Obat Cinta Pak Dokter

Obat Cinta Pak Dokter
BAB 39


__ADS_3

Alesha berbisik di telinga Devan, "Kak, gak bisa pindah Dokter saja?"


"Memang kenapa, Dek?" tanya Devan sambil berbisik juga.


"Pasiennya kenapa?" tanya Clara sambil menatap mereka berdua.


"Dia istri saya. Mau periksa kandungan," kata Devan. Dia membantu Alesha duduk dan memegang tangan Alesha. Entah apa yang membuat Alesha tidak mau, yang jelas Devan sama sekali tidak peka dengan masalah ini.


Clara terdiam dan menatap mereka berdua. Sedari dulu dia memang sangat mengagumi Devan. Andai saja dia bisa bersama Devan, dia pasti juga sangat bahagia seperti Alesha yang masih saja bisik-bisik dengan Devan. "Maaf, saya kira pasien Dokter Devan karena masih sangat muda. Apa sudah tespek?" Clara berusaha untuk bersikap sewajarnya meski dalam hatinya sangat gundah. Dia kini mengambil buku pink pemeriksaan dan mencatat sederetan informasi terkait awal kehamilan Alesha.


"Berarti sudah telambat hampir tiga minggu ya. Kita langsung USG saja, karena Dokter Devan pasti tidak salah duga." Clara tersenyum kecil lalu dia berdiri dan mempersiapkan alat USG.


Devan membantu Alesha naik ke atas brankar pemeriksaan. Perutnya dioles gel lalu Clara mengarahkan alat perekam USG itu.


Devan dan Alesha terus menatap layar USG. Devan tersenyum merekah saat melihat kantong janin sudah terbentuk dan janin juga sudah terlihat.


"Kantong janin sudah terbentuk, janin juga sudah terlihat hampir sebesar lemon kecil. Ternyata usia kandungannya sudah 8 minggu. Selamat ya, kalian akan menjadi orang tua." Kata Clara sambil sesekali melihat tangan Devan yang setia menggenggam tangan Alesha.


"Detak jantung juga sudah terdeteksi. Sekali lagi selamat ya." Meskipun dalam hati Clara terus menggerutu tapi dia harus tetap profesional.


"Bunda Lesha harus banyak istirahat dan makan yang teratur, tensi darahnya sangat rendah. Tidak apa makan sedikit-sedikit saja asal sering," kata Dokter Clara.


"Iya, Dok." Alesha turun dari brankar yang dibantu oleh Devan.


"Kalau ada apa-apa Dokter Devan langsung hubungi saya saja," kata Clara sambil tersenyum.


Alesha menggembungkan pipinya lagi, harusnya dirinya yang menghubungi Dokternya, bukan suaminya. Alesha melipat tangannya saat mereka justru mulai mengobrol persoalan lain. Rasanya Alesha ingin menarik Devan pergi saja dari tempat itu.


Akhirnya Devan menyudahi obrolannya lalu mereka keluar dari ruangan Dokter Clara sambil membawa buku pink dan hasil USG beserta obat vitamin.


"Kak, aku gak mau sama Dokter Clara," kata Alesha.


"Kenapa?" Devan merengkuh pinggang Alesha sambil berjalan menuju tempat parkir.

__ADS_1


"Kak Devan itu gak peka ya, dari tatapan matanya saja sangat terlihat kekagumannya pada Kak Devan. Pokoknya aku gak mau. Dokter kandungan itu banyak selain dia."


Devan tersenyum kecil. "Dek, dari dulu memang Dokter Clara seperti itu. Dia ramah dan satu lagi, aku masih bekerja sama dengan rumah sakit ini jadi lebih baik kamu di sini saja agar lebih nyaman."


Alesha semakin berdengus kesal dan melepas tangan Devan. "Oo, jadi Kak Devan sayang sama fasilitas gratis dari rumah sakit ini. Ya udah nanti aku bayar sendiri buat pindah Dokter."


"Dek, jangan marah." Devan menahan tangan Alesha. "Iya, iya, kita ganti Dokter saja." Dia tahu perasaan ibu hamil sangat sensitif jadi lebih baik dia yang mengalah. "Udah, jangan marah gini. Ibu hamil gak boleh stress." Devan semakin merengkuh pinggang Alesha.


Setelah sampai di tempat parkir, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Alesha masih saja cemberut meskipun Devan sudah memberinya izin untuk pindah Dokter.


"Dek, udah jangan cemberut gini." Devan mengusap pipi Alesha yang masih saja menggembung.


"Aku tuh cemburu. Kak Devan itu kenapa sih jadi suami gak peka banget. Ngobrol akrab kayak gitu sama wanita lain." Air mata semakin mengembun di ujung mata Alesha. Entahlah, perasaannya hari itu benar-benar sangat sensitif.


"Aku sama semua orang juga gitu. Gak ada perlakuan khusus sama Dokter Clara." Devan meraih tubuh Alesha dan memeluknya. "Sudah, jangan sedih. Ibu hamil gak boleh sedih. Maafin aku ya..." Satu tangan Devan kini mengusap perut Alesha. "Senyum dong, kan sebentar lagi kita akan jadi orang tua."


Alesha akhirnya tersenyum kecil.


"Ya sudah, sekarang aku antar kamu pulang." Devan melepas pelukannya dan menghidupkan mesin mobilnya.


"Iya, Ibu juga pasti senang banget. Nanti dari klinik aku mau ke rumah Ibu sebentar."


Alesha menganggukkan kepalanya. Dia kembali menyimpan foto USG itu lalu memejamkan matanya sambil bersandar karena kepalanya kembali pusing.


Devan yang fokus dengan jalanan siang hari itu beberapa kali menoleh Alesha. "Dek, pusing lagi?"


Alesha menganggukkan kepalanya.


"Sampai rumah makan dulu lalu istirahat."


Alesha kembali membuka matanya dan menatap jalanan lewat jendela yang terbuka. "Kak, ada yang jual mangga."


"Mau? Sebentar." Devan menepikan mobilnya dan berhenti. "Kamu tunggu di mobil saja ya, aku beliin."

__ADS_1


Alesha menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum melihat Devan yang sedang membeli buah mangga untuknya.


Beberapa saat kemudian Devan masuk ke dalam mobil sambil membawa satu kantong plastik mangga dan satu kantong plastik jeruk. "Kalau merasa mual kamu bisa makan jeruk atau mangga."


"Makasih."


"Kalau pengen sesuatu langsung bilang saja. Aku pasti akan cariin buat kamu." Devan kembali melajukan mobilnya.


Sedangkan Alesha justru mengambil jeruk dan mengupasnya. Perpaduan rasa manis dan asam membuat lidahnya yang pahit terasa segar.


Setelah sampai di depan rumah Alesha, mereka berdua turun dari mobil. Devan membawa tas Alesha dan dua kantong buah itu masuk ke dalam rumah.


"Lesha kok udah pulang?" tanya Mama Fara. Dia juga baru masuk ke dalam rumah setelah dari kampus.


"Iya, Lesha gak enak badan," kata Alesha sambil duduk di sofa ruang tengah.


Devan menaruh buah di ruang makan lalu dia berpamitan pada Alesha karena masih ada banyak pasien yang menunggu di klinik.


"Dek, aku ke klinik dulu ya."


"Ya, Kak Devan gak nemenin aku?"


"Iya, nanti saja ya." Devan mengusap puncak kepala Alesha. "Jangan lupa istirahat."


Alesha menganggukkan kepalanya lalu mencium tangan Devan. "Kak Devan juga hati-hati."


"Iya."


Setelah Devan keluar Mama Fara mendekati Alesha. "Kamu sakit apa?" tanyanya penasaran.


Alesha justru tersenyum lalu menunjukkan hasil USG nya. "Selamat, Mama akan jadi nenek."


Fara melihat hasil USG itu dengan mata berbinarnya. "Kamu hamil?" Seketika Fara memeluk putrinya. "Selamat sayang, kamu akan jadi mama muda."

__ADS_1


Alesha menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia merasa sangat bahagia, meskipun dia belum tahu bagaimana nasibnya nanti jika harus sekolah dengan kehamilannya ini.


__ADS_2