Obat Cinta Pak Dokter

Obat Cinta Pak Dokter
BAB 53


__ADS_3

Satu tahun telah berlalu, rumah Devan kini semakin ramai. Fajar sudah berumur 4 tahun, bahkan dia sudah mulai bersekolah. Sedangkan adik Fajar sudah berusia lima bulan. Dia bernama Senja dan wajahnya sangat cantik, perpaduan antara Devan dan Alesha.


"Anak Mama cantik banget." Alesha selalu mendadani putrinya dengan bando dan memakai rok lucu seperti seorang putri. "Cantik, hari ini jalan-jalan ya mumpung Papa libur." Alesha membungkukkan dirinya dan menciumi pipi Senja yang sedang duduk menatapnya sambil tertawa.


Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum melihat interaksi keduanya. Dia berjalan mendekat lalu memeluk Alesha dari belakang. "Jadi jalan-jalan?"


"Iya dong, aku usah siap. Nih, Senja juga sudah cantik. Fajar juga sudah ganti baju di kamarnya. Jangan bilang Kak Devan lagi mager pengen tiduran."


Devan justru mengendus leher Alesha. "Makasih ya semalam."


Alesha hanya tersenyum dengan pipi yang merona. Semalam dia memang melewati malam yang panjang bersama Devan.


"Mama..." Fajar masuk ke dalam kamar Alesha.


Devan melepaskan pelukannya lalu mendekati Fajar. "Fajar sudah siap?"


"Sudah, Pa. Fajar bawa coklat ya, Pa."


"Iya, tapi jangan banyak-banyak."


"Iya, Fajar cuma bawa dua. Ada salad yang sudah dibuatkan Bibi juga." Kemudian Fajar duduk di samping Senja dan mencium pipinya. "Adik Senja, cantik banget. Ma, nanti di dalam mobil Adik Senja sama Fajar ya."


"Iya, sebentar Mama mau ambil tas dulu." Alesha memasukkan beberapa keperluan Senja ke dalam tas, setelah itu Devan membawanya.


"Biar aku yang bawa tasnya, Fajar ayo sama Papa." Devan menggandeng tangan Fajar sedangkan Alesha menggendong Senja.


Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, Devan segera melajukan mobilnya menuju taman.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Fajar terus menggoda adiknya hingga membuatnya tertawa keras. Meskipun mereka tidak memilki ikatan darah tapi Fajar sangat menyayangi Senja.


Alesha merasa bahagia melihat Fajar yang bisa menjaga Senja. Bahkan saat di rumah, Senja juga selalu ingin bermain dengan kakaknya.


Setelah sampai di taman, mereka berempat berjalan-jalan sebentar berkeliling taman lalu duduk di kursi taman dekat pohon. Fajar sangat senang berlarian di rerumputan yang luas.


"Kita memang jarang banget jalan-jalan, lihat tuh senangnya Fajar." Alesha tersenyum menatap Fajar. Bahkan Fajar kini sudah ikut bergabung bermain bola dengan teman seumurannya.


Senja yang ada di pangkuan Alesha menguap beberapa kali lalu merengek. "Senja, ngantuk ya?


"Sini biar aku gendong."


"Dia mau minum. Kalau ada aku maunya minum secara langsung."


Devan kini membantu Alesha memasang apron di lehernya. Lalu dia merengkuh pinggang Alesha. "Memang paling enak minum secara langsung."


Alesha hanya melirik Devan yang semakin hari semakin menjadi hot daddy. "Ih, Kak Devan."


"Iya Kak. Aku sangat bersyukur, dan aku juga bisa terus kuliah."


"Nanti kamu langsung lanjut S2 biar punya izin prakter psikiatri. Setelah kamu magang dan melakukan sumpah Dokter, kamu buka praktek di klinik. Nanti kita kerjasama, karena aku juga butuh Dokter psikolog," kata Devan.


Seketika Alesha menatap Devan sambil tersenyum. Dia tidak menyangka Devan sudah mempunyai rencana yang matang.


"Kerjasama? Wah, kerjasamanya gak cuma malam hari tapi juga dari pagi sampai sore juga. Gaji aku full nih 24 jam."


"Iya, gaji kamu full. Gak ada batasnya." Devan mengusap puncak kepala Alesha. Semakin hari rasa cintanya semakin dalam pada Alesha. "Rencananya Dirga juga langsung ambil S2. Dia dapat beasiswa lagi. Libur semester ini, dia akan pulang beberapa hari."

__ADS_1


"Hebat banget dapat beasiswa full sampai S2."


"Iya, aku juga gak nyangka. Aku ikut bahagia, pasti nanti dia juga akan jadi orang sukses." Satu tangan Devan kini menggenggam tangan Alesha. "Kita sudah bersama hampir empat tahun. Semoga kita selalu bersama sampai tua nanti."


"Iya, amin."


"Tapi kayaknya tuanya cepetan aku ya."


Alesha semakin tertawa mendengar hal itu. "Gak papa, aku tetap cinta kok."


"Ternyata benar cinta itu buta." Devan kini melihat putranya yang melambaikan tangan ke arahnya.


"Papa, ayo main bola!" teriak Fajar.


"Iya." Kemudian Devan berdiri dan bermain bola dengan putranya.


Alesha menutup kancing bajunya saat Senja sudah tertidur. Dia juga telah melepas apronnya. Dia cium kecil kening Senja, lalu dia kembali menatap Devan dan Fajar yang sedang bermain bola.


.


💕💕💕


.


Udah di bab penyelesaian ya. Berarti sebentar lagi tamat.. 🤧


.

__ADS_1


Mampir ke karya baru othor yuk..



__ADS_2