
Devan berhasil mendapatkan rekaman cctv di depan sekolah Alesha. Ternyata memang benar Ayahnya pelakunya. Bahkan tendangan itu terlihat sangat keras hingga Alesha jatuh terduduk.
Devan segera melapor kasus itu pada polisi, lalu dia menggrebek Yudi dan komplotannya bersama polisi.
Saat Yudi akan kabur, Devan menahannya lalu memukul perutnya dengan keras.
"Kenapa kamu tangkap aku?"
"Bapak gak tahu apa yang bapak lakukan barusan! Bapak sudah membunuh calon cucu Bapak sendiri." Devan mengunci tubuh Yudi. Emosinya sudah meluap. Dia memukuli Yudi beberapa kali sampai Yudi tak bisa bergerak.
"Maksud kamu apa!"
"Perempuan yang Bapak tendang perutnya di depan sekolah itu istri aku. Dan dia sedang hamil. Bapak pembunuh!" Devan terus memukuli Yudi. Rasa sakit hatinya tidak seberapa dengan apa yang dilakukannya sekarang.
"Sudah, biar kami yang mengurusnya di kantor polisi." Salah seorang polisi melerai mereka lalu memborgol kedua tangan Yudi.
"Aku akan tuntut Bapak agar dapat hukuman yang seberat-beratnya." Devan membuang napas kasar lalu dia masuk ke dalam mobilnya. Dia melihat punggung tangannya yang terasa sakit karena telah memukuli Ayahnya berulang kali.
Kemudian dia melajukan mobilnya dengan kencang pulang ke rumah untuk menemui ibunya. Dia butuh Ibu di saat hatinya hancur seperti ini.
Beberapa saat kemudian dia sampai di rumahnya. Dia segera turun dan masuk ke dalam rumah. Dia menghampiri ibunya yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Devan, sudah pulang nak?"
Seketika Devan berlutut dan menangis di pangkuan ibunya. Dia sudah tidak bisa menahan kesedihannya.
"Kamu kenapa, nak?" Bu Rahma menyugar rambut putranya.
"Alesha keguguran dan dia hampir kehilangan rahimnya."
"Astaghfirullah. Kenapa bisa seperti itu."
Devan terdiam beberapa saat. Hanya isak tangis yang terdengar.
"Alesha jatuh?" tanya Bu Rahma lagi.
"Bapak yang melakukan semua ini," jawab Devan pada akhirnya dengan suara seraknya.
"Astaghfirullah..." Bu Rahma hanya bisa beristighfar. Dia tidak menyangka Yudi masih saja melakukan kejahatan.
"Bapak mencopet hp Alesha lalu menendang perutnya. Dari rekaman cctv saja tendangan itu sangat keras. Bagaimana dengan Alesha yang merasakannya. Bahkan calon anak aku langsung hancur." Devan benar-benar seperti tidak punya hati. Dadanya sangat sesak.
__ADS_1
Bu Rahma juga ikut menangis mendengar cerita Devan. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan Devan. Saat Devan memberitahunya bahwa Alesha sedang mengandung, Devan sangat bahagia. Tapi kebahagiaan itu seketika hancur oleh Ayahnya sendiri.
Devan kini mendongak menatap ibunya. "Aku merasa tidak pantas menjadi suami Alesha. Aku juga merasa tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Pak Aslan. Andai bukan Bapak yang melakukan ini, mungkin aku gak sehancur ini, tapi Bapak yang melakukan ini pada Alesha."
"Iya, Ibu mengerti perasaan kamu." Bu Rahma menangkup kedua pipi Devan. "Apa Alesha dan keluarganya tahu latar belakang keluarga kita?"
Devan menggelengkan kepalanya. "Aku gak pernah cerita masalah Bapak."
"Kamu jujur sama mereka. Kamu harus bisa menerima apapun keputusan mereka." Bu Rahma berusaha meyakinkan putranya yang sepertinya ragu untuk mengambil keputusan.
"Kamu sekarang kembali ke rumah sakit. Alesha pasti butuh kamu. Atau biar Ibu saja yang bilang pada Alesha dan orang tuanya?"
Devan menggelengkan kepalanya. "Ibu istirahat dulu di rumah. Besok pagi saja Ibu ke rumah sakit jenguk Alesha. Maaf, aku sudah buat Ibu sedih. Aku sebenarnya gak mau cerita masalah ini pada Ibu."
"Ibu justru akan sedih kalau kamu menyembunyikan masalah ini. Ayah kamu sudah ditangkap?"
Devan menganggukkan kepalanya.
"Biarkan dia mendapat hukuman yang setimpal. Ibu juga tahu kalau dia yang menghajar Dirga. Andai Ibu bisa, Ibu sendiri yang ingin menghukum dia." Bu Rahma merapikan rambut Devan. "Sekarang kamu kembali ke rumah sakit. Alesha pasti cariin kamu."
Devan menganggukkan kepalanya. Dia kini berdiri dan keluar dari kamar ibunya.
"Ma, Kak Devan dimana?" tanya Alesha setelah dia sadar. Dia kini berada di ruang rawat bersama kedua orang tuanya tapi dia tidak melihat Devan sama sekali.
"Devan lagi ada kepentingan diluar. Kamu istirahat dulu, nanti kalau Devan sudah datang biar Devan menemani kamu." Fara sebenarnya ingin bertanya tentang kronologi kejadiannya tapi pasti putrinya masih sangat shock bahkan kini Alesha mengalihkan pandangannya dan memejamkan matanya lagi.
Dia hanya bisa mengusap rambut putrinya agar kembali terlelap. Kedua matanya kini melirik suaminya yang sedang menatap layar ponsel dengan serius. Pasti anak buahnya sudah berhasil menangkap pencopet itu.
Kemudian Aslan memberi kode pada Fara agar dia mengikutinya keluar.
"Ada apa, Mas?" tanya Fara saat sudah berada diluar ruangan Fara.
"Devan sudah menangkap pelakunya."
"Lalu?"
"Pelakunya adalah Ayah Devan sendiri."
Fara melebarkan matanya terkejut. "Ayah Devan? Aku kira Ayahnya Devan sudah meninggal."
Aslan menggelengkan kepalanya. "Ayahnya Devan masih hidup. Dia seorang penjahat. Sering mencopet dan merampas paksa. Catatan kriminalnya sudah banyak." Aslan kini duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
"Astaga, ada seorang Ayah yang tega seperti ini." Fara kini duduk di samping suaminya. "Devan pasti merasa sangat bersalah."
"Iya, itu pasti. Aku tidak mempersalahkan asal usul Devan tapi penjahat tetap harus dihukum."
Beberapa saat kemudian, Devan datang. Dia menghentikan langkahnya di dekat kedua mertuanya.
"Maaf, saya..." Devan menundukkan pandangannya.
"Saya sudah tahu semuanya. Jangan pernah sembunyikan apapun dari kita," kata Aslan sambil menatap Devan.
Devan hanya menganggukkan kepalanya.
"Kami tidak mempermasalahkan asal usul keluarga kamu tapi yang jelas pelaku harus tetap dihukum."
"Iya, saya mengerti. Saya juga sudah menuntut dengan pasal berlapis."
"Ya sudah, kamu sekarang temui Alesha. Dia dari tadi cariin kamu."
Devan menganggukkan kepalanya lalu dia masuk ke dalam ruangan Alesha. Lagi-lagi hatinya hancur melihat kondisi Alesha saat ini. Perlahan dia duduk di dekat brankar Alesha. Dia menggenggam tangan Alesha lalu menciumnya.
"Maafin aku, Dek." gumamnya. Air mata itu kembali lolos dari kedua matanya.
"Kak," panggil Alesha sangat pelan. "Kak Devan darimana?"
"Aku..."
"Kak, kenapa nangis? Jangan buat aku makin sedih."
Satu tangan Devan mengusap rambut Alesha. Dia tahu Alesha juga sangat sedih. "Aku mau bilang satu hal sama kamu. Aku harus jujur, aku gak mau menutupi ini dari kamu."
"Apa?"
"Pencopet itu adalah Ayah aku."
Alesha hanya terdiam dan menatap Devan.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1