
Peringatan : Chapter di Bawah mengandung Cerita tidak Rasional untuk sebagian pembaca dan mungkin membuat kalian tidak nyaman karena perbedaan pandangan. Tapi sekali lagi ini hanya fiksi cerita yang tidak nyata. Sekian dan Terimakasih..
****
Hari berlalu bergerak maju kedepan dan meningglkan seluruh ingatan dan kenangan di belakang. Matahari tampak gagah bersinar cemerlang diatas langit biru, pemandangan Matahari yang bersinar itu seolah redup dibandingkan dengan satu pasangan.
Sepasang remaja yang tengah jatuh cinta..
Seolah interaksi berbeda yang terjadi antara Zale dan Arlana di sekolah, seluruh siswa gempar menyadari hal itu.
Bagaimana meraka tidak menyadarinya?
Zale sekarang akan berangkat dan pulang bersama kesekolah dengan Arlana. Yang lebih jelas tentang hal itu adalah mereka bergandengan tangan sepanjang jalan.
Melihat wajah Arlana yang tampak lembut dan tidak datar seperti sebelumnya, seluruh tempat tahu jika gadis itu telah luluh dan menjadi milik Zale.
Melihat hal ini banyak siswa yang berharap bahwa Zale akan dengan kejamnya membuang Arlana, tapi bukan itu yang terjadi. Zale malah terlihat lengket dan sangat menyayangi dan menjaganya.
Dengan harapan yang hangus terbakar, para siswa itu mulai bertanya-tanya apakah kali ini perasaan mereka adalah yang sebenarnya?
Seolah tidak peduli pada apa yang terjadi di sekitarnya, Zale dan Arlana bertindak normal dan sama seperti biasa.
Mereka kini tengah menyantap makan siang bersama di sebuah taman yang sunyi.
Zale tersenyum lembut menatap gadis yang tengah dia peluk dan berkata "Bagaimana dengan hari ini? Apakah kau bisa keluar?"
Arlana menghentikan gigitannya pada roti di tangannya, dia menatap wajah tampan Zale dan merenung sejenak.
Setelah terdiam beberapa saat dia menjawab dengan sedikit menyesal "Ada hal yang harus kulakukan hari ini. Bagaimana dengan besok?"
Bibir Zale mengerucut sedih. Sejak kemarin saat dia telah menjadi kekasihnya, dia telah meminta Arlana untuk sebuah kencan dan jalan-jalan keluar bersama. Tapi gadis itu entah bagaimana seolah memiliki banyak hal yang harus di lakukan dan menolak keinginannya. Hal ini membuat Zale sedikit sedih.
Arlana terdiam, menatap wajah Zale yang tidak baik dia mendekat dan mengecup pipinya lembut "Maaf, tapi besok aku benar-benar akan pergi denganmu! Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Oke?"
Wajah kusut Zale tampak cemerlang seketika, dia menatap Arlana dengan panas sebelum membuka bibirnya "Kau berjanji akan melakukan apapun?"
"Itu..." Dengan ragu Arlana mengangguk pelan dan melanjutkan "Selama bukan hal yang keterlaluan maka aku akan melakukannya!"
Zale tidak lagi merasa marah, dia dengan cepat meraih gadis dihadapannya dan menciumnya dalam.
Arlana menolak ciumannya, dia takut jika seseorang akan datang dan melihat, tapi mendapatkan desakan kuat dari Zale, dia pada akhirnya menyerah dan mengaitkan kedua lengannya pada leher Zale.
..........
Bell pulang sekolah berbunyi nyaring, Zale yang mengambil Tas miliknya dan bersiap untuk mengantarkan kekasihnya pulang terhenti sejenak dan menatap pada layar Handphone miliknya. Sebuah pesan singkat memberikan kerutan erat di dahinya.
[Pulanglah, aku menunggumu di rumah!]
__ADS_1
Melihat wajah Zale yang tampak aneh, Arlana bertanya pelan "Ada apa?"
"Ayahku menyuruhku pulang. Dia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Maaf tapi aku tidak bisa mengantarmu pulang. Ingat janjimu bahwa kita akan pergi keluar besok. Aku akan menelponmu..." Zale menjelaskan panjang lebar, dia mengecup kening Arlana lembut sebelum berbalik dan pergi seorang diri.
Arlana diam di tempatnya, dia hanya mengangguk pelan dan melambai kearahnya. Mengabaikan semua pasang mata yang melihat kearahnya, dia berbalik mengambil Tasnya dan turut berjalan pergi....
Wajah Zale sedikit kaku, dia tidak pernah mendapatkan pesan dari Ayahya. Jika memang ada pertemuan keluarga atau acara keluarga, orang yang menghubunginya adalah kakak lelakinya bukan Ayahnya secara langsung.
Dengan sedikit gelisah di hatinya dia menatap keluar jendela mobil untuk menghilangkan kegelisahannya. Seolah itu tidak cukup, Zale mulai mengambil Hp miliknya dan menatap foto Cantik Arlana yang terpampang di Hpnya dengan senyuman. Barulah saat itu dia merasa sedikit lebih baik.
Dalam diam dan hening mobil taksi itu terus melaju untuk waktu yang lama. Hingga setelah beberapa belokan dan putaran Mobil menghentikan mesinnya tepat di sebuah bangunan besar yang sangat luas dan megah.
Setelah mengambil beberapa uang kertas dan menyerahkan uang itu, Zale keluar dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah melewati gerbang besi.
Sudah cukup lama dia tidak pulang! Mata hitam Zale tidak bisa untuk tidak menatap tempat di sekitar rumah itu. Tempat ini adalah tempat dimana dia tumbuh besar, tapi jauh di dalam hatinya dia merasakan perasaan asing yang tidak dapat dia mengerti. Seolah tempat ini adalah tempat yang tidak pernah dia tahu.
Menggelengakan kepalanya pelan, Zale memencet Bel pintu masuk yang besar dihadapannya. Tidak sampai 5 detik, pintu itu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita menggunakan seragam pelayan.
"Tuan Muda, Tuan besar dan Nyonya menunggu anda di ruang kerjanya!" Dengan sopan dan sedikit menundukkan kepala pelayan itu membuka suaranya.
Zale terkesiap sejenak mendengarkan kata Ruang Kerja!
Setiap dia pulang kerumah, Ayah dan Ibunya tidak akan peduli atau membiarkannya istirahat. Tapi ini baru saja dia melangkahkan kakinya masuk dia sudah di tuntun untuk pergi keruang Kerja.
"Bagaimana dengan kakak? Dia sudah datang?"
Pelayan di hadapan Zale sedikit gelisah sebelum menjawab pertanyaannya "Saya tidak melihatnya"
Dengan langkah yang tegas Zale melangkah masuk kedalam ruang itu. Tapi dia terhenti dan berdiri kaku diambang pintu ketika melihat wajah ibunya tampak memerah dengan air mata yang masih mengalir. Bahkah wajah ayahnya tampak gelap dan tidak sedap di pandang.
Dengan jantungnya yang berdebar kencang, Zale memiliki firasat buruk di hatinya.
Wajah tampan Zale menegang, dia menatap Ayahnya dengan anggukan kecil sebelum mencari tempat dan terduduk di salah satu kursi sofa. Dia duduk diam dan tidak berani membuka suaranya untuk bertanya. Dengan diamnya dia seolah menunggu, menunggu Ayahnya untuk membuka suara dan mengatakan segalanya.
"Zale..." dengan isak tangis yang semakin banjir Ibu Zale kembali terdiam setelah mengucapkan namanya.
Hati Zale berdenyut sakit. Walaupun Zale tidak dekat dengan ibunya dan telah di asuh oleh seorang pengasuh, wanita di hadapannya terduduk itu tetaplah ibunya. Seorang ibu yang telah melahirkannya dan memberikan segala kebutuhannya selama ini.
Ibu Zale adalah wanita yang Angkuh dengan kepribadian keras kepala dan juga tegas. Dia tidak dapat menebak apa yang membuat seorang wanita bangga seperti ibunya menangis hingga terlihat jelek seperti sekarang.
"Kami akan mengirimmu untuk belajar keluar negeri" seolah sebuah bom jatuh dan menghancurkan Matahari, Dunia Zale terasa gelap seketika. Dia diam tidak merespon ucapan ayahnya untuk waktu yang lama.
"Kami akan menyekolahkanmu disekolah bisnis terbaik dan mengawasimu dengan baik. Kau akan meneruskan dan mewarisi Godwin Corp selanjutnya..."
Dengan sengatan listrik di telinga Zale yang lainnya, dia tersentak bangun dari keterkejutannya.
Menatap wajah Ayahnya yang tampak tegas dan tidak memberikan celah. Urat di dahi Zale menonjol, dia menggertakkan giginya keras dan berkata "Kenapa harus aku? Bukankah sudah diputuskan sejak lama bahwa kakak akan menjadi pewaris sedangkan aku akan melakukan apapun yang aku inginkan?!"
__ADS_1
"Dia tidak bisa!" Nada suara Ayah Zale menjadi dingin seketika, dengan wajah gelap dan sedikit sakit dia melanjutkan "Fian telah kami coret dari Keluarga Godwin, dia bukan lagi bagian dari Keluarga ini!"
Tubuh Zale menegang, dia menatap wajah Ayahnya dengan tidak percaya "Kenapa? Apa yang terjadi dengan kakak?!"
"Zale, lupakan kakakmu, dia bukan lagi bagian keluarga! Dia bukan lagi kakakmu dan bukan putraku!" Ibu Zale yang menangis di samping akhirnya membuka suara,
Wajah Ze menjadi gelap seketika, dia tahu telah terjadi sesuatu. Seuatu yang sangat buruk hingga membuat ibunya bahkan tidak ingin mengakuinya sebagai putranya lagi.
Dengan wajah yang sedikit marah, Zale menatap Ayahnya menuntut sebuah penjelasan "Jelaskan! Apa yang terjadi padanya!"
Zale tidak akan peduli jika itu orang lain, tapi kali ini itu adalah kakaknya sendiri. Tidak peduli bagaimana Ayah dan Ibunya berencana menutupi masalah ini darinya, dia akan terus menuntut jawaban dan mencari taunya sendiri.
Dengan desahan nafas yang panjang, Ayah Zale memijat pelipis matanya ringan. Dia menggeleng pelan dan tidak menjawab pertanyaan Zale.
Sebaliknya ibu Zale berteriak marah dengan frustasi dan air mata yang mengalir deras "Kakakmu... Dia, dia Gay! Kakakmu seorang Gay! Dia menyukai Pria.. sebagai pewaris keluarga Godwin, sebagai anak pertama keluarga Godwin, beraninya dia menjadi begitu menjijikkan dan Mencoreng nama keluarga besar kami! Aku tidak akan pernah lagi menganggapnya sebagai putraku! Dia bukan putraku!"
Tubuh Zale runtuh, jatuh lemas di sofa, dia menatap Ibunya yang berteriak seperti orang gila.
Kabar yang dia terima terlalu mengejutkannya hingga dia merasa kepalanya kosong seketika dan tidak lagi tahu harus bagaimana.
Air mata mengalir di pipi putih Zale, dia memikirkan kakaknya! Kakak yang begitu baik adalah seorang Gay? Dia berpikir dan terus berpikir dalam diam dan terduduk disana meneteskan air mata menatap kebawah dengan pandangan kosong.
"Karena hal itulah kami memutuskan untuk memindahkanmu keluar Negeri, sebuah sekolah bisnis terbaik. Disana kau akan mempelajari banyak hal dan menjadi pewaris keluarga Godwin dimasa depan. Kau harus melupakan kakakmu dan fokus pada keluarga kita" Ayah Zale sekali lagi membuka suara, namun kali ini suara yang keluar dari mulutnya membawa sedikit rasa sakit dan pilu.
Dengan menggelengkan kepala Zale tersadar dari pikirannya yang telah berkelana dan menjawab tegas
"Tidak!!!"
Setelah kalimat itu, Zale berdiri dan berlari keluar dari ruangan.
Ibu Zale berteriak meneriakkan namanya, tapi sang Ayah menghentikannya dan berkata "Berikan dia waktu, jangan terlalu mendesaknya. Dia dekat dengan kakaknya, dia pasti merasa hancur saat ini!"
Berbeda dengan apa yang Ayahnya pikirkan, Zale sekarang berlari keluar dan menelfon kakaknya.
Dia tidak kecewa!
Dia bahkan tidak merasa jijik dan terluka!
Kakaknya Gay, dia Menyukai Pria! Lalu apa? Lalu kenapa? Apakah itu salah? Ya, itu salah tentu saja. Tapi di mata Zale itu tidak salah, dalam Cinta kau tidak dapat menentukan perasaanmu. Jika kau menyukainya karena suatu Alasan maka cintamu untuknya bukanlah cinta yang sebenarnya.
Jika Zale belum Jatuh cinta pada Arlana mungkin dia tidak akan mengerti perasaan kakaknya. Tapi itu berbeda sekarang!
Zale menyukai Arlana, dan dia bisa mengatakan bahwa mencintai seseorang adalah suatu hal yang tidak dapat kau pikirkan secara rasional.
Jika kakaknya menyukai pria, maka jadilah itu! Dia hanya mencintai seseorang, apa yang salah dengan itu? Selama kakak Zale bahagia maka itu cukup! Tidak peduli bahkan jika kakaknya mencintai sebuah patung, Zale akan mendukungnya!
Yang membuat Zale khawatir dan gelisah kini adalah tindakan keluarganya yang begitu menentang dengan sangat buruk.
__ADS_1
Zale takut kakaknya akan terluka, menangis, dan merasa kesepian seorang diri serta membenci dirinya karena menjadi berbeda. Yang paling dia takutkan adalah bagaimana jika kakaknya betindak bodoh karena tertekan?
Dengan pikiran yang berantakan, Zale terus menerus menelpon kakaknya dan mencoba mencarinya. Dia ingin menemui kakaknya yang tercinta, memeluknya dan mengatakan padanya 'Bahwa dia Zale tidak merasa jijik dan tetap menyayanginya! Kakaknya selamanya akan selalu menjadi kakak tercintanya!'