
Devan memiringkan dirinya. "Ya sesuatu yang melelahkan tadi kepending. Sekarang udah tengah malam, aku gak mau kamu sampai terlambat bangun besok. Tapi aku ada satu cara."
"Apa?"
Devan tersenyum kecil. "Sesuatu yang bisa membuat kamu melambung tinggi." Dia semakin mendekap tubuh Alesha. Satu tangannya kembali menyusuri tubuh Alesha.
"Hmm, Kak." Bagai tersengat listrik saat tangan Devan masuk ke dalam celananya. "Kak Devan ternyata me sum ya." Alesha justru tertawa sambil menatap Devan.
"Aduh, kedok aku sudah terbongkar." Devan kembali menindih tubuh Alesha. Berhubung rasa kantuk itu menghilang entah kemana, sepertinya dia sendiri juga butuh sesuatu yang melelahkan.
"Aku gak ngira Kak Devan yang kalem ternyata gini." Kemudian Alesha menatap jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua belas. "Kita buat sesuatu yang melelahkan sama-sama aja yuk."
Devan kembali melabuhkan ciumannya di bibir Alesha. Dia tidak mungkin melewatkan tawaran Alesha. Dia lanjutkan lagi foreplay yang tadi sempat tertunda. Lenguhan Alesha sudah terdengar saat Devan menyentuh titik sensitifnya dengan jemarinya. Bibirnya juga telah menyusuri kulit mulus itu. Mungkin dia bukan pemain yang handal tapi dia akan memberikan kenyamanan pada Alesha.
Kedua tubuh itu kini sama-sama polos. Alesha hanya menyipitkan kedua matanya saat melihat tubuh Devan. Pahatan tubuh yang hampir sempurna itu benar-benar menggoda. Tapi dia tercekat saat melihat milik Devan yang berdiri tegak hingga guratan otot itu terlihat.
"Kak, ini, hmm, aku takut. Gak jadi ya, aku mau tidur aja." Seketika nyali Alesha menciut. "Beneran gak jadi?" Devan memposisikan dirinya di antara kedua pa ha Alesha lalu menggesekkan miliknya di inti Alesha.
"Pasti sakit. Jarum infus yang sekecil itu rasanya sakit apalagi segede itu."
"Aku akan pelan-pelan." Devan semakin memberi sensasi pada Alesha, disaat Alesha semakin terbuai, Devan menghentakkan miliknya dengan kuat.
"Kak!" Alesha menjerit saat Devan berhasil menembus dirinya. "Sakit."
Devan menangkup kedua pipi Alesha lalu mencium bibirnya sesaat. "Memang sakit kalau pertama kali, nanti lama-lama enak. Jangan tegang, rileks aja." Perlahan Devan mulai menggerakkan dirinya.
Jari-jari Alesha semakin mencengkeram punggung Devan saat merasakan gerakan Devan keluar masuk. Rasanya sangat sesak dan perih.
"Kak, jangan lama-lama. Sakit."
Devan hanya tersenyum lalu dia mencumbui leher Alesha. Bibirnya semakin turun dan memberi sensasi di sekitar dada Alesha. Hingga Alesha mulai rileks dan menikmati permainannya.
"Makasih, kamu sudah mau melakukan ini bersamaku." Devan mendekatkan bibirnya di telinga Alesha.
Alesha hanya mengangguk. Badannya sudah berkeringat, padahal dia tidak sedang berlari.
"Dek, apa belum enak. Hem?" bisik Devan di telinga Alesha dengan sesekali mencium telinganya.
__ADS_1
"Masih sedikit sakit."
"Kamu nikmati, bayangkan enaknya agar rasa sakit itu bisa ternetralisir."
Devan menegakkan dirinya. Dia menambah gerakan pinggulnya dengan satu jari yang bermain lembut di titik paling sensitif Alesha.
Suara de sah Alesha semakin keras. Rasanya dia benar-benar dibawa Devan terbang tinggi.
"Enak kan, Dek?" Devan menggigit bibir bawahnya sambil berdesis nikmat.
Alesha sangat tergoda dengan wajah Devan yang sedang dipenuhi gairah. Dia merasakan perutnya semakin geli dan penuh. Ada sesuatu yang seolah ingin meledak.
Alesha menarik lengan Devan agar mendekat kemudian dia lingkarkan kedua tangannya di leher Devan. Kuku-kuku Alesha semakin mencakar punggung Devan.
"Kamu mau keluar?"
"Keluar apa? Aku gak tahu, rasanya perut bawah aku penuh, kayak ada yang mau meledak."
Devan tersenyum kecil. Dia semakin menambah gerakan pinggulnya semakin cepat. Alesha semakin meracau. Dia tidak bisa menahannya. Tubuhnya bergetar beberapa kali, setelah itu ada rasa lega dan tubuhnya melemas.
"Itu kamu mencapai *******."
"Iya, kalau kamu sudah merasakan pasti kamu akan ketagihan. Untuk pertama, aku pakai durasi cepat saja. Tapi nanti aku pasti akan membuat kamu ******* berkali-kali." Kemudian Devan menenggelamkan dirinya di leher Alesha. Menyusuri leher itu dengan sesekali hisapan kecil. Devan semakin mempercepat gerakannya. Dengan erangan keras, akhirnya dia menumpahkan hasratnya.
Setelah tuntas dia baru tersadar, jika Alesha masih sekolah. Dia lepas dirinya lalu merebahkan tubuhnya di samping Alesha.
"Dek, maaf aku kelepasan di dalam."
Mata Alesha sudah tidak bisa terbuka lebar. Rasa kantuk sudah menyerangnya. "Hem? Apanya? Aku ngantuk banget."
"Kamu gak ke kamar mandi dulu?"
Alesha tak menyahuti Devan, dia mulai menutup matanya.
Devan turun dari ranjang dan memakai celana pendeknya lalu dia mengambil handuk kecil yang dia basahi dengan air hangat agar noda darah dan cairan lainnya bersih dari tubuh Alesha supaya besok rasa sakit itu sudah hilang.
Setelah mengembalikan handuk kecil itu ke dalam kamar mandi, dia menutupi seluruh tubuh Alesha dengan selimut tebal. Dia rebahkan dirinya di samping Alesha. Tak butuh waktu lama Devan memejamkan matanya dan tertidur.
__ADS_1
Tidur mereka sangat nyenyak hingga matahari telah terbit dan merangkak ke atas. Devan dikejutkan dengan suara ketukan dari kamarnya.
"Pak Devan, sudah siang. Pak Devan sudah bangun? Saya disuruh membangunkan Pak Devan."
Seketika Devan membuka kedua matanya. Dia melihat jam dinding yang sudah pukul enam lebih. "Iya, Bi, sudah bangun." teriak Devan yang membangunkan Alesha.
Alesha juga sangat terkejut saat melihat sinar mentari telah menembus tirai kamar Devan.
"Kak, udah siang." Alesha duduk tapi dia kaget saat menyadari tubuhnya tidak memakai apa-apa. "Kok aku gak pakai apa-apa."
"Kamu lupa?" Devan turun dari ranjang lalu menggendong Alesha masuk ke dalam kamar mandi. "Kita mandi bareng saja biar cepet."
"Hmm, tapi Kak..."
"Gak usah tapi-tapian. Aku udah tahu rasanya semalam." Devan menurunkan tubuh Alesha di bawah shower. Dia tersenyum menatap Alesha yang masih malu-malu, lalu dia menghidupkan shower itu dan mengguyur tubuh mereka berdua dengan air hangat.
Alesha menundukkan pandangannya saat Devan menyabun seluruh tubuhnya.
"Aku sayang kamu." Devan meraih dagu Alesha agar mendongak lalu dia cium bibir tipis itu di bawah guyuran shower. "Kalau gak diburu waktu aku lanjut step by step nih."
Kemudian Devan segera menyabun dirinya lalu mengguyur tubuhnya lagi. Setelah itu mereka memakai handuk dan menggosok giginya sambil saling lirik dan tersenyum kecil. Nuansa pengantin baru benar-benar sudah tercipta di antara mereka.
Setelah itu mereka segera keluar dari kamar mandi dan memakai seragamnya.
Setelah memakai baju, Devan menggulung sprei agar diganti oleh pembantunya.
"Nanti spreinya biar aku cuci sendiri. Ih, malu ada bercak-bercak gitu," kata Alesah sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer secara singkat.
"Gak usah, biar aku aja nanti malam yang nyuci. Kadang aku nyuci malam kalau kena noda medis. Aku taruh keranjang di dalam kamar aja."
Alesha hanya tersenyum. Dia segera bersiap ke sekolah karena waktu semakin mengejarnya.
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Aduh, othor kurang nurhayati. lagi banyak pikiran. maaf kalau feelnya gak dapat.. 😒