My Step Brother is A psychopat

My Step Brother is A psychopat
Episode 22


__ADS_3

* Alexa Pov *


Di malam hari yang benar benar sunyi ini aku terduduk lesu di atas lantai sambil menangkupkan wajahku di atas lututku. Aku menangis, hidupku benar benar kelam, sepi tanpa ada cahaya. Aku merindukan mama, aku rindu belaian kasih sayangnya. Aku menangis karena aku tidak bisa menepati janjiku kepadanya untuk selalu menyanyangi xavier. Rasa sayangku kini berubah menjadi rasa benci yang benar benar mendalam di dalam lubuk hatiku.


" Maafkan aku ma, maafkan alexa " Tangisku pecah.


" Dia yang mama suruh ku sayangi, ternyata tak pantas untuk disayangi. Dia hanyalah seorang iblis yang kejam dan dia juga yang telah membuat mama tiada... hiks... hiks... "


" Maafkan alexa ma... hiks... hiks "


" Alexa mau ikut mama..." ucapku sambil menangis.


Aku menghapus air mataku kasar, aku segera berlari ke arah laci mencari suatu benda yang kucari. Aku tersenyum sedih sambil menatap benda itu. Aku menatap nanar benda itu sambil tersenyum.


" Ma...Alexa akan ikut mama...Mama tunggu alexa ya " Ucapku sambil tersenyum.


" Sudah cukup penderitaan alexa sampai disini saja, alexa sudah tidak kuat menahan semua beban penderitaan ini ma, Alexa benar benar lemah sekarang, aku bukanlah seorang alexa yang kuat lagi. Aku hanya ingin minta kepada Tuhan agar Tuhan menjaga kakakku dan memberikan hidayahnya kepadanya. Amiin ya rabbal alamin " Ucapku sambil terus menangis.

__ADS_1


Ku arahkan ujung gunting itu ke arah tanganku sambil menyayat kulit tanganku dengan pelan sambil terus memainkannya seperti mainan.


" Aaakh... " Teriakku histeris sambil terus melukai tanganku sampai ke urat nadi nya.


Darah menetes begitu banyak, aku hanya bisa menangis sambil terus melakukan hal itu.


Gubraak...


Pintu kamarku terbuka dengan keras memperlihatkan seorang xavier dengan wajah yang kaget.


" Hmm... untuk apa aku melepaskan gunting ini hah??? " Teriakku kepada xavier.


" Nanti kau kehabisan banyak darah alexa... aku mohon sadarlah alexa... " xavier dengan nadanya yang masih dengan khawatir.


" Apa pedulimu kepadaku... seharusnya kau senang jika aku ini mati brensek... "


Bryan berjalan ke depan dengan waspada.

__ADS_1


" Jangan kesini... atau gunting ini yang akan melukaimu " ucapku terus menangis.


" Aku tidak masalah bila aku yang terluka... asalkan kau melepaskan gunting itu " ucapnya terus berjalan ke depan dan dengan sigap mengambil gunting yang berlumuran darah itu dan langsung membuangnya.


" Biarkan aku mati... " Ucapku menjerit.


Dia langsung menarik tanganku kemudian dia memelukku dengan erat. Aku meronta ronta di dalam pelukannya agar dia mau melepaskanku. Usahaku hanya siapa sia saja, aku hanya bisa menangis di dada bidang nya itu sambil terisak isak.


" Aku rindu mama..." Ucapku di dalam pelukannya.


"Maafin alexa ma...hiks...hiks..." Ucapku sambil menangis tersedu sedu.


" Mama... alexa takut ma... hiks... hiks " Ucapku sambil bergetar.


" Kau tidak usah takut lagi alexa... aku berjanji kepadamu, aku tidak akan pernah menyisakmu lagi " Xavier dengan lembut membelai rambutku lembut lebih lembut dari biasanya.


Kepalaku pusing, mataku buram, samar samar aku mendengar dan merasakan xavier sedang menepuk nepuk pipiku agar aku sadar. Kemudian dia menggendongku sambil berteriak. Aku bisa merasakan air matanya jatuh membasahi pipiku sambil mencium keningku lembut sambil terus memanggil namaku . Untuk sementara aku merasakan kenyamanan di dalam hatiku ini. Kepalaku sudah benar benar pusing, mataku sudah tidak kuat lagi melihat cahaya. Ku rasakan dia mengenggam tanganku kuat sambil memelukku dengan erat. Aku sudah tidak bisa membuka mataku lagi, kepalaku benar benar pusing sehingga aku mulai tidak sadarkan diri lagi. Aku tidak tau ini adalah akhir dari ceritaku atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2