
"Cantik." Devan mencium singkat pipi Alesha yang sedang duduk di depan cermin.
"Kak Devan memang kita mau kemana?" tanya Alesha. Dia kini berdiri dan melihat gaun berwarna merah pemberian dari Devan itu di depan cermin. "Ih, gaunnya bagus banget. Makasih."
"Makasih aja nih," goda Devan.
Alesha kini menatap Devan dan mencium pipinya. "Makasih."
"Cuma di pipi?"
"Ih, Kak Devan."
Devan tertawa lalu menggandeng tangan Alesha. "Bercanda. Kita dinner romantis dulu ya."
"Dinner? Baru kali ini aku diajak dinner." Alesha semakin menggandeng lengan Devan dengan mesra. Kemudian mereka keluar dari resort lalu menaiki tangga yang berhiaskan bunga dan lampu itu sampai di atap resort.
Kedua mata Alesha membulat melihat keromantisan tempat itu. Ada meja persegi dan sepasang kursi yang saling berhadapan. Makanan yang tertata cantik dan ada lilin merah di tengahnya. Di sekitar meja itu ada bunga yang bertaburan dan membentuk hati disertai lampu-lampu kecil yang berbentuk lilin.
Mereka berdua berjalan mendekat lalu duduk di kursi. Alesha masih saja takjub dengan pemandangan itu. "Romantis banget."
"Suka?" Satu tangan Devan mengusap tangan Alesha.
"Suka banget. Makasih."
"Sama-sama. Ya, setidaknya kita pernah honeymoon dan dinner romantis seperti ini sebelum kembali ke kesibukan kita nanti."
Alesha masih saja tersenyum menatap Devan. Rasanya dia benar-benar bahagia.
"Kita makan dulu sambil menikmati momen ini."
__ADS_1
Alesha menganggukkan kepalanya. Dia minum terlebih dahulu untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Kemudian dia mengambil garpu dan pisau lalu mulai mengiris beef steak itu dan memakannya.
Mereka menikmati makan malam sambil mengobrol kecil kadang juga terdengar tawa renyah mereka. Mereka tidak ingin momen seperti ini berlalu dengan cepat.
"Sudah kenyang belum? Kalau belum bisa nambah."
Alesha hanya tertawa. Memang menu yang tersaji berukuran kecil dan hanya mengutamakan penampilan. "Nanti malam aja kalau masih lapar kita pesan yang lain jangan menu ini."
"Menu apa? Sosis pakai telor?"
Alesha semakin tertawa lepas. "Kak Devan, ih. Bisa juga bercanda kayak gitu. Bener-bener mesum."
"Sejak sama kamu, aku jadi bebas mengekspresikan diri aku. Aku jadi terasa lebih muda. Selama ini aku hanya dekat dengan pasien dan teman satu profesi yang rata-rata serius dan jarang bercanda."
"Tapi wajah Kak Devan masih terlihat muda. Kalau jalan sama Kak Devan kita kayak seumuran padahal beda 11 tahun. Jangan-jangan aku yang terlihat tua."
"Ya nggak. Aku suka kayak gini. Kayak oppa." Alesha mencubit pipi Devan. Lalu dia melihat pemandangan di tempat itu. "Indah banget ya di sini. Rasanya masih pengen lama-lama di sini."
"Iya, nanti kalau ada waktu lagi kita ke sini. Maaf ya, aku gak bisa lama-lama. Tiga hari ini saja aku meminta Dokter Arvin untuk handle klinik."
"Iya, gak papa. Aku ngerti. Ini sudah lebih dari cukup."
"Mau di sini dulu atau ke kamar?" tanya Devan.
Alesha hanya tersenyum. Dia berdiri lalu menikmati pemandangan indah itu di dekat pagar pambatas. "Sebentar lagi. Aku masih mau menikmati pemandangan ini."
"Gak papa." Devan kini berdiri di belakang Alesha lalu memeluknya dari belakang. "Makasih sudah membuat hidup aku berwarna."
"Aku yang harusnya makasih sama Kak Devan. Hidup aku sekarang gak cuma berwarna tapi juga sangat bahagia. Sekarang aku sudah mempunyai sandaran hidup aku yang selalu setia mendengarkan keluh kesah aku."
__ADS_1
Devan semakin mendekatkan wajahnya di leher Alesha. "Perjalanan kita masih panjang. Semoga ke depannya tidak akan ada salah paham yang menyebabkan kita bertengkar hebat. Sebisa mungkin jika ada masalah dalam rumah tangga kita, kita harus selesaikan secara baik-baik."
Alesha menganggukkan kepalanya. Dia kini menoleh Devan. "I love you, Kak Devan."
Devan tersenyum kecil karena baru kali ini Alesha mengucapkan kata cinta terlebih dulu padanya.
"I love you too." Satu tangan Devan menahan pipi Alesha lalu dia mencium bibir Alesha dengan lembut. Semilir angin malam membuat gairah yang meredup itu kembali berkobar.
"Dek, kita ke kamar ya."
Alesha menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka berjalan sambil bergandengan tangan dengan mesra kembali ke resort.
Setelah masuk ke dalam kamar, Devan kembali mencumbu bibir Alesha. Ciumannya sudah tidak selembut tadi. Mereka saling berbalas pagutan dengan liar.
Kedua tangan Alesha melepas blazer Devan lalu melepas satu per satu kancing kemejanya.
Tangan Devan juga sudah membuka resleting yang berada di belakang gaun Alesha. Gaun itu kini sudah terjatuh di lantai. Devan semakin mendorong tubuh Alesha hingga mereka berdua jatuh di tengah ranjang.
Sentuhan dan kecupan Devan sudah membuat Alesha melayang lagi. Tentu saja, mereka akan benar-benar menikmati momen bulan madu kali ini.
.
💕💕💕
.
😒😒😒
Aku ngiri...
__ADS_1