
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Naomi keluar dari apartement sambil menatapi kartu hitam limited edition yang diberikan oleh Yohan, ia berpamitan pada tukang triplek itu kalau gadis itu ingin mandi dengan tenang diapartement.
" Aku tau sih ini kartu tanpa batas. Tapi bagaimana cara memakainya..?? " ucap Naomi sambil terus membolak-balik kartu itu.
" Sekaya apa sih pak Yohan? Bukannya dia hanya seorang dosen? " batin Naomi realistis, ia tidak tau pasti gaji dosen diuniversitas ESA itu berapa tapi magic sekali ampai dosennya itu mempunyai blackcard bertuliskan ' American Express ' itu.
" Apakah yang dibilang pak Yohan memang benar kalau dia CEO Aldrich Company? " ahh entahlah Naomi tidak ingin memusingkannya.
Sebelum masuk kerumah sakitnya langsung, Naomi mampir kesamping mall didekat rumah sakit. Karena Yohan menitip untuk dibelikan makanan laki-laki itu sekaligus makanan untuk Naomi sendiri.
" Baiklah, kita jajan apa yaa...?? " ucap Naomi dengan mata yang berbinar.
Berbeda hal dengan mata para pengunjung lainnya yang menatap Naomi karena tampilan gadis itu yang membawa backpack cukup besar dibahunya seperti hendak pulang kampung.
" Aku kesupermarket dulu saja kali ya? " Naomi mengingat kalau Yohan harus memakan buah dan sayuran yang dapat menambah suplemen darah.
Gadis itu masuk kedalam supermarket mall itu dan membawa troli selama dia mengitari supermarket, ternyata supermarket itu versi level up nya dari sandang, pangan dan papan pun menjadi satu disana cuman dibedakan lantai.
" Wahh lengkap sekali dan segar lagi " ucap Naomi kagum karena tumben sekali supermarket modern memiliki sayuran dan buah yang segar.
" Apa saja ya? Buah yang aku harus beli? Pisang kira-kira pak Yohan mau tidak ya? " ucap Naomi sambil menimbang-nimbang dan berbicara pada diri sendiri ketika ia melihat banyaknya pisang tersuguh disana.
" Pisang ini besar juga ya.. "
" Ohh ya Tuhan " seketika Naomi menyadari apa yang dia ucapkan, gadis itu menunduk dengan wajah yang bersemu merah.
" Besar dan- ahh.. apa yang kamu pikirkan sih mi?!! " Naomi menggelengkan kepalanya sendiri agar pembicaraan absurd tadi pagi menghilang dari pikirannya.
...Flashback...
Uhukk.. Uhukk..
" Anda tidak apa-apa nona Naomi? " ucap Stefany langsung menghampirinya dengan nada yang khawatir.
" Tidak apa-apa dok " sanggah Naomi sambil mengelus dadanya. Gadis itu melirik kearah depannya, yang ternyata Yohan bahkan memalingkan wajahnya tak sekalipun melirik Naomi.
" Oh God, pembicaraan absurd macam apa ini " ucap Naomi dalam hati ikut memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Lalu dokter Stefany ternyata menyodorkannya sebuah botol mineral dengan keadaan masih utuh.
" Diminum dulu nona, apa yang membuat anda tersedak? Bukannya anda tidak memakan atau meminum apapun? " heran dokter Stefany yang duduk disampingnya sedangkan Naomi masih meneguk air mineral itu.
Naomi hanya menggeleng dengan wajah yang menunduk, gadis itu harap wajah merona nya tidak terlihat oleh siapapun.
" Hahaha, anak ini masih terlalu polos rupanya. Baik mari kita nodai " batin dokter Stefany yang terkekeh setelah melihat dan mengerti dari gerak-gerik Naomi yang seperti salah tingkah.
" Boleh dilanjut silahkan dok " ucap dokter Stefany membuat Naomi mengigit bibirnya dan berharap ia sedang tuli sekarang.
" Sudah, sudah cukup. Nanti ini saya bicarakan dengan dokter Stefany saja " ucap Yohan dengan nada yang datar dan dingin.
" Maaf tuan, tapi dokter Stefany itu kan- " bibir Andre langsung otomatis terkatup bungkam melihat Yohan yang ternyata sudah menatapnya tajam.
" Ba-baik tuan, saya permisi " dokter Andre pun langsung cabut pergi dari sana.
" HAHAHAHA " tawa dokter Stefany yang sempat tertahan tadi langsung menggelegar diruangan.
" HEY TUAN..!! INGAT UMUR, JANGAN SEPERTI ABEGE LABIL " ejek Stefany ketika melihat telinga Yohan yang sudah merah parah walaupun ekspresi laki-laki itu seperti papan meja.
" Wowowo santai bro, santai " ujar dokter perempuan itu saat melihat tatapan tajamlah yang diberikan laki-laki itu.
" Naomi, ikut saya sebentar yuk. Laki-laki tua satu ini sebentar lagi akan dimandikan " tangan Naomi tiba-tiba ditarik Stefany untuk berdiri.
" Dimandikan? Tuan Yohan akan dimakamkan dok? " sontak gelak tawa dokter itu kembali menggelegar.
Ternyata gadis muda dihadapannya ini bisa diajak kerja sama untuk menistakan CEO Aldrich Company itu.
" NANA!! " kesal laki-laki itu yang dinistakan tapi kasihan sekali, laki-laki itu tidak ditanggapi oleh lawan bicaranya.
" Saya pulang sekalian ya pak, nanti baru balik lagi. Badan saya lengket sekaligus mau beli makan siang " ucap Naomi untuk meminta izin tetapi sepertinya raut Yohan sedang tidak bersahabat.
" Mandi saja disini..!! Nanti akan saya suruh anak buah saya untuk membawakan barang-barangmu " Naomi menggeleng dengan cepat.
" Ihh masa barang pribadi saya disentuh sama orang yang nggak saya kenal, ngadi-ngadi bapak..!! " ucap Naomi dengan nada sedikit sebal karena Yohan yang selalu mendiktaktor kegiatannya akhir-akhir ini.
" Menurutlah Naomi " Naomi pun merotasi bola matanya.
" Hey, pak tua! Tidak baik mengurung anak gadis terus-terusan bersamamu. Apakah kamu ingin dianggap pedofil? " ucap Stefany gamblang seolah-olah tidak takut dengan Yohan.
" Betul tuh betul " jawab Naomi sambil terkekeh ketika ia tau dokter Stefany bermaksud membelanya.
" Baiklah-baiklah, terserah pada kalian " nadanya memang datar tapi tingkah lakunya yang menaikkan selimut seolah sedang merajuk.
__ADS_1
" Ututu pak tua merajuk " entah keberanian darimana Naomi berkata seperti itu dan dua gadis tersebut saling tertawa.
" Sia^lan kamu Stefany, mengajarkan yang tidak-tidak pada Nana..!! " umpat Yohan dalam hati dan menatap kearah jendela kamar.
" Bapak ingin menitip apa? " tanya Naomi dengan nada yang masih terkekeh.
" Sudah, belikan saja makanan atau buah apapun yang dia suka. Karena pasti dia akan susah makan disini " sindir Stefany.
" Apa yang harus aku beli..?? " batin Naomi bingung karena selama ini Yohan tak terlihat memilih-milih makanan diapartement.
Dan tiba-tiba gadis itu terkejut saat dirinya disodori kartu hitam oleh Yohan.
" Ambil dan belilah sesukamu, saya nitip makan siang untuk saya dimall sebelah. Jangan beli dipinggir jalan..!! " peringat Yohan dan Naomi langsung hormat gerak.
.
" Kalangan elite memang berbeda yaa.. Tidak mau makan dipinggir jalan " ucap Naomi dalam hati sambil terus menatapi kartu digenggamannya setelah keluar dari ruangan Yohan.
" Biasa saja dong menatap kartunya nona, tidak akan hilang mendadak diambil tuyul kok " Naomi pun terkekeh unuk menjawab ucapan Stefany.
" Tuan Christian sebenarnya alergi pada obat yang saya berikan nona makanya ' itu ' nya menjadi seperti itu "
Wajah Naomi kembali bersemu merah ketika mendengar topik yang gadis itu hindari malah dibahas lagi, ia pun mengalihkan pandangannya.
" Lalu.. ke-kenapa pak Yohan masih mengonsumsinya? " dokter Stefany pun tersenyum dengan sedikit nada terkekeh.
" Sebenarnya kemarin obat itu sudah mulai jarang dikonsumsi karena dianggap tuan Christian sudah setengah sembuh dan dia tidak ingin teradiksi pada obat yang saya berikan " jawab Stefany sambil mengurai rambutnya kebelakang untuk diikat.
" Tetapi sepertinya ada yang mengganggu ketenangan mentalnya kembali sampai tuan Christian mengkonsumsinya " ucap Stefany dengan nada yang datar.
" Ahh, apa yang dapat menganggu ketenangan pak Yohan? orang-orang saja takut pada dirinya " ucap Naomi dalam hati.
Perempuan itu tidak ngapa-ngapain saja sering hampir dihap sama Yohan, terus kalau yang ngapa-ngapain bagaimana nasibnya ya.
(Adiksi \= Ketergantungan)
...Flashback Off...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Tinggalkan jejak like, commentnya yuk. Jangan lupa follow ig : @Melodye.Hua untuk lebih dekat dengan Author !...
__ADS_1