My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
28 Mother and Daughter/Son


__ADS_3

Matahari bersinar menampakkan cahaya berwarna jingga di langit yang cerah. Menyambut datangnya matahari pagi itu, burung kecil berkicau riang seolah merasakan kehangat dan kedamaian yang di pancarkan sang Matahari.


Sosok cantik dengan warna mata emas terlihat tengah terduduk di tempatnya yang biasa dia tempati. Wajahnya sedikit lesu dan tidak bersemangat.


Sudah 3 hari berlalu sejak pertemuan Arlana dan Zale. Sejak itu pula entah kenapa Arlana terlihat seperti orang bodoh yang akan menatap kearah pintu masuk milik tokonya.


Dia tahu dia tidak bisa seperti ini. Arlana bahkan tahu bahwa dia harus bersikap tegas dan melepaskan pria itu. Hubungan mereka telah lama hilang saat 10 tahun yang lalu dan tidak ada lagi yang tersisa.


Hanya ada rasa sakit dan kesepian di hatinya. Tapi entah kenapa tetap saja walaupun begitu dia bertindak bodoh dengan selalu memperhatikan pintu masuk seolah mengaharapkan kemunculan Zale.


Arlana bahkah masih tidak tahu bagaimana dia harus bersikap ketika melihat sosok Zale berada di hadapannya nanti. Jadi kenapa hatinya selalu merasa gelisah dan sangat ingin melihatnya?


Setelah desahan nafas yang panjang untuk kesekian kalinya, Arlana bangkit dari tempatnya terduduk dan menuju bagian depan tokonya untuk melakukan beberapa pekerjaan ringan.


"Apa kau memiliki waktu?" Sebuah suara wanita paruh baya terdengar, Arlana terkesiap dan mengalihkan pandangan matanya keasal suara.


Raut wajah Arlana menjadi gelap seketika saat dia melihat sosok wanita yang tidak ingin dia jumpai.


Saat ini dia tengah berada di depan toko untuk mengatur sebuah baju di patung. Dia memiliki karyawan membantunya, dan dalam keadaan seperti ini dia tidak pernah berharap sosok wanita itu yang akan muncul bukan sosok yang dia harapkan.


"Apa yang kau inginkan? Tidakkah kau lihat, aku sedang sibuk!" Suara Arlana terdengar dingin dan sedikit kesal

__ADS_1


Wanita itu tersenyum kecut sebelum kembali membuka bibirnya "Arlana, Ibu hanya ingin membicarakan sesuatu. Ini hanya memakan waktu yang sebentar! Sampai kapan kau akan terus menghindariku!"


"Baik, baiklah! Berhenti mengeluh. Mari bicara!" Arlana menyerah, dia memutar pandangannya dan menatap sebuah kafe di seberang tempatnya berdiri "Mari kita bicara disana!"


Ibu Arlana mengangguk pelan sebelum mengikuti tubuh Arlana yang berjalan di depannya. Mereka terdiam sepanjang jalan hinga tiba di Kafe itu dan terduduk setelah memesan minuman.


Dengan helaan nafas Ibu Arlana akhirnya membuka suara "Ibu tidak akan meminta maaf atas apa yang terjadi dimasa lalu, melakukan hal itu tidak akan mengubah apapun!"


Menatap wanita di hadapannya, wajah Arlana terlihat datar dan tidak berekspresi. Dia tidak bisa untuk tidak sedikit kagum pada Ibunya ini. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Tapi penampilannya masih sangat menggairahkan dan cantik menarik perhatian.


Berbeda dengan Arlana yang tampak sederhana dan sama sekali tidak menarik perhatian siapapun.


"Ibu hanya akan meminta maaf tentang apa yang terjadi padamu! Aku bukanlah ibu yang baik dan membuatmu terluka. Tidak peduli bagaimana aku memohon pengampunan itu juga tidak akan meringankan rasa sakit yang kau alami.." Ibu Arlana melanjutkan ucapannya. Dia terhenti sejenak dan meminum kopi di hadapannya dengan anggun.


Melihat Arlana yang masih terdiam seraya menatapnya tanpa ekspresi. Ibu Arlana menghela nafas panjang, dia memijat pelipis matanya ringan sebelum kembali berkata "Ibu akan kembali keluar Negeri satu minggu lagi. Untuk adikmu... Apakah kau bisa melakukan sesuatu tentang dia, aku tidak tahu harus bagaimana dengan anak itu. Dia sangat menyukaimu dan aku merasa dia..."


"Aku akan mengurusnya..." Arlana akhirnya membuka suara miliknya setelah hening yang panjang, dia mendesah pelan sebelum melanjutkan "Aku tidak bisa menerima kebaikanmu. Melihat wajahmu membuat hatiku sakit dan teringat akan Ayah. Jadi aku mohon setidaknya biarkan aku hidup bahagia dengan hidupku. Jika aku benar-benar membutuhkan bantuan, aku akan memintanya. Tapi jika tidak, tolong jangan muncul di hadapanku. Aku mohon! Tentang Leon, aku akan berbicara padanya.."


Ibu Arlana menundukkan kepalanya dan menangis dalam diam. Melihat hal ini Arlana merasakan sedikit sengatan di hatinya. Dia tahu wanita ini ibunya, tapi tetap saja Arlana masih tidak ingin mengakuinya dan ingin wanita ini menjauh darinya. Melihat wajah Ibunya melukai Arlana dan membuatnya kembali mengingat sosok Ayah tercintanya yang begitu menyedihkan.


Setelah mengatakan hal itu, Arlana tediam sejenak sebelum beranjak pergi dari tempat itu meninggalkan ibunya yang meneteskan air mata seraya melihat kepergiannya.

__ADS_1


...........


Di tempat lain yang jauh. Sosok tampan terlihat tengah terduduk diam menatap wajah cantik dengan riasan tebal dihadapannya dengan ekspresi wajah yang sangat buruk.


Sosok pria itu tidak lain adalah Zale. Dia sudah merasakan sakit kepala selama 3 hari ini. Dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk, Zale sudah merasa lelah dan marah karena belum dapat mengunjungi Arlana.


Bukan hanya itu, tapi wanita di hadapannya ini -sang ibu- terus menerus menyiapkan kencan buta dengan calon tunangan yang dia pilih.


Zale yang geram menemui ibunya itu untuk menyelesaikan masalah yang membuatnya susah buang air besar ini.


"Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak berencana menikah dengan orang yang Ibu pilih! Jadi berhenti membuat banyak rencana konyol untuk menjebakku!" Zale berbica dengan tatapan dingin yang menusuk kearah ibunya yang hanya tengah terduduk manis tidak peduli.


"Kenapa bawel sekali? Semua wanita yang Ibu pilih memiliki segalanya! Mereka cantik, menawan dan sangat berkelas! Kenapa kau sangat susah di atur!"


"Ibu!!!" Zale meninggikan nada suara miliknya, melihat wanita dihadapannya tampak sedikit kaget. Dia mengehela nafas sebelum kembali berbicara "Aku memiliki seseorang yang aku inginkan untuk menemaniku hingga tua. Jadi ibu tidak perlu repot dan khawatir tentang hal itu!"


"Siapa? Wanita itu?" Ibu Zale mendengus tidak suka dan kembali berkata "Dia tidak memiliki derajat yang sama dengan kami. Apalagi dengan masa lalu kelamnya dengan seorang Ibu yang murahan dia hanya akan mencoreng nama keluarga Godwin..."


"Cukup!!!" Zale membentak kasar, dia bangkit dari tempatnya terduduk dan menatap kearah ibunya penuh amarah berkata "Tidak ada yang boleh mencelanya di hadapanku! Jika ibu terus merencanakan hal bodoh di belakang, aku akan membuat diriku keluar dari Keluarga Godwin dan menjadi sosok yang lebih mengerikan dari pada kakak!"


Dengan kalimat itu Zale berjalan pergi meninggalkan ibunya yang memiliki raut wajah marah dan tampak gelap ketika mendengarkannya mengatakan tentang kakaknya yang sudah menjadi luka di hatinya.

__ADS_1


Setelah kepergian Zale, ibu Zale tidak benar-benar mendengarkan perkataan Zale. Dia dengan wajah yang tertekuk dan marah mulai merencanakan sesuatu lagi di belakang putranya itu untuk menganggu gadis pilihannya.


__ADS_2