Obat Cinta Pak Dokter

Obat Cinta Pak Dokter
BAB 52


__ADS_3

"Lucu banget, Fajar." Setelah mendapat kabar jika Alesha dan Devan mengadopsi seorang anak, Fara dan Aslan langsung ke rumah Devan. "Pasti sekarang rumahnya ramai ada si kecil." Fara sangat gemas dengan bocah berumur dua tahun itu.


"Ramai banget, Ma. Ada aja tingkahnya. Di ruang tengah jadi banyak mainan juga." Alesha tersenyum menatap Fajar yang sekarang sudah tidak takut lagi pada orang tidak dia kenal.


"Fajar, besok ke rumah oma ya. Aduh, dipanggil oma, berasa tua banget."


"Fajar, main sama opa yuk."


"Ih, oppa ganteng." Fara justru mencubit pipi suaminya.


Semua tertawa mendengar hal itu. Memang kedua orang tua Alesha masih terlihat sangat muda dan belum pantas memiliki seorang cucu.


"Ayo main ke taman," ajak Fara.


"Ayuk." Aslan menggendong Fajar lalu mengajaknya ke taman.


"Aku senang lihat kamu bahagia seperti ini." Devan menggenggam tangan Alesha. Sudah lama dia tidak melihat tawa lepas Alesha seperti sekarang.


"Iya. Aku senang banget, Kak. Makasih, Kak Devan sudah membawa Fajar di keluarga kecil kita."


"Sama-sama." Kemudian Devan membisikkan sesuatu di telinga Alesha. "Ke kamar yuk, sebentar aja."


"Ngapain?"


"Buat adiknya Fajar, mumpung ada orang tua kamu yang ajak main Fajar."


"Ih, nanti malam kan bisa."


"Tempat aku udah digantikan Fajar. Sekarang yang kamu peluk bukan aku lagi."

__ADS_1


Alesha hanya tersenyum lalu mereka berdiri dan masuk ke dalam kamar. Setelah menutup pintu kamar itu, Devan mencium bibir Alesha dengan lembut.


Kedua tangan Alesha semakin memeluk tubuh Devan. Mereka bergulat di belakang pintu. Meskipun singkat tapi sangat terasa.


...***...


Beberapa bulan telah berlalu, kegiatan Alesha semakin padat. Setelah pulang dari kuliah, dia bermain dengan Fajar lalu malam harinya dia mengerjakan tugas kuliahnya yang semakin banyak.


"Dek, kalau capek istirahat dulu," kata Devan yang baru masuk ke dalam kamar setelah menidurkan Fajar di kamarnya.


"Iya, Kak." Alesha menyimpan tugasnya terlebih dahulu lalu mematikan laptopnya. "Untunglah Fajar sudah mau tidur sendiri."


"Iya, sudah tiga tahun. Dia sudah jadi anak yang pemberani." Devan kini duduk di samping Alesha dan menatap wajah Alesha. "Kamu gak enak badan? Pucat gini?" Devan menyentuh pipi Alesha.


"Iya, udah beberapa hari ini aku sering pusing. Sebentar aku mau ke kamar mandi dulu." Alesha berdiri tapi baru tiga langkah, tiba-tiba tubuh Alesha limbung untunglah dengan cepat Devan menangkapnya.


"Astaga, Dek." Devan segera merebahkan Alesha di atas ranjang. Kemudian dia memeriksa tensi darah Alesha lalu detak jantungnya. "Darahnya rendah. Jangan-jangan..."


Seketika Devan memeluk Alesha saat Alesha mulai membuka kedua matanya.


"Dek." Devan menciumi pipi Alesha berulang kali. "Sepertinya adik Fajar sudah ada dalam perut kamu."


Seketika Alesha menatap Devan. "Aku hamil?"


Devan menganggukkan kepalanya. "Iya, dari hasil pemeriksaanku, kamu hamil. Besok biar tahu kepastiannya langsung kita USG saja." Lalu Devan turun dari ranjang. "Sebentar aku ambilkan minuman hangat dulu."


Devan segera keluar dari kamar. Beberapa saat kemudian dia masuk sambil membawa segelas susu hangat.


"Kamu minum dulu. Kamu harus rutin minum susu dan perbanyak protein biar gak darah rendah."

__ADS_1


Perlahan Alesha duduk lalu menghabiskan susu yang dibuatkan Devan.


"Kak, emang beneran aku hamil?" Alesha masih belum percaya. Dia sudah tidak mengingat jadwal merahnya karena sebelumnya dia sudah pasrah dengan keadaan.


"Iya, saat diraba perut kamu sudah beda. Perkiraan sudah dua bulan. Apa kamu mau cek dulu?" Devan membuka nakas lalu mengambil satu alat tes kehamilan.


Alesha hanya menatap alat tes itu. Beberapa bulan yang lalu dia juga melakukan tes tapi hasilnya negatif. Kali ini dia juga tidak ingin terlalu berharap. "Tapi kalau hasilnya negatif gimana? Ini kan sudah malam, memang bisa tes."


Devan tersenyum sambil mengusap puncak kepala Alesha. "Gak papa. Sepertinya kamu sudah terlambat satu bulan. Jadi meskipun tidak tes di pagi hari, hormon hCG sudah bisa terdeteksi."


Alesha menganggukkan kepalanya lalu dia masuk ke dalam kamar mandi bersama Devan. Mereka berdua mengecek bersama-sama lalu melihat hasilnya bersama-sama.


Setelah beberapa detik, dua garis itu muncul dengan jelas.


"Kak, beneran positif." Seketika air mata haru menetes di pipi Alesha. Setelah dua tahun penantian akhirnya dia berhasil hamil.


Devan memeluk Alesha dengan erat dan menciumi pipinya. "Selamat, Dek."


"Selamat juga buat Kak Devan. Kita akan punya dua anak."


Kemudian Devan menggendong Alesha lalu menurunkannya di atas ranjang. "Mulai sekarang aku akan benar-benar jaga kamu. Kamu gak boleh kecapekan. Masalah kuliah bisa kamu tunda dulu, yang penting kamu fokus sama kesehatan kamu."


Alesha menganggukkan kepalanya. Kedua tangannya masih melingkar di leher Devan.


"Aku sayang banget sama kamu."


"Aku juga sayang sama Kak Devan."


Mereka saling menatap lalu wajah Devan semakin mendekat dan menciun bibir Alesha dengan lembut.

__ADS_1


.


💕💕💕


__ADS_2