My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
09 Your First Kiss?


__ADS_3

Matahari bersinar cerah menampakkan sinarnya yang hangat di atas langit yang biru. Suasana pagi hari yang seharusnya menjadi hangat dan damai itu tidak terasa sama seperti kehangatan Matahari.


Zale terduduk dengan senyuman manis di sisi Arlana, ia menatap gadis disisinya seolah itu adalah sebuah majalah porno tanpa mau mengalihkan pandangan sedikit pun.


Arlana menghela nafas panjang dan memijat pelipis matanya ringan, tidak diragukan lagi tindakannya tampak seperti orang tua yang tengah memikirkan konflik keluarga.


Saat Arlana tengah mencari cara untuk menjauh dari pria itu yang dia dapatkan hanyalah membuatnya semakin mendekat.


"Jadi kau benar-benar akan menginap dirumahku?" Kelvin bertanya membuyarkan suasana sunyi diantara mereka. Dia terduduk di seberang meja makan yang lainnya.


Setelah kalimat mematikan yang di ucapkan oleh Zale pada Arlana, hal itu membuat semua orang terdiam menjadi linglung bahkan Arlana tidak luput.


Mereka terus terdiam linglung hingga makanan telah siap sepenuhnya dan sekarang disinilah itu akhinya, mereka tengah memakan makan pagi menjelang siang.


Zale mendengus ringan mengalihkan pandangannya pada Kelvin "Apakah aku tidak di ijinkan untuk menginap disini?"


"Bukan seperti itu maksudku!"


"Kalau begitu bagus, aku akan menginap disini selama Arlanaku juga disini!" Zale menjawab Kelvin santai dan kembali mengalihkan pandangannya kearah Arlana "Makanlah yang banyak, jangan sampai sakit dan membuatku khawatir!"


Tangan Zale bergerak meletakkan beberapa lauk dipiring Arlana membuatnya tampak seperti gunung kecil. Tindakan itu membuat Arlana melotot tajam kearahnya.


Kelvin mendesah tanpa daya, ia melirik kearah Glen yang mengangkat bahu tidak peduli.


'Sepertinya aku hanya dapat membiarkan hari-hariku menjadi berisik selama beberapa hari kedepan!' Kelvin mengunyah makanan di piring dengan pasrah menatap kedua orang yang terus berdebat di hadapannya.


Setalah memakan makanan di meja makan dalam suasana yang ramai untuk waktu yang cukup lama, semua orang di meja makan menyelesaikan makanan mereka dengan berbagai ekspresi wajah yang berbeda.


Ekspresi wajah paling buruk adalah milik Arlana, gadis itu tidak pernah tersenyum membuat wajahnya sedingin patung Es. Namun, sekarang wajahnya terlihat lebih menakutkan dengan urat yang menonjol di dahinya.

__ADS_1


"Arlana, seseorang sepertinya datang kemari untuk membuat masalah. Apakah mereka tidak pernah belajar?" Kelvin mengerutkan kening ketika mendengar pengurus rumah tangga mengatakan bahwa seseorang tengah membuat ulah di depan pintunya.


Mereka berempat tengah berjalan kearah taman belakang setelah makan. Arlana yang awalnya ingin pergi untuk beristirahat di tangkap oleh Zale dengan sangat erat, membuat gadis itu tidak mempunyai kekuatan untuk melarikan diri.


"Mereka sudah sampai?" Arlana berseru dengan sedikit kejutan, "Mungkin dia tahu jika paman dan bibi tidak ada, maka dari itu mereka bertidak berani!"


"Kalau begitu aku akan menunjukkan pada mereka akibat dari membuat masalah disini!" Kelvin bergumam marah dan berjalan pergi


"Apa kau butuh bantuan?"


"Tidak! Tetaplah disini!" Kelvin menolak bantuan Glen dan menghilang di balik pintu


"Bisakah kau melepaskan tanganku?" Arlana menarik tangan miliknya yang tengah bergandengan erat dengan tangan besar Zale, ia merasa sangat marah dan kesal dengan keadaan ini. Namun, kekuatannya yang terbatas sebagai wanita membuatnya tidak dapat melakukan apapun.


"Apakah kau ingin pergi melihat?" Zale balik bertanya seraya mempererat gengaman tangannya seolah tidak mendengarkan apa yang Arlana katakan


"Aku tidak!" Arlana menggeleng pelan "Aku ingin pergi ke kamar mandi!"


Glen meringis menatap kearah Zale yang tampak cabul. Dia tidak tahu harus merasa bahagia untuk sahabatnya atau kasihan pada Arlana. Namun, satu hal yang pasti menurutnya. Kedua orang di hadapannya mungkin memang telah di takdirkan bersama.


Arlana menatap tajam kearah Zale dengan wajah yang terlihat semakin gelap "Apa kau serius?"


"Tentu!" Zale mengangguk tanpa berkedip


"Oh! Ku rasa aku harus pergi! Zale, Arlana mari kita bermain bersama lain kali!" Glen memotong ucapan kedua orang itu, dia menatap Hp miliknya dan berlalu pergi tanpa menunggu jawaban


"Kurasa sesuatu terjadi padanya!" Arlana berseru ringan menatap kepergian Glen yang terburu-buru "Apa kau tidak akan pergi bersamanya?"


"Kenapa aku harus?" Zale menjawab acuh "Hal itu terjadi setiap waktu saat wanita yang menyebut dirinya kakak menghubungi Glen!"

__ADS_1


Arlana tidak terlalu peduli dengan Glen, dia hanya mengatakan kalimat itu untuk mengusir keberadaan Zale. Tapi sepertinya itu percuma.


Mata keemasan Arlana menatap kearah Zale dengan pandangan memohon, "Zale aku benar-benar ingin kekamar mandi. Jadi bisakah kau lepaskan sebentar?"


Zale terdiam, mata hitam pekatnya menatap mata emas Arlana dengan pandangan menyelidik. Tampaknya dia tidak berbohong! Namun, itu bukanlah Zale jika hanya akan melepaskan genggaman tangan begitu saja.


"Aku akan melepaskannya!" Zale menjawab seraya tersenyum "Tapi aku ingin sebuah ciuman!"


Wajah Arlana yang tampak lebih baik saat mendengar ucapan pertama Zale menjadi gelap seketika saat seluruh ucapannya selesai. Tidak hanya menjadi gelap, wajah Arlana juga tampak memerah dengan sentuhan malu disekitar pipinya yang lembut.


Zale tentu saja dapat melihat perubahan pada wajah Arlana dengan sangat jelas, ia tertegun sejenak sebelum membuka mulutnya dengan sedikit bingung "Lana, jangan katakan itu adalah ciuman pertamamu?!"


Ucapan Zale tampak seperti sebuah bom yang jatuh tepat di hadapan Arlana. Wajah gadis itu menjadi merah padam dengan detak jantungnya yang memburu. Tidak lagi dapat menahan rasa malu, Arlana mengalihkan pandangan wajahnya kearah lainnya.


"Tidak mungkin!" Zale berseru dengan kejutan, walaupun dia menebak hal itu. Dai tidak pernah benar-benar mengharapkan tebakannya dengan benar.


Disini kita melihat seorang remaja berusia 17 tahun, mereka pasti telah memiliki beberapa kekasih dan melakukan banyak hal lainnya yang tercela. Walaupun Arlana selalu sendiri, dia bukanlah gadis yang tidak menarik. Jadi, jika benar-benar ada seseorang di luar sana yang tertarik padanya dan berani maka dia pasti akan memiliki kekasih.


Menyadari bahwa Zale telah mengambil ciuman pertama Arlana, tanpa sadar genggaman tangan miliknya menjadi kendor. Zale juga mengalihkan pandangan wajahnya tidak berani untuk menatap Arlana. Entah kenapa Zale merasakan ada sesuatu yang salah di hatinya.


"Oh?!" Zale terkejut ketika Arlana menyeret tangannya yang tidak terikat dengan erat pada tangannya dan mencoba lari.


"Hei!!!" Dengan tarikan ringan oleh Zale tubuh Arlana yang hendak berlari jatuh kedalam pelukannya.


Menatap gadis dalam dadanya, Jantung Zale berdebar kencang. Dia dapat mencium aroma segar dari tubuh Arlana tercium oleh hidungnya. Baru sekarang Zale menyadari bahwa Arlana memiliki bau tubuh yang sangat manis.


Tangan besar Zale terangakat untuk membuat wajah Arlana menatap tepat kearah wajahnya. "Aku senang jika itu adalah ciuman pertamamu! Jadi, bisakah aku merasakannya lagi?"


Bughh!!!

__ADS_1


"Ouh!!!" Zale mengerang kesakitan ketika kaki Arlana menendang pada adik kebanggaannya.


"Kenapa kau tidak mati dan membusuk di Neraka!" Dengan kalimat itu Arlana berhambur pergi meninggalkan Zale dengan rasa sakitnya


__ADS_2