My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
31 Sahabat Lama


__ADS_3

Udara hangat menerpa menyinari wajah cantik yang tengah terduduk di sebuah bangku taman dengan tenang. Wajah cantik itu tampak hangat dan damai oleh sinar matahari.


Suasana hening dan tenang meyelimuti ketika gadis itu tengah termenung. Dia duduk dalam diam dengan pikirannya yang berkelana. Saat mata keemasan miliknya tampak kosong menatap kedepan, dia tersentak sadar karena deringan telepon miliknya.


Dengan helaan nafas yang panjang, jemari tangannya yang putih menyentuh layar datar itu untuk menjawab si penelpon.


"Arlana, hari ini kau libur bukan?! Kenapa kita tidak bermain keluar bersama! Sudah lama kau tidak menghubungiku, aku bahkan bertanya-tanya apa kau masih mengingat janji kita untuk makan kue bersama yang batal waktu lalu?!"


Suara cemberut dan kesal terdengar di seberang. Arlana mendesah panjang mendengarkan ocehan temannya itu, dia memang melupakan janjinya dengan Kanaya. Apalagi dengan kemunculan Zale, dan ibunya baru-baru ini membuat pikiran Arlana kacau dan hidupnya mulai bergejolak kembali.


"Ayo keluar kalau begitu. Aku akan ketempatmu sekarang!" Menyadari dia tidak melakukan apapun dan hanya termenung di bangku taman, Arlana segera menyetujui permintaan Kanaya.


Mendengarkan hal itu Kanaya menjadi bahagia seketika, mereka berbicara lagi sebentar sebelum menutup telepon.


Dengan sedikit malas Arlana beranjak dari taman di dekat rumahnya itu untuk kembali kerumah dan pergi ketempat Kanaya.


Saat jemari kakinya melangkah dengan bosan, sekali lagi kaki itu terhenti akibat ponsel Arlana yang berbunyi.


Gadis itu sedikit mengernyitkan dahinya sebelum melihat ponselnya. Sebuah pesan singkat berhasil membuatnya berdiri kaku dengan kejutan yang melintas di mata emasnya.


Pesan itu cukup singkat dan tidak terlalu penting. Namun, nama si pemilik pesan membuat Arlana merasakan sedikit sengatan di hatinya.


Menatap kembali pada layar di HP, dia mencoba membaca pesan itu seolah takut bahwa sedang berhalusinasi.


[Bisakah kita bertemu sebentar? Aku Celine, ada sesuatu yang penting ingin kudiskusikan! Aku akan menunggumu di Kafe depan tokomu sampai kau datang!]


Setelah terkejut dan diam cukup lama, Arlana akhirnya menghela nafas dan beranjak pergi untuk menemui sang pengirim pesan yang seolah memerintahnya bukan meminta kepadanya. Tapi sebelum itu Arlana menghubungi Kanaya dan mengatakan bahwa akan terlambat.


Jarak antara rumah Arlana dan toko miliknya tidak terlalu jauh, jadi hanya membutuhkan waktu sebentar ketika gadis itu pergi dari tempatnya berdiri menuju kearah Celine menunggunya.


Saat langkah kaki Arlana telah memasuki Kafe tempatnya akan bertemu, mata gadis itu menatap sekelilingnya untuk mencari sosok mantan sahabat lamanya.


Sebenarnya dia tidak benar-benar ingin bertemu dengan Celine! Tidak ada kenangan yang menyenangkan antara persahabat mereka. Bertemu dengan Celine hanya akan membuat Arlana kembali mengingat kenangan buruknya.


Meski begitu setelah dia memikirkannya lagi, dia memang telah tidak bertemu dengan Celine selama 20 tahun. Jadi dia sedikit penasaran bagaimana kabar gadis itu. Lagi pula semuanya hanya ada di masa lalu, dan tidak baik untuk terus merasa sakit hati tentang apa yang terjadi. Mereka hanyalah bocah kecil yang tidak tahu apapun kala itu. Mungkin Celine terpaksa melakukannya karena desakan orang tuanya.


Berkedip ringan, mata keemasan Arlana menangkap sosok Celine yang tengah terduduk anggun di sebuah tempat. Dia tengan bermain dengan ponselnya tampak sedikit malas. Arlana sedikit menghela nafas ketika melihat sosok Celine.


Dia dapat mengatakan bahwa gadis itu tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan mengangumkan. Setelah menangkan pikirannya Arlana berjalan mendekat.


"Maaf membuatmu menunggu!" Duduk di salah satu kursi yang berhadapan, Celine menatap kearahnya ketika dia menyapa.


Dengan anggukan ringan gadis itu menjawab Arlana "Tidak terlalu lama, aku sudah memesan minuman untukmu. Minumlah terlebih dahulu."

__ADS_1


Arlana tersenyum tipis dan meminum minuman di atas meja.


Celine terdiam dan hanya mengamati Arlana. Mereka berdua terdiam dalam keheningan dan larut dengan pikiran masing-masing.


Seolah tidak lagi ingin membuang waktunya, Celine akhirnya membuka suara "Maaf untuk memanggilmu tiba-tiba.."


Arlana hanya menggeleng pelan, dia baik-baik saja tentang itu hanya merasa sedikit penasaran. Sudah sekian lama mereka kehilangan kontak jadi kenapa gadis itu tiba-tiba muncul dan tahu nomor ponselnya?


Saat Arlana ingin menanyakan hal itu, Celine kembali membuka bibir merahnya untuk melanjutkan perkataannya "Aku adalah tuanangan Zale!"


Wajah Arlana tampak kaku ketika dia melihat wajah Cantik dihadapannya yang tengah menatap kearahnya dengan sedikit pandangan tidak bersahabat.


Dia akhirnya mengerti kenapa gadis dihadapannya tiba-tiba menghubunginya dan bagaimana mendapatkan nomor kontaknya.


Dengan wajah rumit, Arlana menatap lurus tepat kearah mata indah Celine dan berkata "Jadi kau tunangannya..."


Ada sedikit sengatan rasa sakit di hati Arlana ketika kalimat itu keluar dari bibir merahnya. Tanpa berfikir panjang dia sudah dapat menebak kenapa itu terjadi.


Hati Arlana tidak nyaman dan sakit ketika dia tahu bahwa Zale benar-benar memiliki tunangan. Tidak peduli betapa inginnya Arlana menghapus Zale dari hatinya, sosok pria itu tetaplah ada dan terkubur di sana.


"Iya, aku tunangannya!" Celine mengangguk pelan dan mendesah sebelum melanjutkan "Bukankah waktu kita masih kecil aku pernah mengatakan bahwa aku ingin menikah dengannya?"


Arlana terdiam dan mencoba mengingat kenangan masa lalunya. Dia baru saja menyadari hal itu. Zale adalah lelaki yang disukai Celine ketika kecil, dan itu berarti bahwa dia pernah bertemu Zale jauh sebelum di Sekolah Menengah Atas.


Melihat diamnya Arlana, Celine batuk pelan dan berkata "Jadi disini aku mendengar dari Bibi Bianca bahwa kau telah merayunya dan ingin merusak pertunangan kita.."


"Aku kira hanya ibumu saja yang murahan, jadi aku terkejut ketika mengetahui kau sama murahannya dengannya! Arlana karena kita sahabat lama, kenapa kau tidak berbaik hati dan berhenti merayu Zale! Kau tahu betapa aku menyukainya sejak kecil. Aku akan mencarikanmu pria lain yang lebih kaya, jadi berikan Zale untukku!"


Wajah Arlana tampak kosong menatap kearah Celine terduduk. Dia tidak bisa tidak bertanya-tanya, Kenapa sahabatnya ini menjadi gadis yang seperti ini? Setidaknya sebagai orang yang telah dan pernah berteman dengannya, seharusnya dia tahu betapa sosok ibunya melukai hatinya dengan sangat buruk.


Tidak hanya dia tidak mengerti, tapi Celine malah memberikan luka yang lain di hatinya!


Awalnya dia ingin kembali membuat hubungan baik dengan Celine setelah sekian lama, tapi keinginan itu pudar seketika.


Arlana menggertakkan giginya keras menahan amarah yang meledak di dadanya dan menjawab "Jika dia memang menyukaimu bukankah dia tidak akan tergoda dengan wanita lain?!"


"Itu tidak bisa dilakukan ketika ada wanita murahan sepertimu yang akan terus menempel dan memberikan tubuh untuk dirinya" Nada ejekan dan sekilas rasa jijik melintas di mata Celine.


Tangan Arlana yang kesal menyambar gelas di meja dan melemparkan isi air itu tepat di wajahnya.


Air dingin dari minuman tersiram tepat di wajah Cantik Celine, gadis itu melotot kaget dengan raut wajah yang menghitam kesal.


"Kau-!!!"

__ADS_1


"Dengarkan baik-baik!" Arlana bangkit dari tempat duduk dan melotot kearahnya "Aku tidak tertarik pada Zale, tapi karena sifatmu yang begitu tercela aku mengubah pikiranku! Untuk memberikan pria seperti Zale pada Ular siluman sepertimu itu sebuah pemborosan! Jika kau bisa menggodanya dengan tubuhmu, atau bahkan kekayaanmu, maka lakukan itu! Mari kita lihat siapa Jal4ng diantara kita yang akan menang pada akhirnya?!"


Tubuh Arlana berjalan pergi ketika dia telah selesai dengan apa yang di ucapkannya tapa menoleh kebelakang ataupun mendengarkan teriak tidak waras Celine.


....


Saat rasa kesal Arlana belum berkurang dia hanya menundukkan kepalanya di sebuah taksi yang melaju ketempat Kanaya berada.


Dalam perjalanannya itu dia hanya terdiam dan kembali memikirkan apa yang telah terjadi. Entah kenapa mereka para orang aneh terus saja mengganggunya walaupun sosok Zale sendiri tidak terlihat. Dan yang lebih aneh dari itu semua adalah tindakan Arlana, dia terus memprovokasi mereka dengan mengatakan kalimat aneh.


Dengan desahan nafas yang panjang Arlana menatap kearah jalan raya dengan pandangan kosong. Memikirkan bahwa Celine adalah tunangan Zale membuatnya memiliki perasaan masam di hatinya.


Arlana sudah tahu pasti jawaban dari hatinya, tapi rasionalitasnya sebagai seorang wanita menolak hal itu. Apalagi dengan semua yang terjadi dia merasa lelah hanya dengan memikirkan tentang Zale. Yang dia inginkan mungkin untuk tidak melihatnya lagi...


Saat pikirannya berputar dan berkelana, taksi yang dia tumpangi berhenti di sebuah rumah mewah dan indah. Arlana turun dari taksi itu setelah membayarnya dan berjalan untuk mendekat pada rumah Kanaya.


"Kau disini?" Sosok Kanaya muncul di balik pintu, gadis itu tersenyum cemerlang kearah Arlana. Namun senyuman dibibirnya kaku ketika melihat raut wajah Arlana yang tampak sedikit aneh.


Dengan ragu dia bertanya "Apakah terjadi sesuatu?"


Arlana tidak menjawab, dia hanya diam dan menatapnya dalam keheningan. Melihat hal ini Kanaya menjadi lebih yakin bahwa telah terjadi sesuatu.


Dia kembali membuka suaranya "Masuklah!"


Arlana mengguk ringan dan mengikuti tubuh Kanya. Dia terduduk di salah satu kursi dan mendapatkan minuman.


Setelah melihat bahawa Arlana sedikit lebih baik, dia kembali berbicara "Arlana, aku tahu kau adalah gadis yang kuat dan suka menyelesaikan masalahmu sendiri. Jadi aku tidak akan memaksamu untuk bercerita, tapi jika kau membutuhkan seorang teman bicara, jangan pernah ragu bahwa aku selalu ada disini!"


Dalam keheningan Arlana hanya diam dan menatap lurus kearah Kanaya. Setelah diam cukup lama dan memikirkan berbagai hal, dia akhirnya menghela nafas panjang sebelum membuka bibirnya.


"Zale datang menemuiku!"


Kanya sedikit tersentak kaget, tapi dengan cepat dia kembali normal dan hanya diam seraya mengangguk pelan sebagai respon.


Melihat ini Arlana kembali melanjutkan "Kami tidak memiliki kesempatan untuk berbicara, aku mengusirnya! Dan dia menghilang tidak lagi terlihat. Lalu Ibunya datang dan mengatakan banyak hal buruk, tidak hanya itu tapi tunangannya juga datang dan mencelaku!"


Mendengar hal ini Kanaya mengerutkan kening dengan sebuah pikiran yang terbesit, dia cepat mengerti apa yang terjadi dan menjadi terdiam.


Kanaya diam cukup lama, dia diam dan hanya menatap kearah Arlana yang juga hanya terdiam seraya menundukkan kepalanya.


Setelah berfikir keras dia akhirnya membuka suara "Lalu, jika kau bertemu dengan Zale kembali.. Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan kembali padanya? Atau kau akan menolaknya dan memutuskan semua hubungan untuk selamanya?"


"Dia memiliki tunangan..."

__ADS_1


"Aku tidak peduli tentang tunangannya!" Kanaya menatap Arlana dengan tegas dan kembali melanjutkan "Aku yakin Ibu Zale tahu tentangmu dari Zale hingga dia datang dan berusaha menyingkirkanmu. Begitupun dengan tunangannya! Dia datang padamu karena Zale pasti tidak tertarik padanya dan itu adalah pertunangan yang tidak dia inginkan! Jadi disini pertanyaanku adalah, Apa yang akan kau lakukan jika Zale memintamu kembali bersama?"


Mendengar ucapan Kanaya dan wajah tegasnya padanya, Arlana tidak bisa untuk tidak sedikit terkejut. Gadis di hadapannya ini selalu terlihat konyol dan tidak pernah benar-benar memiliki wajah serius. Tapi sekarang gadis itu menatapnya dengan pandangan menyelidik.


__ADS_2