
"Hati-hati di sekolah." Setelah Alesha mencium punggung tangannya, Devan membalasnya dengan ciuman di kening lalu kedua pipi Alesha.
"Kurang satu yang belum dicium." Alesha memang tipe agresif. Dia tidak akan malu dan ragu mengungkap keinginannya pada Devan.
Tentu saja Devan sangat mengerti apa yang dimaksud Alesha. Kemudian dia mengecup singkat bibir Alesha. "Udah hampir bel. Cepat kamu masuk."
"Iya." Lalu Alesha membuka pintu mobil. "Kak Devan hati-hati." Kemudian dia turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam sekolah.
Saat melewati gerbang, dia bertemu dengan Dirga yang baru turun dari motornya. Terlihat Dirga berjalan terpincang menuju kelas.
Alesha kini berjalan di belakang Dirga. "Dirga kenapa? Apa Kak Devan tahu?" gumam Alesha dalam hatinya.
"Lo kenapa?" tanya Reza yang kini berjalan di samping Dirga lalu membantu Dirga berjalan. "Lo habis berantem sama siapa wajah lo bonyok gitu?"
Seketika Alesha mendahului langkah Dirga. Dia melihat wajah Dirga yang pucat dan ada memar membiru di pipi dan dagunya. Bahkan terlihat juga bibirnya terluka. "Lo kenapa? Lo gak bilang sama Kak Devan?"
"Jangan bilang sama Kak Devan," kata Dirga.
"Lo ke UKS aja, obati luka lo. Itu belum lo obati," kata Reza.
"Gak usah." Dirga tetap berjalan menuju kelas.
Alesha masih berdiri mematung, bagaimanapun juga dia tidak mungkin tega membiarkan Dirga terluka seperti itu.
"Dirga!"
Alesha terkejut mendengar teriakan Reza. Dia melihat Dirga pingsan. Dirga segera dibawa Reza dan teman lainnya ke UKS.
"Dirga sebenarnya kenapa?" Alesha segera menghubungi Devan dan memberi kabar kondisi adiknya. "Kak Devan, Dirga pingsan di sekolah. Kak Devan cepat lihat kondisi Dirga ya sepertinya Dirga habis berantem."
Setelah menghubungi Devan, Alesha kini berjalan menuju kelas. Sebenarnya dia sangat penasaran dengan kondisi Dirga tapi dia simpan rasa penasarannya itu. Dia akan bertanya pada Devan nanti saja.
"Sha, Dirga kenapa? Katanya pingsan." tanya Rena saat Alesha telah duduk di sebelahnya.
Alesha menggelengkan kepalanya. "Gue gak tahu. Kayaknya habis berantem."
Rena mendekatkan dirinya dan setengah berbisik. "Emang sekarang Dirga tinggal dimana?"
"Dia kos sendiri. Gue gak tahu dia kos dimana."
__ADS_1
"Kasihan juga ya. Bener-bener karma is real."
"Iya sih, tapi gue merasa bersalah, Ren. Gara-gara gue, Dirga jadi keluar dari rumahnya." kata Alesha.
"Ini bukan salah lo. Ini salah Dirga sendiri. Dia yang gangguin lo terus."
Alesha kini mengeluarkan buku pelajarannya sambil mengobrol. "Iya, tapi tetap aja, Ren. Gue yang ambil posisi Dirga di rumahnya."
"Udahlah, gak usah dipikirin. Nanti biar Pak Devan cari solusinya." Rena menyipitkan kedua matanya saat melihat satu tanda merah di leher Alesha. "Eh, nih apa?" tanya Rena sambil tertawa dan memegang tanda merah itu.
Alesha menepis tangan Rena lalu menutup tanda merah itu dengan rambutnya.
"Ciee, udah gol?"
Alesha hanya tersenyum malu.
"Wih, selamat ya. Udah resmi menjadi nyonya Devan." Rena semakin mendekatkan dirinya dan berbisik. "Gimana? Pak Devan hot gak?"
"Jangan ditanya lagi. Udah kayak air tenang yang menghanyutkan."
Seketika tawa Rena pecah. "Adek sampai tenggelam Mas."
"Bukan tenggelam tapi melayang di udara."
Seketika Alesha memukul Rena yang keceplosan. "Ssttt, jangan keras-keras. Ih!"
"Sorry, sorry. Terlalu excited gue." Akhirnya Rena memelankan suaranya. Mereka masih saja bisik-bisik sampai guru masuk ke dalam kelas mereka.
...***...
Setelah Alesha menghubunginya, Devan segera berangkat ke sekolah. Dia memeriksa keadaan Dirga terlebih dahulu tapi karena Dirga tak juga sadar, Devan membawa adiknya ke klinik agar bisa dia infus.
Sampai di klinik, Devan segera merebahkan tubuh Dirga di atas brankar. Lalu dia memasang infus di pergelangan tangannya. Dia obati luka Devan yang ada di wajahnya. Dia juga memeriksa kaki Devan yang memar, seperti bekas tendangan keras berulang.
"Apa yang terjadi sama kamu? Kenapa bisa sampai kayak gini?" Devan mengecek detak jantung Dirga lagi yang sekarang mulai stabil. "Sepertinya Dirga belum makan dari kemarin."
Devan akhirnya duduk di dekat brankar Dirga sambil menghela napas panjang. Setelah ini, dia tidak akan membiarkan Dirga tinggal sendiri diluar rumah. Biar dia mencari solusi lagi yang terbaik untuk semuanya.
Beberapa saat kemudian, Dirga membuka matanya. Dia memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Kemudian dia menatap Devan. "Kak Devan?"
__ADS_1
"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu luka-luka gini. Siapa yang udah buat kamu babak belur gini?"
Dirga hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu belum makan dari kemarin?"
Dirga menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu gak punya uang, kamu bilang sama aku."
"Kak Devan baru kasih uang saku buat aku. Maaf uangnya sudah habis."
Devan menghela napas panjang lalu dia keluar untuk membelikan Devan bubur. Tak lama kemudian, dia sudah kembali lalu duduk di dekat Dirga. "Kamu makan dulu. Makan yang halus dulu agar lambung kamu tidak bekerja keras setelah lama kosong." Devan membantu Dirga duduk lalu menyuapinya.
"Aku bisa sendiri. Kak."
"Udah, gak papa." Devan tetap menyuapi Dirga
Dirga menerima suapan dari Devan dengan mata yang berkaca-kaca. Sejak kecil selalu Devan lah yang merawatnya saat sakit, bahkan selalu menyuapinya seperti ini. Dirga berusaha menahan kesedihan dalam hatinya tapi tidak bisa, air mata itu justru berhasil lolos melewati pipinya.
"Kamu kenapa?" Devan meletakkan bubur itu di atas nakas lalu memeluk Dirga. Dia usap punggung Dirga yang bergetar. "Ada yang sakit? Kamu bilang, biar aku bawa kamu ke rumah sakit untuk ct scan. Takutnya ada luka dalam."
Dirga menggelengkan kepalanya. "Kak, aku minta maaf. Aku banyak salah sama Kak Devan."
"Aku udah maafin kamu. Masalah itu sudah berlalu."
"Cuma Kak Devan satu-satunya sosok Ayah yang sebenarnya."
Seketika Devan melepas pelukan Dirga. "Siapa yang melakukan ini sama kamu? Apa Ayah yang melakukan ini sama kmu?"
Dirga hanya terdiam. Ingin dia menyembunyikan masalah ini dari kakaknya tapi dadanya semakin terasa sesak.
"Dirga, bilang sama aku!"
Dirga akhirnya menganggukkan kepalanya. "Semalam, aku bertemu Ayah. Kebetulan Ayah beli makanan di tempat aku bekerja. Ayah justru minta uang. Gak aku kasih tapi dia maksa. Bahkan dia sama temannya hajar aku. Dia ambil dompet dan juga hp aku. Aku gak mau melawan karena dia Ayah."
Devan mengepalkan tangannya. "Dia bukan Ayah kita. Seorang Ayah tidak mungkin tega melukai anaknya sendiri." kemudian Devan berdiri. "Kamu makan, aku akan selesaikan masalah ini."
"Kak Devan mau kemana?"
__ADS_1
Devan tak menjawabnya, dia menitip pesan pada asistennya agar menjaga Dirga dan memastikan makanannya habis. Setelah itu dia melangkah jenjang dan masuk ke dalam mobil.
"Aku gak akan biarkan dia mengusik lagi keluarga aku!" Devan melepas snelinya lalu menggulung lengan kemejanya sampai siku, kemudian dia lajukan mobilnya cukup kencang untuk mencari Ayahnya.