
Setelah menyelesaikan kuliahnya hingga mendapat gelar master di luar negeri, Dirga kembali ke Indonesia dan tinggal di rumahnya bersama Ibunya. Sedangkan Devan kini sudah mempunyai rumah sendiri yang bersebelahan dengan kliniknya.
Selama enam tahun itu, dia tidak pernah bertemu dengan Kiara. Sesuai janjinya dulu, dia akan menemui Kiara selama dia belum menemukan cinta lagi dalam hidupnya. Berbekal info dari Ari, Dirga kini menghampiri Kiara di sekolah tempatnya mengajar.
Dirga duduk di depan sekolah, sampai kelas usai. Tapi sampai semua murid pulang, Kiara belum juga keluar.
Akhirnya Dirga masuk ke dalam sekolah itu. "Ini sekolah SMP aku dulu. Gak banyak perubahan di sini." Dirga berkeliling sekolah sambil mengedarkan pandangannya.
Pandangan matanya kini tertuju pada seseorang yang sedang duduk seorang diri di depan lab. komputer sambil memainkan ponselnya. Dia tersenyum melihat Kiara lalu menghampirinya.
"Apa kabar?" tanya Dirga tiba-tiba yang membuat ponsel Kiara hampir saja terjatuh.
"Dirga?"
Dirga menganggukkan kepalanya lalu duduk di sampingnya. "Lama gak bertemu. Sekarang kamu sudah jadi Bu Guru."
Kiara tersenyum kecil lalu menyimpan ponselnya dalam saku. "Aku baik. Bagaimana kabar kamu? Sukses ya sampai lulus magister."
Dirga hanya tersenyum. "Semua murid dan beberapa guru sudah pulang. Mengapa kamu belum pulang?"
"Aku baru saja memberi tambahan belajar lalu istirahat di sini, karena dekat pohon jadi udaranya sangat sejuk."
Kemudian tidak ada pembicaraan di antara mereka untuk beberapa saat.
"Kamu sudah menikah?" tanya Dirga.
Kiara menatap Dirga sesaat lalu membuang pandangannya karena dia tidak sanggup merasakan debaran di dadanya. Dia hanya menggelengkan kepalanya kecil. "Aku masih menunggu kamu."
Kemudian Kiara berdiri dan berjalan mendahului Dirga.
__ADS_1
Senyum di bibir Dirga merekah. Dia kini mengikuti langkah Kiara. Dia tidak menyangka, Kiara masih setia menunggunya hingga 6 tahun berlalu. Ternyata Tuhan memang memberikan jodoh yang terbaik di kala waktu yang sudah tepat.
"Kalau begitu besok aku akan bertemu kedua orang tua kamu, bersama Ibu dan Kak Devan."
Kiara hanya mengangguk kecil. Dia sangat bahagia karena penantiannya selama ini tidak sia-sia.
...***...
"Selamat sore Dokter Alesha. Saya mau berkonsultasi."
Alesha tersenyum menatap Devan yang berdiri di ambang pintu. "Iya, silakan masuk. Mau konsultasi apa?"
Devan duduk di depan meja Alesha sambil menopang dagunya. Dia merasa bangga dengan Alesha. Semangatnya untuk belajar benar-benar tinggi. Akhirnya Alesha berhasil menjadi seorang Dokter Psikolog yang sekarang membuka praktek sendiri di klinik Devan juga. Mereka bekerja sama tidak hanya di rumah, tapi juga di klinik.
"Setiap hari saya selalu memikirkan seseorang dan saat saya memikirkannya bawaannya saya mau tersenyum sendiri. Itu tanda-tanda apa? Apa kejiwaan saya sudah terganggu?"
"Virus apa?"
"Virus cinta." Alesha berdiri lalu mengemasi barang-barangnya.
Devan berdiri dan mengunci pintu itu, lalu dia memeluk tubuh Alesha dari belakang.
"Maaf ya Dokter Devan, kalau di klinik kita hanya rekan kerja."
"Tapi pasien sudah tidak ada." Devan mengendus leher Alesha lalu menempelkan dagunya di bahu Alesha.
"Pasti ada maunya nih." Alesha membalikkan badannya dan setengah duduk di atas meja.
"Kok tahu?" Devan mencubit kecil hidung Alesha. "Semakin hari rasanya aku semakin cinta sama kamu."
__ADS_1
"Aku juga. Makasih, Kak Devan selalu menemani aku sampai aku jadi Alesha yang sekarang."
"Itu semua karena usaha keras kamu." Kemudian Devan mengecup singkat bibir Alesha. "Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu. Kamu sudah menjadi istri yang hebat yang mau terus bertahan bersamaku dengan segala kekuranganku. Mama yang hebat untuk anak-anak, hingga sekarang mereka tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar."
"Itu juga karena didikan Kak Devan." Alesha melingkarkan tangannya di leher Devan dan semakin menatapnya dalam.
"Jadi pengen buat adik lagi."
"Perasaan buatnya tiap hari."
Devan mengecup bibir Alesha lagi. "Pulang yuk! Anak-anak udah nunggu di rumah."
Alesha tertawa lalu melepas pelukannya. "Anak-anak atau..."
"Dua-duanya." Devan mencium pipi Alesha lalu menggandeng tangannya keluar dari ruangan itu.
Sesekali mereka masih saling tatap dan tersenyum malu. Rasa cinta itu tidak pernah pudar, bahkan semakin hari terasa semakin besar.
"Aku ingin selalu bersamamu, sampai tua nanti..."
.
..._SELESAI_...
.
Kisah Alesha dan Devan sampai di sini. Makasih yang sudah mengikuti kisah ini. Pendek ya karena tiba2 othor bingung mau lanjut gimana lagi jadinya aku tamatin.. 😌
Baca novel othor yang lainnya yuk... 😊
__ADS_1