
Setelah dari ruang IGD, Devan dan Dirga berjalan menuju ruangan Ibunya.
"Van, tangan kamu kenapa?" tanya Bu Rahma yang melihat tangan putranya dibalut perban dan digendong.
"Tadi jatuh. Tidak apa-apa. Hanya terkilir biasa. Besok juga sudah sembuh."
Dirga kini berjalan mendekat dan duduk di dekat brankar Ibunya. "Bu, maaf aku baru datang ke sini."
"Iya, tidak apa-apa."
"Bu, aku mau jujur. Aku sudah berbuat salah sama Lesha. Biarkan aku tinggal di tempat kos sendiri ya, Bu. Aku gak mau merusak hubungan Kak Devan dan Lesha lagi," kata Dirga.
"Kamu ada hubungan khusus sama Lesha?" tanya Bu Rahma.
"Lesha mantan aku dan saat Lesha menikah dengan Kak Devan aku gak rela. Aku ingin memiliki Lesha lagi dengan cara salah. Aku menyesal, Bu. Jadi biarkan aku tinggal di tempat kos saja agar Lesha bisa pulang ke rumah sama Kak Devan."
Bu Rahma menarik Dirga dan memeluknya. "Ibu hargai kejujuran kamu tapi kamu jangan pernah mengulangi kesalahan kamu ini dan satu lagi kamu harus minta maaf sama, Lesha."
Dirga menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu kos, bagaimana dengan kebutuhan kamu?"
Dirga melepaskan pelukannya. "Aku sudah mendapatkan kerja paruh waktu. Mulai besok aku sudah mulai bekerja. Dulu Kak Devan bisa mencari uang sambil sekolah jadi aku akan mencobanya agar aku bisa lebih menghargai Kak Devan yang selalu berjuang demi aku."
Bu Rahma tersenyum dan mengusap rambut Dirga. "Kamu laki-laki, Ibu tidak akan menghalangi kamu mencari pengalaman hidup. Tapi ingat, kamu tidak boleh terpengaruh dengan pergaulan bebas diluar sana."
Dirga menganggukkan kepalanya.
"Dirga tetap dalam pengawasan aku, Bu. Ibu tenang saja," sahut Dirga.
"Ya sudah, semoga ini yang terbaik buat semuanya."
Beberapa saat kemudian Devan melihat Alesha menghentikan langkahnya di ambang pintu. Dia terlihat ketakutan menatap Dirga.
"Dek, masuk sini gak papa." Devan menyusul Alesha dan menggandeng tangannya masuk ke dalam ruang rawat Ibunya.
Alesha semakin memegang erat tangan Devan saat dia berada di dekat Dirga. Dia masih sangat trauma dengan apa yang dilakukan Dirga.
__ADS_1
"Sha, aku mau minta maaf soal semalam," kata Dirga.
Alesha hanya terdiam. Dia masih belum bisa memaafkan Dirga.
"Iya, gak papa kalau kamu gak bisa memaafkan aku. Tapi kamu pulang ke rumah ya, aku akan kos sendiri," kata Dirga kemudian dia keluar dari ruang rawat Ibunya setelah menyerahkan kunci mobil pada Devan.
Alesha masih saja terdiam.
Kemudian Bu Rahma meraih tangan Alesha agar mendekat. "Lesha, maafkan Dirga ya. Dirga sudah menyesali perbuatannya. Nanti kamu pulang ke rumah ya."
"Ibu sudah tahu semua? Ibu gak papa kan? Aku takut Ibu khawatir karena masalah ini."
Bu Rahma menggelengkan kepalanya. "Ibu tidak apa-apa. Justru Ibu khawatir sama kamu. Ibu takut kamu akan meninggalkan Devan karena Ibu yakin kamulah kebahagiaan Devan."
Seketika Alesha memeluk Bu Rahma. "Ibu, cepat sembuh ya."
"Iya, besok Ibu sudah boleh pulang. Sebentar lagi Mbak Ita ke sini kalian pulang saja, Lesha tolong rawat Devan di rumah ya, agar lukanya cepat sembuh."
"Tapi aku mau jaga Ibu di sini," kata Devan.
"Ya sudah, sebentar lagi kita pulang ya, Dek."
Alesha menganggukkan kepalanya. "Iya Kak. Kebetulan aku sama Pak Anton."
"Tapi mobil aku?"
"Ya udah, aku aja yang nyetir," kata Alesha.
"Hah?" Devan terkejut mendengar kalimat Alesha. "Kamu bisa nyetir?"
"Bisa dong. Ayah tidak membedakan gender. Kalau anak cowok Ayah di umur 17 tahun bisa nyetir mobil, aku juga harus bisa."
"Aman gak nih? Kok aku jadi takut."
"Ih, gak percayaan."
Setelah Bi Ita datang, mereka berdua berpamitan pada Bu Rahma. Mereka kini berjalan beriringan di koridor rumah sakit.
__ADS_1
"Mau hubungi Mama dulu biar gak khawatir. Pak Anton juga sudah aku suruh pulang," kata Alesha sambil mengirim pesan pada Mamanya. Kemudian dia memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu menggandeng tangan kiri Devan. "Kak, beneran Dirga kos sendiri?"
Devan menganggukkan kepalanya. "Tadi sudah aku kasih uang untuk bayar kos. Ini kemauan dia sendiri. Ya mungkin seperti ini jauh lebih baik. Tapi aku juga tetap akan mengawasi Dirga."
Alesha menganggukkan kepalanya. "Kak Devan kenapa bisa jatuh?"
"Tadi waktu cari Dirga ada yang gak sengaja nabrak aku." Devan masih belum bisa bercerita yang sebenarnya tentang masalah Ayahnya pada Alesha.
"Terus orangnya tanggung jawab?"
"Iya, udah tadi. Aku gak papa kok." Setelah sampai di tempat parkir, mereka masuk ke dalam mobil. Alesha kini duduk di kursi pengemudi.
"Aku kok deg-deg an gini," kata Devan.
Alesha membantu Devan memasang sit bealt nya. "Kak Devan tenang aja, dijamin aman."
"Beneran, Dek?"
"Iya." Alesha menghidupkan mesin mobil Devan dan beberapa saat kemudian mobil itu mulai melaju meninggalkan tempat parkir rumah sakit.
Beberapa kali Devan menghela napas panjang saat Alesha menambah laju mobilnya dan beberapa kali telah menyalip kendaraan besar.
"Dek, pelan aja. Besok-besok aku gak mau kamu nyetir mobil lagi."
Alesha tersenyum kecil. Dia mengurangi kecepatan laju mobilnya. Beberapa saat kemudian Alesha membelokkan mobilnya ke halaman rumah Devan.
"Alhamdulillah, sampai rumah dengan selamat," kata Devan sambil menghela napas panjang.
Alesha hanya tertawa. Kemudian dia melepas sit bealtnya lalu membantu Devan. Tiba-tiba Devan menahan lengan Alesha. Mereka saling bertatapan dan...
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1