My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
08 Lahirnya si Gadis Lidah Beracun


__ADS_3

Awan hitam menggumpal diatas langit dengan pekat menutupi sinar Matahari yang menerangi Bumi dengan sangat buruk.


Suasana gelap dari awan yang menggumpal seolah sama mendung dan suramnya dengan sepasang mata emas yang tengah terduduk mematung memandang disekitarnya itu dengan pandangan kosong tanpa sinar kehidupan.


Sosok itu adalah Arlana, ia hanya terduduk menatap kosong pada pemandangan taman di depannya seolah tidak berada disana.


Sudah 1 bulan berlalu sejak kejadian itu, dalam 1 bulan ini pula semua hal telah berubah.


Arlana tinggal bersama paman dan bibinya untuk sementara waktu, ia juga tidak lagi bersekolah untuk saat ini.


Lingkungan tempatnya tinggal menjadi sangat tidak nyaman untuknya. Semua mata setiap orang menatap kearahnya dengan pandangan jijik serta kasihan. Hal itu juga terjadi di sekolah.


Untuk Arlana yang masih kecil tentu saja itu menjadi pukulan keras dihatinya setelah apa yang menimpanya pada keluarganya.


Bahkan Celine sahabatnya tidak mau menemuinya ataupun berteman lagi dengannya. Pada akhirnya kedua orang tuanya berpisah, dan Arlana sebagai anak gadis yang hanya bersusia 7 tahun hanya dapat menunggu Ayahnya untuk menyelesaikan segalanya sebelum kembali menjemputnya.


Seolah tidak merasakan apapun Arlana hanya diam tidak bergerak. Ia mematung membiarkan angin dingin dan panas dari matahari menyergap tubuhnya yang terlihat rapuh.


"Sampai kapan dia akan seperti itu?" Seorang wanita dewasa berusia sama dengan ibunya bertanya menatap kearah punggung Arlana yang tampak kecil sendirian di taman.


Ia mendesah sebelum mengalihkan pandangan matanya pada sosok pria yang hanya menggelengkan kepalanya ringan.


"Gio tengah mengurus surat cerai dan penjualan rumah mereka, dia juga memilkki beberapa masalah di perusahaannya. Insiden ini membuatnya mendapatkan pukulan dari beberapa perusahaan asing yang ingin mengambil kesempatan"


"Aku sudah mengatakan pada adik bodoh itu bahwa wanita itu adalah iblis, tapi dia tetap tidak mempercayaiku! Lihatlah sekarang dia membuat anak gadisnya yang cantik menderita" wanita itu kembali berbicara dengan geram, ia mengutuk kebodohan Ayah Arlana yang ternyata adalah adik kandungnya


"Kenapa kita tidak meminta Kelvin untuk bertemu dengannya dan bermain bersama. Mereka seumuran bukan?"


Wanita itu memutar matanya dengan konyol saat mendengarkan ucapan suaminya "Apa kau tidak melihat 1 bulan yang lalu saat mereka bertemu? Arlana hanya mengabaikan Kelvin, bahkan tidak repot untuk menatapnya!"


"Lalu apa lagi yang bisa kita lakukan?" Pria itu bertanya seraya memijat pelipis matanya dengan desahan


"Kita hanya bisa menunggu-.." Wanita itu berseru tanpa daya, saat kedua orang itu berada dalam keheningan dan bingung sosok Ayah Arlana yang menyedihkan terlihat mendekat.


Dia tampak 10 tahun lebih tua dari sebelumnya, lingkaran hitam di sekitar matanya tampak jelas. Matanya bahkan terlihat sayu dengan warna merah.


"Gio, kau kembali?" Wanita itu bertanya dengan terkejut. Ia menatap kearah adik lelakinya dengan pandangan pilu, bagaiman bocah nakal ini terlihat sangat buruk seperti itu?


"Bagaimana Arlana?" Gio bertanya balik kearah kakak perempuannya tanpa mengidahkan pertanyaannya


"Dia disana" Wanita itu menunjuk kearah taman tepat dimana Arlana terduduk, ia mendesah sebelum kembali bersuara "Sudah kukatakan wanita itu adalah iblis, tapi kau sama sekali tidak mendengarkan aku. Sekarang lihatlah malaikat kecilmu disana tampak sangat menyedihkan.."

__ADS_1


"Hellyn!!" Pria disisi wanita itu menarik lengan istrinya lirih "Itu cukup!"


Hellyn mendengus kesal namun tidak melanjutkan, ia tahu batas bahwa tidak baik untuk terus mengusik Gio. Sekarang yang dapat ia lakukan hanyalah memberi dukungan padanya.


Gio menghela nafas panjang menatap punggung kecil Arlana dengan mata memerah penuh penyesalan. Jika dia bisa, dia benar-benar tidak ingin malaikat kecilnya itu menderita hingga terlihat begitu buruk.


"Apa rencanamu?" Pria di sisi Hellyn betanya dengan pandangan serius, tidak peduli pada situasi saat ini dia harus dapat menentukan bagaimana dia akan bertindak kedepannya.


"Kami akan keluar Negeri, setidaknya hingga Arlana mencapai di Sekolah Menengah Pertama. Dengan begitu setidaknya aku berharap dia akan kembali pulih seperti sedia kala."


"Bagaimana kau bisa keluar Negeri? Di Negeri yang asing kalian akan sendirian. Arlana akan kesepian! Apakah kau benar-benar memikirkan tentangnya atau tentang dirimu sendiri?"


"Hellyn-"


"Tidak Andrew diamlah!" Hellyn melotot kearah suaminya dan kembali berbicara "Aku tidak akan berbicara tentang kau ataupun mantan istri iblismu! Aku bahkan tidak akan ikut campur! Tapi, ini menyangkut Arlana. Kau tahu aku sudah menganggap dia putriku, ini bukan karena aku tidak memiliki seorang putri. Tapi karena aku benar-benar menyayanginya dan peduli padanya! Tapi dengan membawanya keluar itu bukan pilihan yang bijak. Dia akan kesepian disana, dia akan merasa asing dan sendiri! Kau bahkan tidak akan ada disisinya dan sibuk bekerja! Apakah kau masih mengatakan ini untuk kebaikannya?"


Mendengarkan Hellyn berbicara panjang dan lebar, Gio hanya menghela nafas panjang tidak berdaya. Ia tahu keputsannya pasti tidak akan di terima oleh kakaknya itu.


Tapi, bahkan jika dia harus tinggal, tidak ada yang bisa ia lakukan. Arlana akan diasingkan. Tidak peduli kesekolah mana ia pergi pasti akan ada info yang bocor dan hidup Arlana tidak akan tenang. Jalan satu-satunya yang dia fikirkan adalah keluar Negeri selama beberapa tahun hingga semuanya terlupakan oleh waktu.


Gio mendesah pelan untuk yang kesekian kalinya sebelum menjelaskan beberapa hal pada pasangan di depannya. Setelah berdebat cukup lama, Hellyn hanya dapat menghela nafas dengan enggan membiarkannya pergi membawa Arlana.


Menatap punggung Arlana yang tetap tidak bergerak ketika ia mendekat, Gio hanya memijat pelipis matanya ringan. Ia terduduk mensejajarkan dirinya di depan Arlana.


Arlana merasakan sakit yang begitu menyayat setiap ia melihat wajah Ayahnya. Dia tampak lebih tua dan keriput, ayah tercintanya terlihat begitu menyedihkan.


Merasakan udara di paru-parunya yang perlahan kosong, Arlana mencoba menghirup udara sebanyak mungkin dan berusaha untuk tersenyum.


Senyuman itu tampak memilukan untuk Gio, tapi dia tidak mengatakan apapun dan hanya menatap putrinya dengan senyuman yang sama.


"Kami akan saling menjaga, hanya Ayah dan Lana. Itu terdengar bagus" ucapnya kemudian dengan anggukan kecil.


Tubuh Gio bergetar lirih sebelum meraih tubuh kecil Arlana kedalam pelukannya yang hangat "Itu benar, hanya Lana dan Ayah.. kami akan baik-baik saja..."


Hellyn yang berada di kejauhan tidak sanggup menatap pemandangan itu dan terhanyut kedalam pelukan Andrew dengan tangisan yang pecah.


****


Hari berlalu perlahan dengan Matahari dan bulan terus bergatian menyinari Bumi. Waktu berjalan dengan sangat dinamis dan sejajar meninggalkan setiap kenangan di belakang punggunya dan bergerak maju tanpa berhenti.


Arlana bersama dengan sang Ayah pergi ke luar Negeri untuk menghapus kenangan yang melukai hatinya.

__ADS_1


Dengan setiap waktu berlalu, Arlana tumbuh dewasa dan menjadi gadis yang cantik jelita.


Namun, setiap waktu yang dia lalui tidaklah mudah. Setiap waktu yang Arlana lalui seolah dia berjalan di sebuah benang tipis dengan api menyala di bawahnya.


Ayahnya jatuh sakit, hal itu terjadi sejak mereka pindah keluar negeri. Dia terlalu lelah bekerja dan juga mengalami tekanan mental serta mengalami depresi.


Seolah penyakitnya tidak bertambah baik itu kian memburuk. Saat Arlana berusia 14 Tahun, Ayahnya berada di titik terakhir hidupnya dan pergi meninggalkan Arlana sendirian.


Gadis itu kembali menangis, ia menagis begitu buruk dan mengutuk kearah Dunia.


Perasaanya hancur, hantinya sakit dan berdarah.


Setiap waktu yang ia lewati setelah perpisahan orang tuanya karena penghianatan ibunya terasa menyakitkan untuknya.


Namun, dia berusaha bertahan dan tersenyum.


Hal itu karena Ayahnya, selama dia disana dan berada disisi Arlana dia akan baik-baik saja.


Dia tidak membutuhkan apapun!!


Tapi sekarang Ayahnya telah pergi, benar-benar pergi dan lenyap dari Dunia.


Apa yang hanya kami bersama dan saling menjaga?


Apa yang hanya kami berdua bersama dan saling menjaga?


Bukankah pada akhirnya Ayahnya juga pergi meninggalkannya?


Dia pergi karena tidak lagi dapat bertahan?


Dia pergi meninggalkan Arlana Sendirian?


Seorang diri...


Pada akhirnya ia memang hanya dapat berdiri sendiri dan tidak bisa mempercayai siapa pun?


Jadi pada Akhirnya dia sendiri? Tidak peduli bahkan jika seseorang menyayanginya dan berjanji tetap disisinya, pada akhirnya itu hanya Janji dan tidak lebih. Dia hanya akan sendirian?


Penghianatan ibunya, dan kematian ayahnya karena tidak lagi dapat bertahan!


Maka jika seperti itu, hal yang harus Arlana lakukan adalah tidak mengharapkan apapun! Tidak percaya pada siapa pun! Tidak dekat dengan siapa pun dan tidak perlu berhubungan dengan siapapun!

__ADS_1


Dia akan berdiri sendiri dan menjadi kuat dengan dirinya sendiri tanpa siapa pun disisinya!


__ADS_2