
" Pak Yohan..?!! " batin Naomi saat melihat laki-laki dihadapannya itu.
" Kenapa kamu terdiam? " ucap Yohan dengan nada yang dingin. Naomi seketika tersadar dari lamunannya dan memegangi maskernya dengan tatapan yang menunduk walaupun wajahnya tidak menunduk.
" Maaf pak, saya akan keluar dari ruangan ini jika terlalu ramai " Naomi membalikkan badannya menuju pintu keluar ruangan dosen killer itu yang ternyata laki-laki yang seatap dengannya.
" Tidak perlu. Kamu tetap disini " perintah Yohan membuat Jino dan bahkan Lamima menjadi bingung dengan dosen didepannya.
" Tidak apa-apa pak, saya akan keluar saja daripada mengganggu " ucap Naomi yang sedang memegang gagang pintu itu berusaha kabur.
" Saya bilang kamu tetap disini. Apakah kamu tidak mendengarnya? " tatapan lelaki usia 33 tahun yang awalnya berada diproposal yang sedang diajukan oleh Lamima malah menatap tajam pada punggung yang berhoodie itu.
Naomi menghela napasnya panjang sebelum ia berbalik badan menuju meja dosen itu lagi. Naomi akhirnya ikut menemani Lamima disana dengan berdiri disamping Jino agar tidak harus melihat tatapan tajam Yohan saat proposal Lamima ada kesalahan.
" Typo masih banyak, tanda baca tidak diperhatikan. Keluar dari konteks yang saya suruh, perbaiki " Setelah terdiam beberapa menit akhirnya Yohan berbicara dengan kata-kata yang pedas.
" Apakah kamu bodoh Lamima? Kamu sudah mengulang ini 3 kali. Baru kemarin saya robek, apa harus saya robek lagi yang ini? " nada itu menusuk hati Naomi, untung saja Naomi belum memasuki semester 5 yang dikatakan mulai susah. Sepertinya ia harus menguatkan mental disini.
" Kuat sekali kamu kak mempunyai dosen seperti pak Yohan " batin Naomi yang bahkan menatap langit-langit atap dan tak berani menatap kearah depannya lagi.
Sudah bagus posisi dia seperti itu, Jino malah menawarkan tempat duduk untuk Naomi dihadapan dosen killer itu. Bahkan Jino memaksanya untuk duduk karena Jino tidak tahan dengan sirkulasi dingin kutub ini.
" Jino, aku nggak mau..!! " bisik Naomi ketika Jino mendorongnya untuk duduk dikursi besi itu.
" Duduk aja mi, nanti yang ada kamu kecapean " bisik balik Jino.
" Aku nggak bakal kecapean kok, udah biasa berdiri " sungguh jika ini tidak ruangan dosen mungkin ia akan mencakar wajah Jino karena Jino telah menempatkannya dikandang harimau.
" Bisa kalian diam? " ucap Yohan dengan nada yang cukup tinggi membuat mereka berdua kicep. Dan akhirnya Naomi lah yang mengalah untuk duduk dihadapan dosen bisnis dan manajemen itu.
__ADS_1
" Maaf pak kalo boleh tau, kesalahan saya dibagian mananya ya pak? " tanya Lamima dengan sopan walaupun Naomi melihat bahu gadis itu bergetar.
" Cari! karena ini kamu yang membuat. Hanya penulis bo*doh yang tidak mengerti isi tulisannya sendiri " Yohan mengatakannya dengan tidak melihat mahasiswanya bahkan. Naomi tercengang dibuatnya, apa semua dosen seperti ini?
Naomi melirik kearah Lamima yang sebentar lagi mungkin menangis, Naomi pun menguatkan dengan menggenggam serta mengelus telapak tangan wanita tersebut.
" Pak, presepsi bapak dengan kak Lamima itu berbeda. Apakah bapak tidak bisa memberitahu sama sekali dimana letak kesalahan kak Lamima? Memang hanya penulis bo*doh yang tidak mengerti isi tulisannya. Tetapi ketika seorang penulis ingin belajar dari kesalahan atau perbedaan presepsi dengan pembacanya apa tidak boleh? " entah keberanian darimana Naomi dapat mengatakan hal seperti itu.
Bahkan Jino dan Lamima disebelah Naomi tercengang dengan perkataan wanita itu, Jino langsung membekap bibir milik Naomi yang tertutup oleh masker. Yohan perlahan mengangkat pandangannya sambil tersenyum tipis melihat gadis berhoodie hitam didepannya.
" Tidak semua kesalahan harus ditunjukkan secara langsung karena berarti kita membuat penulis itu menjadi manja. Penulis harus sadar sendiri dengan apa yang ia bawakan dan menyesuaikan dengan presepsi pembacanya jika ingin tulisannya dibaca oleh banyak orang, nona " jelas Yohan dengan tenang.
Naomi terdiam sebentar dengan tangan yang masih memegang tangan Jino yang membekapnya karena tadi membuat dirinya sesak.
" Silahkan keluar Lamima, waktu saya tidak banyak untuk selalu mengurusi kamu. Jino ajarkan Lamima dengan baik, saya tunggu dalam tiga hari. Silahkan keluar " ucap Yohan dengan tatapan tajamnya yang tak beralih dari Naomi.
Naomi hanya menundukkan pandangan saja, karena sepertinya ia salah bicara dengan orang didepannya. Saat Lamima dan Jino disuruh untuk keluar, Naomi beranjak dari duduknya ikut berjalan mengintil dibelakang Jino.
Naomi terdiam dan tanpa membalikkan tubuhnya, ia menatap permintaan tolong pada Jino dan Lamima diambang pintu itu.
" Tolong aku kumohon..!! " batin Naomi mencoba bertelepati dengan kakak tingkatnya itu.
Kedua kakak tingkatnya hanya bisa menggeleng dan meminta maaf dalam telepati mereka, mereka berdua segera menutup pintu ruangan dosen itu dengan meninggalkan Naomi dan Yohan didalamnya.
" Duduk. Sampai kapan kamu ingin berdiri disana? " ucap Yohan yang sedang menandatangani dokumen didepannya. Entah dokumen apa, Naomi pun tak mengerti.
Naomi akhirnya mendudukkan diri pada kursi besi itu kembali, ia menundukkan pandangannya sambil memainkan jari tangannya karena merasa gugup.
" Canggung sekali.. dan mengapa sitriplek ini harus menjadi dosen disini sih " batin Naomi berkecamuk.
__ADS_1
" Buka maskermu dan perkenalkan dirimu " titah Yohan yang sekarang malah mengabaikan berkas-berkasnya dan memilih menatap fokus pada gadis didepannya.
" Maaf pak saya sedang flu " jawab Naomi dengan nada yang gugup.
" Lepas saya bilang " baiklah perkataan Yohan kali ini tidak ingin dibantah.
" Kalau bapak terkena virus flu saya, saya nggak tanggung jawab ya pak " Yohan tidak menanggapi perkataan Naomi dan membuat Naomi semakin gugup.
" Kamu bukan jurusan digedung C jadi apa alasan kamu begitu niat menemani Lamima mengasihkan proposal kesaya? " tanya Yohan dengan nada yang mendiktaktor Naomi untuk menjawab dengan jujur.
" Bukan urusan bapak, pak " Yohan mulai bangkit dan mendekat kearah kursi Naomi.
" Akan menjadi urusan saya karena kamu sudah memasuki wilayah gedung C dan saya kepala gedung ini " tanpa aba-aba Yohan membuka kepala hoodie yang menutupi rambut Naomi secara tiba-tiba membuat Naomi membulatkan matanya.
" Bapak jangan macam-macam ya pak..!! " Naomi mulai memundurkan kursi dan posisi duduknya, ia juga mulai mencari benda-benda disekitarnya sampai ia menemukan sebuah pulpen dan menodongkannya pada Yohan.
" Menjadi kepala gedung dan seorang dosen bukan berarti boleh semena-mena pada seorang Mahasiswi, pak. Saya bisa saja menusuk bapak dengan pulpen ini "
Secara mengejutkan, Yohan malah tertawa melihat tingkah gadis didepannya itu. Meskipun ekspresi yang dikeluarkan Yohan adalah tertawa tetapi malah membuat Naomi semakin merinding.
" Kamu mengancam saya dengan pulpen punya saya sendiri hahahaha, sungguh bo*doh kamu " ucap Yohan dan menyentil dahi gadis didepannya.
" Aduhh!! Sakit tau pak " kesal Naomi sambil mengelus dahi mulus miliknya.
Ditengah kelengahan Naomi, Yohan menarik masker milik Naomi hingga terlepas dan memperlihatkan wajah gadis yang sedari pertemuan membantah dirinya.
" Sudah saya duga, itu kamu " seringainya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Tinggalkan jejak like, commentnya yuk. Jangan lupa follow ig : @Melodye.Hua untuk lebih dekat dengan Author !...