
Devan kini menghentikan mobilnya di depan gang rumah Ayahnya. Dia turun dari mobil dan berjalan jenjang masuk ke dalam gang itu. Lalu dia berhenti di sebuah rumah yang tertutup rapat. Dia gedor rumah itu dengan keras. Saat pemilik rumah membuka pintu itu, saat itu juga Devan melayangkan pukulan kerasnya di wajah Yudi.
"Apa-apaan kamu! Datang-datang main pukul!" Yudi mundur dua langkah dan menghindari pukulan Devan yang kedua.
Devan semakin mengepalkan tangannya dan bersiap memukul lagi. "Bapak tega pukul anak sendiri! Meskipun bapak gak anggap kita anak tapi jangan pernah melukai Dirga!" Devan mencengkeram kaos Yudi dan memukulnya lagi. "Sekali lagi bapak mengganggu keluarga aku, aku akan laporkan bapak ke polisi."
Yudi melepas cengkeraman Devan. Dia mendorong Devan dengan kuat hingga Devan mundur beberapa langkah. Lalu dia pukul wajah Devan. "Dasar anak durhaka! Mentang-mentang kamu sukes, kamu tidak ingat sama sekali dengan bapak."
Devan kembali mengepalkan tangannya dan memukul perut Yudi dengan keras. "Durhaka? Bapak sudah berkorban apa sama aku? Bahkan untuk menyebut bapak sebagai seorang Ayah saja tidak pantas!" Devan akan melayangkan pukulannya lagi di wajah Yudi tapi terhenti. Dia menendang pintu rumah itu dengan keras lalu berjalan kembali ke mobilnya.
"Sekali lagi berbuat ulah, aku pastikan dia akan masuk ke dalam penjara dengan tangan aku sendiri."
Lalu Devan masuk ke dalam mobilnya dan beberapa saat kemudian mobil itu melaju kembali ke kliniknya. Luka di pipinya tidak seberapa dengan sakit di hatinya. Andai dia bisa memilih, dia tidak ingin memiliki Ayah seperti dia.
Beberapa saat kemudian Devan menghentikan mobilnya di depan kliniknya. Dia turun dari mobil dan masuk ke dalam klinik. Dia masuk ke dalam ruang rawatnya dan melihat kondisi Dirga.
"Syukurlah makanan kamu sudah habis. Sekarang kamu istirahat, nanti aku antar pulang ke rumah," kata Devan. Lalu dia cek selang infus Dirga. "Nanti setelah cairan infus ini habis aku lepas."
"Kak Devan habis berantem sama Ayah?" tanya Dirga. Dia bisa melihat luka memar membiru di dekat bibir Devan.
"Mulai sekarang jangan bahas dia lagi, dan lebih baik kamu menghindar kalau bertemu dia."
"Tapi kalau aku pulang ke rumah, bagaimana dengan Kak Devan dan Alesha?" tanya Dirga. Dia sudah tidak mau ada lagi kesalah pahaman di antara mereka.
"Untuk sementara aku akan pulang ke rumah Alesha. Nanti kamu jagain Ibu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku."
Dirga menganggukkan kepalanya.
Kemudian Devan keluar dari ruang rawat Dirga lalu masuk ke dalam ruang pemeriksaannya karena sudah ada beberapa pasien yang datang.
...***...
Sepulang sekolah, Alesha menunggu Devan di dekat gerbang. Tidak biasanya Devan terlambat menjemputnya bahkan sekolah sudah mulai sepi.
Alesha kini tersenyum saat melihat mobil yang dinantikannya telah melaju ke arahnya. Lalu dia menghampiri mobil Devan yang telah berhenti. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Devan.
"Maaf ya lama, aku antar Dirga pulang dulu." kata Devan sambil memasangkan sit bealt di tubuh Alesha.
__ADS_1
"Gimana keadaan Dirga sekarang?" tanya Alesha.
"Sudah baikan."
"Ini kenapa?" tanya Alesha sambil mengusap pelan luka memar di dekat bibir Devan.
"Nggak papa."
"Kak Devan berantem sama siapa?" tanya Alesha lagi.
Devan terdiam beberapa saat. Dia masih belum bisa bercerita tentang Ayahnya pada Alesha. "Sama pencopet yang ambil hp Dirga. Dia bukan cuma ambil hp tapi juga menghajar Dirga."
"Kok Kak Devan bisa tahu pencopet itu?" tanya Alesha.
"Iya kebetulan dia memang buronan. Ya sudah jangan terlalu memikirkan ini, biar maasalah ini jadi urusan aku. Hmm, tapi aku mau bilang sesuatu sama kamu." Devan semakin menatap Alesha.
"Apa?" tanya Alesha sambil menatap Devan dengan binar matanya.
"Untuk sementara kita pulang ke rumah kamu karena Dirga aku suruh tinggal di rumah lagi. Biar Dirga yang menjaga Ibu. Aku juga menyuruh suster yang merawat Ibu untuk menginap di rumah. Jadi aku bisa tetap menemani kamu di rumah kamu. Nanti sambil aku cari rumah yang pas buat kita. Aku gak mau ada kesalah pahaman lagi di antara kita. Agar kamu merasa nyaman juga dengan tinggal di rumah Mama."
Alesha menganggukkan kepalanya. "Iya tidak apa-apa yang penting aku sama Kak Devan terus."
Alesha menganggukkan kepalanya. Kemudian mobil Devan mulai melaju menuju rumah Alesha.
Sepanjang perjalanan Alesha terus menguap. Matanya sudah sangat berat untuk terbuka.
"Dek, kalau mengantuk tidur saja."
"Iya, sebentar lagi sampai rumah. Aku mau langsung tidur ya. Ngantuk banget."
"Iya." Kemudian Devan menghentikan mobilnya di depan rumah Alesha. Dia melepas sit bealt Alesha sambil berbisik di telinganya. "Nanti malam lagi ya."
"Ih," Alesha tersenyum malu sambil mencubit kecil lengan Devan.
Devan mencium singkat pipi Alesha lalu dia turun dari mobil. Mereka berdua masuk ke dalam rumah Alesha yang langsung disambut oleh Mama Fara.
"Lesha, Devan, baru pulang langsung ke sini?"
__ADS_1
Devan dan Alesha mencium tangan Mama Fara lalu menjawab pertanyaannya. "Iya Ma. Lesha mau tinggal di sini sama Kak Devan untuk sementara waktu."
"Iya gak papa. Tapi lagi gak ada masalah kan?"
"Ya, sebenarnya Dirga pulang ke rumah lagi. Saya tidak mau kejadian dulu terulang lagi. Saya ingin Alesha nyaman tinggal di sini."
"Lalu Ibu kamu?" tanya Mama Fara karena dia tahu sendiri bagaimana kondisi ibunya Devan.
"Saya menyuruh suster untuk merawat Ibu dan ada Dirga juga."
"Ya sudah. Mama justru senang kalian tinggal di rumah ini. Biar rumah ini ramai. Mama kesepian sekali sejak Alesha keluar dari rumah karena biasanya Alesha ini cerewet banget dan sering ngajak Mama bertengkar."
"Iya, Ma. Udah ya ngobrolnya. Lesha ngantuk, mau tidur dulu." kata Alesha lalu dia menguap panjang dan berjalan menuju kamarnya.
"Kamu gak makan dulu?"
"Lesha tadi udah makan bekal."
Kemudian Devan mengikuti Alesha masuk ke dalam kamarnya.
Alesha melepas sepatunya dengan malas lalu dia hempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Devan menggelengkan kepalanya lalu dia mengunci pintu kamar Alesha. "Dek, ganti baju dulu kalau mau tidur."
"Hem, ngantuk.".
Kemudian Devan membuka lemari Alesha. Dia mengambil baju Alesha yang memang masih tertinggal di rumahnya. "Dek, ganti baju dulu." Devan menarik tangan Alesha agar duduk lalu dia melepas kemeja Alesha dan memakaikan kaos oblong Alesha.
"Udah Kak, nanti aja roknya. Aku ngantuk." Alesha kembali merebahkan dirinya.
Devan hanya tersenyum menatap Alesha yang kini telah tertidur dengan nyenyak.
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya... Maaf slow update..