Obat Cinta Pak Dokter

Obat Cinta Pak Dokter
BAB 31


__ADS_3

Sepulang sekolah, Alesha dan Devan menjemput Bu Rahma ke rumah sakit karena hari itu Bu Rahma sudah diperbolehkan untuk pulang.


Saat berjalan di koridor rumah sakit bersama Devan, ada seorang Dokter muda yang cantik memanggil Devan. "Kak Devan!"


"Clara? Kamu sekarang di rumah sakit ini?" Mereka berdua bersalaman seolah sudah lama tidak bertemu dan saling melempar senyuman manis.


"Iya, aku baru satu bulan di sini."


"Sudah jadi Dokter spesialis kandungan dan menetap di sini?"


"Iya, Kak Devan mau kemana?" tanya Clara.


"Mau jemput Ibu. Udah dua hari dirawat di sini." Devan tersenyum dengan ramah. Perkataannya juga sangat halus, membuat hati Alesha memanas saja. Kira-kira siapa Dokter itu? Apa mantan Devan?


"Ini adik Kak Devan? Tapi adik Kak Devan cowok kan."


"Bukan. Ini..."


"Iya, aku adik Kak Devan!" Alesha memotong pembicaraan mereka lalu melangkahkan kakinya pergi.


"Maaf ya, Ra. Aku mau ke ruangan Ibu dulu." Devan melangkahkan kakinya menyusul Alesha. Dia menahan tangan Alesha karena langkah Alesha semakin cepat. "Dek, kenapa?"


"Gak papa. Aku kan memang hanya adik Kak Devan." Alesha memanyunkan bibirnya sambil terus melangkahkan kakinya.


"Marah kenapa?" tanya Devan. Dia terus menahan tangan Alesha agar tidak menjauh darinya. "Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu adik aku. Aku gak mau bilang gitu sama Clara."


Alesha tak menjawabnya.


"Dia itu adik tingkat aku waktu di kampus. Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia," kata Devan menjelaskan.


"Gak tanya."


Devan hanya tersenyum lalu merengkuh bahu Alesha. "Aku gak mau ada salah paham sama kamu."


"Kenapa?"


"Ya karena kamu istri aku.


"Emang gimana perasaan Kak Devan?"

__ADS_1


Seketika Devan menghentikan langkah kakinya. Dia memang sama sekali tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Alesha. Bagi dia, sikap yang dia tunjukan pada Alesha sudah sangat mewakili isi hatinya. Tapi dia salah, karena sebagian besar wanita ingin perasaan itu diungkapkan juga secara lisan.


"Ya aku..."


"Dokter Devan." Dokter Ervan datang menghampiri Devan. "Ikut saya sebentar, saya akan menjelaskan kondisi kesehatan Bu Rahma."


"Iya, Dok." Devan melepas tangannya dari Alesha. "Dek, kamu ke ruangan Ibu dulu ya."


"Iya, Kak." Kemudian Alesha masuk ke dalam ruangan Bu Rahma.


Kak Devan ini gak bisa bilang cinta kah? Udah dipancing tapi gak peka juga.


Alesha masih saja mendumel dalam hatinya sambil membantu Bu Rahma berkemas.


...***...


Malam hari itu Alesha sedang mengerjakan tugasnya di meja belajarnya. Tangan dan pandangannya memang fokus pada buku tulisnya, tapi tidak dengan pikirannya.


Dia memang sudah memiliki suami tapi sikap Devan padanya justru seperti seorang kakak pada adiknya.


Alesha kini melirik Devan yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. "Kak Devan, bisa ini gak?" tanya Alesha. Dia menunjukkan beberapa soal matematika yang sebenarnya tidak harus dia kerjakan dan tentu saja sebenarnya dia juga sudah bisa.


"Ini, soal limit."


"Oo, gini caranya." Devan mengambil bulpoin Alesha lalu menunjukkan cara menyelesaikan soal itu sambil menjelaskan.


Alesha hanya menatap Devan karena sebenarnya dia sudah bisa mengerjakan soal itu.


"Ngerti gak?" Devan menoleh dan tepat di depan wajah Alesha. Wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa centi.


"Iya ngerti." Alesha mengalihkan pandangannya lalu dia berdiri dan duduk di pangkuan Devan. "Kursinya sempit aku mau gini aja."


Seketika dada Devan berdebar tak karuan. Dia tidak pernah membayangkan posisi ini sebelumnya bersama Alesha. Ada sesuatu yang seketika terpancing di tubuhnya.


"Kalau yang ini?" tanya Alesha lagi. Dia sengaja agar Devan semakin dekat dengannya. Tepat sekali prediksinya, saat Devan menulis, punggungnya bersentuhan dengan dada Devan. Pipinya juga bersentuhan dengan pipi Devan. Benar-benar terasa mendebarkan bagi keduanya. Rasanya ingin setiap hari dia dimanja seperti ini.


"Iya Kak, aku ngerti, tapi aku masih belum mengerti tentang satu hal." Alesha memutar tubuhnya dan menghadap ke Devan. Gerakan Alesha memutar tubuhnya seolah bergerak slow motion di atas pangkuan Devan. Sepertinya ada sesuatu yang sudah berdiri dengan sendirinya.


"Tentang apa?" tanya Devan. Dia menatap Alesha sangat dekat.

__ADS_1


Alesha kini mengalungkan kedua tangannya di leher Devan. "Sebenarnya bagaimana perasaan Kak Devan sama aku? Apa Kak Devan cuma menganggap aku adik Kak Devan? Kita memang selisih 11 tahun, mungkin saja Kak Devan masih anggap aku adik kecil."


Devan semakin menatap dalam kedua netra Alesha. "Jadi, kamu ingin sebuah pengakuan secara lisan? Apa semua yang aku lakukan sama kamu tidak menunjukkan perasaanku."


Alesha tersenyum penuh arti. "Aku butuh ungkapan dan juga pembuktian."


"Kamu sendiri, bagaimana perasaanmu sama aku?" Devan justru balik bertanya.


"Kak Devan bilang dulu, baru aku akan bilang."


Devan tersenyum miring lalu dia menggendong Alesha dan menurunkannya di atas ranjang. Dia kini menindih tubuh Alesha. dengan satu tangan yang mengusap lembut pipi Alesha.


"Kita pernah bertemu saat kita belum mengenal apa yang namanya cinta. Tapi saat aku bertemu kamu lagi, aku sudah mengerti apa itu cinta. Aku bukan pria romantis yang pintar merangkai kata manis tapi yang jelas semua perasaanku sama kamu itu adalah cinta. Aku cinta kamu Alesha."


Jantung Alesha semakin berdetak dengan kencang mendengar pengakuan Devan. Bahkan dia hanya bisa terdiam dan terhipnotis oleh tatapan Devan.


Tiba-tiba Devan mencium bibir Alesha. Dia lu mat bibir itu dengan lembut. Terasa basah dan hangat di bibir Alesha.


Alesha yang memancing tapi justru dia yang tak bisa berkutik sama sekali. Dia tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Tapi Devan terus memagut bibir tipis Alesha dan berusaha mencari celah agar bisa bermain di dalam bibir Alesha.


Akhirnya Alesha sedikit membuka bibirnya. Kedua indera pengecap itu akhirnya bertemu. Terasa manis dan gelinya bisa menjalar ke seluruh tubuh.


Devan semakin menindih dan memeluk tubuh Alesha. Napasnya semakin berat saat Alesha sudah bisa mengimbangi permainannya. Mereka saling berbalas hisapan dan pagutan hingga suara decapan itu memenuhi kamar mereka.


Devan kini melepas ciumannya. Dia menatap wajah Alesha yang memerah. "My first kiss just for my wife."


Alesha tersenyum. "Kak Devan juga yang pertama buat aku. Aku gak tahu caranya gimana."


"Tubuh kita mempunyai insting alami untuk melakukannya."


Alesha menganggukkan kepalanya. "Ini sisi lain dari Kak Devan?"


Devan hanya tersenyum, kemudian dia kembali mendekatkan dirinya dan mencium bibir Alesha semakin liar sampai terdengar lenguhan dari Alesha beberapa kali. Diam-diam tangan Devan membuka kancing piyama Alesha.


Ciuman Devan kini turun ke leher dan menyusuri leher seputih susu itu lalu berbisik di telinga Alesha. "Kamu mau tahu sisi lain aku? Aku ingin kamu malam ini."


.


💕💕💕

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2