuperingatkan untuk tidak melakukan hal bodoh bukan?! Kenapa kau malah membuatnya kesulitan?! Sekarang pergi tinggalkan aku sendiri!"
"Siapa yang membuat dia kesulitam? Dia seharusnya merasa senang sekarang karena mendapatkan banyak uang..."
"Sudah cukup!!!" Zale memukul meja dengan marah dan berteriak "Tinggalkan dia sendiri dan pergi dari hadapanku!!!"
"Kau-" Bianca menggertakkan giginya keras. Dia menghentakkan kakinya kesal dan berjalan keluar.
Setelah jauh meninggalkan ruangan Zale, Bianca tersenyum sinis dan bergumam seorang diri "Jika kalian tidak ingin berpisah maka aku hanya akan menghubungi tunanganmu dan memintanya untuk ikut bertindak!"
Zale mendesah panjang melihat kepergian ibunya. Dia memijat pelipis matanya pelan sebelum bersandar pada kursi tempatnya terduduk.
Dia ingin segera pergi dan menemui Arlana, tapi saat ini dia tengah mengerjakan sebuah proyek penting. Setelah proyek ini, Zale akan menyelesaikan segala urusan Keluarga Godwin dan Perusahaan. Dia akan pergi dan kembali memperjuangkan Arlana.
__ADS_1
Tapi dengan masalah yang di timbulkan ibunya, rencana Zale harus menjadi lebih cepat dilaksanakan. Dai tidak bisa lagi menunggu, atau Arlana akan semakin menjauh karena sikap usil keluarganya yang keterlaluan.
"Aku merindukanmu Lana, sebentar lagi aku akan datang..."