Obat Cinta Pak Dokter

Obat Cinta Pak Dokter
BAB 49


__ADS_3

Setelah dua hari di Ubud, Devan mengajak Alesha untuk mampir dan menginap semalam di hotel yang berada di dekat Kuta.


Mereka kini berjalan di pinggir pantai saat matahari akan tenggelam dengan kedua tangan yang saling terpaut.


"Pernah ke sini?" tanya Devan.


Alesha menganggukkan kepalanya. "Sudah dua kali. Sama keluarga dan teman-teman waktu lulusan SMP. Kak Devan sendiri sudah pernah?"


"Cuma satu kali waktu kuliah. Itupun karena ikut penyuluhan. Jujur saja aku hampir gak pernah rekreasi. Kalau pun ada waktu luang, aku buat istirahat di kamar seharian. Itu adalah tempat paling nyaman."


Mereka berdua kini duduk di atas pasir sambil menatap matahari yang akan tenggelam. Satu tangan Devan masih setia merengkuh bahu Alesha.


"Iya, aku ngerti. Waktu Kak Devan hanya dihabiskan untuk belajar dan bekerja."


"Tapi mulai sekarang aku akan menyisihkan waktu aku untuk bersama kamu dan keluarga karena jenjang karir aku sudah aku raih. Kadang aku masih tidak menyangka dengan apa yang aku dapat sekarang, ternyata banyak orang baik yang tidak terikat darah denganku tapi selalu membantu aku."


Alesha kini menyandarkan kepalanya di bahu Devan. "Itu karena Kak Devan orang baik, makanya Kak Devan selalu diberi kemudahan."


Devan mengecup kening Alesha sesaat lalu satu tangannya menggenggam tangan Alesha. Mereka kini sama-sama menatap matahari yang perlahan mulai tenggelam. Cahaya jingga itu sangat indah yang dipadu dengan deburan ombak yang saling berkejaran.


"Aku cinta kamu." Devan semakin menatap Alesha.


"Aku juga cinta kamu." Alesha mendongak membalas tatapan Devan.


Tiba-tiba Devan mengecup singkat bibir Alesha. Mereka sama-sama tersenyum kecil


"Kembali ke hotel yuk!" ajak Devan.


"Kak Devan benar-benar memanfaatkan waktu tiga hari ini semaksimal mungkin ya."


"Iya dong. Masih bisa dua kali sebelum besok kembali ke rumah," goda Devan.


"Gimana kalau tiga kali?" Alesha semakin menggoda Devan dengan tatapannya.


"Ayo, siapa takut."

__ADS_1


"Ih, bercanda." Mereka kini berdiri dan berjalan pelan kembali ke hotel. "Kaki aku rasanya pegal gini ya."


"Iya, nanti aku pijitin, terus kamu istirahat saja." Satu tangan Devan mengusap rambut Alesha. "Hampir tiga hari ini memang aku terlalu over." Devan masih saja tertawa. Lalu dia semakin merengkuh pinggang Alesha. Rasanya dia benar-benar sangat mencintai Alesha bahkan semakin hari rasa cinta itu semakin besar untuk Alesha.


...***...


"Lesha!" teriak Mama Fara memanggil Alesha yang baru saja keluar dari bandara.


"Kak, Mama sama Ayah beneran jemput," bisik Alesha di telinga Devan. Mereka berdua sebenarnya malu karena pulang bulan madu justru dijemput oleh kedua orang tua. Pasti mereka akan menggoda Alesha dan Devan habis-habisan. Belum lagi tanda merah yang tidak bisa disembunyikan di leher Alesha.


"Mama, Ayah, kan Lesha udah bilang mau pakai taxi aja."


"Mama mau jemput kamu." Fara menggandeng lengan putrinya dan mengajaknya berjalan menuju mobil. "Gimana? Sukses? Pasti sampai beronde-ronde, tuh jalannya sampai beda."


"Mama, ih, tuh kan makanya Lesha bilang tadi gak usah jemput."


"Iya, iya, Mama bercanda. Tapi tanda merahnya keliatan banget." Fara mencubit leher Alesha.


"Mama!"


Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, Aslan segera melajukan mobilnya. Di jok belakang, Alesha bersandar di bahu Devan sambil menguap panjang beberapa kali.


"Kamu tidur saja kalau ngantuk." Satu tangan Devan semakin mendekap Alesha agar dia bisa tidur dengan nyaman.


"Mas, aku jadi pengen honeymoon," kata Fara yang beberapa kali melihat kemesraan putrinya lewat rear spion.


"Honeymoon? Nanti aja, tunggu Arya pulang biar ada yang handle pekerjaan."


"Mama ikut-ikut aja. Udah pengantin lama juga," kata Alesha.


"Meskipun pengantin lama tapi harus tetap harmonis. Iya kan, Mas?"


Aslan hanya tersenyum dengan pandangan yang fokus menatap jalanan.


Beberapa saat kemudian, ponsel Devan berbunyi. Devan segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu. "Iya, hallo... Ini sudah ada di jalan... Iya, saya ke klinik sekarang."

__ADS_1


Kemudian Devan mematikan ponselnya. "Ayah, saya turun di perempatan depan saja mau langsung ke klinik."


"Saya antar sampai klinik saja."


"Kak Devan gak istirahat dulu di rumah?" Alesha menegakkan dirinya dan menatap Devan.


Devan menggelengkan kepalanya. "Ada pasien di klinik. Sudah membuat janji sama aku. Harusnya nanti sore tapi kondisinya semakin menurun."


Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di depan klinik Devan.


"Kamu istirahat di rumah. Nanti kalau sudah selesai aku langsung pulang." Devan mencium kening Alesha sesaat lalu turun dari mobil.


"Aduh, manis banget." kata Fara. Dia ikut bahagia melihat putrinya diperlakukan sangat baik oleh Devan.


Setelah Devan masuk ke dalam klinik, mobil Aslan kembali melaju.


"Ayah, ikut bahagia melihat kamu bahagia. Semoga kamu dan Devan selalu harmonis dan diberikan kebahagiaan."


"Amin, Ayah."


"Mama juga senang. Kamu bawa oleh-oleh apa buat Mama?" tanya Fara sambil menengok putrinya.


"Banyak, Ma. Kemarin sempat ke toko oleh-oleh. Aku bawain juga buat teman-teman." Alesha semakin menyandarkan dirinya. Rasanya dia benar-benar lelah tapi sangat menyenangkan.


"Ya sudah, oleh-olehnya nanti saja setelah kamu istirahat. Kasihan anak Mama kejar target sampai kecapekan." Fara masih saja menggoda Alesha.


Alesha hanya tersenyum kecil. Dia kini menatap jalanan yang mereka lalui. Rasanya dia sudah tidak sabar merebahkan dirinya di ranjang tanpa ada yang mengganggu.


💕💕💕


.


🤭🤭


Btw, Alesha masih punya kakak ya.. Yang pernah baca kisah ortunya Alesha pasti tahu sama Arya Mahesa. Nanti aku buat kamar sendiri. Gak tahu kapan.. 😂😂 Bulan ini aku masih bersantai, butuh healing...

__ADS_1


__ADS_2