
Alesha terus memegangi kepalanya saat berlari mengitari lapangan pagi hari itu di jam pelajaran olahraga.
"Lesha, lo kenapa?" tanya Rena sambil menahan lengan Alesha karena Alesha hampir terjatuh.
Tapi Alesha justru tak sadarkan diri dan terjatuh di pinggir lapangan karena Rena tidak kuat menahan tubuh Alesha.
"Lesha!"
Seketika Dirga berjongkok dan mengangkat tubuh Alesha. "Ren, tolong telepon Kak Devan."
"Tapi gue gak tahu nomornya."
"Pakai hpnya Lesha."
Rena segera berlari ke kelas dan mengambil ponsel Alesha lalu dia menghubungi Devan.
Sedangkan Dirga kini menurunkan Alesha di dalam UKS. Ada penjaga UKS yang langsung memeriksa kondisi Alesha.
"Kamu pacarnya?" tanya Bu Ningsih pada Dirga.
Dirga menggelengkan kepalanya. "Memang apa yang terjadi pada Alesha?" tanya Dirga.
Bu Ningsih hanya menghela napas panjang tanpa menjawab pertanyaan Dirga. Dia mengambil minyak kayu putih lalu mengusap leher Alesha agar cepat tersadar.
Beberapa saat kemudian Alesha membuka matanya. Kepalanya terasa sangat pusing. Memang sudah beberapa hari ini tiba-tiba dia sering sakit kepala tapi saat berada di dekat Devan tiba-tiba hilang dengan sendirinya.
"Apa yang kamu rasakan? Selain sakit kepala, apalagi yang kamu keluhkan?" tanya Bu Ningsih.
"Saya kadang mual."
Bu Ningsih menghela napas panjang. "Siapa yang melakukan ini sama kamu? Apa pacar kamu ini?"
__ADS_1
"Maksudnya, Bu?" tanya Alesha tak mengerti.
"Kamu..."
"Lesha!" Devan masuk ke dalam UKS. Dia segera berdiri di samping Alesha. "Kamu kenapa bisa pingsan?"
Karena Devan sudah datang, Dirga keluar dari UKS dan kembali melanjutkan pelajaran olahraga.
"Kepala aku pusing banget," jawab Alesha.
"Kan aku sudah bilang, kalau gak enak badan jangan masuk sekolah." Devan memegang tangan Alesha dan mengecek denyut nadi Alesha. Lalu dia memeriksa pelupuk mata Alesha yang terlihat sangat pucat.
"Maaf, Dokter Devan siapanya Alesha?" tanya Bu Ningsih.
"Saya, suaminya."
Bu Ningsih sedikit terkejut mendengar pernyataan itu.
Seketika Alesha menatap Devan tak percaya. Benarkah dia hamil seperti yang dikatakan suaminya itu?
"Iya, saya juga menduga hal itu. Syukurlah kalau Alesha istri Dokter Devan, saya sempat mengira kalau Alesha hamil diluar nikah. Ya sudah saya permisi dulu Kalau mau izin pulang tidak apa-apa, nanti saya beri surat keterangan."
"Iya Bu, terima kasih."
"Kak, itu beneran?" tanya Alesha. Perlahan dia kini duduk dan masih saja menatap Devan.
"Iya, dugaan sementara. Nanti lebih pastinya kita langsung periksa saja. Seorang Dokter ataupun nakes seperti Bu Ningsih pasti tahu tanda-tanda seperti ini." Devan berdiri lalu mengambil air mineral untuk Alesha. "Minum dulu."
Alesha hanya minum air mineral itu sedikit karena lidahnya terasa sangat pahit. "Gak enak, perut aku jadi mual."
"Hari ini izin pulang saja ya?"
__ADS_1
"Tapi Kak, nanti ada ulangan fisika."
"Tapi kondisi kamu kayak gini. Kita periksa dulu, karena kamu juga anemia. Besok kamu bisa menyusul ulangannya."
Alesha akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Aku suruh Rena temani kamu ambil tas. Biar Bu Ningsih yang mengizinkan. Aku tunggu di mobil." Devan mengusap puncak kepala Alesha lalu dia menghampiri Bu Ningsih yang sedang bersama Rena di depan UKS.
Devan menyuruh Rena menemani Alesha ke kelas, lalu dia berbicara pada Bu Ningsih agar mengurus izin kepulangan Alesha. Kemudian Devan berjalan ke tempat parkir. Dia masih tidak mau ada yang tahu tentang hubungannya dan Alesha di sekolah.
Devan kini bersandar di sisi mobilnya sambil menunggu Alesha. Rasanya dia senang akan segera menjadi seorang Ayah tapi dia juga khawatir dengan kondisi Alesha yang masih terlalu muda.
Beberapa saat kemudian Alesha berjalan pelan ke arahnya. Devan segera membukakan pintu untuk Alesha dan membantunya masuk ke dalam mobil.
Setelah Devan duduk di kursi pengemudi, Devan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Alesha masih saja merasa pusing, bahkan perutnya semakin terasa mual. "Kak, bisa gak AC nya dimatikan saja terus kaca jendelanya aku buka. Rasanya aku kayak mabuk perjalanan gini."
Devan akhirnya mematikan AC mobilnya lalu membuka kaca jendelanya.
Seketika Alesha bersandar sambil menghirup angin yang masuk lewat kaca jendela itu. "Akhirnya reda."
Beberapa kali dia melirik Alesha. Satu tangannya kini mengusap rambut Alesha. "Maaf ya, aku yang udah buat kamu kayak gini."
"Kenapa minta maaf? Gak papa, aku malah seneng bisa ngerasain ini."
Devan hanya tersenyum kecil lalu dia menghentikan mobilnya di tempat parkir rumah sakit. Setelah itu dia keluar lalu membantu Alesha turun. Dia segera mengantar Alesha ke poli kandungan. Untunglah Alesha memakai cardigan jadi tulisan sekolah di kaos olahraga Alesha tidak terlihat.
Devan dan Alesha menunggu antrian di depan ruang pemeriksaan setelah mendaftar. Setelah tiba gilirannya, mereka dipanggil untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
"Dokter Devan, mengapa antri dan menunggu di depan kalau antar pasien? Saya bisa mendahulukan Dokter Devan." Clara tersenyum menatap Devan.
__ADS_1
Sedangkan Alesha kini menatap tajam Devan. Mengapa Devan membawanya ke Dokter Clara? Memang tidak ada Dokter kandungan lainnya?