My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
21 Dinding Yang Mulai Runtuh


__ADS_3

Langit biru tampak sedikit redup tertutupi beberapa gumpalan awan putih yang berkumpul. Desiran angin menerpa membawa sedikit awan itu berceceran dan membuat sinar Matahari menerosbos melewati celah.


Sepasang mata keemasan indah menatap pemandangan itu dengan tatapan kosong. Sosoknya yang hanya diam terduduk di bangku taman dengan wajah termenung memandangi Awan tampak kesepian dan sunyi.


Dalam keheningan dan kesunyian itu, suara nada telepon bergema membuat gadis itu tersadar dari lamunannya dan melihat pada Hp miliknya.


Dengan malas, gadis itu kembali meletakkan HP miliknya tidak peduli ketika melihat nama yang tertera di layar. Namun, seolah tindakan acuhnya tidak menghentikan bunyi Hp, itu malah membuatnya berbunyi nyaring untuk waktu yang lama.


Dengan desahan nafas panjang, gadis itu mengambil kembali Hp miliknya dan memencet kata Jawab di layar.


"Apa itu?" Nada suara miliknya datar ketika meletakkan Hp di telinga dengan tidak senang


"Arlana bantu aku membawa mereka pulang!"


Suara pria terdengar di seberang telepon, Arlana mengerjap sebelum menatap pada layar Hp miliknya. Melihat nama 'Abaikan' yang tertera disana, dia kembali menempelkan Hp di telinga.


"Siapa ini?"


"Ini aku Kelvin!!!" Suara Kelvin terdengar lagi diseberang


Arlana tidak merespon untuk waktu yang lama, dia kembali mengingat apa yang di lakukannya dan jam berapa ini.


Setelah yakin bahwa dia berada di taman saat ini pada pukul 06:05 Pagi, dia tidak lagi kebingungan dan malah menjawab Kelvin dengan datar.


"Apa yang kau inginkan di pagi hari?"


"Kami berpesta bersama hingga pagi, Glen, Zale dan aku.. Mereka mabuk, aku juga! Aku hanya bisa membawa 1 dari mereka, jadi tolong bantu aku membawa Zale. Aku akan mengirimkan alamat tempat ini melalui pesan!!!"


Dengan Klik, Hp itu di tutup mati, bahkan sebelum Arlana dapat mengutuk Kelvin dan menolaknya.


Dengan getaran yang lain, sebuah pesan muncul di layar Hpnya.


Arlana terdiam cukup lama tampak tidak peduli dan mengabaikan pesan itu.


Dia berfikir, memikirkannya cukup lama.


Bagamana perasaannya pada Zale!


Tidak dapat di pungkiri dia telah jatuh dan sedikit membuka hatinya untuk Zale. Arlana bahkan yakin jika ada pria lain yang mencoba menyentuhnya di luar sana, dia akan marah pada pria itu dan membunuhnya detik itu juga.


Tapi jika itu Zale, Arlana mungkin hanya akan marah, lalu mengabaikannya dan membiarkannya. Dia selalu mengatakan terlalu lelah untuk meladeni Zale dan ikut bermain dalam permainannya. Tapi pada dasarnya bukan itulah alasan yang sebenarnya.


Jauh di dalam hatinya, Arlana sudah menerima Zale yang menyebalkan, pemaksa dan tidak waras. Jika dia tidak menerima Zale, Arlana pasti akan menjauhi pria itu sejak awal dia merasa tidak suka. Tapi dia bahkan tidak berniat untuk pergi terlalu jauh. Karena itu Zale, seseorang yang entah bagaimana telah memberinya perasaan nyaman, perasaan bahwa dia tidak sendiri dan perasaan bahwa Arlana dapat mengandalkannya. Maka dari itu dia merasa nyaman dan terbiasa pada Zale, walaupun pria itu terkadang berlebihan. Hanya saja Arlana masih terlalu takut untuk mengakui perasaannya.


Setelah kesunyian yang lain, Arlana menggertakkan giginya hingga terasa nyilu. Dia menggenggam erat Hp miliknya dan berdiri untuk pergi pada akhirnya!


Jauh di tempat Zale, Kelvin dan Glen berada..

__ADS_1


Tempat itu tampak berantakan, sosok Zale tampak tertidur pulas dengan wajah merah karena mabuk. Disisi lainya Glen sedikit linglung karena terbangun oleh Kelvin yang mengguncangnya.


"Ki, hik.. ta akan.. hik pergi?" Glen bertanya kearah Kelvin diiringi cegukan kecil di mulutnya. Dia tampak kosong dan tidak stabil


"Kita akan pergi, ayolah berdiri! Jangan membuatku jatuh karena harus menopangmu! Tubuhmu jauh lebih besar dariku!" Kelvin menyeret tubuh besar Glen dengan sedikit kesusahan


"Bagaimana deng- hik.. nya?"


"Aku meminta seseorang membawanya kembali!" Kelvin menjawab pertanyaan Glen cepat dan terus menyeret tubuhnya untuk pergi "Ayo Glen sadarlah!"


"Baik aku sudah sadar hik.."


Mereka berdua keluar dari ruangan itu dengan langkah tertatih. Belum terlalu jauh pergi, Kelvin kembali menatap kearah ruangan tempat Zale masih tertidur dan bergumam pelan "Hanya ini yang bisa kulakukan. Semua akan tergantung padamu!"


Glen yang berada di bahunya tidak dapat memahami apa yang coba Kelvin katakan. Dia hanya ikut menatap ruangan itu dengan bodoh sebelum menutup kembali mata miliknya membuat Kelvin marah-marah.


.......


Dengan nafas yang sedikit memburu Arlana sampai pada sebuah tempat mewah yang telah Kelvin kirimkan alamatnya melalu pesan.


Arlana terdiam menatap tempat didepannya untuk waktu yang cukup lama, dia berdiri diam disana dan menjadi pusat perhatian setiap orang yang tengah berlalu lalang.


Gadis itu mengabaikan setiap tatapan dan fokus pada debaran di hatinya...


Jika dia melangkah maju untuk masuk dan menemui Zale, sudah di pastikan Arlana akan membuka hatinya. Dia akan mulai membuat dinding yang telah dia bangung untuk di runtuhkan oleh Zale.


Tapi entah kenapa, bukan lagi perasaan takut yang hinggap pada Arlana saat ini. Melainkan sebuah perasaan asing, seperti gugup, semangat dan sedikit geli.


Entah apa karena selama ini dia selalu menyendiri dan menghindari siapapun maka Arlana berfikir semua orang itu sama, atau karena saat ini ada sebuah perasaan khusus di hati Arlana untuk Zale?


Arlana tidak tahu pasti, tapi satu hal yang benar dia yakini!


Dia ingin berubah!


Arlana ingin berubah menjadi lebih kuat, lebih berani dan lebih baik lagi.


Mungkin dengan Zale disisinya dia dapat melakukan hal itu!


Walaupun Arlana tidak yakin apakah Zale serius tentang perasaanya atau hanya sebuah lelucon. Arlana tidak terlalu peduli lagi, dia hanya ingin pria itu ada disana dan membantunya untuk merubah Dunia Arlana.


Jika Zale suatu saat nanti pergi dan tidak ada disisinya, Arlana mungkin akan terluka, tapi itu tidak apa. Arlana akan baik-baik saja dan akan berusaha untuk menjadi lebih kuat.


Dengan langkah kaki yang tegas, Arlana melangkah masuk kedalam. Dia berjalan menuju seorang resepsionis dan memintanya untuk menunjukkan dimana ruangan Zale berada.


Mengikuti di belakang resepsionis itu tiap langkah yang diambil oleh Arlana seolah dia berada di sebuah jalan menuju api neraka yang membara. Dia tahu itu berbahaya, tapi dia tidak dapat menghentikan langkahnya.


Dia sudah membuat keputusan dan dia tidak akan menyesalinya walaupun pada akhirnya dia akan terlukan. Tidak bisa menghentikan debaran di jantungnya, Arlana merasa seolah Jantungnya akan melompat keluar karena rasa gugup dan gelisah.

__ADS_1


Saat orang di depannya berhenti dan membukakan pintu, tubuh Arlana sedikit menegang. Dia masuk kedalam setelah mengucapkan terimakasih.


Mata emas Arlana sedikit kabur ketika melihat sosok Zale yang tengah tertidur dalam posisi duduk di sebuah meja. Dia tidak bisa untuk melihat di sekitar pria itu.


Tempat itu berantakan, banyak botol berserakan dan bau anggur yang sangat kuat.


Dengan kerutan di dahi Arlana menutup hidungnya tidak suka. Dia berjalan kearah Zale dan mengguncang bahunya pelan.


"Bangun! Waktunya pulang!"


Melihat pria itu hanya mengerang bosan, Arlana sedikit mendesah sebelum mengeraskan guncangan tangannya.


"Zale, ayo pulang!"


Seolah menyadari suara lembut menangkan, Zale yang tidak sadarkan diri itu langsung terbangung menatap wajah Arlana.


Dengan sedikit buram mata hitam Zale kembali mendapatkan Visinya setelah beberapa saat.


Dia terkejut bodoh dan mengusap pipi lembut Arlana dengan jemari tangannya "Mimpi yang indah!" Gumamnya


Melihat wajah merah Zale yang menatapnya dengan lembut dan kasih sayang, hati Arlana berdebar kencang. Dia sudah sering melihat pria ini melakukan hal itu, tapi kali ini pria di hadapannya tampak memiliki sedikit rasa sedih dimatanya dengan mengatakan mimpi.


"Aku berharap tidak akan bangun sekarang!" Zale kembali membuka suara, dia menyentuh kedua pipi putih Arlana dengan tangan besarnya dan melanjutkan "Untuk dapat melihat Arlana yang begitu lembut dalam mimpiku, aku bahagia!"


Dengan sedikit air mata yang menggenang Zale mendekat dan mencium bibir merah Arlana cepat dan lembut, "Aku mencintaimu, Sangat mencintamu! Arlana, kau dapat bersandar padaku! Aku akan menjagamu seumur hidupku!"


Arlana diam, dia tidak bergerak ataupun berbicara. Dia menatap wajah tampan Zale yang tengah meneteskan Air mata di hadapannya dan memeluknya sekarang.


Hati Arlana yang beku mencair, dia mengusap punggung besar Zale dengan lembut. Air mata juga keluar dari mata indahnya.


Dengan suara parau Arlana berkata pada Zale lirih "Aku akan memberikan hatiku, jaga itu dengan baik dan tetap disisiku selamanya!"


Zale tersenyum dan mengusap air mata Arlana, dia mengangguk pelan dengan pandangan yang bersungghuh-sungguh menjawab "Aku akan menjaganya, dan aku berjanji akan selalu berada disisimu!"


Setelah kalimat itu keluar dari bibir Zale, dia kembali tergeletak tertidur di meja tidak sadarkan diri. Mulutnya terus-menerus menggumamkan kalimat "Mimpi yang indah, Mimpi yang indah..."


Arlana menatap kosong pada Zale yang sudah tergeletak di meja. Dia ingin memotong tubuhnya untuk di berikan makan pada 4nj1ng.


Bagaimana pria ini bisa sangat menyebalkan saat seperti sekarang.


Jangan bilang dia akan melupakannya besok?!


Dengan rasa frustais di kepalanya, Arlana mengutuk kearah Zale dan juga kebodohannya. Kenapa dia harus menyukai pria ini dari jutaan di Dunia?!


Arlana bahkan bertanya-tanya apakah dia juga masih waras?


Setelah merasa tenang Arlana menghela nafas panjang dan mulai meminta bantuan resepsionis untuk membawa Zale kedalam taksi dan mengantarkannya pulang. Dia tidak lagi peduli tentang semuanya dan apapun yang terjadi!

__ADS_1


__ADS_2