
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kedua orang yang satunya berada disebelahnya dan satu lagi ada dihadapannya sedang membahas mengenai proposal yang diajukan oleh Lamima.
" Mengapa aku harus terjebak disini sih..!! Toh aku juga bukan anak bisnis dan manajemen " batin Naomi merasa terjebak oleh keadaan.
Gadis itu bahkan rasanya sudah tidak berselera dengan mie ayam yang ada dihadapannya.
Mau dihabiskan rasanya mager tapi ia ingat sebagai anak yang uang bulanannya menipis tidak boleh buang-buang makanan.
" Lamima, lebih baik kamu mengganti tema yang ada diproposal kamu karena ini sangat basic. Dan saya rasa kamu tidak menguasainya juga " saran dari Immanuel sambil memakai kacamata bulat miliknya.
Tanpa laki-laki itu sadari, dua perempuan dihadapannya mencuri pandang kearahnya.
Yang satu sepertinya sedang meleyot dengan ketampanan miliknya dan yang satu lagi melamun dengan pikiran entah kemana.
" Sepertinya yang lebih cocok jadi dosen itu kak Immanuel daripada situkang triplek " ucap Naomi dalam hati yang tanpa sadar memuji lelaki dihadapannya.
Walaupun sikap Immanuel terkadang menyebalkan, Naomi akui sepertinya Immanuel menguasai jurusan bisnis dan manajemen itu dan laki-laki itu sangat pintar dari cara menjelaskannya yang sangat merinci kepada Lamima.
...Flashback...
" Terserah lo mau percaya apa nggak setelah ini, tapi gua nggak mau kita canggung kaya begini " gusar lelaki itu sambil mengusak rambutnya acak.
Naomi menatap datar pada lelaki keturunan western dihadapannya itu, ia menghela napas sebentar untuk merilekskan badannya agar dapat berbicara dengan Immanuel.
" Jangan bicara disini, banyak orang yang melihat " ucap Naomi tanpa menoleh kebelakang.
Gadis itu pun menarik Immanuel menuju kearah perpustakaan kampus yang ia yakini saat ini sepi.
.
" Jadi apa yang ingin kakak jelaskan? Aku tidak punya banyak waktu " ucap Naomi dengan nada yang kecil cenderung seperti berbisik.
" Ha? Kau bilang apa? " tanya Immanuel dengan nada yang agak keras.
" Shuttt..!! " peringat ibu penjaga perpus sambil meletakkan jari telunjuk didepan bibir berlipstik merah cabai.
" Ck, kenapa kita harus disini sih? " sejujurnya Immanuel paling ogah pergi keperpustakaan. Bau kertas dan buku yang menyengat membuatnya pusing.
" Tutupi wajahmu, kak! Nanti ada orang yang melihat " peringat Naomi sambil mendorong buku yang dipegang Immanuel untuk menutup wajah famous lelaki itu.
" Kenapa gue harus nutupin muka gue, mi? Nggak ada orang selain kita disini. Ini juga nggak ada tempat yang lain memangnya? " gemas Immanuel yang heran terhadap tingkah aneh gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya.
__ADS_1
" Nggak ada..!! Udah cepet kakak mau ngomongin apa? "
" Shuttt!! " Naomi langsung menutup mulutnya untuk bungkam karena tanpa sadar kalimat terakhirnya tadi itu ia ucapkan dengan nada yang cukup tinggi.
Gadis itu pun tersenyum pepsodent dengan ibu penjaga perpustakaan.
" Mampus..!! " ejek Immanuel dan Naomi pun menatap lelaki itu datar.
" E-ekhem.. Jadi gue pengen jelasin. Kemarin kita tuh nggak ada ngapa-ngapain Mimi " ucap Immanuel dengan tatapan yang serius bukan slengean lagi kearah Naomi.
" Karena gue nggak tau dimana tempat tinggal lu, jadi gue bawa lu keapartement gue "
" Tapi sumpah demi Tuhan, gue bahkan tidur disofa demi ngejaga adab dan marwah yang biasa diberlakukan dinegara I sama perempuan Mimi " pandang melas wajah yang berciri khas western itu.
" Sebreng*sek ataupun bahkan senakal-nakalnya gue, gue nggak mau sampai ngejebak atau ngerusakin lu " seketika pikiran Naomi melayang sebentar.
Berarti selama ini dia cuman kegeeran dong!
Srett
Kursi Naomi berbunyi karena gadis itu tiba-tiba berdiri dan kursinya sedikit terdorong kebelakang.
" Maaf kak, Mimi ada kelas yang waktunya udah mepet. Mimi permisi " tanpa basa-basi gadis itu mengambil tasnya, merapikan kursi miliknya dan menaruh buku yang ia jadikan penutup tadi pada sebuah kerdus besar.
" Apa dia nggak percaya dengan apa yang gue omongin tadi? " lirih Immanuel sambil menatap sendu punggung milik gadis itu yang berlari menjauh darinya.
" YA LORD..!! KUNTIGINCU " kaget Immanuel spontan berteriak saat sang penjaga perpustakaan menyapanya dengan gincu merah cabai yang memoncong pada Immanuel.
...Flashback Off...
" Seharusnya kemarin aku tidak menggubris ajakan kak Nuel kalau ternyata memalukan " batin Naomi sambil memejamkan matanya dan tersenyum paksa.
Naomi menatap sekeliling meja dan kursi yang tertata rapi disekitar mereka, begitupun mahasiswa yang tersusun rapi untuk mulai melirik dan saling membisik.
" Mulai lagi.. " gumam Naomi sambil memutar bola matanya malas.
Akhirnya ia memindahkan pandangannya kearah ponselnya dan berpura-pura memainkannya.
Naomi menscroll media sosial miliknya dengan pandangan yang sebenarnya kosong karena tiba-tiba ia memikirkan suatu hal.
" Kenapa kemarin tiba-tiba pandanganku menjadi gelap? Aku tidak mungkin ketiduran ataupun pingsan " ucap Naomi dalam hati.
Bisa ia pastikan saat dirinya pergi bersama Immanuel kerumah Alexa itu dalam keadaan sehat walafiat.
" Kenapa aku tidak menanyakannya ya kemarin? " sesal Naomi yang tertahan ego.
__ADS_1
" Bagaimana Lamima? Kamu mengerti? "
Naomi terbangun dari lamunannya dan melirik laki-laki dihadapannya. 2 menit, 4 menit dan bahkan sampai 7 menit Lamima tidak menjawab pertanyaan Immanuel.
" Kak..?? " bisik Naomi sambil menyenggol pelan lengan Lamima.
" I-iya? Ada apa mi? " tanya Lamima dengan nada yang agak terkejut. Naomi menepuk jidatnya pelan karena ternyata Lamima ikut melamun dengan dirinya.
" Ditanyain itu udah ngerti apa belum? " pantas saja Lamima tidak lolos beberapa kali dalam mengajukan proposal, gadis itu tidak memperhatikan dengan baik.
" Ohh.. nge-ngerti kok "
" Ya sudah saya lanjut ya " begitu baiknya Immanuel pada adik tingkatnya seperti Lamima.
Dengan sabar laki-laki itu membimbing Lamima kembali mengenai proposalnya karena tau sebenarnya perempuan itu tidak memperhatikan dirinya.
" Kak, aku pergi ya " bisik Naomi dan pelan-pelan memindahkan duduknya berdekatan dengan Lamima.
" Jangan dulu dong, mi " bisik balik Lamima sambil terus tersenyum kodomo dan mengangguk pada laki-laki yang merupakan assisten dosen killernya itu.
" Aku sebentar lagi ada kelas kak, toh aku juga nggak ngerti apa yang kalian bahas " ucap Naomi dengan nada yang sedikit sebal.
" Tungguin sebentar lagi ya mi, please " melas Lamima dengan nada sekecil-kecilnya agar tidak didengar Immanuel.
" Tapi kak-"
" Kakak bakal canggung kalau ditinggal berdua sama Kak Immanuel. Kamu kan calon pacarnya, tolonglah kakak yang lagi bimbingan " ucap Lamima sambil tangan dibawahnya itu menahan paha milik Naomi yang akan bergerak kabur.
Naomi memelototkan matanya, yang benar saja. Hoax darimana itu.
" Omongan kakak jangan aneh aneh dehh, Ihh kakak yang bimbingan kok aku yang- " bisikan Naomi lagi-lagi dipotong oleh Lamima.
" Nanti bakal kakak beliin deh makanan apapun yang kamu mau " seketika Naomi menyunggingkan senyumnya walau hanya sebentar dan lantas berdehem untuk menyembunyikan senyumnya.
" Baiklah, perjanjian diterima " bisik Naomi sambil menjabat tangan Lamima.
" Nggak papa deh dijadiin pajangan, yang penting dapat makanan " batin Naomi sambil tersenyam-senyum sendiri dan memikirkan makanan apa yang akan ia beli untuk menguras dompet Lamima.
" Ada apa dengannya? "
Ternyata tak cuman Naomi yang mencuri pandang, Immanuel pun ternyata ikut melirik mimik dan gestur Naomi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Tinggalkan jejak like, commentnya yuk. Jangan lupa follow ig : @Melodye.Hua untuk lebih dekat dengan Author !...