
Alesha masih saja menangis terisak di pelukan Devan. "Aku mau pulang saja, aku gak mau di sini. Aku takut..."
Devan sangat mengerti dengan ketakutan yang dirasakan Alesha. Bisa saja Alesha juga mengalami trauma. "Sha, kita bicarakan masalah di kamar kita saja, ayo."
Alesha tak juga melepas pelukannya. Tubuhnya sudah tidak ada tenaga lagi untuk bergerak.
Akhirnya Devan mengangkat tubuh Alesha dan memindahnya ke kamar. Dia turunkan Alesha di atas ranjang. Dia menatap kelu luka-luka di tubuh Alesha. Tega sekali Dirga melakukan ini pada Alesha.
Alesha masih saja menangis. Dia kini mengambil boneka beruangnya dan memeluknya.
"Aku obati lukanya dulu ya."
Alesha tak menjawabnya. Dia hanya menatap kosong dengan air mata yang terus mengalir.
Devan segera mengambil kotak p3k nya dan juga mengambil air putih. Dia segera kembali ke kamar, membantu Alesha minum terlebih dahulu lalu dia duduk di dekat Alesha dan meraih tangan Alesha yang berdarah karena cakaran Dirga. Devan bersihkan luka itu secara perlahan dengan kapas dan cairan rivanol.
Alesha beberapa kali bergerak karena rasanya perih meskipun tak seperih luka hatinya.
"Maafkan aku yang gak bisa jagain kamu." Setelah selesai membersihkan luka di tangannya, Devan beralih membersihkan luka di leher Alesha dan kedua bahu Alesha. Semua adalah luka dari cakaran Dirga. Devan menurunkan piyama Alesha yang terkoyak itu sebatas lengan untuk mengobati lukanya.
__ADS_1
Alesha masih saja terdiam dengan air mata yang terus menetes. Bahkan biasanya dia akan menahan tangan Devan yang menyentuh dirinya tapi dia hanya diam tak bergerak, hanya sesekali dia mengaduh karena sakit.
Setelah selesai mengobati, dia kini duduk di samping Alesha dan memeluknya. "Sha, udah jangan nangis."
"Aku mau pulang."
"Iya, besok aku antar kamu pulang. Aku akan mencari solusi bagaimana baiknya masalah ini. Tapi kalau kamu memang gak terima dengan perlakuan Dirga, kamu berhak menuntut dia. Tindakannya ini sudah diluar batas."
Alesha melepas pelukan Devan lalu merebahkan dirinya dan memunggungi Devan. "Aku gak mau terus menerus membuat Kak Devan dan Dirga bertengkar. Lebih baik aku saja yang pergi dari rumah ini. Dirga terus saja ingin menyentuh aku. Aku berusaha bertahan di sini meski Dirga terus mengancamku sejak aku pergi study tour. Tapi kali ini aku benar-benar gak bisa kalau aku harus bertahan di sini."
"Jadi waktu itu Dirga mau nyentuh kamu? Kenapa kamu gak cerita?"
Devan menghela napas panjang sambil menatap punggung Alesha yang masih saja bergetar karena isak tangisnya. "Iya, aku akan antar kamu pulang besok pagi. Aku akan menjelaskan semua pada orang tua kamu."
Alesha tak menimpali perkataan Devan lagi.
"Apa setelah kejadian ini kamu tidak mau lagi bersama aku?" tanya Devan. Dia mengusap rambut Alesha yang berantakan dan lepek karena keringat.
"Kak Devan itu sangat baik, tapi keadaan yang tidak mendukung. Aku ngerti Kak Devan harus jaga Ibu. Kak Devan juga gak bisa tinggal di rumah aku. Iya aku ngerti posisi Kak Devan itu kayak gimana." Alesha kembali menangis terisak. "Bukannya aku gak mau lagi sama Kak Devan, tapi aku trauma sama Dirga."
__ADS_1
"Iya, aku ngerti. Aku gak mungkin mengajak kamu tinggal lagi bersama Dirga." Devan menghela napas panjang. "Aku memang belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu. Aku tidak bisa memberi solusi dari masalah ini." Devan menundukkan pandangannya dan menekan ujung hidungnya karena terasa pusing. Terkadang dia memang merasa lelah dengan hidupnya. Selama bertahun-tahun dia berjuang seorang diri demi menaikkan derajat keluarganya. Tapi ini balasan yang dia dapat. Dia kira dengan menikahi Alesha kehidupannya akan bahagia dan sempurna tapi tak disangka masalah terus berlarut.
Devan kini melihat Alesha yang memeluk erat boneka beruangnya sambil memainkan kepala boneka itu.
"Itu boneka dari Devan, kenapa kamu bisa sesayang itu?"
"Karena hanya boneka ini yang gak pernah nyakiti aku. Kak Devan yang kasih boneka ini pernah bilang sama aku..."
"Kalau Dek Lesha sedih dan menangis peluk boneka ini karena aku sudah tidak bisa sering-sering ke sini lagi untuk menghibur Dek Lesha. Dek Lesha janji ya, jangan cengeng lagi."
Mendengar kalimat yang sama persis itu seketika Alesha memutar tubuhnya dan menatap Devan. "Kak Devan..."
"Iya, inilah satu-satunya alasan mengapa aku setuju menikahi kamu..."
.
💕💕💕
Like dan komen ya... 😳
__ADS_1