
"Ga, lo beneran mau kuliah di luar negeri?" tanya Kiara. Setelah selesai belajar bersama mereka memutuskan untuk makan di sebuah cafe.
Dirga menganggukkan kepalanya. "Iya, kalau lolos tes gue akan kuliah di sana. Lo gak coba juga?"
Kiara menggelengkan kepalanya. "Gue gak bisa. Gue..." Kiara menghentikan perkataannya. "Ya, orang tua gue mau gue jadi guru atau dosen saja. Gue juga anak perempuan satu-satunya jadi gak boleh kuliah jauh-jauh."
"Ya gak papa. Bagus, nanti lo bisa mendidik anak bangsa."
Kiara masih saja menatap Dirga yang kini sedang menghabiskan minumannya. "Apa nanti lo akan lupain gue?"
Seketika Dirga menatap Kiara. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Gue akan selalu ingat lo." Satu tangannya kini menggenggam tangan Kiara. "Gue minta maaf sama lo. Gue banyak salah sama lo. Harusnya gue gak mempermainkan hati lo."
Kiara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Gak papa. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Gue aja sampai sekarang belum baikan sama Alesha. Gue gak berani bicara sama dia."
"Lo bicara saja sama Alesha. Gak papa. Seandainya dulu gue gak sama lo, mungkin Alesha belum bertemu sama Kak Devan. Ini memang sudah menjadi jalan takdir yang mempertemukan Kak Devan dan Alesha. Kak Devan sekarang sudah bahagia, gue juga ikut bahagia."
Kiara semakin mengeratkan genggaman tangan Dirga. "Ga, sebenarnya gue masih cinta sama lo."
Dirga tersenyum sambil menatap Kiara. "Suatu saat nanti, ketika gue sudah lulus dan sukses, gue akan temuin lo. Jika kita masih sama-sama sendiri, gue akan nikahi lo."
Senyum Kiara semakin mengembang. Benarkah kisah cintanya akan semanis di dunia novel. "Gue boleh nungguin lo?"
Dirga menggelengkan kepalanya. "Jangan! Lo jalani saja hidup lo apa adanya. Jangan tutup hati lo untuk cowok lain karena banyak cowok yang lebih baik dari gue."
Kiara hanya menatap Dirga dengan binar matanya. Dirga benar-benar sudah berubah. Entah bagaimana kisah mereka nantinya, Kiara masih sangat berharap dia bisa bersama Dirga lagi.
...***...
Alesha dan teman-temannya tertawa bahagia saat mereka dinyatakan lulus. Tak sia-sia perjuangan Alesha selama dua bulan belajar dengan sungguh-sungguh dan tentu saja dengan bantuan Devan. Dia bisa masuk lima besar dalam satu sekolah.
"Rena, Caca, akhirnya kita lulus."
"Selamat ya, lo masuk lima besar." Mereka bertiga saling berpelukan merayakan euforia kelulusan mereka.
"Next, kita masuk kampus yang sama ya."
"Iya, pastinya." Kemudian mereka bergabung dengan teman yang lainnya merayakan kelulusan mereka.
Seragam Ari dan Reza sudah berwarna-warni. Mereka berdua kini berlari mendekati ketiga sahabatnya itu. "Woy, seragam kalian masih putih aja." Reza menyemprot pilox di sekitaran dada Rena.
"Reza! Lo kalau kasih pilox tuh yang bener. Tangan gak usah nempel-nempel." Rena mendorong Reza cukup keras.
"Apaan sih. Nyentuh aja nggak! Dasar!"
__ADS_1
"Ciee, duo R berantem lagi. Ihir, pasti beberapa tahun lagi jodoh." Caca mengambil stabilo dan menandatangani seragam Alesha lengkap dengan pesan dan kesannya.
"Jadi istri yang baik. Ciee..."
Mereka tertawa dan saling memberi pilox serta tulisan stabilo.
"Eh, Sha, lo di jemput tuh."
Alesha membalikkan badannya dan menatap seseorang yang sedang berdiri di depan ruang guru. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya.
"Eh, gue duluan ya," kata Alesha.
"Lo gak ikut kita makan-makan dulu."
Alesha menggelengkan kepalanya. Dia kini memakai tasnya. "Kak Devan udah janjiin gue kado jadi gue mau cepat-cepat tahu kadonya apaan."
"Njir, pasti juga di kamar hadiahnya."
Alesha sudah tak peduli dengan teman-temannya. Dia kini menghampiri Devan sambil tersenyum.
"Gimana hasilnya?" tanya Devan sambil membungkukkan badannya menatap Alesha.
"Bagus, aku masuk lima besar. Makasih guru pribadi aku."
"Sama-sama, kamu mau lanjut ngerayain sama teman-teman kamu atau pulang?" tanya Devan. Dia sangat mengerti jika seumuran Alesha pasti masih senang berkumpul dengan teman sebayanya.
"Kalau gitu kita pulang sekarang." Mereka berdua membalikkan badan dan berjalan menuju tempat parkir. Dada Alesha sudah berdebar tak karuan, benarkah hadiahnya di ranjang seperti yang temannya katakan.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, Devan segera melajukan mobilnya menuju rumah Alesha.
"Kak, aku penasaran apa kado dari Kak Devan?" Alesha masih saja penasaran. Dia kini mendekat dan menempelkan pipinya di bahu Devan.
"Sudah siap belum?" tanya Devan sambil tersenyum penuh arti.
"Jangan bilang kalau kadonya..."
"Lebih dari itu." Devan mengecup singkat kening Alesha lalu kembali fokus pada jalanan sore hari itu.
Beberapa saat kemudian, Devan menghentikan mobilnya di depan rumah Alesha. Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Tak disangka kedua orang tua Alesha memberi kejutan pada Alesha.
"Selamat atas kelulusannya sayang." Fara langsung memeluk putrinya dan mencium kedua pipinya.
"Makasih, Mama."
__ADS_1
"Selamat ya." Aslan juga memeluk putrinya sesaat lalu mengusap puncak kepalanya. "Sejak menikah sama Devan kamu sekarang lebih penurut. Kamu mau apa dari Ayah?"
Alesha menggelengkan kepalanya. "Gak mau apa-apa. Ini semua juga berkat do'a Mama dan Ayah."
"Ayah, Lesha udah dapat kado spesial dari Devan." kata Fara.
"Oiya, lupa. Semoga senang dengan kadonya ya," kata Aslan.
"Kak Devan apa kadonya?" Alesha semakin penasaran karena Devan belum juga memberinya kado.
"Nanti malam," bisik Devan sambil berlalu ke kamarnya.
"Ciee, nanti malam." Fara masih saja menggoda putrinya.
"Ih, apaan sih, Ma." Pipi Alesha semakin bersemu merah. Kira-kira apa yang akan diberikan Devan padanya?
"Sekarang kamu mandi dulu, bau acem. Lalu makan bersama. Mama sudah masak spesial hari ini soalnya Ibunya Devan dan Dirga mau ke sini juga. Kita rayakan sama-sama," suruh Fara.
"Iya, Mama."
Alesha kini masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Devan yang tengah melepas kemejanya. "Dek, kamu mau mandi dulu?"
Alesha justru memeluk Devan dan menghirup dadanya. "Kak Devan apa kadonya?"
"Astaga, tanya lagi? Beneran nih penasaran?"
"Iya. Jangan nunggu malam, sekarang aja."
Devan membungkukkan dirinya lalu mencium bibir Alesha dengan lembut. "Mau tahu sekarang?"
Alesha menganggukkan kepalanya.
Tapi Devan justru memeluk Alesha dari belakang dan menyusuri leher Alesha dengan bibirnya.
"Ah, Kak, maksudnya ini kadonya?"
"Bukan, lebih spesial dari ini." Devan menuntun Alesha lalu memangkunya di tepi ranjang. Satu tangannya meraih sebuah kotak berpita di dalam nakas.
Alesha sudah tidak sabar membuka kotak itu. "Ini apa?"
.
💕💕💕
__ADS_1
.
Apa nih? ðŸ¤