
Dengan rasa yang sama, aku menunggu Alexa dengan rasa yang bersalah. Sudah 3 hari dia masih belum bangun dari komanya itu. Padahal dokter telah memberikan 2 kantong darah yang menurutnya sangat diperlukan oleh tubuh Alexa. Ku berfikir, kenapa Alexa masih belum bangun juga. Kenapa dia begitu nyenyak dari tidur panjangnya. Apakah Allah ingin mengambil Alexa sebelum aku meminta maaf kepadanya dan hidup menanggung semua dosa yang telah ku perbuat.
Entah kenapa aku tidak berselera ketika aku memegang pisau yang menjadi benda favoritku selama beberapa tahun ini. Apakah karena kekhilafahanku untuk menjadi seorang yang sangat baik bagi orang lain.
Ku tatap wajah Alexa yang sedang tersenyum meskipun dalam keadaan koma. Air mata kini menetes dari pelupuk mataku yang keluar begitu saja dari mataku. Ku pegang erat tangan Alexa yang dingin. Aku ingin sekali berteriak meminta Alexa agar bangun dari tidurnya. Air mataku kini membasahi pergelangan tangannya. Ku lihat mata indahnya kini mengerjapkan matanya berulang kali.
Ku sangat berterima kasih kepada sang kuasa karena telah mengambulkan doaku.
Ku usap air mata ku, aku tidak ingin iya melihat aku menangis. Ada rasa takut kehilangan dia. Aku takut dia akan membenciku, aku takut dia akan membenciku. Aku tidak ingin dia merasa takut melihatku. Lebih baik aku pergi saja.
__ADS_1
Ku langkahkan kakiku keluar dari pintu kamar Alexa sebelum dia sadar sepenuhnya. Aku memanggil dokter segera agar memeriksa keadaan Alexa yang mulai sadarkan diri.
" Dokter Kevin..." Ku panggil dokter yang berkacamata itu.
" Iya ada apa, apa Alexa sudah sadar " Ucapnya sambil tersenyum kepadaku.
" Iya " Ucapku singkat.
" Maaf aku tidak bisa ikut. Aku takut dia akan mengingatkan pada hari-hari terburuknya " Ucapku sambil meneteskan air mata sambil pergi.
__ADS_1
Ku arahkan setir mobil kemanapun yang aku lewati. Dengan hati yang bersalah aku pergi menelusuri jalanan Jakarta yang sedang panas-panas nya. Ku berhenti di depan sebuah perusahaan detektif yang beberapa hari ini aku yang mengambil alih. Ku lajukan lagi mobilku dan berhenti di sebuah cafe.
Pikiranku mengingat sesuatu ketika Alexa dengan polosnya menanyakan dan mencari tau tentang pembunuhan yang begitu sadis nya kepadaku . Aku tau bahwa aku adalah pelaku dari pembunuhan itu. Dia kesal karena tidak bisa melihat satu saja jejak dari pelaku pembunuhan itu.
Bila aku mengingat dia memanggilku dengan sebutan seorang kakak meskipun aku adalah seorang kakak tirinya yang kejam dan tidak berperasaan. Aku sering memarahi Alexa ketika dia memanggilku kakak. Aku merasa bahwa dia bukanlah adikku. Entah kenapa belakang ini aku ingin menjadikan Alexa sebagai seorang kekasih hatiku. Aku tau ini akan sangat mustahil karena Alexa kini telah membenciku dan hanya menganggap aku adalah seorang kakaknya. Tidak lebih dari itu.
Aku merasa ada yang menepuk pundakku dengan lembut. Dengan wajah yang kaget aku melihat Seorang wanita cantik blasteran Indonesia-eropa berambut cokelat panjang sebahu dan bertopi lebar sedang tersenyum kepadaku.
" Hai..." Sapanya sambil melambaikan tangannya ke arahku.
__ADS_1
" Chesy..."
Hai gimana ceritanya bagus enggak. Kalau bagus tolong di Like ya. Please 😄