
Malam hari itu, Devan mengemasi beberapa baju Alesha dan juga buku-bukunya di rumahnya. Tak lupa boneka beruang kesayangan Alesha juga dia bawa. Setelah itu dia keluar dari kamar dan melihat kondisi Dirga.
"Kamu sudah makan?" tanya Devan.
Dirga menganggukkan kepalanya.
"Besok kalau masih sakit kamu jangan masuk sekolah dulu. Istirahat di rumah saja. Ini HP lama aku untuk sementara kamu pakai. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku."
Dirga menganggukkan kepalanya.
"Aku titip ibu ya."
"Iya, kak."
Kemudian Devan keluar dari kamar Dirga dan masuk ke dalam kamar Ibunya. "Ibu belum tidur?"
"Kamu jadi pulang ke rumah Alesha?" tanya Bu Rahma.
Devan menganggukkan kepalanya. "Iya, biar Dirga di rumah ini. Aku sudah menyuruh suster untuk menginap di sini dan menjaga ibu. Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon saja. Setiap hari aku juga akan ke sini."
Bu Rahma menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Ya sudah, kalau itu menjadi keputusan kamu. Tidak apa-apa. Ini yang terbaik untuk semuanya. Tapi kamu belum cerita, Dirga dipukuli siapa? Tadi Ibu tanya Dirga, dia juga tidak menjawab."
"Sebenarnya..." Devan menghentikan perkataannya. Dia tidak bisa berbohong pada ibunya tapi dia juga tidak ingin membuat ibunya khawatir. "Dirga dirampok, dompet dan hpnya diambil. Tadi aku sudah mencari pelakunya."
"Tinggal diluar memang keras. Ya sudah, biarkan Dirga kembali tinggal di sini. Kamu sekarang pulang saja, Lesha pasti sudah menunggu kamu di rumah."
Devan menganggukkan kepalanya lalu dia berjalan keluar dari kamar ibunya. Dia kini membawa koper dan juga satu kardus yang berisi buku-buku Alesha. Dia melangkahkan kakinya keluar rumah lalu memasukkan barang-barang yang dia bawa ke dalam mobil.
Dia berdiri di depan rumahnya sesaat, menatap bangunan yang berlantai dua itu.
"Lesha, suatu saat nanti kita pasti akan punya rumah impian."
...***...
"Kak Devan kok belum datang juga." Alesha masih duduk di meja belajarnya sambil menatap layar ponselnya. "Chat aku juga gak dibalas."
Dia menghela napas panjang lalu berpindah ke ranjang. "Apa Kak Devan gak jadi menginap di sini?"
Alesha berdiri dan keluar dari kamarnya. Dia kini berjalan ke dapur karena perutnya terasa lapar. Sudah hampir jam sepuluh, kedua orang tuanya juga sudah tidur. Tapi Alesha justru mengambil mille crepes yang ada di kulkas dan menikmatinya seorang diri.
Beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki yang mendekat.
__ADS_1
"Kak Devan." Alesha menghela napas panjang saat melihat Devan.
"Kenapa kaget? Aku haus mau ambil minum dulu."
"Kirain siapa? Soalnya Mama sama Ayah sudah tidur. Kak Devan kok sampai larut malam?" tanya Alesha.
Devan mengambil air putih lalu duduk di sebelah Alesha. "Iya, tadi dari rumah ada pasien gawat di klinik jadi aku ke klinik terlebih dahulu."
"Oo, aku dari tadi nungguin. Boneka aku dibawa kan?"
"Udah aku taruh kamar. Lihat kamu gak ada di kamar, pasti ada di dapur lagi cari makanan, ternyata benar."
"Iya, aku lapar." Kemudian Alesha menyuapi Devan mille crepes nya.
Devan menerima suapan dari Alesha sambil tersenyum kecil.
"Kalau makan belepotan gini krimnya?" Jemari Devan mengusap krim di bibir Alesha. Mereka saling bertatapan sesaat. Tiba-tiba Devan mendekatkan dirinya dan mencium bibir Alesha. Rasa manis dan basah itu semakin membuatnya terlena. Dia memagut bibir Alesha semakin dalam yang disambut balasan oleh Alesha. Sepertinya mereka lupa jika sekarang mereka sedang berasa di rumah Ayah Aslan.
"Lupa kalau putri kesayangan sama anak mantu ada di rumah ini," kata Aslan sambil mengambil air putih di dispenser.
Seketika mereka menjauhkan dirinya. "Ih, Ayah." Alesha segera berdiri dan berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
Aslan hanya menggelengkan kepalanya. "Bakal cepet dapat cucu kalau gini."
Sampai di kamar, Alesha langsung melempar tubuhnya di atas ranjang lalu menutup wajahnya dengan bantal.
"Malu..."
Devan tertawa sambil mengunci pintu kamar Alesha. "Maaf, aku lupa kalau di rumah kamu." Devan melepas kemejanya lalu merangkak naik ke atas ranjang. "Gak usah malu. Ayah kamu pasti bisa ngertiin."
Alesha membuka bantalnya dan menatap Devan. "Tapi tetap aja, Kak. Malu. Apalagi Ayah itu suka godain."
Devan semakin mendekatkan dirinya lalu menyingkirkan bantal yang Alesha peluk. "Gak papa. Mereka pasti juga pernah ngerasain pengantin baru."
Perlahan tangan Devan masuk ke dalam piyama Alesha dan mencari kehangatan.
"Hmm, Dek, kalau seandainya kamu hamil. Bagaimana? Apa kamu sudah siap? Soalnya semalam..." Devan menghentikan perkataannya saat melihat kepanikan Alesha.
"Hamil? Kalau hamil gimana dengan sekolah aku? Aku juga gak bisa apa-apa. Gimana kalau..."
"Ssttt," Devan mencium singkat bibir Alesha. "Iya, aku tahu kamu masih sekolah dan masih sangat muda. Tapi jika memang itu terjadi, aku pasti akan bantu kamu. Kita bisa lalui itu sama-sama."
__ADS_1
Alesha tersenyum kecil. "Merayu, pasti ada maunya."
"Kok tahu." Satu tangan Devan sudah memberi stimulasi di dada Alesha.
"Tapi beneran, aku memang belum siap."
Devan terdiam sejenak. "Kalau kamu memang belum siap. Mumpung masih 24 jam setelah kejadian. Ada obat yang bisa mencegah kamu hamil."
Alesha menahan tangan Devan sesaat agar dia bisa berpikir jernih. "Sekolah aku tinggal empat bulan lagi masa aktifnya. Gak papa. Kalau memang udah dikasih kepercayaan, ya kita gak perlu menolak. Umur Kak Devan sudah 29 tahun, memang sudah saatnya punya anak."
Seketika Devan melabuhkan ciumannya di bibir Alesha. Ciuman hangat yang semakin lama semakin meliar. Dia kini sudah menindih tubuh Alesha. Kedua tangannya sudah masuk ke dalam piyama Alesha lalu menyingkap piyama itu ke atas hingga melewati kepala Alesha.
Ciuman Devan semakin ke bawah dan menyusuri leher seputih susu itu. Dia akan menciptakan kenikmatan seperti semalam.
Alesha hanya bisa pasrah mendapat sentuhan Devan yang sangat memabukkan. Tubuhnya kini sudah polos, kecupan-kecupan kecil dan geli terasa berpindah-pindah di sekujur tubuhnya.
"Kak, suaranya jangan keras-keras. Nanti Mama sama Ayah dengar," kata Alesha. Dia kini menatap Devan yang sedang membuka celananya.
"Memang yang suaranya keras siapa?" Devan kembali menindih tubuh Alesha. Dia menatap Alesha sangat dekat hingga hidung mereka bersentuhan.
Alesha hanya tersenyum kecil. Jelaslah yang bersuara keras.
Devan menggesekkan sesaat miliknya lalu dia hentakkan hingga memasuki Alesha.
"Ah, Kak."
"Sssttt, tuh baru juga dimasukkan udah bersuara."
Alesha menggigit bibir bawahnya karena rasanya masih sedikit perih dan sesak. "Sakit, Kak."
"Iya, nanti pasti akan enak dan suara kamu pasti akan lebih keras."
Alesha semakin mengalungkan kedua tangannya di leher Devan saat Devan semakin menggerakkan pinggulnya.
Suara Alesha sudah tidak bisa dia tahan, karena semakin lama rasa nikmat itu semakin menjalari tubuhnya. Dia tidak peduli jika orang tuanya dengar, yang jelas dia benar-benar menikmati permainan Devan malam itu.
💕💕💕
.
Hadir lagi... 🤠Ada yang kangen gak?
__ADS_1