My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
15 Apakah itu Cemburu?


__ADS_3

Hari itu hujan turun membasahi bumi dengan airnya yang deras dan basah, Hujan di bulan juli! Bukanlah pemandangan yang sering terjadi, musim panas yang mendatangkan hujan seolah seperti pertanda bahwa akan ada hal buruk terjadi.


Sepasang mata keemasan menopang dagu miliknya dengan pandangan kosong, ke dua mata indah miliknya menatap keluar jendela dengan penuh kebosanan.


"Arlana, aku akan pergi bermain basket, kenapa kau tidak datang untuk melihat?"


Tidak menanggapi Zale yang berbicara disisinya, Arlana hanya diam. Sejak kemarin saat betemu dengan Alen, Zale menjadi lebih dan lebih cerewet. Di juga menjadi lebih dan lebih lengket padanya. Hal ini benar-benar menjengkelkan untuk Arlana.


"Aku akan menunggumu! Aku benar-benar akan menunggumu!" Zale mengulangi kembali perkataannya sebelum diseret pergi oleh teman lelakinya yang sekelas.


Setelah hening karena kepergian Zale, Arlana menghela nafas lega. Dia merasakan usianya menjadi beberapa tahun lebih tua dengan berada di sekitar Zale.


Melihat seisi kelas yang tampak santai dan tidak terlalu banyak siswa, Arlana bangkit dari tempatnya terduduk untuk menuju ke ruang perpustakaan.


Saat ini adalah kelas sore hari sebelum pulang, jadi mata pelajarannya adalah membiarkan para siswa untuk belajar mandiri. Tentu saja banyak siswa yang lebih memilih untuk bermain, atau berolah raga seperti Zale.


Walaupun di luar hujan deras, gedung olah raga sekolah ada di dalam dan sangat luas, itu dapat menampung beberapa siswa dengan setiap kegiatan olah raga yang berbeda.


Saat Arlana berjalan untuk keluar dari kelas, sesosok gadis yang terlihat bulat membawa makanan membenturnya tidak sengaja. Makanan yang di bawa oleh gadis itu tampak berhambur dilantai.


"Uuhh! Maaf, aku-" perkataan gadis itu tercekat di tenggorokannya ketika sepasang mata bulat miliknya menatap kearah orang yang dia bentur, itu Arlana! Dia menelan ludahnya kasar dengan sedikit gugup.


"Lupakan, itu bukan salahmu!" Arlana menjawab datar kearahnya tanpa sadar bahwa gadis itu tengah terdiam kaku.


Dia membantu memilih makanannya yang berserakan sebelum menyerahkannya pada gadis itu dan pergi dengan acuh.


"Wohh!!! Dia membantumu untuk memungut makananmu di lantai! Bukankah itu hebat Kanaya!" Seorang gadis berjalan mendekat kearah Kanaya yang hanya terdiam seraya menatap punggung Arlana yang menjauh.


...... Arlana terus berjalan melewati tiap lorong kelas yang tampak sedikit sunyi. Mata keemasan miliknya berkeliaran menatap kearah hujan yang jatuh menghantam tanah. Suara hujan itu terdengar keras dan meredam suara obrolan dari para siswa.


Tubuh Arlana tampak menegang sejenak saat pandangan mata indahnya menatap tepat kesebuah tempat. Tempat itu adalah tempat dimana Zale menciumnya!


Merasakan sensasi aneh di hatinya yang gelisah, Arlana mengalihkan pandangan matanya dengan tergesa dan bergegas pergi melangkahkan kakinya menjauh.


Dia sudah melupakannya! Kejadian dimana Zale menciumnya sudah benar-benar dia lupakan. Walaupun begitu, memori itu terkadang datang melintasi pikirannya setiap kali dia melihat kearah dimana hal itu terjadi. Apalagi saat ini tengah hujan deras, membuat kenangan itu menjadi lebih jelas di benaknya.


Dalam beberapa hari terakhir juga walaupun dia tampak acuh dan tidak peduli pada Zale yang terus menempel, mau tidak mau Arlana yang selalu tenang akan gelisah jika Zale melakukan hal-hal yang terlalu aneh.


Sebut saja ketika Arlana tengah memakan sebuah keripik kentang, saat dia akan memakan setengah dari makanan ringan itu di mulutnya. Bibir Zale menempel pada bibirnya untuk merebut makanannya.


Arlana tentu saja marah dan bahkan menampar Zale, tapi tidak di pungkiri wajahnya sangat memerah padam seperti tomat busuk. Detak jantungnya juga berdebar kencang tidak beraturan.

__ADS_1


Untuk menghadapi pria seperti Zale, Arlana telah membuat hatinya sekeras batu dan membuat jarak yang sangat jauh darinya. Tapi tampaknya itu percuma, Zale akan menerobos jarak yang dia buat tanpa halangan.


"Sial4n!!!" Arlana mengutuk keras seraya membanting sebuah buku di tangannya.


Dia kini tengah berada di perpustakaan untuk membaca. Tapi pikirannya tidak fokus dan malah memikirkan betapa menyebalkannya Zale selama beberapa waktu ini.


Menjatuhkan kepalanya di atas meja, Arlana menghela nafas panjang. Sekali lagi mata emas indahnya menatap kosong kearah di sisinya. Tempat itu seharusnya tidak sunyi, akan selalu ada Zale yang cerewet disana mengatakan banyak hal.


"Lupakan! Ada apa denganku?! Ini seperti aku kesepian dan merindukannya! Arlana apa kau gila!" Saat dia kembali memikirkan Zale, Arlana tanpa sadar berteriak keras pada dirinya sendiri seperti orang gila


"Sttt...!!! Jangan berisik!"


Mendapatkan teguran dari pengurus perpustakaan yang melotot kearahnya, Arlana membungkung minta maaf sebelum beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Dia terlalu malu untuk tinggal!


Karena dia tidak bisa fokus membaca, jadi Arlana berfikir lebih baik untuk kembali ke kelas mengambil tas dan pulang!


Langkah kaki Arlana terhenti ketika dia menyadari bahwa tempatnya berada adalah sebuah tempat yang ramai. Dia menatap tempat di hadapannya dengan pandangan kosong.


Arlana tidak tahu apakah dia harus menangis atau tertawa. Dia hanya berjalan keluar dari perpustakaan dengan pikiran kosong dan sekarang berada di sisi lapangan basket. Tempat ini berlawanan dari jalan menuju kelasnya!


"Arlana apa yang kau lakukan?!" Arlana memijat pelipis matanya ringan, tidak dapat di pungkiri keberadaan Zale untuknya mulai memberinya beberapa efek buruk. Hal ini tidak bisa terus di biarkan atau dinding yang dia bangun akan goyah!


Arlana yang ingin pergi meninggalkan tempat itu terhenti seketika dan tanpa ia sadari mata ke emasan miliknya mengikuti jari telunjuk gadis itu seolah sebuah hal yang wajar dilakukan.


"Gadis itu beruntung. Aku juga ingin memberikan air minum untuk Zale..!"


Zale mengenakan sebuah kaos olah raga, wajah tampannya tampak basah oleh keringat. Seolah keringat itu sama sekali tidak merusaknya, keringat itu malah menambahkan kesan yang lebih maskulin dan sedikit seksi. Membuat Zale terlihat jauh lebih tampan serta menggairahkan, berbeda dengan sikap konyolnya yang selalu tertawa.


Tubuh Arlana menegang menatap kearah Zale, dia tengah meminum sebuah air yang di berikan seorang gadis. Gadis itu adalah gadis yang di temui Arlana dan Zale ketika hari Hujan waktu lalu. Dia tidak tahu mengapa, tapi dadanya berdetak kencang dan sedikit gelisah.


Tanpa sadar Arlana melangkah mundur dengan tidak nyaman!


"Hei hati-hati!!!" Sebuah suara pria yang terdengar lembut bergema. Dia menangkap bahu Arlana dari belakang "Jika kau terus berjalan mundur tanpa melihat, kau akan membentur seseorang!"


Arlana tidak menanggapi ucapan pria itu, dia hanya diam dan tetap menatap kearah Zale tanpa berkedip.


Pria itu tidak meras kesal, dia hanya tersenyum ringan dan mengikuti arah pandangan Arlana. Senyuman dibibirnya semakin lebar dan berkata "Apakah kau cemburu Arlana?"


Tubuh Arlana tersentak kaget seketika, dia tersadar dan menatap pria disisinya. Itu Alen! Menatap wajah tampan yang tersenyum disisinya, Arlana menyadari kebodohannya. Dia merubah raut wajahnya menjadi datar dan menjawab pertanyaan Alen "Apakah aku?"


Alen mangangkat bahunya acuh "Entahlah, kukira kau cemburu melihat Zale bersama wanita lain!"

__ADS_1


"Berhenti berbicara omong kosong!"


"Baiklah! Aku akan berhenti!" Alen tidak lagi melanjutkan menggoda dan memilih topik pembicaraan yang lain "Tapi aku tidak pernah berharap bahwa kau akan datang untuk menonton!"


"Aku juga tidak pernah berharap kau melakukan hal yang sama! Apakah kau memiliki perasaan tersembunyi yang memalukan?!" Jawaban yang di berikan Arlana sama pedasnya, dia sama sekali tidak akan kalah berbicara pada siapapun kecuali Zale.


"Haha~ baiklah aku akan berhenti menggodamu!" Alen tampak kalah dan menyerah pada saat itu juga "Kau tahu, karena aku tahu bahwa kau tidak akan tertarik padaku. Jadi disini aku berfikir kita dapat menjadi teman"


"Kenapa aku harus?!"


Alen mendesah menatap gadis disisinya itu yang tengah melihat kearahnya tidak tertarik "Itu bukanlah teman yang selalu bersama untuk bermain. Sebuah teman yang kau butuhkan jika kau kesulitan!"


Alis bulan sabit di dahi Arlana terangkat, wajahnya benar-benar tampak tidak mengerti perkataan yang di ucapkan oleh Alen. Jika itu hanya teman yang ada saat di butuhkan, jadi bukankah pada dasarnya mereka sama seperti kotoran. Seorang sampah yang hanya memanfaatkan orang lainnya!


"Aku tahu apa yang kau fikirkan!" Alen kembali tertawa dan menjelaskan "Aku tahu kau tidak akan memiliki banyak teman tidak peduli berapa lama kau tumbuh. Orang sepertimu adalah orang yang menutup hatinya untuk dekat dengan siapapun! Jadi disini aku berharap, setidaknya jika ada yang dapat aku bantu, aku akan dengan senang hati membantumu! Tentu saja kau dapat memberiku balasan yang sama jika merasa tidak nyaman..!"


Jadi seperti itu!


Arlana tersadar atas keinginan Alen, dia ingin membentuk sebuah lingkaran sosial untuk masa depan. Seseorang yang memiliki komunikasi dalam lingkaran sosial yang baik dimasa depan adalah orang-orang yang memiliki kehidupan mudah dan kehidupan nyaman untuk bekarir.


Pandangan dingin dan datar Arlana mereda sedikit mendengarkan niat Alen. Dia mungkin memang tidak akan memiliki banyak koneksi di lingkaran sosial di masa depan. Jadi membuat hubungan baik dengan Alen saat ini tidak terlalu buruk.


Saat Alen menyadari tatapan Arlana yang tidak terlalu keras padanya, dka tahu gadis ini menerima niat baiknya. Walaupun gadis itu tidak mengatakannya secara langsung dia sudah dapat menebaknya.


"Arlana, jangan menatapku terlalu lembut! Pacarmu mungkin saja akan membunuhku nanti!"


Saat perkataan Alen keluar dari bibirnya, Arlana tanpa sadar mengalihkan pandangan matanya kearah lapangan bola basket.


Disana, di tengah lapangan.


Zale berdiri diam menatap kearahnya dengan wajah terpelintir yang sangat jelek.


Mata hitamnya terlihat tajam dan menakutkan. Menatap tapat kearah Arlana yang tengah berdiri bersama dengan Alen.


Tubuh Arlana menegang saat kedua mata emasnya bertemu dengan pandangan Zale. Detak jantung Arlana tanpa sadar menjadi cepat, tubuhnya merespon dengan tidak wajar. Dia gelisah dan ingin lari untuk bersembunyi.


Seluruh lapangan yang tadi berisik kini menjadi hening seketika.


Tidak lagi sanggup mendapatkan tatapan seperti itu dari Zale, Arlana mengalihkan pandangannya dan beranjak pergi dengan kegelisahan yang semakin menumpuk, Dia berbisik pada dirinya sendiri


"Tuhan, Jangan buat aku jatuh padanya!"

__ADS_1


__ADS_2