
"Iya, inilah satu-satunya alasan mengapa aku setuju menikahi kamu. Aku adalah Kak Devan yang kasih boneka ini ke kamu. Kak Devan anak didik Mama kamu."
Alesha bangun dan duduk menatap Devan. "Tapi Kak Devan gak mirip."
Devan tersenyum dan meraih boneka beruang itu. "Fisik seseorang pasti akan berubah, kita sudah hampir 14 tahun tidak bertemu. Dulu aku dekil dan hitam karena aku mengamen di jalanan demi mencari uang untuk sekolah. Bahkan aku saja juga tidak mengenali kamu tapi aku masih ingat sama kedua orang tua kamu. Ya, saat tahu bahwa kamu adalah Lesha kecilku dulu, aku langsung yakin menikahi kamu."
"Kenapa Kak Devan gak bilang?"
"Aku kira kamu sudah melupakan aku. Aku ingin kamu mengenalku dengan versi terbaruku sekarang."
Seketika Alesha memeluk Devan lagi dengan erat. "Kak Devan, aku sangat rindu sama Kak Devan. Kenapa gak kasih kabar sama sekali atau sekedar berkunjung."
"Iya, aku sangat sibuk dengan hidup aku. Aku memang masih mengingatmu dan berharap bertemu dengan kamu ketika aku sudah sukses. Takdir memang mempertemukan kita lagi tapi masalah yang kita hadapi sekarang ternyata sangat rumit." Devan terus membelai rambut Alesha.
Alesha semakin mengeratkan pelukannya pada Devan. Pelukan yang selalu membuatnya nyaman itu ternyata memang milik Devan di masa lalunya.
"Maafkan aku, hidup kamu jadi berantakan gara-gara aku. Andai saja aku tahu sejak awal kalau kamu mantan Dirga, pasti aku tidak akan membawamu masuk dalam hidup aku."
Alesha hanya menggelengkan kepalanya. "Semua sudah terjadi. Aku gak pernah menyesal menikah dengan Kak Devan. Hanya satu yang aku sesali, mengapa harus Dirga yang menjadi adik Kak Devan."
Devan semakin mendekap tubuh Alesha dan mencium sesaat puncak kepala Alesha. "Besok aku akan tetap antar kamu pulang. Biar kamu aman di rumah kamu. Aku akan menyelesaikan masalah ini dulu dan aku juga harus menjaga Ibu di rumah sakit."
Alesha meregangkan pelukannya dan menatap Devan. "Apa Kak Devan mau menyerah dan tidak mau lagi melanjutkan pernikahan ini?"
Devan menggelengkan kepalanya cepat. "Gak akan! Aku gak akan melepaskan kamu. Hanya saja, aku akan benar-benar menyelesaikan masalah Dirga, baru nanti ketika semua aman, aku akan membawa kamu lagi."
"Tapi jangan cerita sama Ayah dan Mama, aku takut Ayah marah dan melarang kita bersama."
Devan tersenyum dan mengusap pipi Alesha. "Justru kalau menyembunyikan masalah ini dari Ayah kamu, Ayah kamu pasti marah. Aku sudah membawa anak gadisnya, jadi aku yang harus bertanggung jawab. Orang tua kamu harus tahu kondisi kamu. Mereka sudah membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang, pasti mereka tidak rela putri kesayangannya disakiti. Kalau memang Ayah kamu tidak terima dengan perbuatan Dirga, aku gak akan menghalangi tuntutan Ayah kamu. Dirga memang salah, dia harus menanggung semua kesalahannya."
__ADS_1
Alesha hanya menatap Devan dengan mata nanarnya.
"Sudah kesekian kalinya aku melihat kamu menangis." Devan menghapus sisa-sisa air mata di pipi Alesha. "Jangan menangis lagi ya. Kalau ada obat yang bisa buat kamu bahagia pasti sudah aku kasih, tapi sayangnya tidak ada."
"Aku cuma butuh pelukan."
Devan menarik tubuh Alesha agar terbaring di sampingnya. "Sekarang kamu tidur. Pasti kamu capek."
Alesha menganggukkan kepalanya. Kemudian dia memejamkan matanya dalam dekapan Devan.
Sedangkan Devan sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Dia kini memikirkan ibunya yang berada di rumah sakit. Dia juga memikirkan Dirga, bagaimana pun juga dia tidak tega jika Dirga tidak pulang ke rumah.
...***...
Dirga kini melajukan motornya entah kemana. Beberapa sahabatnya juga menjauh darinya sejak dia ketahuan selingkuh. Dia kini menghentikan motornya di depan sebuah ruko yang tutup. Dia ambil dompetnya dan melihat isi di dompetnya, hanya ada dua lembar uang berwarna biru. Selama ini dia memang terlalu mengandalkan kakaknya.
Dirga menghela napas panjang lalu memukul stang motornya meluapkan emosinya yang masih tersisa. Sebenarnya dia juga menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan pada Alesha. Harusnya dia tidak mendengarkan bisikan setan itu, pasti Alesha akan semakin membencinya.
"Apa aku harus mencari Ayah? Apa benar Ayah tidak pernah peduli seperti yang dikatakan Kak Devan?"
Dirga kembali melajukan motornya menuju alamat yang tertera di belakang foto itu. Lumayan jauh dari rumahnya. Dia akhirnya sampai di kompleks perumahan yang sangat padat.
Dirga menghentikan motornya, dia melihat rumah petak yang berjejer dan berjubel itu. Ada beberapa orang yang sedang mabuk di pos ronda sambil bermain kartu. Dirga mendekati orang-orang itu dan mengamati mereka satu per satu.
"Mau apa? Kamu masih kecil, gak bisa gabung sama kita." kata salah satu bapak itu yang sudah sangat mabuk.
Dirga menatap foto yang ada di tangannya lalu wajah bapak itu. Ada kemiripan di antara keduanya. "Bapak bernama Yudi?"
"Iya, kenapa? Kamu siapa?"
__ADS_1
"Pak, aku Dirga, anak Bapak."
Seketika Pak Yudi berdiri. "Anak aku, jangan mengaku-ngaku kamu. Aku gak punya anak. Kamu pergi saja." Pak Yudi mendorong Dirga dengan keras hingga dia terjatuh di tepi jalan.
"Kita ambil aja motornya, lumayan. Kita bisa pesta miras berhari-hari."
"Iya, kalian benar." Keempat Bapak-bapak itu berjalan sempoyongan menuju motor Dirga. Dirga segera berdiri dan berlari lalu menaiki motornya. Kemudian dia melajukan motornya dengan kencang.
Dia tidak seperti Kakaknya yang mempunyai tekad kuat dalam hidupnya. Dia tidak seperti Kakaknya yang tidak butuh kasih sayang dari seorang Ayah. Dia masih ingin menemui Ayahnya.
Apakah benar yang dikatakan Devan bahwa sebenarnya dia mirip Ayahnya yang hanya bisa melukai hati wanita?
"Awas woy!" teriakan itu membuat Dirga membanting stir dan dia terjatuh di pinggir jalan bersama motornya. "Lo gak liat kalau lo lawan arah!" Dia turun dari motornya dan membantu Dirga menarik motornya. "Dirga!"
"Reza!"
Reza menghela napas panjang, kemudian dia kembali ke motornya, tanpa berkata apapun.
"Za, apa gue boleh menginap di rumah lo semalam saja?" tanya Dirga. Dia buang harga dirinya kali ini karena dia tidak tahu kemana dia harus pergi.
Reza hanya menatap Dirga. Awalnya dia memang bersahabat dengan Dirga, tapi karena skandal Dirga, dia juga menjauh dari Dirga. Bahkan dia juga tidak rela jika Alesha disakiti Dirga. "Emang kenapa lo gak pulang ke rumah? Diusir sama kakak lo?"
.
💕💕💕
.
Semua novel aku kalau gak ada masalah intrinsik dalam keluarga kayak gak komplit... ðŸ¤
__ADS_1
.
Like dan komen ya, jangan lupa.