
Tiba-tiba Devan menahan lengan Alesha. Mereka saling bertatapan lalu Devan mencium pipi Alesha.
Seketika Alesha memegang pipinya. Hatinya berdebar tak karuan. Kenapa cuma di pipi? Kok gak di bibir aja? Kan kita udah sah.
Kemudian Alesha membuka pintu mobil sambil menggigit bibir bawahnya. Kenapa juga aku mengharap lebih. Duh, dasar nih otak.
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah. "Kak Devan kita makan dulu ya. Ada masakan gak? Kalau gak ada aku order makanan ya."
Devan kini duduk di ruang makan. "Kamu lihat di kulkas. Nanti angetin aja."
Kemudian Alesha membuka kulkas. "Iya, ada masakan di sini. Aku mau goreng nuget juga ah." Kemudian Alesha mengeluarkan masakan dari kulkas dan menghangatkannya, dia juga menggoreng nuget.
Devan hanya tersenyum melihat Alesha sedang berkutat di dapur. Tidak menyangka Alesha yang dia kira manja ternyata bisa banyak hal.
"Kak, lain kali aku masak sendiri, boleh?" tanya Alesha.
"Iya, jelas boleh. Memang kamu bisa masak?" Devan berdiri dan mendekati Alesha.
"Bisa. Aku sering bantuin Mama masak." Alesha melirik Devan yang hanya berdiri di belakangnya. Ih, kenapa gak peluk dari belakang sih? Oiya, tangannya kan sakit.
Alesha tersenyum sendiri membayangkannya. Entahlah, mengapa otaknya sekarang berpikir yang tidak-tidak.
"Kenapa senyum?" Devan mencubit kecil pipi Alesha.
"Gak papa." Alesha mengambil piring dan dia letakkan di meja makan beserta lauk yang sudah dia hangatkan dan juga hasil gorengan nugetnya.
__ADS_1
"Aku suapin ya, paling enak makan sepiring berdua biar habisnya banyak."
Devan hanya melihat Alesha mengambil sepiring penuh nasi lalu lauk. Kamudian Alesha mulai menyuapinya.
"Kak Devan dulu, baru aku."
Devan menerima suapan dari Alesha. Yah, satu sendok bekas bibir berdua itu membuat cita rasa makanan jauh lebih enak.
Tak ada suara diantara mereka sampai satu piring nasi telah habis dan masih nambah satu piring lagi.
"Makanan paling enak yang pernah aku makan," kata Devan setelah satu piring makan telah tandas lagi.
"Ih, gombal Pak Dokter." Alesha membantu Devan minum, setelah itu baru dirinya. "Udah kenyang, aku mau tidur." Alesha berdiri dan mendahului Devan ke kamar karena dia mau berganti pakaian.
Devan masih duduk termenung memikirkan Alesha yang semakin menggemaskan. "Lesha sudah bisa menerima aku, harusnya aku udah bisa ngapa-ngapain sebagai seorang suami. Tapi Lesha bilang, dia belum siap. Nunggu waktu ajalah, Lesha juga masih sekolah," gumam Devan. Kemudian dia berdiri dan berjalan ke kamarnya.
"Sebenarnya tangan aku gak terlalu sakit tapi kata Dokter gak boleh banyak digerakin setidaknya selama 24 jam."
"Terus kalau menurut Dokter Devan?" Alesha mengambil piyama Devan lalu membantunya berpakaian.
"Ya, sama aja. Tapi gak papa aku gerakin dikit aja. Aku mau ganti celana dulu."
Seketika Alesha menghentikan gerakannya. Dia menatap Devan.
"Kenapa? Mau dibantuin juga?"
__ADS_1
Pipi Alesha memerah lalu dia kembali merangkak ke atas ranjang dan merebahkan dirinya memunggungi Devan. Dia peluk boneka beruangnya sambil memejamkan matanya.
Devan hanya tersenyum kecil, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Alesha menghela napas panjang. Duh, aku tuh penasaran banget tapi takut. Gimana sih rasanya ciuman? Atau skinship yang lainnya. Bukannya pasangan halal udah wajar ya skinship plus-plus. Apa Kak Devan takut ya? Atau memang introvert?
Alesha memejamkan kedua matanya dengan pikiran yang berkecamuk. Tak tahu jika Devan sudah keluar dari kamar mandi dan naik ke atas ranjang lalu memeluk Alesha dari belakang dengan satu tangannya.
Seketika Alesha terkejut dan membuka kedua matanya.
"Kirain udah tidur. Kenapa masih meluk boneka beruang, kan udah ketemu sama yang ngasih boneka."
"Eh, hmm, itu, anu..."
Devan menarik boneka beruang itu dan menyingkirkannya.
"Aku gak bis tidur kalau gak peluk beruang."
"Hadap sini, peluk aku pasti kamu bisa tidur."
Semalam dia memang sudah tidur memeluk Devan hanya bertahan satu jam kemudian dia mencari boneka beruangnya lagi. Tapi kali ini kenapa detak jantungnya semakin menjadi? Haruskah dia berbalik badan dan memeluk Devan?
.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...