
"Gue baru tahu kalau ternyata Alesha sekarang jadi kakak ipar lo, Ga. Gue kira cuma dekat aja sama Pak Devan." Sepulang sekolah Reza, Ari, Rena, dan Icha menjenguk Alesha di rumah sakit. Ada Dirga juga yang sedang bersama Ibunya.
"Lo kemana aja, Za. Baru tahu." Rena tertawa lalu dia duduk di sebelah Alesha.
"Kalian berdua udah tahu? Kenapa gak kasih tahu kita?" Ari juga protes karena sebagai sahabat mereka tidak berbagi cerita masalah rahasia penting seperti ini.
"Ini urusan cewek." Caca juga berdiri di dekat brankar Alesha. "Sha, udah baikan? Gue ngeri sendiri dengerin Rena cerita kemarin. Gila ya tuh orang, udah ngerampas hp lo terus lo ditendang juga. Pasti sakit banget. Lo yang sabar ya."
Alesha menganggukkan kepalanya. "Teman yang lainnya gimana? Mereka pasti gosipin aku yang nggak-nggak." Alesha mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak membahas pelaku pencopetan itu.
"Tenang aja, dengar-dengar Pak Devan udah klarifikasi di sekolah. Dia juga sudah usut tuntas masalah lo. Lo sekarang tinggal fokus sama kesembuhan lo, nanti setelah lo sembuh baru lo bisa masuk sekolah dengan tenang," kata Rena. Dia kini memeluk Alesha dari samping.
"Ren, nanti kita kuliah bareng ya."
"Oke, nanti gue mau ambil jurusan farmasi."
"Emang otak lo nyampe?" ledek Caca.
"Makanya gue kuliah biar otak gue nyampe."
Alesha hanya tersenyum kecil. "Gue sebenarnya mau ambil jurusan psikologi tapi gue sendiri aja masih belum bisa menghadapi mental health gue, gimana nanti jika ada pasien yang konsultasi tentang masalahnya."
"Alesha, gak ada seorang Dokter yang bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri. Kalau lo memang ingin jadi psikologi ya gak papa. Bagus dong lo bisa memperbaiki mental health seseorang. Kalau lo mah cuma butuh Pak Devan. Tinggal dimanja-manja Pak Devan udah kelar rasa sedihnya," kata Rena yang membuat Alesha semakin tertawa.
"Iya lo benar juga. Pak Dokter pribadi gue obatnya memang paling mujarab."
"Pokoknya lo harus semangat." kata Caca lagi memberi semangat pada Rena.
Beberapa saat kemudian Mama Fara masuk ke dalam ruangan Alesha. "Untung kalian belum pulang. Makan dulu nih, pasti lapar habis pulang sekolah." Mama Fara meletakkan dua kantong plastik besar yang berisi makanan di atas meja.
"Tante tahu aja." Rena dan Caca langsung mendekati makanan itu dan menatanya di atas meja.
"Maaf ya tante, ini sebenarnya yang lapar pasti Caca dan Rena maklum mereka sedikit rakus"
"Ari, apa lo bilang! Enak aja lo! Kayak lo gak doyan makanan aja."
__ADS_1
"Iya, gak papa. Habiskan saja. Tante malah senang." Kemudian Mama Fara duduk di samping brankar Alesha dan akan menyuapi putrinya. "Mama suapi ya."
"Makasih ya, Ma."
"Iya. Meskipun kamu sudah punya suami tapi kamu tetap putri kecil Mama."
Alesha tersenyum sambil menerima suapan dari Mamanya.
...***...
Setelah lima hari dirawat di rumah sakit, Alesha sudah diperbolehkan untuk pulang. Sejak pulang dari rumah sakit sampai malam hari, Alesha sudah berulang kali membaca hasil pemeriksaan organ dalamnya. Rahimnya memang sudah sembuh tapi masih sedikit berpengaruh pada tingkat kesuburannya. Dia memang tidak menggebu untuk memiliki anak tapi rasanya dia juga takut.
"Dek, melamun aja dari tadi. Cepat tidur, udah malam." Devan memeluk tubuh Alesha dari samping dan meyandarkan dagunya. Dia kini ikut melihat apa yang dibaca Alesha sedari tadi. "Jangan memikirkan itu. Itu hanya diagnosa sementara."
Alesha akhirnya melipat kertas itu dan meletakkannya di atas nakas. "Tapi tetap aja aku kepikiran, Kak. Gimana kalau aku memang sulit untuk hamil?"
"Ya, masih ada banyak cara dan program. Lebih baik sekarang kamu fokus sama sekolah kamu. Nanti setelah kamu sudah masuk kuliah dan semua sudah membaik baru kita memikirkan bagaimana ke depannya."
Alesha kini merebahkan dirinya dan menatap langit-langit. "Umur Kak Devan sekarang sudah hampir tiga puluh tahun pasti Kak Devan ingin cepat punya anak."
"Aku biasa aja. Kalau sudah waktunya nanti kita pasti juga punya anak. Dua bulan ini pokoknya kamu fokus pada sekolah kamu dan juga kesehatan kamu. Nanti setelah dua bulan, baru kita coba buat lagi."
"Bagusnya emang 1-2 bulan pasca keguguran." Devan tersenyum kecil lalu menarik tangan Alesha yang menutupi bibirnya. "Emang sudah kecanduan?" Devan menyentuh bibir Alesha yang tersenyum malu.
"Bukan, gitu. Ih, Kak Devan aku malu."
"Gak papa. Justru ini kesempatan kamu untuk fokus pada ujian akhir. Setiap hari aku akan bantu kamu belajar. Kamu jadi kan ambil jurusan psikologi?"
Alesha menganggukkan kepalanya.
"Aku akan support kamu." Devan semakin memeluk tubuh Alesha lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua. "Tadi Dirga bilang sama aku, dia akan ikut beberapa tes agar bisa diterima di universitas luar negeri."
"Bagus dong. Aku yakin Dirga bisa. Dia itu pintar."
"Iya aku tahu. Sekarang perlahan Dirga mulai berubah. Dia sudah jauh lebih baik. Bahkan di rumah dia juga membantu menjaga dan merawat Ibu. Aku cuma berharap semoga Dirga bisa menghargai kamu sebagai kakak ipar."
__ADS_1
"Sepertinya Dirga sudah benar-benar berubah. Tapi tetap aku gak mau tinggal satu atap sama dia agar gak ada kesalah pahaman lagi."
"Iya, itu pasti." Devan mencium singkat bibir Alesha.
"Kak, kapan sidang Ayahnya Kak Devan?" tanya Alesha yang membuat Devan menatap serius Alesha.
"Minggu depan."
"Aku tahu pengacara Ayah sudah bertindak dengan kasus ini. Pasti Ayah Kak Devan akan mendapat hukuman yang berat."
Devan mengusap rambut Alesha. Dadanya masih saja sesak merasakan semua kenyataan ini. "Dia memang pantas dihukum."
"Apa Kak Devan tidak bisa memaafkan?"
Devan mengeratkan pelukannya pada Alesha. Baru kali ini Alesha membahas masalah ini dengannya setelah hampir satu minggu di rumah sakit. "Aku tidak bisa memaafkannya untuk masalah ini."
"Iya, aku mengerti. Tapi Kak Devan harus ikhlas dan bisa berlapang dada. Aku tahu setiap malam Kak Devan selalu melamun bahkan terkadang menangis. Aku gak mau lihat Kak Devan terus seperti ini. Meskipun Kak Devan terlihat tegar tapi dalam diri Kak Devan sangat rapuh."
Devan menghela napas panjang. "Aku masih sangat menyesali kejadian ini. Apalagi kamu yang menjadi korban Ayah aku sendiri. Aku benar-benar..." Devan menghentikan perkataannya. Rasa sesak itu kembali menghimpit dadanya.
"Rasanya memang sangat berat tapi kita harus ikhlaskan biar tidak ada beban di hati kita," kata Alesha lagi.
"Iya, makasih kamu sudah menerima aku apa adanya."
"Jangan bilang makasih. Sebagai suami istri kita harus bisa saling menerima apa adanya."
Seketika Devan melabuhkan ciumannya di bibir Alesha. Ciuman lembut yang penuh perasaan.
"Aku cinta kamu. Sampai kapanpun aku akan selalu mencintai kamu, Alesha."
💕💕💕
.
Loh, Dokter Devan gak cinta sama othor juga... 😤
__ADS_1
.
Btw, konflik di cerita ini banyak beratnya ya. Othor kehabisan ide, gak bisa kasih konflik lagi. Mungkin episodenya gak bisa panjang.. ðŸ˜