Obat Cinta Pak Dokter

Obat Cinta Pak Dokter
BAB 30


__ADS_3

Alesha akhirnya membalikkan badannya. Dia kini menatap Devan yang juga sedang menatapnya.


"Kamu tidur, ini sudah malam." Devan menarik tubuh Alesha dan menghapus jarak di antara mereka dengan satu pelukan hangat.


Alesha hanya menempelkan wajahnya di dada Devan. Matanya seolah enggan terpejam. Pikirannya melayang jauh kemana-mana. Kini dirinya sudah terbuka pada Devan tapi Devan justru tidak memberi reaksi yang lebih pada Alesha.


"Kak, aku gak bisa tidur," kata Alesha pada akhirnya.


Devan meregangkan pelukannya. "Pelan-pelan kamu harus bisa tidur tanpa boneka itu."


Alesha hanya menatap Devan sambil mengedipkan matanya. "Kak Devan, hmm, dulu waktu aku hanyut di sungai, Kak Devan beri aku napas buatan ya?" tanya Alesha tiba-tiba. Waktu itu dia tidak sadar, dia jelas tidak tahu apa yang dilakukan Devan padanya.


Devan menganggukkan kepalanya. "Iya, memang seperti itu prosudernya. CPR sama ciuman itu beda."


Alesha hanya terdiam. Berniat memancing Devan tapi Devan justru flat tak bereaksi. Kak Devan ini gak peka banget. Dahlah.


Alesha kembali mencari bonekanya. "Dari pada aku gak bisa tidur, lebih baik aku peluk boneka ya, Kak. Besok-besok aja aku coba lagi." Alesha kembali memunggungi Devan


Devan hanya menatap punggung Alesha. Sebenarnya dia tidak mengerti apa mau Alesha. Tapi dia merasa ada yang diinginkan Alesha darinya.


Kemudian satu tangan Devan mengusap rambut Alesha. Dia pun kini memejamkan matanya karena harinya terasa sangat lelah.


...***...


"Kak Devan beneran udah gak sakit tangannya?" tanya Alesha yang melihat Devan membuka balutan perbannya sendiri.


"Iya, bangun tidur tadi udah gak sakit. Aku gak mau lama-lama sakit." Devan menggerakkan tangannya secara perlahan. Masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan. Janji dengan pasiennya juga lumayan banyak hari itu.


Alesha hanya tersenyum, "Ternyata Pak Dokter juga bandel ya, gak nurut apa kata Dokter." Kemudian Alesha menyiapkan sarapan di atas meja. Setelah itu dia sarapan bersama Devan.


"Kak Devan nanti jemput Ibu jam berapa?" tanya Alesha. Sebelum dia memakan sarapannya sendiri karena Devan sudah bisa menggerakkan tangannya dan tidak perlu lagi dia suapi seperti semalam.


"Mungkin agak sore. Kamu mau ikut?" tanya Devan.


"Iya, aku mau ikut."


"Ya udah, nanti dari sekolah langsung jemput ibu saja."


Kemudian tidak ada pembicaraan di antara mereka sampai sarapan itu habis. Setelah itu, mereka mengambil tas dan berjalan keluar dari rumah.

__ADS_1


"Beneran Kak Devan bisa nyetir?" tanya Alesha lagi memastikan.


"Bisa, daripada kamu yang nyetir. Jantung aku mau copot rasanya. Selama sama aku, aku gak bolehin kamu bawa mobil." Devan membukakan pintu untuk Alesha kemudian Alesha masuk ke dalam mobil.


Setelah Devan duduk di kursi pengemudi, mobil itu segera melaju menuju sekolah Alesha. "Aku ada jadwal mengajar di kelas kamu besok ya?"


Alesha menganggukkan kepalanya. "Kak Devan kalau sibuk mending gak usah ngajar lagi. Kayaknya Dirga udah gak berani deketi aku, dan kalau di sekolah aku ada teman-teman juga. Gak perlu diawasi."


"Iya kamu benar. Besok aku bilang saja sama Hendri."


"Pak Hendri?"


"Iya, Pak Hendri kepala sekolah. Dia sahabat aku," kata Devan sambil tersenyum kecil.


"Pantes, mudah banget ngajar di sekolah. Ternyata lewat orang dalam."


Devan masih saja tersenyum lalu menghentikan mobilnya sebelum gerbang sekolah Alesha.


Lali Alesha mencium tangan Devan yang dibalas dengan satu kecupan di kening Alesha. "Hati-hati sekolahnya."


"Kak Devan juga hati-hati." Alesha turun dari mobil Devan. Kemudian dia berjalan menuju sekolahnya. Di depan gerbang dia berpapasan dengan Dirga. Seketika Alesha mempercepat langkahnya. Dia masih saja takut dengan Devan.


Alesha akhirnya menghentikan langkahnya.


"Aku minta maaf. Setiap hari aku akan minta maaf sama kamu, sampai kamu memaafkan aku." kata Dirga lagi. Dia memang sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya.


Alesha mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengira Dirga akan berkata seperti itu padanya.


"Jangan salah paham. Aku udah gak akan mengharapkan kamu lagi. Dan aku akan mencoba menerima kamu sebagai kakak ipar aku." Kemudian Dirga melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Alesha.


Alesha hanya menghela napas panjang lalu dia kembali melangkahkan kakinya. Beberapa saat kemudian langkahnya disusul oleh Rena dan Icha.


"Lesha!" Rena dan Icha kini mengapit Alesha.


"Astaga, Sha, ini dicakar Pak Devan?" tanya Icha sambil menunjuk leher Alesha yang masih membekas cakaran. Sedangkan di tangan Alesha bekas cakaran itu justru telah menghilang.


"Sssttt, ini tuh dicakar kucing. Gak tahu tuh kucing bisa nyasar ke rumah. Gue usir malah nyakar."


Icha dan Rena seketika tertawa. "Kirain dicakar Pak Devan karena semalam pake gaya macan."

__ADS_1


Alesha hanya mengerutkan dahinya. "Apa tuh maksudnya?" tanyanya tak mengerti.


"Astaga, Lesha. Lo tuh polos banget. Udah punya laki juga," kata Icha. Lalu dia membisikkan sesuatu di telinga Alesha. "Emang lo gak ehem-ehem tiap malam sama Pak Devan? Secara Pak Devan ganteng bingit dan badannya tegap atletis. Aduh, aduh, gue gak bisa bayangin gimana hotnya."


Alesha kini duduk di dekat taman. Mereka tidak tahu saja jika Devan terlalu kalem, Devan sama sekali belum pernah menunjukkan sisi liarnya. Dulu dia memang tidak ingin Devan menyentuhnya tapi Devan sama sekali tidak berusaha merayunya sampai saat ini, bahkan setelah dia mulai membuka hatinya untuk Devan dan tahu identitasnya juga masih tetap sama.


"Gue gak pernah ngapa-ngapain sama Kak Devan. Kan pernikahan kita dadakan, ya, mungkin masih belum yakin saja sama perasaan kita masing-masing."


Rena dan Icha kini juga duduk di sebelah Alesha. "Emang lo gak ada perasaan sama Pak Devan?"


"Ya, gue sih, udah suka sama Kak Devan. Gue sih rela diapain aja." Alesha tertawa di ujung kalimatnya. "Hah! Gue jadi cewek ngarep banget. Udah ah, Kak Devan orangnya emang kalem. Bahkan kissing aja gak pernah."


"Whats to the hell! Wah, lo kan udah sah. Ngapain di tahan-tahan. Semua udah halal lo sentuh. Jangan-jangan Pak Devan impoten lagi."


"Huss! Ih, gak lah. Gue gak sengaja pernah pegang kok." kata Alesha lalu dia menutup mulutnya karena keceplosan.


Seketika tawa Rena dan Icha kembali pecah.


"Kalau gitu lo pancing aja." kata Rena mulai mengompori Alesha.


"Tapi gue takut," kata Alesha lagi.


"Emang lo gak penasaran?"


"Ya penasaran juga."


"Gimana kalau..." Icha membisikkan sesuatu pada Alesha yang membuat pipi Alesha bersemu merah.


"Ih, gue gak bisa."


"Bisa lah. Daripada penasaran."


Alesha hanya tersenyum sambil memikirkan sebuah ide jahil.


.


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya ..


__ADS_2