
Riak hujan terlihat samar diantara jendela kaca yang buram, sepasang mata hitam menatap hujan di sisi lain itu dengan bosan. Dia menopang dagu miliknya dengan tangan yang tampak putih.
"Glen, berhenti melamun! Cepat kerjakan tugas ini!" Aleya memukul kepala Glen ringan dengan sebuah buku tulis.
Mereka kini tengah berada di ruang keluarga, Aleya bersikap layaknya seorang guru wanita galak yang tengah mengajari murid nakal pemalas di hadapannya. Dia melotot kearah Glen yang tertawa jenaka.
"Bagaimana mungkin aku akan takut jika kau melotot seperti itu? Lihatlah wajahmu! Itu tampak seperti anak kelinci!" Glen menggoda Aleya, membuat gadis itu marah dengan menggembungkan kedua pipinya seperti balon.
2 tahun berlalu dengan cepat sejak kejadian itu.
Glen yang awalnya ingin pergi dari rumah untuk tinggal bersama ibunya tidak dapat pergi karena ayahnya tidak membiarkannya. Jauh di lubuk hati Glen, dia tidak ingin pergi dan tinggal bersama ibunya, dia ingin tetap berada di rumah ini dan tinggal bersama ayahnya.
Tapi Glen harus sadar diri, dia bukanlah putra dari Brandon. Dia tidak memiliki setetes pun darah dari Brandon, hal itu pula yang menjadi sebuah duri di hati Glen.
Dengan desakan Brandon dan Aleya, Glen akhirnya menyerah dan tetap tinggal. Setidaknya dia akan tinggal disini sampai usia dewasa dan bisa hidup mandiri. Ketika saat itu tiba dia akan pergi dari rumah untuk bekerja keras membalas kebaikan keluarga ini.
"Apa yang kau pikirkan?" Aleya menepuk dahi Glen yang tampak berkerut, ia mengerutkan bibirnya dengan jengkel "Glen berhenti memikirkan berbagai hal dan kerjakan tugas sekolahmu!"
"Baik, baiklah Ibu guru... Aku mengerti, berhentilah melotot kearahku!" Glen menjawab dengan sedikit memohon, dia tidak pernah dapat bertahan setiap menatap wajah Aleya yang cantik tampak lucu ketika marah
Setelah sekian lama Glen dan Aleya tumbuh semakin dekat, Aleya kini tengah berusia 18 tahun. Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan menawan. Sedangkan Glen sendiri sudah berusia 13 tahun. Dia tumbuh tinggi dan hampir lebih tinggi dari Aleya.
"Nona Aleya, seseorang datang dan mengatakan sebagai teman anda. Dia mengatakan telah membuat janji sebelumnya!"
Saat Glen tengah fokus pada materi yang di kerjakannya. Suara seorang pengurus rumah tangga terdengar mengganggu konsentrasinya. Dia menatap Bibi itu dan Aleya seraya bergantian.
"Oh? Dia sudah disini?" Aleya berseru dengan semangat "Suruh dia masuk dan datang kemari!"
Pengurus rumah tangga itu mengangguk dan berlalu pergi.
Glen yang terdiam menatap Aleya dengan sedikit kerutan. Dia tidak pernah melihat Aleya begitu bersemangat seperti ini. Terakhir kali dia melihatnya seperti ini ketika berita tentang Diana yang tengah mengandung 2 bulan yang lalu.
Saat Glen hendak bertanya kepada Aleya, suara seorang pria terdengar ramah menggelitik telinganya, dia menoleh untuk mendapati seorang pria tampan yang juga terlihat berusia 18 tahun
"Aleya, aku datang seperti yang kau inginkan! Jadi mana hadiahku?" Pria itu tertawa ringan dan berjalan mendekat kearah Aleya.
Aleya hanya memutar matanya konyol sebagai tanggapan. Saat dia hendak membuka suaranya pria itu memeluk Aleya lembut dan kembali bersuara.
"Kami hanya tidak bertemu 1 hari tapi aku sudah merindukanmu!"
"Brian! Hentikan! Jangan seperti ini di rumahku!" Aleya berteriak marah kearah Brian yang hanya terkekeh pelan
__ADS_1
Jantung Glen berdetak kencang tidak beraturan ketika dia melihat pemandangan di hadapannya. Tidak di ragukan lagi pria itu pasti kekasih Aleya.
Sudah sewajarnya untuk gadis cantik seperti Aleya akan memiliki kekasih di usianya yang sudah menginjak 18 tahun. Glen juga sadar akan hal itu, tapi Aleya selalu tampak tidak tertarik dan tidak pernah membawa seseorang kerumah. Jadi, Glen selalu merasa bahwa gadis itu tetap sendiri hingga kini.
Namun, tampaknya pemikiran Glen hancur menjadi kepingan. Dia harusnya turut bahagia melihat pemandangan di hadapannya. Aleya tengah tersenyum dan tersipu malu, dia benar-benar tampak manis dan berkilauan.
Seharusnya Glen bahagia untuknya!
Tapi entah kenapa hatinya terasa sakit, dia merasa sesak dan tidak dapat bernafas dengan baik.
Glen merasa seolah langit di telah runtuh dan hanya menyisakan kegelapan pekat untuknya.
"Glen!"
Glen tersentak kaget oleh teriakan Aleya, mata hitam pekatnya menatap kearah Aleya dengan pandangan kosong "Ya?"
"Sudah kubilang untuk tidak memikirkan apapun bukan!" Aleya mendengus kesal, melihat Glen tetap agak linglung, dia menghela nafas lelah "Sudahlah lupakan! Oh ya dia adalah Brian, aku mengundangnya untuk makan malam bersama dengan kita malam ini!"
Kesadaran Glen pulih sepenuhnya, dia menatap Brian dan mengangguk ringan sebagai jawaban.
"Aku selalu mendengar tentangmu dari Aleya, ternyata kau lebih unik dari yang ku bayangkan!" Brian mengulurkan tangannya sebagi salam
Tanpa menjawab perkataan Brian, Glen hanya melambaikan tangannya untuk menyambut tangan Brian dam berbicara kearah Aleya.
"Jangan hiraukan dia Brian, dia hanya sangat sulit untuk berteman dengan orang baru. Lebih baik kita pergi, aku akan memperkenalkanmu pada ibuku!"
Glen tidak menanggapi, dia hanya menatap Brian yang terkekeh pelan sebelum pergi bersama dengan Aleya.
Setelah melihat bayangan Aleya dan Brian menghilang sepenuhnya, tubuh kaku Glen merosot jatuh tertidur diatas meja kayu kecil tempatnya belajar. Tangan besarnya memeras kearah hatinya yang terasa tersayat.
Awalnya Glen tidak terlalu memikirkan hal ini dan membiarkannya berlalu. Tapi hal ini sering terjadi belakangan.
Detak jantungnya akan berdebar kencang ketika menatap wajah Aleya yang tersenyum lembut atau pun memeluknya. Sekarang hatinya terasa sakit seperti di tusuk ribuan pisau ketika melihat Aleya di peluk pria lain dan tertawa dengan pria lain.
Dengan banyaknya kejadian ini tidak mungkin Glen tidak akan menyadarinya. Dia menyukai Aleya, atau lebih tepatnya dia jatuh cinta padanya. Bukan sebagai saudara tapi sebagai seorang pria terhadap wanita.
Menyadari perasaannya ini membuat Glen memiliki sakit kepala yang lainnya. Dia tidak mungkin untuk menghapus perasaanya, perasaanya untuk Aleya pasti akan tumbuh semakin kuat.
Tapi Glen juga tidak bisa mengungkapkan perasaanya. Dia benar-benar tidak bisa! Jika dia melakukannya, dia benar-benar akan menjadi b4jing4n hin4 yang tidak tahu malu dan tidak tahu terimakasih!
Satu-satunya solusi terbaik yang Glen fikirkan adalah meninggalkan rumah ini secepat mungkin!
__ADS_1
****
Glen berlari secepat mungkin dari rumah Kelvin saat mendapatkan telepon dari Diana. Dia masuk kedalam mobil dan mengendarainya seperti orang kesurupan.
Saat mobil melaju dengan kecang untuk waktu yang singkat. Mobil itu akhirnya telah sampai di sebuah bangunan mewah, sebuah tempat yang begitu familiar di mata Glen.
Tanpa menunda sedetik pun, Glen keluar dari mobil dan berhambur masuk ke dalam rumah itu. Dia terus berjalan masuk dan membuka sebuah pintu berwarna Krem dengan huruf Aleya's Room secepat mungkin.
"Apa yang terjadi?" Nada suara Glen berat ketika dia telah memasuki ruangan itu. Mata hitamnya menatap seorang gadis cantik tengah bersandar pada sebuah bantal.
Disisi gadis itu terlihat seorang wanita keibuan dan bocah lelaki berusia 4 tahun. Mereka tampak sangat santai dan tertawa hangat. Hal ini membuat Glen mengerutkan dahinya.
"Aleya baik-baik saja, dia hanya terkilir! Maaf membuatmu khawatir dan berlari kemari" Wanita itu, Diana membuka bibirnya dengan pandangan menyesal kearah Glen yang tampak pucat. Dia tidak bisa membantu tetapi melotot tajam kearah Aleya.
"Dia tidak akan pulang jika aku tidak mengatakan padanya bahwa aku kecelakaan!" Aleya menjawab dengan kesal, dia menatap Glen dengan mata yang melotot tajam "Disini kukira kau sudah tidak peduli lagi pada kakak cantikmu setelah pergi begitu lama dan tidak mau mengunjungi kami bahkan satu kalipun!"
Glen mengehela nafas ringan setelah mengetahui bahwa Aleya tidak terluka. Tuhan tahu dia sangat khawatir ketika mendapatkan telepon bahwa Aleya mengalami kecelakaan. Tapi sepertinya dia baik-baik saja dan hal ini membuat kekhawatiran Glen hilang.
"Kak Glen.. apaka kau akan menginap hayi ini?" Seorang anak kecil yang berusia 4 tahun itu berlari dengan semangat kearah Glen. Saat sudah dekat dia memeluk Glen penuh dengan rasa sayang.
Glen membawa bocah kecil itu kedalam pelukannya dan menggendongnya "Apakah Vino merindukanku?"
Vino mengangguk penuh semangat sebagai jawaban, Glen tersenyum lembut dan memberikan ciuman manis dipipinya "Maka aku akan menginap dan tidur bersama Vino kalau begitu!"
"Horayy!!!" Vino berteriak penuh semangat dalam pelukan Glen
"Hey, apa kau mengabaikanku?"
Tidak mendengarkan teriakan Aleya, Glen keluar dari kamar itu membawa Vino bersamanya.
"Glen, kau adik yang menyebalkan! Dasar pria! Sejak kapan kau menjadi meyebalkan!" Aleya terus berteriak marah karena diabaikan dan di tinggalkan. Diana hanya tertawa lembut seraya menggeleng pelan.
Sudah hampir 4 tahun berlalu sejak pertama kali Glen menyadari perasaannya. Selama 4 tahun ini pula dia merasa hidup diantara api neraka yang mengamuk.
Hatinya hancur dan sakit ketika melihat setiap kali Aleya akan membawa kekasihnya kembali kerumah untuk bermain. Glen yang hanya anak kecil dan seorang adik kecil di mata Aleya terus menahan perasaannya hingga terasa mati rasa.
Saat dia sudah berusia 17 tahun 5 bulan yang lalu. Glen meminta untuk pergi dari rumah dan hidup sendiri. Tentu saja hal itu di tentang oleh Diana maupun Aleya, sedangkan untuk ayahnya, dia tidak mengatakan apapun. Selama ini dia hanya diam mengawasi Glen seolah dapat melihat segalanya. Selama ayah Glen tidak bertanya, maka dia juga tidak akan mengatakan apapun.
Dengan susah payah Glen membujuk Diana dan Aleya agar membiarkannya pergi. Saat dia benar-benar pergi, dia tidak pernah lagi pulang kerumah dan hanya menelpon untuk berkomunikasi dengan mereka.
Setiap kali Diana dan Aleya memintanya pulang dia akan mengatakan sibuk dengan pekerjaan sekolah. Tentu mereka marah dan tidak percaya, tapi tidak ada yang dapat mereka lakukan. Aleya bahkan telah mencoba bermain kesekolah miliknya, ataupun tempat tinggalnya yang baru.
__ADS_1
Glen membuat banyak alasan tidak dapat menemuinya dan sekarang mereka dalam keadaan yang sangat jauh tidak lagi sedekat sebelumnya. Walau pun begitu perasaan Glen pada Aleya tetap ada dan menjadi semakin besar seiring berjalannya waktu.