
"Dek, udah siang. Bangun." Devan menggoyang tubuh Alesha agar dia segera membuka matanya.
Alesha hanya bergeliat tanpa membuka matanya. "Siang gimana? Ini masih pagi. Udaranya aja masih dingin."
"Iya, tapi ini di rumah orang tua kamu."
"Gak papa. Santai aja. Aku dulu juga sering bangun siang." Alesha justru semakin menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Devan akhirnya beranjak dari ranjang dan segera membasuh dirinya di kamar mandi. Setelah selesai dan memakai pakaian, dia menyisir rambut lalu keluar dari kamar. Setelah turun dari tangga, dia melihat mertuanya yang sedang berolahraga kecil di taman.
Devan berhenti di samping Ayah mertuanya dan ikut berolahraga kecil.
"Udah bangun?"
Devan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Lesha pasti masih tidur. Dulu saja sebelum menikah bangunnya selalu siang, apalagi sekarang," kata Aslan sambil tersenyum kecil.
Devan hanya tersenyum. Sudah satu bulan menikah, dia jelas tahu kebiasaan Alesha.
"Kamu maklumi ya. Alesha masih butuh banyak bimbingan."
"Iya, saya tahu Alesha masih sangat muda. Tapi dia sangat penurut, pasti dia akan mengerti dengan sendirinya."
Aslan menghentikan gerakan olahraganya lalu mengajak Devan duduk di dekat taman. "Saya mau bicara sesuatu sama kamu."
"Iya, Ayah." Devan kini juga duduk di sebelah Ayah mertuanya itu.
"Apa kamu sudah membicarakan masalah momongan sama Alesha?"
"Saya..."
__ADS_1
"Maaf, bukannya saya ikut campur sama rumah tangga kamu." potong Aslan. "Saya punya pengalaman di masa lalu, dulu saya sama Fara juga menikah saat Fara masih SMA, seumuran Alesha. Dulu kita dijodohkan. Saat itu Fara jelas tidak mencintai saya dan Fara hamil disaat Fara belum siap. Saya takut kejadian seperti itu terulang lagi pada Alesha. Meskipun saya tahu kalian saling mencintai tapi lebih baik bicarakan dulu masalah ini. Kamu seorang Dokter jelas tahu apa yang harus kamu lakukan untuk menundanya."
Devan menganggukkan kepalanya. Dia paham dengan apa yang ditakutkan mertuanya itu. "Saya sudah membicarakan ini sama Alesha, dan Alesha tidak keberatan."
"Iya, itu bagus. Saya ikut bahagia kalau melihat Alesha bahagia."
...***...
Akhirnya Alesha bangun dari tidurnya. Dia duduk dan mengedarkan pandangannya mencari Devan. "Kak Devan kemana?" Lalu dia turun dari ranjang dan membuka tirai jendelanya. Dari jendelanya yang berada di lantai atas, dia bisa melihat jika Devan sedang mengobrol dengan Ayahnya.
"Kak Devan ngobrol apa sama Ayah? Jangan-jangan Kak Devan mau laporan tingkat kemalasan aku." Alesha segera masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh dirinya. Setelah itu dia memakai seragamnya.
Dia kini berdiri di depan cermin untuk menyisir rambut lalu memoles wajahnya tipis. Kemudian buru-buru dia keluar dari kamar dan berjalan ke dapur.
"Lesha, jam segini baru bangun? Bantuin Mama. Mama ada jam kelas pagi."
"Iya, Ma." Alesha memakai apron lalu berdiri di samping Mamanya dan membantu menyiapkan sarapan.
"Lesha, kamu sudah punya suami, kalau bangun yang pagi," kata Fara.
"Iya, Ma," jawab Alesha.
"Kalau bisa seorang suami itu harus makan dari masakan kita. Di ranjang oke, di dapur juga oke," goda Mamanya.
"Apaan sih, Ma." Seketika pipi Alesha bersemu merah. Dia kini menata makanan yang telah siap di meja makan.
Fara mengikuti Alesha lalu mencubit hidung putrinya. "Kalau olahraga malam itu suaranya jangan keras-keras."
Pipi Alesha semakin memanas. Dia melepas apron lalu duduk di kursi. "Ih, Mama. Jangan bilang gitu, Lesha malu."
Fara semakin tertawa. "Ya kan Mama dengar sendiri kamu teriak-teriak keenakan. Kamar kamu gak ada peredam suaranya."
__ADS_1
Pipi Alesha semakin memanas, rasanya dia ingin sekali kembali ke kamar agar tidak digoda Mamanya lagi.
"Udah bangun? Kirain masih tidur?" Devan kini duduk di sebelah Alesha. Sedangkan Mamanya semakin tidak bisa menahan tawanya.
"Mama udah dong jangan tertawa terus, ih." Alesha semakin menggembungkan pipinya.
"Iya, iya. Udah, sekarang kita sarapan saja. Nanti terlambat."
...***...
Dirga tetap datang ke sekolah pagi hari itu meskipun di beberapa bagian tubuhnya masih terasa sakit. Bahkan jalannya masih sedikit terpincang. Dia sudah janji dengan dirinya sendiri, dia akan fokus dengan sekolahnya dan mengejar beasiswa agar bisa kuliah di luar negeri. Karena bagaimana pun juga, rumah yang sekarang dia tempati adalah milik Kakaknya jadi seharusnya kakaknya tetap tinggal di rumah itu.
"Ga, lo sebenarnya kenapa?" tanya Kiara sambil berjalan di samping Dirga.
"Gak papa," jawab Dirga singkat.
"Gue merasa hidup lo hancur sejak lo putus dengan Alesha."
Dirga menggelengkan kepalanya. "Ini bukan soal Alesha. Tapi hidup gue hancur juga karena gue sendiri." Tiba-tiba Dirga menghentikan langkahnya. "Hmm, Kiara lo kan jago Matematika, apa gue bisa belajar sama lo?"
"Tentu saja boleh. Kapanpun lo mau, kita bisa belajar bareng." Senyum Kiara kembali merekah. Dari dulu bahkan sampai saat ini Kiara masih sangat mencintai Dirga.
Mereka kini berjalan bersama ke dalam kelas. Beberapa pasang mata termasuk Alesha menatap mereka berdua.
"Kayaknya mereka baikan lagi," bisik Rena.
"Ya biarinlah. Bagus."
"Oiya, kakak ipar memang harus baik ya."
Alesha hanya memutar bola matanya. Tentu saja dia sudah tidak ada dendam di dalam hatinya karena sekarang dia sudah bahagia bersama Devan.
__ADS_1