
"Emang kenapa lo gak pulang ke rumah? Diusir sama kakak lo?"
"Iya, gue diusir sama kakak gue. Semalam saja, besok biar gue cari tempat lain."
Meskipun Reza juga kesal dengan Dirga tapi dia tidak mungkin tega membiarkan Dirga tidur di jalanan. "Ya udah, lo ikut gue ke rumah." Reza melangkahkan kakinya menuju motornya tapi tiba-tiba berhenti. "Ada hubungan apa kakak lo sama Alesha?"
Dirga hanya terdiam.
"Gue bisa baca apa yang ada dipikiran lo. Waktu lo punya Alesha, lo selingkuhin dia dengan alasan karena Alesha gak mau skinship, sekarang Alesha sama kakak lo, lo mau miliki dia lagi. Gila lo! Pikirin perasaan Alesha itu kayak gimana." Reza membuang napas kasar lalu di naik ke atas motornya. "Cepet ikut gue!" Reza menekan klaksonnya agar Dirga cepat naik ke atas motornya dan mengikutinya.
Dirga akhirnya naik ke atas motornya. Dia kini kesal dengan dirinya sendiri. Mengapa dia tega melakukan ini semua pada Alesha?
...***...
Keesokan harinya, Devan mengantar Alesha pulang ke rumahnya. Dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Dirga terlebih dahulu.
"Kak, nanti kalau Ayah marah sama Kak Devan gimana?" Alesha masih saja memegang lengan Devan saat Devan menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Alesha.
"Gak papa. Kamu tanggung jawab aku, sudah seharusnya Ayah kamu memarahi aku disaat aku teledor jagain kamu."
Alesha menganggukkan kepalanya lalu dia melepas tangannya dari Devan.
Devan melihat bekas cakaran di leher Alesha yang semakin terlihat karena telah mengering dan juga di pergelangan tangannya sangat jelas tidak bisa ditutupi.
Devan menarik napas panjang. Dia harus menyiapkan dirinya menghadapi orang tua Alesha.
Kemudian mereka turun dari mobil dan masuk ke teras rumah Alesha.
"Lesha, ada apa? Aduh maaf ya semalam hp Mama dan Ayah lowbath."
Alesha langsung memeluk mamanya. "Mama sama Ayah tega sama Lesha. Kalau dibutuhin gak ada. Lebih mentingin berduaan."
"Lesha, kamu kenapa? Ini kenapa kok ada bekas cakaran gini?" tanya Fara yang langsung bisa melihat bekas cakaran di tangan Alesha.
Mereka semua kini duduk di ruang tamu. "Apa yang terjadi sebenarnya? Kemarin kalian berdua telpon berulang kali ke Ayah." tanya Aslan.
"Sebenarnya semalam Ibu saya drop jadi saya bawa Ibu ke rumah sakit dan meninggalkan Alesha di rumah. Saya sebenarnya ingin meminta Ayah untuk menjemput tapi ternyata nomor Ayah tidak aktif."
"Iya, ih, Mama sama Ayah gak ada yang aktif."
"Lesha, kan tiap malam hp Mama di charge."
__ADS_1
"Ih, besok-besok kalau charge dihidupin aja." Alesha masih saja mendumel manja pada Mamanya.
"Iya." Fara kini melihat leher putrinya yang ada bekas cakaran Dirga. "Devan kamu kalau lakuin sampai kayak gini?"
Alesha menepis tangan Mamanya.
"Bentar Sha, Mama lihat dulu. Ini sampai bahu kamu loh. Devan, kamu sampai cakar kayak singa gini."
"Devan?" Aslan menatap tajam Devan.
"Bukan. Sebenarnya semalam Alesha memang ada di rumah sendiri dan Dirga berusaha menyentuh Alesha."
"Apa!" Seketika gurat marah di wajah Aslan terlihat. "Bagaimana bisa Dirga melakukan itu!" Aslan meraih tubuh putrinya dan melihat bekas cakaran di tangan dan lehernya.
"Maafkan saya yang tidak bisa menjaga Alesha dengan baik. Untuk sementara biarkan Alesha tinggal di sini, saya akan menyelesaikan masalah ini."
"Lesha, Mama tahu Dirga mantan kamu tapi Mama gak percaya Dirga tega lakuin ini sama kamu. Kamu tinggal di sini saja kalau gitu."
"Iya tapi Kak Devan gak bisa tinggal di sini. Kak Devan harus jaga Ibu."
Aslan menghela napas panjang. "Devan, kamu selesaikan masalah ini dengan adik kamu dulu, kamu boleh membawa Lesha kembali kalau semua sudah aman. Dan jika Dirga melakukan ini lagi sama Lesha aku akan tuntut dia."
"Ya sudah, Lesha kamu istirahat saja di kamar kamu."
"Iya Ayah."
Kemudian Alesha berdiri dan diantar Devan ke dalam kamarnya. "Aku ke klinik dulu ya." Devan mengusap rambut Alesha. "Nanti malam aku jagain Ibu, gak bisa ke sini. Besok pagi saja aku antar kamu ke sekolah."
"Jadi Kak Devan hari ini gak nemenin aku?"
Devan menggelengkan kepalanya. "Maaf ya..."
Kedua tangan Alesha kini memeluk Devan. Dia sudah tidak malu lagi dengan Devan setelah tahu identitas Devan yang sebenarnya. "Baru juga semalam aku tahu identitas Kak Devan yang sebenarnya. Banyak banget yang mau aku ceritain."
"Iya, besok saja ya." Devan menatap kedua mata Alesha dengan satu tangan yang menyelipkan rambut Alesha ke telinganya. Seperti ada magnet yang menarik kedua wajah itu untuk saling mendekat.
"Lesha..." Fara membuka pintu kamar putrinya yang memang tidak tertutup rapat itu yang membuat Devan seketika menjauhkan dirinya. "Eh, maaf. Mama kira Devan sudah pergi."
"Iya, Ma. Ini saya juga mau berangkat ke klinik."
Kemudian Alesha mencium punggung tangan Devan. "Hati-hati ya, Kak."
__ADS_1
"Iya. Ma, saya berangkat dulu." Devan juga bersalaman dengan Mama mertuanya sebelum keluar dari kamar.
"Iya. Hati-hati." Setelah Devan keluar, Fara mengajak putrinya duduk di tepi ranjang. "Lesha, kamu sudah cinta sama Devan?"
"Ih, Mama kepo."
"Iyalah. Mama itu sebenarnya udah takut terjadi apa-apa sama kamu karena kamu tinggal seatap sama Dirga. Ternyata ketakutan Mama itu bener."
"Untungnya ada Kak Devan yang datang tepat waktu dan semalam Dirga juga diusir sama Kak Devan."
"Iya, Devan pasti marah banget sama Dirga."
"Tapi kasihan Kak Devan, pasti dia sekarang juga mikirin Dirga dimana. Bagaimana pun juga Dirga adik Kak Devan satu-satunya."
"Rumit juga ya. Kamu tinggal di sini aja deh."
"Maunya juga gitu. Tapi Kak Devan gak tega ninggalin Ibunya. Mama, aku gak mau pisah sama Kak Devan." kata Alesha sambil memeluk Mamanya.
Mendengar kalimat putrinya, Fara seketika tertawa. "Dulu aja ogah-ogah, sekarang gak mau pisah. Udah bucin ya atau udah kena sengatan?"
"Ih, Mama apaan. Sengatan apaan? Kak Devan itu baik banget sama Lesha." Kemudian Alesha melepaskan pelukannya. "Mama ini jahat ya, kenapa Mama gak cerita kalau Kak Devan itu adalah Kak Devan di masa kecil Lesha."
"Yah, udah tahu ya. Wah, jadi gak seru lagi nih."
"Ih, Mama..."
Fara kembali memeluk tubuh putrinya. "Mama hanya ingin jodoh yang terbaik buat kamu. Memang di dalam rumah tangga selalu ada saja cobaan. Semoga saja Devan segera menyelesaikan masalah keluarganya dengan baik."
"Iya. Amin..."
"Kasihan nih, anak Mama kalau tidur gak ada yang nemenin kalau lama-lama. Boneka beruangnya kan sekarang udah berubah jadi manusia."
"Ih, Mama..."
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1