
Menatap punggung Arlana yang perlahan menjauh, Zale tersadar dari keterkejutannya. Dia tahu ini tidak akan mudah untuk membuat gadis itu menyukainya, tapi tetap saja hatinya sedikit sakit mendengarkan Arlana tidak menyukainya dan menolaknya secara langsung seperti itu.
Dia menggeleng pelan sebelum beranjak pergi untuk mengikuti Arlana dalam diam. Dia sudah memutuskan untuk membuktikan pada Arlana tentang ketulusan perasaannya, dia juga telah memutuskan untuk membuat Arlana menjadi miliknya. Maka yang perlu Zale lakukan adalah bekerja lebih keras untuk menebarkan pesona ketampanannya.
"Kenapa kau selalu meninggalkanku sendiran? Kau sangat tega!!!" Zale merengek manja ketika dia telah berada disisi Arlana.
Melihat gadis itu tidak merespon dan hanya terdiam, Zale mendesah pelan dan kembali berbicara "Mari makan siang bersama, aku sangat lapar!"
Saat tangan besar Zale hendak menggengam tangan Arlana untuk menyeretnya, gadis itu menepisnya dengan kasar. Dia berhenti berjalan dan melotot tajam kearah Zale.
"Bukankah sudah ku bilang aku tidak menyukaimu dan aku tidak akan pernah menyukaimu!"
"Aku dengar! lalu apa?" Zale menjawab perkataan Arlana dengan pandangan lemah lembut "Yang perlu aku lakukan hanyalah membuatmu menyukaiku! Bukankah itu akan menyelesaikan segalanya?"
Mendengarkan pernyataan santai yang keluar dari bibir Zale, wajah Arlana menjadi memerah padam.
Kenapa pria ini sangat percaya diri?
Arlana mengutuk ketampanan narsis disisinya itu yang selalu saja mengatakan omong kosong dan penuh dengan dirinya sendiri.
"Hei Lana!" Zale menyeret lengan Arlana dan mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu lalu berbisik pelan "Jangan membuat wajah seperti itu di depanku atau aku tidak akan bisa menahan diri!"
Kemerahan di wajah Arlana semakin merona, dia menepis tangan Zale kasar dan melotot kearahnya "Wajah apa yang kau maksud?"
"Wajah seseorang yang ingin bully!"
Mendengar jawaban tidak senonoh Zale, Arlana dengan geram dan hendak menamparnya. Namun, lagi-lagi tangan halusnya di tangkap oleh pria itu.
"Berhentilah menggunakan tangan ini untuk memukulku! Kau bisa menggunakannya untuk membelai pipiku!" Dengan gerakan ringan dia menuntun tangan lembut Arlana di pipinya
"Berhenti melakukan itu!" Arlana kembali berteriak dengan kesal "Kenapa kau selalu menggodaku dan melakukan hal tidak tahu malu!!"
Zale tersenyum dan mendekatkan wajahnya untuk menatap kearah dua mata indahnya " Karena aku seorang pria yang sehat dan masih dalam pertumbuhan, terlebih lagi kau adalah gadis yang aku sukai..."
"Tidak tahu malu" tidak lagi sanggup menahan rona di pipinya Arlana berjalan pergi setelah mendengarkan pernyataan berani yang Zale ucapkan
Zale hanya tersenyum dan menjadi lebih bahagia. Dia mengekor tepat di belakang Arlana dan terus menatap tubuhnya yang berjalan di depannya. Dia ingin membuat gadis itu menjadi miliknya sepenuhnya, dia benar-benar tidak sabar untuk terus dapat bersamanya setiap saat.
Mereka berjalan dalam diam, Arlana merasakan tubuhnya kaku dan mati rasa dengan Zale yang terus berjalan di belakangnya seraya menatap dengan intens. Dia merasa lebih baik jika pria itu berjalan disisinya dari pada di belakang tubuhnya. Hal ini membuatnya tidak nyaman.
Saat Arlana menatap lautan siswa di hadapannya, dia kembali tersadar dan melupakan keberadaan Zale. Dengan langkah kaki yang semakin cepat dia masuk ke dalam kafetaria untuk membeli makanan.
Berbagai pasang mata melihat kearah Arlana dengan bisikan samar di bibir mereka. Arlana tidak mengidahkan hal ini dan membeli hal yang dia inginkan. Dia sudah merasa kebal dengan semua mata yang selalu menatapnya, itu semua karena Zale yang terus membuntutinya. Jadi dia hanya akan bertidak tidak peduli.
"Jangan hanya membeli itu saja! Aku akan membelikanmu beberapa kotak susu untuk diminum!" Zale berbicara kembali setelah terdiam cukup lama. Jemari tangannya mengambil beberapa makanan serta minuman vitamin dan susu untuk Arlana.
"Jangan mengangguku! Makanlah sendiri jika menginginkannya! Kenapa harus memberikannya padaku!"
"Bagaimana aku bisa melakukan itu" Dahi Zale mengerut tidak senang, dia terus menambahkan banyak makanan di tangan Arlana "Kau sangat kurus dan lemah, aku tidak bisa membiarkan kekasihku menderita, jadi kau makanlah yang banyak!"
"Kekasih apa?!" Arlana berteriak kesal.
Seisi orang yang berada di tempat itu menatap kearahnya dengan tatapan mencemoh dan iri. Dia tidak memperdulikan mereka dan malah melotot tajam kearah Zale.
Zale mendesah pelan dengan wajah yang di tekuk. Dia membungkuk untuk berbisik di telinga Arlana dengan nada yang sangat serius "Lebih baik kau memakannya jika tidak ingin aku menciummu! Disini, sekarang dan detik ini juga!"
Wajah Arlana memerah, entah karena amarah atau karena rasa malu atas ucapan berani Zale. Tidak dapat meremehkan pria disisinya itu, dia hanya mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya seraya mengambil semua hal yang Zale berikan.
Bibir indah Zale tersenyum cemerlang menatap tingkah manis Arlana. Dia maju ke depan dan memberikan kecupan di pipinya cepat!
"Kau-" Mata Arlana hampir jatuh dari kelopaknya ketika menatap Zale yang benar-benar melakukan hal tercela, dia menekan suaranya dengan marah dan berkata "Bukankah aku menuruti ucapanmu!"
"Itu hanya, karena kau terlihat sangat manis jadi aku ingin menciummu!"
"Mahkluk Terkutuk tidak tahu malu!!!" Arlana mengutuk Zale dan menedang kakinya lalu berlari pergi dengan kesal
__ADS_1
Zale menggaruk rambut hitamnya yang tidak gatal dengan wajah bodoh. Bahkan senyuman bodoh di bibirnya tidak dapat lepas dan menambahkan kebodohan di wajah tampannya.
Pemandangan itu tentu saja tidak luput dari semua pasang mata yang berada disana. Meraka menatap seolah tidak percaya pada pemandangan itu saat melihat senyuman bahagia yang terpampang di wajah Zale.
"Apakah kau yakin Zale hanya bermain dengannya Angel? Kenapa aku melihat dia seolah benar-benar menyukai gadis itu?" Seorang gadis bertanya pada teman gadis disisinya yang benama Angel.
Angel adalah wanita yang pertama kali bertemu dengan Arlana dan Zale ketika mereka pertama kali berciuman. Wajah gadis itu tidak terlalu cantik tapi dia terlihat sangat imut dan menawan layaknya sebuah boneka yang murni.
Saat mendapatkan pertanyaan dari temannya, Angel diam cukup lama menatap kearah Zale yang telah menghilang sebelum menjawab "Zale hanya bermain dengannya, dia tidak akan benar-benar jatuh Cinta pada gadis sepertinya. Dia bahkan tidak terlihat lebih baik darimu!"
"Kau!!!" Mendapatkan jawaban pedas dari Angel, raut wajah gadis itu menghitam dengan jelek. Dia tahu Angel adalah wanita yang memiliki sifat buruk di dalam dan baik diluar. Dengan tidak senang dia membalas ucapannya "Jangan terlalu percaya diri, Zale tidak pernah bertindak manis dan tersenyum seperti itu pada gadis manapun. Dia bahkan berisiniatif untuk mencium pipi Arlana tapi tidak pernah mau mencium gadis lainnya!"
Melihat wajah Angel yang terpelintir jelek setelah apa yang di katakannya, dia merasa jauh lebih baik dan berlalu pergi setelah memesan makanan untuk dirinya sendiri.
........
Waktu berlalu dan bergerak maju dengan sangat cepat. Setelah pengakuan Zale, hal itu sudah 2 hari berlalu. Tapi tingkah Zale semakin tidak terkendali! Jika pria itu sebelumnya hanya akan menggoda Arlana dengan sangat buruk, sekarang pria itu bahkan melakukan kontak fisik dengannya.
Zale bahkan akan memeluknya, mencium pipinya, keningnya atau bahkan menggenggam tangannya dan menciumnya layaknya tuan putri.
Arlana ingin menangis dan bahkan tidak ingin pergi kesekolah setelah perlakuan tidak tahu malu yang Zale lakukan. Tapi dia tetap menguatkan hatinya untuk pergi kesekolah dan menerima pelecehan itu darinya. Tidak peduli bagaiman dia mendorong pria itu menjauh ataupun melarikan diri darinya dia bahkan akan di tangkap olehnya dengan sangat mudah. Dan saat Arlana di tangkap oleh Zale, perlakuan Zale atas tindakannya bahkan lebih liar dan menakuti Arlana.
Pada akhirnya dia hanya akan menyerah dan kesal sepanjang hari.
"Bisakah kau melepaskanku!" Suara Arlana parau ketika dia berbicara kearah lelaki yang tengah memeluk tubuhnya dari belakang.
Dia sedang memakan makan siang saat ini, tapi pria itu tidak menyentuh makan siangnya dan malah memeluk tubuhnya yang tengah terduduk dari belakang.
"Jika kau bilang kau mencintaiku dan mau menjadi milikku aku akan menahan diri di sekolah untuk tidak menyentuhmu!"
Urat di dahi Arlana menonjol ketika kalimat itu keluar dari bibir Zale. Dia hanya dapat membayangkan bahwa pria ini adalah orang yang tidak bisa menerima penolakan dan melakukan segala hal untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan!
"Bukankah kau memaksaku untuk menyukaimu?"
Zale membenamkan wajahnya pada leher belakang Arlana dan menciumnya lembut. Tindakan ini membuat tubuh Arlana menegang dan detak jantungnya berdebar kencang.
Arlana merenung dan berfikir dengan apa yang di ucapkan Zale, jika pria ini mengatakan tentang membuatnya menyukainya dimasa depan. Apakah Zale serius tentang perasaannya hingga berfikir tentang masa depan yang jauh? Apakah Arlana bisa mempercayainya dan membuka hatinya walau sedikit saja?
"Zale, aku mencarimu sampai keujung dunia. Kau tahu?!" Suara pria terdengar.
Arlana tersadar dari pikirannya yang berkelana, dia manatap sosok Glen yang tengah tersenyum kearahnya.
"Halo Lana, sudah lama tidak bertemu"
"Pengganggu!" Zale melotot marah kearah Glen yang hanya terkekeh pelan "Jangan memanggilnya Lana! Hanya aku yang boleh memanggilnya seperti itu!"
Tidak memperdulikan Zale, Glen hanya melihat lingkungan di sekitarnya dan menggeleng pelan "Kalian makan siang di taman yang sunyi seraya melakukan hal tidak senonoh. Betapa tercelanya melakukan hal itu di siang hari"
"Bukan urusanmu!"
Melihat Zale yang tidak menyangkal, Arlana ingin mengatakan sesuatu tapi dia menahan dan hanya terdiam. Dia ingin makan di kelas sebenarnya, tapi Zale menariknya untuk makan di taman yang hening ini dan terus memeluk tubuhnya sejak saat itu. Dia ingin lari tapi apalah daya tubuhnya lemah di bandingkan tubuh kekar Zale.
"Aku tidak menyangka Arlana akan mau berkencan dengan pria hidung belang ini!" Glen kembali mengejek, tentu saja dia tahu jika Arlana masih menolak dan tidak mau. Dia mengatakan hal itu untuk membuat Zale marah.
Setelah menatap wajah Zale yang memerah menahan amarah, dia tertawa lebih bahagia dan kembali berkata "Baiklah cukup omong kosong! Guru Dan memintaku untuk membawamu padanya! Tentu kau bisa menolaknya tapi kau pasti tahu apa akibatnya bukan?"
Tubuh Zale bergidik ngeri ketika nama guru Dan disebutkan. Dia melepaskan pelukannya pada tubuh Arlana dengan enggan sebelum berdiri.
"Aku akan pergi sebentar, kau diamlah disini makan makanmu dan tunggu aku kembali! Tapi jika Bell berbunyi sebelum aku kembali, maka pergilah ke kelas terlebih dahulu!" Zale berbica dengan lembut kearah Arlana dan mengecup pipinya cepat sebelum berjalan pergi
Glen bergidik ngeri ketika melihat tingkah laku temannya itu, dia menatap wajah Arlana yang menggelap seraya mengusap pipinya dengan ceroboh. Senyuman dibibirnya menjadi sedikit kaku.
"Aku tahu kau tidak akan mempercayai Zale ataupun aku! Tapi perasaan Zale untukmu bukanlah sebuah permainan!" Dengan kalimat itu keluar dari bibir Glen dia juga turut berhambur pergi
Arlana terdiam sendiri di keheningan itu, dia kembali memikirkan apa yang di katakan oleh Zale dan kemudian Glen. Dia berfikir cukup lama hingga Bell berakhirnya istirahat berbunyi.
__ADS_1
Dengan setengah linglung Arlana berjalan kembali ke arah kelas. Belum terlalu jauh dari taman langkah kakinya terhenti ketika melihat seorang gadis berdiri tepat di hadapannya.
Gadis itu yang dia temui pertama kali saat bersama Zale. Jika dia tidak salah nama gadis itu adalah Angel! Bagaimana Arlana tahu? Itu karena dia mendengarkan banyak gosip tentangnya yang sangat dekat dengan Zale. Banyak orang mengatakan bahwa hubungan Angel dan Zale adalah yang sebenarnya dari pada hubungan permainan yang Zale lakukan dengan Arlana.
Dengan tangan yang terkepal erat tanpa ia sadari, Arlana menatap wajah imut di depannya dan berkata "Apakah kau membutuhkan sesuatu dariku?"
Angel tidak berbicara, dia hanya menatap Arlana seolah menilai gadis itu. Hal aneh dari tindakannya adalah bahwa Arlana tidak mengatakan apapun lagi dan tidak pergi meninggalkan tempat itu. Dia membiarkan gadis itu berdiri di hadapannya dan menatapnya cukup lama.
Udara menjadi sedikit sesak akibat tatapan kedua gadis itu yang tampak tidak bersahabat dan cukup bermusuhan. Untuk Arlana tentu saja hal itu biasa karena dia telah melakukan hal ini setiap saat, tapi kali ini ada bagian dari hatinya yang tidak menyukai gadis di depannya dan ingin menyingkirkan dia yang mengganggu pandangannya.
"Zale hanya bermain denganmu!" Angel akhirnya membuka mulut kecilnya, dia tersenyum sinis kearah Arlana dan melanjutkan "Dia tidak pernah menyukai siapapun sejak kecil! Dia hanya bermain dengan mainan yang menarik minatnya sebelum bosan dan membuangnya!"
"Itu bukan urusanmu!" Arlana menjawab dingin kearahnya. Wajahnya masih tetap datar sama seperti biasa tapi pikirannya sedikit kosong dan mulai berkelana.
'Sejak kecil? Apakah mereka saling kenal sejak kecil? Apa hubungan mereka? Apakah Zale...'
"Aku tahu kau akan mengatakan itu!" Angel mendengus dingin secara acuh "Jangan salahkan aku jika kau akan sakit hati pada akhirnya."
Melihat Arlana yang tampak tidak peduli, Angel menjadi marah dan mulai membual mengatakan kebohongan "Kami bahkan sudah merencanakan untuk pergi bersekolah keluar negeri bersama! Gadis sepertimu tidak pantas untuknya dan hanya akan menjadi boneka ketika dia bosan!"
Wajah Arlana tetap tidak berubah tapi hatinya terasa sedikit sesak dan sakit. Dia tidak tahu apa yang dikatakan gadis di depannya itu kebenaran atau kebohongan. Satu hal yang pasti Arlana percaya, Zale mungkin memang tidak pantas untuknya dan hanya bermain dengannya seperti dia adalah sebuah boneka yang menarik minatnya untuk sementara waktu.
Angel mengerutkan bibirnya menatap kearah Arlana yang tetap saja tidak memperdulikan ucapannya. Dia dengan kesal menghentakkan kakinya dan berjalan pergi meninggalkan tubuh Arlana yang mematung tanpa dia sadari.
Pikiran Arlana terus berkelana, dia memikirkan tentang perkataan Zale, Glen dan kemudian Angel. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan hanya berdiri di tempatnya dengan bodoh.
Berdiri cukup lama, Arlana bahkan tidak menyadari kepergian Angel. Dia juga bahkan tidak masuk kelas dan ikut pelajaran selanjutnya. Dia hanya berdiri diam linglung dengan wajahnya yang kusut dan sedikit terluka.
"Apa yang terjadi?" Sebuah suara yang familiar terdengar membangunkan Arlana, dia menatap kedepan tepat saat sebuah tangan yang besar dan hangat menangkap kedua pipinya.
Mata emasnya melihat wajah Zale yang menatap kearahnya tampak khawatir.
Tanpa Arlana sadari setetes air mata jatuh di dari kelopak matanya.
Zale terkejut bodoh, dia reflek mendekap tubuh Arlana dengan erat dan mengusap rambut kepalanya dengan lembut. Hatinya gelisah menatap Arlana yang menangis, tidak tahu kenapa Zale merasakan rasa sakit di dadanya melihat dia seperti ini.
"Aku disini! Semua akan baik-baik saja!" Zale berbicara tidak beraturan
Saat dia kembali setelah menemui guru Dan dan masuk kelas, dia tidak menemukan sosok Arlana. Zale cemas karena gadis itu tidak pernah membolos seperti ini. Dengan tidak memperdulikan guru yang mulai mengajar, Zale berlari keluar dari kelas untuk mencari Arlana.
Dia mengehela nafas lega ketika melihat sosok Arlana. Tapi ketika melihat mata gadis itu yang tampak kosong dan sedikit tersiksa, Zale kembali menjadi cemas. Sekarang setelah gadis itu benar-benar menangis, Zale bahkan hampir tidak dapat bernafas karena rasa sakit melihat air mata pilu di wajah Arlana.
Dengan dorongan kecil, Arlana mengambil jarak dirinya dari pelukan Zale. Mata emasnya menatap kearah mata hitam Zale dengan Air mata yang tetap membendung.
"Zale, apakah kau benar-benar menyukaiku?"
Tubuh Zale kaku tidak bergerak, dia akan membuka mulutnya untuk meyakinkan gadis di hadapannya. Tapi gadis itu kembali bertanya kearahnya.
"Apa yang harus aku lakukan Zale?"
Melihat Arlana menangis dan menundukkan wajahnya, Zale merasa hatinya terkoyak.
Gadis ini.... Dia mungkin tengah bimbang dengan perasaannya padanya dan menjadi takut akan perasaannya sendiri.
Dia juga tidak dapat melakukan apapun untuk membuatnya menjauh dan pada akhirnya dia -Arlana merasakan rasa sakit di hatinya dan tidak tahu harus melakukan apa!
Jemari tangan Zale memegang kedua tangan Arlana dengan erat. Dia menarik nafasnya yang tertahan dan berkata "Arlana, Jatuh Cintalah padaku! Aku akan menjaga Cinta itu dan berada disisimu untuk selamanya!"
Melihat Arlana yang tetap tidak merespon, Zale menelan air ludahnya kasar dengan susah payah sebelum kembali berkata "Kau bisa mempercayaiku! Tidak! Percayalah padaku! Aku tidak bisa lagi mencintai siapapun jika bukan kamu!"
Arlana tidak merespon ataupun berbicara. Dia diam dan menatap kesungguhan yang ada di mata hitam Zale. Dengan dorongan kecil lainnya, dia berjalan pergi dari tempat itu dan meninggalkan kalimat terakhir untuk Zale "Aku ingin sendiri! Tolong beri aku waktu untuk sendiri!"
******
Note :Maaf untuk typo dan beberapa kata yang kurang atau hilang di beberapa percakapakan atau kalimat. Novel ini di tulis secara spontanitas tanpa di revisi, sekian 🙏
__ADS_1