
Alesha hanya terdiam dan menatap Devan. Lalu dia mengalihkan pandangannya. Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya lolos di pipinya. Dia sangat sedih telah kehilangan calon buah hatinya dengan cara seperti ini ditambah satu kenyataan yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
"Iya, aku tahu ini menyakitkan buat kamu. Ayah aku memang seorang penjahat. Maafkan aku menyembunyikan latar belakang keluarga aku dari kamu. Aku..." Devan menghentikan perkataannya. Dia seperti tidak punya hati saat ini.
Alesha semakin menangis tergugu, dia memiringkan dirinya sambil memegang perutnya yang masih terasa sakit.
"Dek, jangan nangis gini. Kamu luruskan lagi badan kamu, nanti perut kamu sakit." Devan membenarkan tubuh Alesha agar kembali lurus.
Hanya suara tangis Alesha yang terdengar.
"Maafkan aku. Apa aku aku memang tidak pantas lagi untuk kamu?"
Alesha meraih tangan Devan lalu memeluknya. "Ini bukan salah Kak Devan. Hanya saja aku..." Alesha semakin mengeratkan pelukannya pada Devan.
"Iya, kamu menangis saja sepuas kamu. Aku tahu ini sangat menyakitkan buat kamu. Bukan cuma raga kamu yang sakit tapi juga hati kamu."
Alesha masih saja terisak di pelukan Devan. Sampai akhirnya dia lelah menangis dan air mata itu berhenti mengalir dengan sendirinya. "Maaf Kak, bukannya aku gak terima dengan kenyataan ini. Tapi aku cuma menyesalinya, mengapa harus..." Alesha menghentikan perkataannya.
"Iya, aku mengerti." Devan melepas pelukannya. Dia mengusap air mata di pipi Alesha yang memerah. Kedua mata Alesha juga sangat sembab. Ini kedua kalinya dia melihat Alesha menangis sampai tergugu seperti ini. Pertama karena Dirga dan yang kedua karena Ayahnya. "Kamu tenang saja, Bapak sudah aku jebloskan ke penjara. Dia salah, aku gak mungkin tinggal diam."
Alesha kini hanya terdiam. Dia tidak tahu harus berkomentar apa.
"Maaf, aku salah tidak pernah cerita sama kamu tentang Bapak. Bapak aku memang seorang penjahat. Tidak hanya mencopet tapi dia juga sering mabuk-mabukan. Dulu waktu aku kecil, Ibu sering disiksa bahkan di selingkuhi. Aku bertekad membawa Ibu dan Dirga yang masih bayi agar bisa lepas dari Bapak. Sejak saat itu aku gak mau lagi mengakui kalau aku masih punya Bapak. Aku harus bekerja keras mencari uang untuk sekolah aku sendiri dan sedikit membantu Ibu. Untunglah masih ada keluarga Ibu yang memberi tempat tinggal dan terkadang menbantu."
Alesha terus menatap Devan. Dia hanya terdiam mendengar semua cerita Devan.
"Aku harus bisa berjuang keras. Waktu SMP, akhirnya aku bertemu dengan Mama Fara yang menerima bimbingan belajar secara gratis. Sejak saat itu aku belajar dengan giat agar aku bisa mendapatkan beasiswa penuh di SMA favorit dan aku berhasil berkat bantuan Mama kamu." Lalu Devan tersenyum kecil. "Aku beliin kamu boneka itu juga dari hasil mengamen aku setiap hari. Hanya boneka murah yang dijual di pasar. Kalau kamu mau, aku bisa beliin kamu boneka yang bagus."
"Buat apa? Aku udah punya Kak Devan yang bisa aku peluk setiap hari."
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya tersenyum meski kedua mata mereka masih berkaca-kaca.
"Aku tahu setiap pernikahan pasti ada cobaan, tapi mengapa semua cobaan harus menimpa kamu. Aku gak mau melihat kamu menangis lagi seperti ini." Devan kembali menyusut air mata di ujung mata Alesha.
"Selama ini hidup aku selalu sempurna dan bahagia, mungkin ini saatnya aku merasakan cobaan dalam hidup. Kak Devan tenang saja, aku pasti bisa melalui ini semua."
"Kadang aku merasa gak pantas buat kamu. Aku sudah ambil kamu dari kedua orang tua kamu, harusnya aku bisa membahagiakan kamu."
Alesha menggeleng pelan. "Ini bukan keinginan Kak Devan. Aku bahagia kok sama Kak Devan. Ya mungkin memang belum saatnya kita punya anak."
"Iya, sekarang kamu fokus pada sekolah kamu dulu. Dua bulan lagi kamu ujian. Kamu bisa langsung da kuliah, tidak perlu menunda lagi."
Alesha mengangguk pelan.
Devan kini berdiri dan melihat kantong darah yang telah kosong. "Jarum transfusi darahnya aku lepas dulu. Kasian, kamu takut jarum malah dua tangan kamu di infus gini. Kamu sudah gak pusing?"
"Iya, kamu kehilangan banyak darah sampai harus transfusi darah satu kantong." Perlahan Devan melepas jarum tranfusi darah itu lalu menutup lukanya. Tiba-tiba saja Devan tersenyum kecil. "Sampai lupa kalau ini bukan tugas aku. Aku dulu pernah bekerja di sini. Lumayan lama sampai akhirnya ada yang menawarkan aku untuk buka klinik sendiri dan masih tetap bekerja sama dengan rumah sakit ini. Itu sebabnya kamu ataupun ibu selalu aku bawa berobat ke rumah sakit ini karena aku sudah sangat percaya dengan rumah sakit ini."
Kemudian Devan melihat perut Alesha. "Perut kamu masih sakit?"
Alesha menganggukkan kepalanya. "Saking sakitnya sampai rasanya gak bisa gerak."
"Ada luka di rahim kamu. Pokoknya kamu jangan banyak gerak dulu. Aku bantu kompres pakai air hangat. Aku sudah bawa kantong kompresnya." Devan ke kamar mandi dan mengisi kantong kompres yang tadi sempat dia beli di apotek dengan air hangat. Setelah itu dia kompres perut Alesha.
"Kompres perut bisa meredakan kram dan rasa sakit."
"Kak Devan gak ke klinik?" tanya Alesha.
Devan menggelengkan kepalanya. "Aku sudah pesan sama assistant kalau ada pasien yang gawat langsung hubungi aku. Aku akan temani kamu sampai besok pagi di sini. Besok ibu akan ke sini sama suster, baru aku ke klinik."
__ADS_1
"Berapa lama aku di rumah sakit?"
"Mungkin satu minggu. Kamu harus benar-benar istirahat dulu dan setelah luka di rahim kamu sembuh, masih harus melakukan USG lagi untuk memastikan kondisinya."
"Apa aku gak bisa punya anak lagi?" tanya Alesha dengan serius.
Devan terdiam beberapa saat. "Tentu masih bisa." Satu tangan Devan mengusap rambut Alesha dan memberinya ketenangan meski dia sendiri juga tidak tahu bagaimana kondisi Alesha setelah ini. Ya, semoga saja hal buruk tidak terjadi lagi pada Alesha.
Beberapa saat kemudian kedua orang tua Alesha masuk. Fara berdiri di dekat brankar putrinya. "Udah baikan perasaannya?"
Alesha menganggukkan kepalanya.
"Meskipun banyak cobaan yang menimpa rumah tangga kalian berdua, tapi kalian harus tetap bersama dan saling menguatkan ya," kata Fara.
Alesha menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Devan, kamu gak ke klinik lagi?"
"Tidak, Ma," jawab Devan
"Ya udah, kalau begitu kami pulang dulu. Nanti kalau tiba-tiba ada panggilan dari pasien kamu. Kamu hubungi Mama saja biar Mama yang jaga Alesha."
"Iya, Ma."
"Jaga Alesha baik-baik ya." Aslan menepuk bahu Devan.
"Iya, Ayah."
Setelah kedua orang tua Alesha keluar, Devan mengecup kening Alesha. "Semoga cepat pulih."
__ADS_1