Obat Cinta Pak Dokter

Obat Cinta Pak Dokter
BAB 26


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Dirga keluar dari rumah Reza. Dia tidak mau berlama-lama di sana karena dia tahu Reza masih kesal dengannya meski Reza mau menolongnya.


Kini dia tidak boleh mengandalkan kakaknya lagi. Dia harus mandiri. Jika kakaknya dulu di usia SMA bisa menghidupinya, maka dia juga harus bisa menghidupi dirinya sendiri.


Setelah berkeliling mencari pekerjaan akhirnya Dirga berhasil mendapatkan pekerjaan paruh waktu di sebuah rumah makan yang bukanya sore sampai malam hari.


Tapi dia masih memikirkan dimana dia akan tinggal. "Apa aku coba ke tempat Ayah lagi. Siapa tahu Ayah tidak mabuk dan ingat sama aku."


Dirga kembali melajukan motornya menuju rumah Ayahnya. Dia masih saja belum menyerah. Sejak kecil dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ayah, jujur saja dia ingin merasakannya meski hanya sedikit. Berharap sang Ayah mau menerimanya kali ini.


Dia menghentikan motornya di kompleks perumahan Ayahnya sore hari itu. Dia turun dari motornya dan bertanya pada ibu-ibu yang sedang berjalan di pinggir jalan.


"Permisi Bu, rumahnya Pak Yudi di sebelah mana ya?"


"Itu, rumahnya. Yang paling pojok. Entah dia udah bangun atau belum? Kamu siapanya mencari laki-laki pemabuk kayak dia, sudah sangat meresahkan warga di sini."


Dirga hanya terdiam lalu mengucapkan terima kasih pada ibu-ibu itu. Dia kini berjalan menuju rumah Ayahnya. Dia mengetuk pintu rumah itu, beberapa saat kemudian seorang wanita membuka pintu rumah itu.


"Cari siapa?"


Dirga menatap Ibu itu. Apa dia wanita yang telah membuat Ayahnya pergi meninggalkan Ibu? "Aku mau mencari Pak Yudi."


"Yudi? Kamu siapa?"


"Siapa?" teriak Yudi dari dalam rumah. Lalu dia keluar dan melihat Dirga. "Kamu anak yang semalam kan? Ngapain kamu ke sini lagi?"


"Ayah, aku anaknya Bu Rahma."


"Mas, kamu masih berhubungan sama Rahma?" tanya wanita itu. Wanita yang bertato di lengannya itu menatap tajam Yudi.


"Nggak! Buat apa kamu ke sini!"

__ADS_1


"Jadi aku memang anak Ayah kan?" kata Dirga lagi.


"Bukan! Udah sana kamu pergi!" Dan untuk kedua kalinya Yudi mendorong Dirga hingga Dirga mundur beberapa langkah.


"Ayah, izinkan aku tinggal di sini untuk sementara waktu." Dirga tak juga menyerah.


Yudi hanya menatap tajam Dirga, kemudian dia tersenyum miring. "Kalau kamu mau tinggal di sini serahkan dulu motor kamu."


Dirga melebarkan kedua matanya. Ternyata sosok yang dia rindukan selama ini sama sekali tak pernah mengharapkannya. Pantaslah jika kakaknya sangat membenci Ayahnya. Dirga memutar kakinya tapi kunci motor yang dia pegang justru diambil paksa oleh Ayahnya.


"Kalau kamu mau jadi anak aku, kamu harus nurut dan berikan apa yang kamu punya! Kakak kamu udah sukses kan, minta lagi sama Kakak kamu!" Yudi berlari dan membawa motor Dirga kabur. Dirga terus mengejarnya. Dia menyesal, mengapa juga dia mencari Ayah yang tidak pernah peduli dengan dirinya.


...***...


Setelah menyelesaikan pekerjaannya di klinik, Devan berniat mencari Dirga terlebih dahulu sebelum dia ke rumah sakit. "Dirga kira-kira kemana? Aku sama sekali gak punya nomor telepon teman-temannya. Tapi sejak punya masalah dengan Lesha, kayaknya Dirga sudah tidak dekat dengan teman-temannya."


Devan menopang kepalanya di stang mobilnya. Dia tak juga melajukan mobilnya. Dia masih berpikir dimana kira-kira Dirga berada. "Apa jangan-jangan Dirga ke tempat Ayah? Selama ini Dirga begitu ingin tahu keberadaan Ayah."


Devan sampai di depan gang rumah Ayahnya. Dia memarkir mobilnya dan turun karena gang itu tidak cukup dilewati mobil. Tapi saat dia baru masuk ke dalam gang, dia melihat motor Dirga yang melaju dengan kencang ke arahnya. "Itu Ayah!" Devan membulatkan matanya saat melihat Ayahnya mengendarai motor Dirga.


Devan segera menghadangnya dan menarik tangan Ayahnya tapi tangannya justru diseret lalu didorong dengan keras hingga dia terjatuh. "Kak Devan!"


Warga yang berada di tempat itu beramai-ramai mengejar Yudi. Akhirnya Yudi meninggalkan motor Dirga saat ada teman komplotannya membantunya.


"Kak Devan!" Dirga membantu Devan berdiri.


Devan memegang sikunya yang terasa sangat sakit belum lagi luka di pipinya yang tergores paving dan berdarah. "Kamu ngapain ke tempat Ayah! Aku sudah bilang, Ayah gak mungkin peduli sama kamu! Ayah pasti cuma mau ambil harta kamu!"


"Iya aku, gak tahu Kak. Aku pikir Ayah..."


"Ayah gak mungkin peduli sama kita!" Devan melangkah dengan tangan yang terus memegangi sikunya. Kakinya juga terpincang karena benturan di lututnya cukup keras.

__ADS_1


"Aku antar ke rumah sakit," Dirga menahan tangan Devan saat akan masuk di kursi pengemudi.


"Kamu urus motor kamu dulu, kamu titipkan di bengkel depan saja."


"Iya Kak."


Kemudian Devan berpindah duduk di sebelah kursi pengemudi. Dia lipat lengan kemejanya ke atas dan melihat sikunya yang mulai membiru. "Sepertinya terkilir. Sakit sekali digerakkan." Devan menggerakkan tangannya perlahan tapi terasa sangat sakit.


Dirga kini masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin mobil itu.


"Ke rumah sakit tempat Ibu dirawat saja, biar sekalian aku bisa jaga Ibu," kata Devan.


"Iya Kak."


Kemudian Devan menatap keluar kaca jendela. Semua kenangan buruk di masa lalunya seolah berputar kembali diingatannya. Dia masih ingat betul, dulu tiap pulang malam Ayahnya selalu mabuk dan sering menyiksa Ibunya. Sering meminta uang pada Ibunya yang hanya buruh cuci di rumah, bahkan Ayahnya sampai berselingkuh sedangkan Ibunya di rumah susah payah membesarkannya dan Dirga. Sejak saat itu, dia bertekd membawa Ibu dan adiknya agar lepas dari Ayahnya. Untunglah ada saudara yang meminjaminya tempat tinggal, meski hanya berukuran 5x5. Dia rela mengamen, menjual koran bahkan menjadi kuli bangunan agar dia bisa terus bersekolah dan sisa uangnya selalu dia berikan pada Ibunya.


Cita-citanya sangat tinggi. Untunglah waktu itu dia bertemu dengan Mamanya Alesha yang mau mengajarinya bimbingan belajar dengan gratis sewaktu SMP hingga akhirnya dia bisa masuk SMA favorit dan mendapat beasiswa penuh. Dari situlah jalannya terus terbuka, banyak orang-orang baik yang membantunya.


"Kak, aku minta maaf. Aku salah..." Dirga akhirnya memulai pembicaraan dan memecah kebisuan di antara mereka.


.


💕💕💕


.


Like dan komen ya... 🙄


.


Sepi banget gak ada yg komen kayak hati othor... 😒

__ADS_1


__ADS_2