My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
25 Pieces of Heart


__ADS_3

Sinar Matahari tidak menyinari bumi dengan rata karena sinarnya yang terhalang gumpalan awan gelap. Tidak ada hujan yang turun, hanya angin kuat yang berhembus. Hanya ada kegelapan langit yang seolah tampak sedih.


Sepasang mata emas Arlana menatap kegelapan langit biru di atasnya dengan pandangan sama mendungnya.


Dia sedih, gelisah dan merasakan perasaan rumit yang tidak nyaman di hatinya. Alasan di balik sifat mendungnya itu karena satu hal, Hari ini Zale tidak masuk sekolah.


Arlana sudah mencoba menghubunginya, tapi pria itu tidak membalasnya. Bahkan gadis yang biasanya diam dan tidak peduli itu datang ke kelas Glen untuk menanyakan keberadaan Zale, naasnya Glen sama bingung dan tidak tahu apapun.


Dengan perasaan kesal serta gelisah dan wajah mendung satu hari penuh hingga sampai waktu pulang sekolah. Arlana kini berjalan melewati gerbang sekolah dengan wajah tidak sedap dan tertunduk.


"Bukankah itu Zale? Dia sangat tampan! Wah dia memakai mobil spot terbaru dan datang kesekolah disaat tidak masuk. Betapa kerennya!"


Mendengar banyaknya bisikan disetiap sisi, Arlana mendongakkan wajahnya. Mata emas miliknya menatap wajah Zale yang tersenyum kearahnya.


Dengan dengusan kesal Arlana mengabaikan senyuman pria itu dan berjalan kearah yang lain.


"Hei ayolah, jangan marah! Bukankah aku sudah muncul? Kau berjanji untuk kencan denganku hari ini bukan?" Zale berteriak seraya menarik pergelangan tangan Arlana dengan lembut


Menatap gadis di hadapannya yang banya terdiam tidak merespon, Zale menunduk dan berbisik di telinganya "Banyak orang melihat, mari pergi! Kau tidak ingin mereka melihat aku menciummu bukan?"


Mata Arlana melotot kearahnya, dengan kesal dia berjalan kearah mobilnya.


Zale hanya terkekeh pelan dan mengikuti di belakang.


"Mari kembali kerumahmu dulu, lalu kita akan keluar untuk berjalan-jalan..." Zale kembali berbicara setelah berada di dalam mobil. Melihat Arlana yang hanya mengabaikannya, dia tersenyum dan menghidupkan mobilnya untuk melaju.


Keheningan menyelimuti dalam perjalanan. Dengan perasaan yang lebih tidak dapat di jelaskan Arlana menatap wajah tampan Zale yang tengah fokus untuk mengemudi. Dia tidak bisa untuk tidak merasa aneh, Zale selalu akan mencoba mengatakn banyak hal tapi kali ini dia hanya diam membisu.


Merasakan sensasi diam yang sedikit mencekiknya Arlana ingin membuka bibirnya untuk bicara, tapi pada akhirnya bibirnya tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun hingga mobil itu sampai di depan rumahnya.


Dengan berhentinya mobil, Zale keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Arlana. Dia diam dan hanya mengikuti tubuh Arlana yang berjalan untuk memasuki rumahnya.


Setelah pintu terbuka, dengan tarikan cepat pintu itu di tutup oleh Zale.


Tubuh Arlana di himpit dan ditekan didinding.


Arlana yang kebingungan tidak dapat merespon hingga ciuman kasar dan ganas Zale mendarat di bibirnya.


Dengan nafas panas Zale yang menekannya Arlana merasakan sesak. Dia menatap pria yang tengah menciumnya dengan pandangan rumit. Zale menciumnya dengan panas dan ganas, ini sedikit menakutinya.


Arlana "...? Ngh?"


Zale kehilangan kendali, dia sudah menahan dirinya sejak melihat Arlana di gerbang depan sekolah. Setelah dia berada dirumah gadis itu, dengan kejamnya Zale mendorong tubuh gadis itu dan melum4t bibirnya.


Lidahnya mendorong dan menekannya, dia menghisap, mengulum dan menjelajahi semua hal di dalam bibir lembut Arlana seolah tidak ingin membiarkan sedikit hal pun lolos. Dengan keganasannya tangan Zale mulai nakal dan menjelajahi di tubuh Arlana.


Arlana mengerang tidak nyaman dan mendorong tubuh besar Zale, tapi usahanya sia-sia. Dengan tidak berdayanya dia, Zale benar-benar menemukan kedua benda lembut miliknya dan m3r3masnya gemas. Erangan Arlana semakin kasar, tubuhnya bergetar aneh dan memanas.

__ADS_1


Hal ini terus berlangsung hingga 30 menit, dan selama 30 menit itu baju Arlana telah lepas dan berantakan. Dengan nafas serak dan penuh desahan, Zale melepaskan bibirnya dari Arlana. Sontak saja gadis di hadapannya segera bernafas kasar dan menghirup udara sebanyak mungkin.


"Zale?" Dengan bingung dan suara tertahan Arlana menatap pria di hadapannya yang tampak aneh


"Aku menyukaimu!" Zale berbisik pelan, dia mencium kening, pipi, hidung dan kemudian bibir Arlana secara bergantian


"Zale!!!!" Arlana sedikit meninggikan suaranya, dia mencoba untuk mendorong pria itu, tapi tindakannya malah membuat Zale semakin menekannya.


"Arlana aku menginginkanmu!" Dengan suara parau Zale berbisik tepat di telinga Arlana, gadis itu terkejut dan ingin menolaknya. Tapi detik itu juga tubuhnya di angkat oleh Zale dan di hempaskan ketempat tidur.


"Zale, berhenti!!!" Dengan gugup Arlana menutupi tubuhnya yang terbuka karena pakainnya yang telah lepas


"Aku menginginkanmu! Tidak bisakah?" Zale menghimpit tubuh Arlana di bawahnya dan memegang kedua tangannya yang tengah menutupi dadanya


Arlana menggeleng pelan menatap Zale dengan air mata yang mulai jatuh. Suaranya serak dan tidak tahu harus berkata apa "Aku menyukaimu tapi aku.. aku..."


Melihat gadis di bawahnya menangis, Zale sedikit sadar akan kelakuannya yang di luar kendali. Dia mengusap air matanya lembut dan kembali berkata "maaf aku tidak..."


Tubuh Zale pindah darinya, dia berdiri dan menatap kearah lain. Dia tidak berani menatap Arlana yang setengah t3l4njang atau dia tidak akan lagi dapat menahan diri.


"Maaf aku keterlaluan, kau gantilah pakaianmu! Aku akan menunggumu di bawah!" Dengan kalimat itu dia berbalik dan berjalan pergi


Menatap punggung Zale yang menghilang di balik pintu, Wajah Arlana tampak rumit. Dia tidak tahu harus bagaimana.


Dia menyukai Zale tapi dia tidak bisa untuk melakukannya, dia masih terlalu takut untuk pergi sejauh itu. Zale selalu dapat menahan dirinya tapi entah kenapa hari ini dia bersikap aneh dan menekannya hingga seperti ini. Dengan perasaan yang masih kacau, Arlana mulai mengganti pakaiannya.


Di luar didalam mobil, Zale menenangkan dirinya. Dia menutup mata dan bersandar pada kursi mobil.


Dia ingin memiliki gadis itu sepenuhnya dan membuatnya tidak dapat melupakannya. Dengan begitu Zale akan merasa sedikit tenang ketika meninggalkannya. Tapi dia sadar sikapnya hanya akan membuat gadis itu terluka nantinya. Maka dengan penuh kekuatan yang luar biasa Zale menahan hasratnya yang meletus untuk Arlana.


.............................................................................................


Suasana kembali normal ketika mereka mulai berjalan-jalan dan menikmati hari bersama. Sikap aneh Zale tidak dapat Arlana mengerti, ketika dia mencoba untuk menanyakannya Zale hanya dengan senyuman nakal mengatakan bahwa dia merindukan Arlana dan ingin memakannya.


Arlana mendengus kesal dan tidak lagi bertanya, dia menikmati seharian penuh bersama Zale dengan senyuman di wajahnya.


Mereka pergi ketaman bermain, melihat aquarium raksasa dan bahkan pergi ke kebun binantang. Zale memperlakukannya dengan sangat baik dan sangat perhatian. Sikapnya yang seperti ini benar-benar membuat Arlana bahagia.


Satu hari indah itu berlalu dengan cepat, dengan makan malam selesai, sekali lagi mobil Zale terhenti di depan pintu rumah Arlana untuk mengantarkannya pulang.


Langit sudah sangat gelap, Arlana terdiam di dalam mobil membiarkan keheningan diantara mereka. Dia masih tidak ingin berpisah dengan Zale tapi dia juga takut untuk menawarkannya masuk kedalam rumah.


"Bisakah aku mampir sebentar?" Zale membuka suaranya, dia menatap Arlana dengan pandangan memohon.


Arlana menatap jam di tangan kanannya yang telah menunjukkan pukul 9 malam, dia tidak bisa untuk mengatakan iya tapi dia juga tidak ingin untuk mengatakan tidak.


Menatap gadis disisinya itu tampak sedikit bingung, Zale tersenyum tipis dan kembali berkata "Aku janji tidak akan melalukan apapun!"

__ADS_1


Melihat wajah Zale yang tampak memohon, Arlana menghela nafas panjang dan mengangguk kecil "Baiklah"


Zale tersenyum cemerlang dan mulai turun mengikuti Arlana di belakangnya.


"Duduklah, apa kau ingin minum sesuatu?" Arlana menawarkan ketika dia telah berada di dalam rumah


Zale menatap kearahnya untuk waktu yang lama sebelum membuka suara, "Arlana bisakah aku tidur disini?"


Tubuh Arlana menegang sejenak dan menatap kearah Zale dengan wajah yang tidak dapat di jelaskan. 'Bukankah pria itu baru saja mengatakan tidak akan melakukan apapun? Tapi kenapa sekarang dia berisiniatif untuk menginap?'


"Aku hanya menginap dan tidak melakukan apapun!" Zale menjelaskan cepat ketika dia melihat raut wajah Arlana yang tampak lucu.


Arlana merenung sejenak dan berfikir. Setelah berfikir cukup lama dia akhirnya membuka suara "kau pasti ingin tidur di tempat yang sama?"


"Itu benar!" Zale mengangguk akan pertanyaannya "Tapi aku hanya akan tidur memelukmu dan tidak akan melakukan apapun! Aku janji!"


Melihat wajah Zale yang bersungguh-sungguh, Arlana mendesah panjang sebelum menyetujuinya.


Mereka duduk melakukan hal ini dan itu yang tidak penting bahkan berciuman sedikit sebelum pergi untuk tidur.


Sama seperti apa yang di katakannya, Zale tidak melakukan apapun dan hanya tertidur disisinya. Memeluk tubuhnya erat seolah takut jika melepaskannya dia akan kehilangan Arlana.


Malam panjang dan hening itu, Arlana tertidur lelap dalam pelukan hangat Zale. Dia tidur dengan sangat nyenyak dan bahkan merasa sangat damai di hatinya.


Zale sendiri tidak tertidur, dia diam dan memeluk tubuh Arlana erat, sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya. Mata hitam miliknya tampak merah dengan sedikit air mata yang menggenang.


Menatap wajah tidur Arlana yang begitu cantik dan damai, Zale tidak bisa lagi menahan perasaannya dan menciumnya lembut berkali-kali.


Dia berbisik pelan pada gadis tertidur yang dia peluk itu "Lana, aku tidak bisa mengatakannya padamu! Maaf... Aku bahkan tidak tahu berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk kembali padamu.. aku tidak bisa memintamu untuk menungguku, tapi aku juga tidak ingin kau meninggalkanku dan melupakanku. Aku akan hancur jika kau melupakanku! Jadi aku mohon, selama aku pergi dan tidak disisimu, tolong jaga sebagian hatimu untukku tetap untuh sampai aku kembali dan mengambilnya. Aku pasti akan kembali padamu! Aku akan kembali dan ketika itu terjadi aku akan membuatmu sepenuhnya menjadi milikku! Arlana milik Zale Godwin dan hanya Zale seorang!"


Dengan kalimat itu yang keluar dari bibirnya, Zale Godwin pergi meninggalkan Arlana Cheverly seperti hembusan angin yang menderu dan hilang tidak terlihat lagi..


Gadis itu terbangun, menatap sosok disisinya tidak ada, hatinya merasa sedikit kesepian dan sedih.


Seolah kesedihannya berlanjut dia tidak menemukan sosok Zale bahkan di sekolah. Sebuah berita menghantam hatinya.


Zale telah keluar dari sekolah dan pindah keluar Negeri.


Dengan rasa sakit kepergiannya yang tanpa mengucapkan apapun, hati Arlana menjadi berdarah. Seolah itu tidak cukup gosip lain tentangnya datang.


Zale pergi untuk bersekolah bersama dengan tunangannya. Dia hanya mempermainkan Arlana dan sekarang meninggalkannya dengan bahagia bersama sang tunangan.


Arlana menangis, dia menangis dengan sangat buruk. Dia tidak ingin mempercayai apapun yang di dengarnya dan percaya pada Zale. Tapi saat dia bertanya tentang semua hal itu pada Glen, pria itu hanya mengalihkan pandangan dan berkata "Maaf aku tidak tahu apapun"


Dengan pikirannya yang kacau, Arlana mulai berpikiran liar. Dia mulai memikirkan tindakan aneh Zale saat dirumahnya.


Apakah Zale marah karena Arlana menolak untuk melakukan itu dengannya?

__ADS_1


Tidak lagi dapat berfikir secara rasional dengan hilangnya Zale. Sekali lagi gadis itu merasakan rasa sakit yang sama ketika kehilangan Ayahnya. Pandangannya terhadap dunia dan segalanya mulai menjadi buram dan tidak lagi terlihat jelas, hatinya hancur menjadi kepingan yang lebih menyedihkan.


Dengan seutas harapan yang tersisa dia mencoba untuk percaya pada Zale dan menunggunya. Namun kabar tentangnya hilang seolah tertiup angin selama beberapa Tahun lamanya dan membuat Hati Arlana kembali menjadi dingin.


__ADS_2