
Arlana terdiam, dia diam dan kembali memikirkan apa yang di katakan oleh Kanaya.
Dia tahu bahwa di harus membuat keputusan cepat atau lambat. Sekarang dengan pertanyaan Kanaya, Arlana telah di tuntut untuk membuat keputusan secepatnya.
Sebenarnya tanpa berfikir panjang, Arlana sudah tahu jawaban apa yang di berikan hatinya.
Dia mencintai pria itu!
Dia masih mencintai Zale sama besarnya seperti dulu..
Dia mencintai pria menyebalkan itu dengan segenap hatinya yang terluka..
Tidak peduli betapa buruknya Zale melukainya dengan pergi tanpa kabar selama 10 tahun lamanya, Zale tetaplah mengisi hati Arlana dan tidak dapat dia hapus.
Jika pria itu memiliki sebuah alasan yang dapat meyakinkannya bahwa kepergiannya adalah sesuatu yang harus dilakukan dan entah bagaimana Arlana tidak boleh mengetahui alasannya saat itu. Maka Arlana akan memaafkannya!
Arlana akan memaafkannya dan mau mencobanya kembali bersama dengannya jika dia memintanya. Tapi dia perlu waktu, waktu untuk menenangkan hatinya yang telah lama dia tinggalkan.
Apa lagi dengan hal yang terjadi dengan Ibu Zale, sudah di pastikan bahwa Godwin Family sama sekali tidak menyukainya dan tidak menyetujui hubungannya dengan Zale.
Mata keemasan Arlana menatap kearah Kanya ketika dia sudah memikirkan jawaban yang tepat dan berkata "Kau tahu pasti jika aku menyukai Zale dan perasaan itu tetap ada walaupun sudah 10 tahun dan walaupun dia telah membuat hatiku terluka. Jika dia benar-benar memintaku kembali dengan alasan yang meyakinkan maka aku akan mencobanya lagi. Tapi sekali lagi hatiku masih membutuhkan waktu untuk pulih..."
Kanaya tersenyum lembut menatap kearah Arlana dengan pandangan yang tulus dan berseru "Aku membenci Zale karena telah menyakitimu. Tapi aku juga tahu dengan pasti bahwa hanya pria itu yang dapat membahagiakanmu. Jadi, Arlana aku benar-benar berharap bahwa kau akan bahagia. Jika Zale melukaimu lagi dimasa depan, maka aku sendiri yang akan membunuhnya dengan kedua tanganku!"
Mata Arlana memerah dan basah oleh air mata yang mengalir. Dia merasa bersyukur memiliki Kanaya sebagai sahabatnya.
__ADS_1
Dengan berpelukan erat kedua wanita itu menangis dalam diam. Mereka terus seperti itu untuk beberapa waktu sebelum pergi keluar untuk bermain bersama membeli beberapa makanam ringan serta pakaian.
.........
Sinar jingga dari matahari terbenam menyelimuti Bumi dan tampak indah mempesona. Sepasang mata hitam pekat menatap sinar itu dari balik kaca transparan di sebuah bangunan tinggi. Dia diam berdiri mematung dan menikmati pemandangan indah itu.
"Kau sudah menyelesaikan segalanya?" Sebuah suara berat dengan nada lelah terdengar.
Pria itu tersadar dan menoleh keasal suara. Dengan senyuman tipis dibibirnya, dia mengangguk pelan dan menjawab "Terimakasih atas bantuannya Glen"
Glen tersenyum kecut kearah Zale "Jika kau benar-benar berterimakasih padaku, maka beri aku uang yang banyak! Aku membutuhkan uang untuk membeli kado ulang tahun untuk putriku!"
"Apa kau bahkan seorang ayah? Bagaimana mungkin kau memberi kado ulang tahun untuk putrimu dengan uangku? Bukankah perusahaanmu baru saja mendapatkan proyek besar iklan papan atas? Betapa rubah tua yang licik!"
Wajah Glen terpelintir jelek, dia melotot marah pada Zale "Berhenti memanggilku rubah tua, usiaku sama seprtimu! Hanya pengalaman kerjaku yang seperti rubah tua.."
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, orang tua sepertimu tidak layak datang kepesta putri kecilku! Yang harus kau lakukan adalah mendapatkannya kembali!" Glen mengehela nafas kearah temannya itu, ada sedikit rasa sedih yang terlintas dimatanya.
Setelah mereka membicarakan beberapa hal lainnya, Glen meninggalkan ruangan itu. Zale juga tidak tinggal lama dan beranjak pergi. Dia pergi kesebuah tempat yang sudah lama ingin dia datangi.
....
Mobil spot berwarna hitam gelap berhenti tepat di depan rumah Arlana. Sang pengemudi tidak lain adalah Zale.
Sepanjang perjalanan, Zale sudah merasa sangat gelisah dan gugup ketika dia mengemudikan mobilnya menuju kearah rumah Arlana. Dia benar-benar gugup untuk bertemu dengannya, dia takut bahwa pikirannya akan kosong dan menyerang Arlana.
__ADS_1
Sudah terlalu lama Zale terpisah darinya. Dan selama itu juga Zale sudah membayangkan banyak hal tidak senonoh yang ingin dilakukannya pada gadis itu. Waktu selama 10 tahun ini terasa seperti dia membuang banyak kesempatan.
Zale benar-benar ingin mendorong gadis itu dan menekannya di bawahnya. Dia ingin memeluknya, menciumnya dam melakukan banyak hal lainnya. Dia sangat merindukannya, dan perasaannya selama 10 tahun ini bahkan menjadi lebih dalam seperti sebuah obsesi padanya.
Setelah mengehela nafas untuk yang kesekian kalinya, dia keluar dari mobil miliknya dan berjalan kearah rumah Arlana. Ketika dia sudah di depan pintunya, dia memencet bel disisi kanannya. Namun, tidak peduli berapa kali dia memencet bell, pintu itu tidak terbuka.
Dengan sedikit kecewa Zale menyadari bahwa gadis itu pasti tengah berada di luar. Dia menundukkan kepalanya sedih dan bermaksud pergi, tapi langkahnya terhenti akibat suara manis yang dia kenal.
"Maaf membuatmu menunggu lama, aku sedang...."
Aralana tertegun ketika dia membuka pintu dan melihat Zale di depannya. Dia menatap kosong dengan mata melotot, terlihat lucu di mata Zale.
Melihat rambutnya yang basah berantakan dengan bau sabun yang wangi, Zale menyadari bahwa gadis ini tengah mandi! Tanpa ia sadari tubuh Zale menjadi panas.
Arlana tersadar ketika dia melihat mata panas yang di berikan oleh Zale, dia menundukkan kepalanya dengan pipi yang mulai memerah. "Aku akan merapikan diriku..."
Zale menelan ludahnya dengan kesulitan sebelum menjawab dengan suara parau "Aku akan menunggumu dimobil!"
Ketika pintu Arlana tertutup dan sosok gadis itu telah lenyap, Zale menenangkan debaran di hatinya serta tubuhnya yang terasa tidak wajar.
Dia sangat ingin melompat dan merengkuh Arlana. Melihatnya sedekat ini setelah 10 tahun benar-benar membuat rasionalitas Zale hilang. Dia berjanji apapun yang terjadi, dia akan membuat gadis itu kembali padanya dan tidak akan pernah meninggalkannya lagi walau hanya 1 inci pun.
Arlana juga tidak dalam keadaan baik di dalam rumah. Detak jantungnya berdebar kencang, dia baru saja pulang dari rumah Kanaya dan membasuh dirinya. Siapa yang akan tahu bahwa pria itu akan muncul tiba-tiba setelah menghilang?
Dengan gugup Arlana mulai merapikan rambutnya dan mengenakan pakaian yang nyaman. Dia tahu bahkan tanpa Zale mengatakannya, pria itu pasti datang untuk berbicara. Maka Arlana akan menerimanya dan mendengarkannya tidak seperti terakhir kali mereka bertemu. Waktu itu dia terlalu terkejut hingga bersikap tanpa pikir panjang.
__ADS_1
Setelah Arlana selesai dengan apa yang dilakukannya. Dia bergegas keluar rumahnya untuk menemui Zale. Tidak dapat di pungkiri hatinya gelisah dan juga detak jantungnya berdebar kencang seakan melompat keluar.
Tapi dia dengan sangat baik menjaga ekspresi wajahnya dan berjalan mendekat kearah Zale yang tengah bersandar pada mobil hitamnya.