Obat Cinta Pak Dokter

Obat Cinta Pak Dokter
BAB 50


__ADS_3

Hari-haripun berlalu dengan cepat. Dirga kini sudah berangkat ke luar negri untuk menempuh pendidikannya. Sedangkan Alesha juga sudah mulai aktif dengan kuliahnya. Dia juga kembali tinggal di rumah Devan karena harus menemani Bu Rahma.


Hubungan Alesha dan Devan semakin hari juga semakin harmonis. Tapi ada satu hal yang masih membuat Alesha sedih, sampai hampir satu tahun setelah dia kehilangan calon buah hatinya, Alesha masih belum juga hamil. Bahkan dia sudah berkonsultasi dan melakukan program kehamilan tapi masih belum juga berhasil.


Siang itu Alesha duduk seorang diri di perpustakaan karena Caca dan Rena sedang ada kelas.


"Hai, sendirian aja." Irvan kini duduk di dekat Alesha. Dia mahasiswa fakultas kedokteran di kampus itu juga.


"Iya, Caca sama Rena lagi ada kelas."


"Oo, aku dengar kamu istri seorang Dokter ya? Aku baru tahu setelah hampir satu tahun kenal sama kamu. Aku kira kamu masih single."


Alesha hanya menganggukkan kepalanya. "Iya."


"Berarti kamu udah lama ya menikah."


"Iya, sejak SMA akhir," jawab Alesha lalu dia mengemasi buku-bukunya.


"Keren. Pendidikan dan percintaan jalan dua-duanya."


Alesha hanya menganggukkan kepalanya.


"Semoga kamu cepat dapat momongan."


"Iya, aku duluan ya." Alesha berdiri lalu berjalan keluar dari perpustakaan. Saat mendengar kata momongan rasanya dia sangat sedih. Dia sangat mengharapkan kehadirannya.


Alesha menghentikan langkahnya di taman kampus. Setetes air mata itu berhasil lolos di pipinya. Dia sangat takut jika dia tidak akan bisa menjadi wanita yang sempurna.


"Alesha, gue cariin di perpus ternyata lo di sini." Rena kini duduk di samping Alesha.

__ADS_1


Seketika Alesha menghapus air matanya. "Iya, tadi Irvan di perpus."


"Irvan ganggu lo, kok lo nangis?"


Alesha menggelengkan kepalanya. "Nggak kok."


"Lo kenapa?"


"Ya, gue takut aja kalau gue gak bisa kasih Kak Devan anak. Gue..." Alesha menghentikan perkataannya.


"Masih banyak waktu. Lo juga masih muda."


"Tapi Kak Devan udah umur 30 tahun pasti Kak Devan sudah sangat ingin punya anak."


Rena mengusap lengan Alesha agar tidak sedih lagi. "Nanti kalau sudah waktunya lo pasti juga akan mendapatkannya. Lo sabar aja. Terus berdo'a dan berjuang."


"Iya, tiap hari juga udah berjuang."


"Gue balik dulu ya. Hati dan raga gue hari ini rasanya capek banget."


"Ya udah, hati-hati ya."


Alesha kini berdiri dan berjalan menuju tempat parkir. Sejak kuliah dia memang sudah membawa sepeda motor sendiri agar dia tidak merepotkan Devan lagi.


Dia melajukan motornya pulang ke rumah. Jalanan siang hari itu tidak terlalu ramai hingga membuatnya cepat sampai di rumah. Setelah menghentikan motornya, dia segera turun dari motor dan melepas helmnya.


Rutinitas Alesha setelah pulang kuliah selalu menemani mertuanya dan saat hari telah sore, dia menunggu kedatangan Devan sambil menonton film favoritnya. Tapi hari itu sampai malam Devan belum juga pulang.


Alesha duduk di meja belajarnya sambil melihat chat dari Devan.

__ADS_1


"Yah, Kak Devan pulang malam, lagi banyak pasien di rumah sakit."


Akhirnya Alesha meletakkan ponselnya dan kembali membuka bukunya. Lama kelamaan kedua matanya semakin berat. Dia kini menyandarkan kepalanya di meja dan tertidur.


Hingga malam telah larut, Devan baru saja sampai di rumah. Dia masuk ke dalam kamarnya dan melihat Alesha yang tertidur sambil bersandar di meja.


"Dek, kok tidur di sini?" Devan meraih tubuh Alesha lalu memindahnya ke ranjang. Meskipun sudah sangat perlahan tapi Alesha tetap saja terbangun.


"Kak Devan sudah pulang?" Alesha mengucek matanya yang terasa sangat lengket.


"Iya, baru saja. Kamu tidur lagi aja."


"Temani. Kak Devan sudah mandi?"


"Sudah, tadi sekalian bersih-bersih karena hari ini ada korban kecelakaan beruntun makanya aku bantu di rumah sakit." Devan kini mengganti pakaiannya lalu dia merebahkan dirinya di samping Alesha dan memeluknya.


"Kak Devan aku hari ini lagi sedih, aku boleh nangis gak?"


"Kenapa?" Devan mengusap rambut Alesha.


"Aku..." Alesha menghentikan perkataannya karena tangisnya kini pecah lagi. Dia semakin memeluk Devan.


"Aku tahu apa yang ada dipikiran kamu. Sudah ya, nanti kalau sudah waktunya pasti kita akan mendapatkannya."


"Tapi tetap saja aku sedih, Kak. Kalau sampai satu atau dua tahun lagi aku tetap gak bisa punya anak, Kak Devan berhak mencari wanita lain."


"Astaga Lesha, kamu bicara apa? Nggak, aku gak akan lakuin itu. Entah sampai berapa tahun pun kita baru punya anak, aku akan tetap sama kamu."


"Kalau gak bisa?"

__ADS_1


"Positif thinking aja. Baru satu tahun, kita belum lakukan promil yang lainnya juga." Devan semakin mengeratkan pelukannya. "Maafin aku. Seandainya kejadian itu gak terjadi, pasti semua gak akan seperti ini. Gak papa, kamu menangis sepuasnya sekarang jika itu bisa mengurangi kesedihan kamu." Devan mencium dalam puncak kepala Alesha. Lalu dia usap punggung Alesha yang bergetar karena tangisnya. Dia biarkan Alesha menangis sepuasnya. Hingga akhirnya Alesha terlelah dan tidur.


Maafkan aku, Lesha. Andai Bapak gak lakuin itu sama kamu, pasti kita sekarang sudah bahagia bersama malaikat kecil kita...


__ADS_2