Obat Cinta Pak Dokter

Obat Cinta Pak Dokter
BAB 51


__ADS_3

"Mampir ke klinik Kak Devan aja mumpung masih siang," gumam Alesha sambil mengendarai motornya menuju klinik Devan setelah pulang dari kampus.


Beberapa saat kemudian dia menghentikan motornya di tempat parkir. Setelah melepas helmnya, Alesha masuk ke dalam klinik. Ada beberapa orang yang terlihat panik di dalam klinik itu. Dia mengintip ke dalam ruang pemeriksaan, terlihat suaminya sedang serius menangani seorang pasien.


Kemudian dia berdiri di samping ibu-ibu yang sedang menggendong seorang anak kecil laki-laki yang sedang menangis. Mungkin anak itu sekitar umur dua tahun. Alesha semakin mendekatinya karena anak itu sudah ditenangkan tapi tetap menangis.


"Kenapa menangis?" Alesha mendekatkan dirinya sambil mengulurkan kedua tangannya. Seketika anak laki-laki itu terdiam dan meraih tangan Alesha.


"Mama..." panggilnya.


"Sepertinya dia mengira kamu Mamanya. Mamanya mirip sama kamu. Kasihan sedang sakit keras. Dia hanya berdua dengan anaknya saja. Tidak ada keluarga yang bisa dihubungi."


Alesha memeluk anak itu sambil mengusap punggungnya yang masih terisak. "Ayahnya kemana, Bu?"


"Saya kurang tahu, dari kabar yang beredar dia istri simpanan yang dibuang."


Alesha hanya terdiam mendengar cerita itu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana susah hidupnya membesarkan anak seorang diri.


"Jantungnya sudah tidak berdetak."


Mendengar hal itu, Alesha mendekat ke pintu ruang pemeriksaan. Dia melihat Devan yang sedang memacu jantung wanita itu. Setelah beberapa kali tapi tidak berhasil.


Devan mengusap wajahnya yang kusut. "Dimana keluarga pasien?" Kemudian Devan keluar dari ruang pemeriksaan.


"Kami hanya mengantar. Ibu itu tidak punya keluarga."


Devan menghela napas panjang. Pantas saja ketika diantar ke klinik kondisinya sudah sangat parah. Devan akan merujuknya ke rumah sakit tapi pasien sesak napas dan detak jantung sudah sangat lemah.

__ADS_1


"Kami akan membantu proses pemakaman, Dok. Memang kami sudah terlambat mengetahui penyakit yang dia derita." kata Pak RT setempat.


Alesha hanya terdiam dan masih menggendong anak itu. Sepertinya Devan tidak menyadari keberadaan Alesha saat itu.


"Baik. Tim medis saya juga akan membantu."


"Dokter, tolong periksa putranya juga. Sepertinya dia juga sedang sakit. Sudah beberapa hari tidak terurus."


"Putra?" Barulah Devan kini menoleh Alesha yang sedang menggendong anak itu. "Loh, Dek, kok ada di sini?" Devan meraih anak itu lalu memeriksa kondisinya.


"Iya, tadi setelah dari kampus pengen mampir ke sini," jawab Alesha. Dia kini mengikuti Devan.


"Namanya siapa?" tanya Devan.


Anak itu menatap Devan. "Aja..."


"Fajal."


"Fajar?"


"Sepertinya demam, Kak." kata Alesha. Tangan Alesha masih saja digenggam anak itu.


"Iya, suhunya cukup tinggi dan sepertinya juga hampir dehidrasi." Devan meninggalkan Alesha dan anak itu lalu mengambil segelas susu UHT dan dia berikan pada anak itu.


"Sini, aku bantu." Alesha membantu anak itu minum sampai habis.


"Lalu siapa yang akan merawat anak ini?" tanya Devan pada Ibu RT yang masih ada di tempat itu.

__ADS_1


"Kami juga bingung. Kalau memang tidak ada yang merawatnya terpaksa kami akan menitipkannya di panti asuhan."


Devan kini menatap Fajar yang masih saja bergelayut pada Alesha.


"Mama, ubuk."


"Iya, bubuk sini." Alesha memangku kepala Fajar dan mengusap rambutnya.


Devan kini duduk di samping Alesha. "Sepertinya dia baru berumur dua tahun. Mamanya memang masih muda dan perawakannya kayak kamu makanya dia memanggil kamu Mama."


Alesha hanya tersenyum. Dia melihat wajah pulas Fajar yang tertidur dengan nyaman di pangkuannya. "Hmm, Kak, bagaimana kalau kita saja yang merawat dia?"


Seketika Devan merengkuh bahu Alesha. "Aku barusan juga punya pikiran kayak gitu, tapi belum kesampaian bilang sama kamu."


"Lihat Kak, dia ganteng banget. Nyaman banget tidur gini. Gak sabar mau bawa pulang," kata Alesha sambil tersenyum.


"Iya, tapi aku urus dulu surat adopsinya. Kita juga harus memastikan bahwa memang tidak ada keluarga yang merawatnya."


Alesha menganggukkan kepalanya.


"Aku tinggal dulu ya. Kamu pindah saja ke ruangan aku agar tidak terganggu."


Alesha menganggukkan kepalanya lagi lalu dia menggendong Fajar secara perlahan dan berpindah ke ruangan Devan.


Dia masih saja tersenyum menatap Fajar. Jika memang dia berhasil mengadopsi Fajar, tentu saja dia akan sangat bahagia. Rasa sedih menanti buah hati pasti akan sedikit terhibur dengan hadirnya Fajar.


.

__ADS_1


.


__ADS_2